Kebutuhan Kimia Farma Baru Terpenuhi Separuh
Tanaman Kaliki yang Perlu Digalakkan

ENAM puluh tahun lampau, rakyat Indonesia di
pelosok-pelosok pedesaan sangat akrab dengan tanaman
kaliki (recinus communis). Setiap lahan kosong, mulai
dari pekarangan hingga kebun, penuh dengan tanaman
berminyak ini. Memang bukan atas kesadaran sendiri.
Melainkan atas perintah penjajah Jepang. Para kumicho
(RT) diawasi oleh kempetai (serdadu Jepang), harus
mengerahkan warganya menanam kaliki. Jika membantah,
alamat popor senapan dan ujung sepatu lars mendarat di
kepala atau punggung.

Maka rakyat yang sudah susah dijajah Belanda, semakin
susah lagi ditindas Jepang. Belum sirna kepedihan
menjalankan rodi (kerja paksa model Belanda) dan
cultursteelsel (tanam paksa), datang perintah romusha
(kerja paksa model Jepang) dan kewajiban menanam
kaliki serta pohon jarak dan rerek, yang sejenis
dengan kaliki.

Akibatnya, rakyat tak sempat menanam padi, palawija
dan lain-lain. Sehingga timbul keluhan melalui
sisindiran yang artinya selama dijajah Jepang, perut
akan terus kelaparan :

Sapanjang jalan ka Jampang Moal weleh diamparan.
Sapanjang dijajah Jepang. Moal weleh kalaparan.

Peralihan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang, tidak
membawa perubahan apa-apa. Bahkan rakyat semakin
menderita. Kondisi ini dilukiskan pula dalam
sisindiran yang menyatakan, penggantian penguasa,
lebih menyusahkan. Hingga baju pun harus
bertambal-tambalan.

Mobil waja muat jambal. Ganti raja baju ditambal.

Ya.. karena rakyat disibukkan menanam kaliki, jarak,
dan rerek, yang hasilnya oleh Jepang akan diolah
menjadi minyak pelumas, tak ada lagi kesempatan
mencari nafkah untuk makan dan membeli pakaian.
Akibatnya, banyak orang menggunakan baju tambalan,
atau sobekan-sobekan kain bekas yang disebut badingkut

Prospek cerah

Tetapi itu dulu, ketika bangsa kita berada di bawah
cengkeraman bangsa asing. Sekarang, pohon kaliki yang
sempat membuat susah itu, ternyata memiliki prospek
cerah. Produk kaliki mendapat pasar yang luas, baik di
tingkat domestik, maupun di tingkat ekspor.

Paling tidak, itulah yang digambarkan Drs. Bram
Burhanuddin dari PT Kimia Farma, Semarang, ketika
memberikan paparan tentang budi daya kaliki di Perum
Perutani KPH Bandung Utara, Jum’at (4/6). Menurut
Bram, kaliki merupakan sumber bahan minyak serbaguna.
Mulai dari aneka jenis pelumas kendaraan, hingga
kosmetika.

”Dari kaliki kita dapat membuat cat, pernis,
pelapis, kosmetika, resin, plastik, bahan industri
tekstil sintetis, oli, minyak rem, karet remah dan
farmasi,” kata Bram, alumnus jurusan Farmasi ITB.

Kebutuhan yang begitu banyak itu, menurut Bram,
ternyata tidak sebanding dengan pasokan. Rata-rata
hanya terkumpul 1.200 ton per tahun. Hanya setengahnya
dari kebutuhan yang mencapai 2.400 ton pertahun.

”Belum lagi jika diukur dengan kebutuhan pasar
internasional yang mencapai 490.000 ton per tahun.
Peluang besar itu belum dapat kita manfaatkan, karena
areal penanaman kaliki masih sangat sempit,” Bram
menambahkan.

Untuk mengatasi hal itu, PT Kimia Farma Semarang,
mencoba menjalin kerja sama dengan Perhutani Bandung
Utara. Administratur Perhutani/KPH Bandung Utara, R.
Ukin Prawirasutisna, menyambut baik tawaran itu. Ukin
menyatakan, siap menyediakan lahan penanaman kaliki
seluas mungkin di wilayah KPH Bandung Utara.

Trauma

Menurut Ukin, bagi Perhutani Bandung Utara, menanam
kaliki di lahan hutan sangat menggembirakan. Seiring
dengan perubahan status hutan Bandung Utara dari hutan
produksi menjadi hutan lindung. Namun yang perlu
ditata, adalah perubahan mental masyarakat terhadap
upaya penanaman kaliki. Pengalaman menanam kaliki pada
zaman penjahahan Jepang yang diceriterakan turun
temurun, mungkin menjadi trauma bagi generasi masa
kini. Seolah-olah kaliki identik dengan kesulitan dan
kesusahan.

Sedangkan Bram Burhanuddin mengungkapkan, seharusnya
Indonesia dapat mengekspor kaliki secara
berkesinambungan. Terutama ke Eropa dan Amerika
Serikat. Tetapi sekarang terhenti sama sekali akibat
ketiadaan komoditas. Para petani banyak beralih ke
tanaman lain yang lebih bersifat praktis dari pada
kaliki yang dianggap sulit. Padahal pemeliharaan sejak
masa tanam, pengelolaannya hingga siap jual cukup
mudah. Kaliki termasuk tanaman tahan hama, gampang
dipelihara dan yang penting, hasilnya laku keras.
Banyak yang mencari karena mempunyai karakteristik
minyak yang tak tergantikan oleh bahan minyak lain.
Dalam penanamannya dapat pula dipadukan dengan tumpang
sari, dengan kacang tanah, kacang hijau, kedelai, atau
jagung.

R. Ukin menyebutkan untuk tahap pertama tersedia 4 ha
di blok Ciherang, RPH Rajamandala dan 5 ha di
Manglayang Barat. Di kedua tempat itu dapat ditanam
masing-masing 5.000 pohon.

”Berdasarkan data-data dari PT Kimia Farma Semarang,
tiap pohon kaliki menghasilkan biji kering 6 kg.
Berarti dari 10.000 pohon mendapat 60 ton. Masih jauh
dari target yang diminta PT Kimia Farma. Tetapi untuk
tahap pertama, lumayan.” R. Ukin berharap.

Kampanye penanaman kaliki, juga jarak, dan rerek yang
peran dan fungsinya sejenis memang perlu digalakkan
kembali. Jika zaman Jepang diperuntukkan memenuhi
kebutuhan mesin perang, sekarang untuk peningkatan
kesejahteraan petani. Masih banyak lahan tidur yang
terlantar, di samping kawasan hutan yang gundul dan
perlu penataan. Penawaran yang menggiurkan dan pangsa
pasar yang terbuka luas, seharusnya dapat segara
dimanfaatkan. Perhutani KPH Bandung Utara yang sudah
memegang Memorandum of Understanding(MoU) dengan PT
Kimia Farma Semarang, perlu bergerak gesit sebelum
peluang menjanjikan itu disambar pihak lain. Sebab
kaliki yang dulu merupakan tanaman sangat dibenci
akibat penindasan penjajah Jepang, sekarang sudah
menjadi tanaman bernilai ekonomi tinggi. (H. Usep
Romli H.M.)***

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0604/22/0606.htm
                
--- mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> kungsi manggih tulisan duka dimana, poho deui, di PR
> duka dimana, jarak teh kaliki cenah. dina henteuna, 
> nya barayana meureun. duka ka pi alo atawa kapi
> mamang.


=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke