Kang Brad,

Tambihan info ngeunaan jarak.

RN


Jalan Panjang Menuju Energi Alternatif Biodiesel
 
Ratusan botol bekas minuman ringan ditata rapi di atas rak-rak kayu 
di sebuah laboratorium kultur jaringan. Di dalam botol-botol itu 
mulai tumbuh embrio tanaman jarak berwarna hijau muda. Embrio itu 
berkembang menjadi jutaan bibit tanaman jarak untuk bahan biodiesel.
 
Laboratorium kultur jaringan tanaman jarak milik Yayasan Kanisius 
Cabang Yogyakarta itu berada di Dusun Bendungan, Sidoagung, Godean, 
Sleman, DI Yogyakarta (DIY). Ruangan berukuran 6 x 10 meter persegi 
itu menempati satu ruang di Kompleks Wisma Albertus, Padepokan Guru 
dan Karyawan Shanti Dharma.
 
Laboratorium itu sangat sederhana untuk ukuran laboratorium kultur 
jaringan. Di dalamnya terdapat dua mikroskop, kulkas, tiga almari 
kaca laminar airflow, dan sterilisator. Ruangan bekas kelas SMP 
Santo Albertus Godean ini dibuat steril meskipun belum seratus 
persen. Padahal, biaya untuk membuat laboratorium ini sudah mencapai 
Rp 100 juta.
 
Awal November 2005, laboratorium mulai dirintis oleh Magda Titik 
Ijajati. Magda telah 20 tahun malang melintang dalam dunia pemuliaan 
tanaman. Bertepatan dengan perayaan Natal 2005, laboratorium itu 
mulai beroperasi dengan fokus pengembangan jamur kuping dan anggrek. 
Waktu itu, jamur kuping dan anggrek sedang menjadi tren budidaya di 
DIY.
 
Magda yang mendalami mikrobiologi dan farmasi mulai melirik tanaman 
jarak pada Januari 2006. Magda meriset tanaman jarak mulai dari 
informasi tentang jenis tanaman, budidaya, teknologi pengembangan, 
hingga peluang bisnisnya. Gadis lincah bertubuh mungil ini belajar 
secara otodidak untuk mengembangkan tanaman jarak secara kultur 
jaringan.
 
Literatur ilmiah yang dipelajarinya membuka cakrawala bahwa masa 
depan tanaman jarak sangat cerah. Di tengah krisis bahan bakar 
fosil, minyak jarak yang diolah menjadi biodiesel merupakan jawaban 
jitu.
 
"Kendalanya adalah memperoleh tanaman yang masih murni, berkualitas 
bagus dan dalam jumlah banyak. Mengembangkan dengan biji maupun stek 
sangat lama. Salah satu cara yang cepat sekaligus mempertahankan 
sifat unggul induk adalah kultur jaringan," papar Magda.
 
Teknik kultur jaringan yang dikembangkan oleh Magda sangat inovatif, 
terutama untuk menghemat biaya. Salah satu inovasinya adalah 
mengganti media tumbuh murasescok atau MS dengan racikan sendiri. MS 
yang harga setiap 100 gramnya mencapai Rp 516.000 diganti dengan 
ramuan agar-agar, sari buah, sari kelapa, dan pupuk organik. 
Hasilnya, media tanam murah meriah namun tetap berkualitas.
 
Jaringan sel
 
Langkah pertama kultur jaringan versi Magda adalah memotong-motong 
daun maupun tulang daun tanaman jarak menjadi jaringan sel. Potongan 
itu kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah diberi media 
tumbuh MS. Pertumbuhan eksplan bisa dikontrol menggunakan komposisi 
hormon tumbuh. Bila ingin daun tumbuh lebih dahulu ditambah hormon 
gibesilin, untuk akar hormon auksin dan pertumbuhan organ dipacu 
dengan hormon sitokinin.
 
Eksplan dalam botol itu sudah terpantau pertumbuhannya dalam dua 
pekan. Setelah menjadi protokolem, dilakukan pemecahan lagi. 
Hasilnya dimasukkan ke dalam botol yang telah diberi media tumbuh 
cair. Tahap selanjutnya adalah memecah protokolem menggunakan mesin 
shaker.
 
Proses ini dilakukan di laboratorium milik Universitas Sanata Dharma 
Yogyakarta karena keterbatasan alat. Hasil pemecahan itu sudah 
menjadi bank sel yang siap dikelompokkan lagi ke dalam botol-
botol. "Penelitian menemukan formula yang paling tepat untuk kultur 
jaringan masih sangat panjang. Kami butuh keterlibatan banyak pihak 
untuk menuntaskan formula," ungkap Magda.
 
Saat ini, kendala yang dihadapi adalah menemukan bibit tanaman yang 
benar-benar bagus. Selama lima tahun ini, Magda telah berhasil 
menumbuhkan jaringan menjadi embrio kemudian tunas hingga daun. 
Kendala yang belum ditemukan solusinya adalah formula penumbuh akar.
 
"Yang harus diperhatikan oleh masyarakat adalah pembibitan dan 
budidaya jarak tidaklah mudah. Banyak masalah yang saya temukan 
selama proses penelitian ini," ujar Magda.
 
Budidaya jarak, lanjutnya, sebaiknya menjadi perhatian serius 
pemerintah supaya masyarakat benar-benar bisa berusaha dengan aman. 
Tanaman jarak ternyata sangat peka terhadap iklim mikro dan kondisi 
tanah pada daerah tertentu. Berdasar penelitiannya, tanaman jarak 
bisa tumbuh bagus di daerah Gunung Kidul yang kering tetapi tidak 
bagus di daerah lereng Gunung Merapi.
 
Di tanah yang miskin unsur fosfor (P), kata Magda, pertumbuhan 
tanaman jarak akan terganggu. Awalnya, tanaman bisa tumbuh cepat 
dengan daun yang lebat. Tetapi daun kemudian rontok dan tanaman 
meranggas.
 
"Yang saya temui adalah banyak tanaman jarak bisa tumbuh dengan 
cepat tetapi selalu gagal berbunga. Teknik sambung pun demikian, 
jarang sekali yang sukses hingga menghasilkan buah. Pertumbuhan 
tanaman jarak yang normal adalah menggunakan biji, tetapi 
kelemahannya sangat lambat untuk menambah jumlah tanaman," kata 
Magda.
 
Berbagai kendala ini, kata Magda, harus menjadi perhatian 
pemerintah. Jangan sampai rencana pengembangan tanaman jarak justru 
menimbulkan kekecewaan masyarakat. Karena itu, berbagai penelitian 
pembibitan dan budidaya tanaman jarak harus dilakukan. Dana riset 
tentu butuh perhatian pemerintah. Karena, semangat yang ada di 
dalamnya adalah menjembatani masyarakat dengan sebuah kultur baru 
bioenergi.
 
Berbagai varietas
 
Selain mengembangkan teknologi kultur jaringan, Magda juga meneliti 
berbagai varietas tanaman jarak. Riset ini untuk menyeleksi varietas 
tanaman yang paling cocok di tanam di Indonesia dan kualitasnya 
bagus. Kini, Magda telah memiliki tanaman jarak dari Tanzania, 
India, dan Mali, semuanya dari spesies Jatropa. Tanaman jarak dari 
luar negeri itu kini berusia antara 6-8 bulan.
 
"Kalau distek, tanaman jarak dari Mali bagus untuk batang atas dan 
jarak lokal untuk batang bawah. Di Mali, tanaman jarak baru bisa 
berbuah setelah berusia dua tahun. Sedangkan di Indonesia, sudah 
bisa berbuah sekitar 5-6 bulan tetapi setelah itu ada masa krisis 
tanaman untuk adaptasi," jelas Magda.
 
Berbagai kendala budidaya tanaman jarak ini sebaiknya menjadi 
perhatian serius jika ingin melangkah ke bioenergi. Selama ini 
masyarakat menilai menanam tanaman jarak sangat mudah. Untuk tumbuh 
memang gampang tetapi untuk menghasilkan buah yang sulit. Selain 
itu, harus ada pemuliaan tanaman supaya kualitasnya bagus. Dan, 
teknologi kultur jaringan adalah jawaban untuk mempertahankan sifat 
unggul induk.
 
Biodiesel
 
Tanaman jarak yang sedang dikembangkan oleh Magda nantinya adalah 
penghasil buah jarak yang menjadi bahan baku minyak biodiesel. 
Wacana biodiesel mengemuka menyusul lonjakan harga minyak fosil 
dunia.
 
Ir Supranto MSc PhD, pakar biodiesel dari Jurusan Teknik Kimia, 
Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), sejak tahun 2001 
telah mengembangkan teknologi pengolahan biodiesel. Biodiesel 
pengganti minyak solar itu bisa dibuat dari bahan kelapa, kelapa 
sawit, kacang, jagung, kedelai, dan buah jarak.
 
Yang membedakan bahan-bahan itu adalah kadar biodiesel yang 
dihasilkan. Kelapa sawit, misalnya, kadar biodieselnya 40 persen (B-
40) dan buah jarak bisa mencapai kadar 80 persen (B-80). Kadar 
biodiesel B-80 berarti, minyak biodiesel masih harus dicampur dengan 
minyak solar sebesar 20 persen.
 
Supranto saat ini telah mampu membuat biodiesel B-100 yang sudah 
bisa dipakai tanpa campuran solar. Biodiesel B-100 telah diuji coba 
dan bisa digunakan untuk mesin diesel yang telah dilengkapi alat 
preheating. Alat ini seperti yang dipasang pada mobil bermesin 
diesel masa kini yang berfungsi memanaskan ruang pembakaran dan 
mencegah penggumpalan minyak.
 
Untuk mesin diesel yang belum ada preheating-nya, Supranto 
menyarankan untuk menggunakan B-100 saat mesin berjalan. Untuk 
menghidupkan mesin menggunakan B-80 ditambah solar kemudian memakai 
B-100 dan sebelum mesin dimatikan kembali menggunakan B-80.
 
Biodiesel dikembangkan oleh Supranto berdasar filosofi keterbatasan 
cadangan minyak bumi. Sumber energi alternatif terbarukan menjadi 
solusi menipisnya cadangan minyak fosil. Filosofi itu kemudian 
diejawantahkan ke dalam tataran praktis supaya masyarakat siap 
menerima teknologi biodiesel di saat krisis minyak bumi benar-benar 
terjadi.
 
"Teknologi biodiesel ini sebenarnya sederhana dan potensial di 
kembangkan di Indonesia yang kaya tumbuh-tumbuhan," ujar Supranto.
 
Untuk mengolah buah jarak menjadi biodiesel bisa dilakukan dengan 
dua cara. Pertama, memisahkan daging buah jarak dari cangkangnya. 
Kedua, buah jarak yang telah dikeringkan langsung diolah. Cara kedua 
hanya efektif diterapkan pada industri besar karena banyak minyak 
yang hilang. Buah jarak kering mengandung minyak jarak sekitar 30 
persen dari bobotnya. Dengan cara pertama, seluruh minyak jarak bisa 
diperas dan cara kedua hanya menghasilkan sekitar 20 persen.
 
Cara pertama, lanjut Supranto, sangat cocok untuk industri kecil 
menengah. Daging buah jarak yang telah dipisahkan diperas 
menggunakan pres hidrolik. Tahap ini menghasilkan 1/3 kandungan 
minyak. Sisa perasan diolah lagi dengan cara direndam ke dalam 
alkohol. Langkah selanjutnya pemerasan untuk mengeluarkan minyak 
jarak. Minyak jarak dipisahkan dari alkohol dengan cara dipanasi 
supaya alkohol menguap.
 
Minyak jarak bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar dan disebut 
biofuel straight oil. Minyak jarak disaring untuk memisahkan 
partikel padatan yang terikut. Hasil penyaringan bisa langsung 
digunakan sebagai campuran solar. Minyak jarak bisa digunakan 
sebagai biofuel straight oil bila kadarnya B-10.
 
Minyak jarak yang akan dijadikan biodiesel B-80 harus direaksikan 
dengan metanol. Katalisator yang digunakan bisa kalium hidroksid, 
natrium hidroksid maupun asam klorida. Minyak jarak dipanaskan 
terlebih dahulu sampai temperatur 60 derajat Celsius. Alkohol dan 
katalisator juga dipanaskan pada suhu yang sama. Kedua cairan itu 
dicampur dengan perbandingan 4:1 dan diaduk selama 60-90 menit pada 
suhu stabil 60 derajat Celsius.
 
Setelah proses ini akan terjadi dua lapisan, cairan atas biodiesel 
dan cairan di bawahnya gliserol. Dua lapisan akan terbentuk sempurna 
setelah dibiarkan selama 10 jam. Biodiesel masih harus dibersihkan 
dari sisa katalisator menggunakan air panas baru bisa digunakan.
 
Proses pengolahan CPO menjadi biodiesel, lanjut Supranto, CPO 
dicampur dengan etanol kemudian ditambahi soda api sebagai 
katalisator. Campuran itu diaduk dalam tabung reaktor dan dipanasi 
pada suhu 70 derajat Celsius selama satu jam. Minyak biodiesel akan 
terpisah dan berada di atas cairan gliserol. Setelah lapisan atas 
dibersihkan dengan air, minyak biodiesel siap digunakan.
 
Teknologi biodiesel ini sekarang diajarkan kepada guru-guru sekolah 
menengah kejuruan yang kuliah di Magister Sistem Teknik, Konsentrasi 
Teknologi Industri Kecil Menengah UGM. Para guru itu diharapkan bisa 
menularkan teknologi ini ke siswa-siswa di sekolah masing- masing, 
sehingga teknologi ini cepat menyebar ke masyarakat.
 
Supranto optimistis, prospek biodiesel ke depan makin cerah untuk 
mengganti solar. Biodiesel tetap potensial dikembangkan terutama di 
daerah-daerah terpencil, dan karenanya menyulitkan distribusi.
 
Dengan akan dibuatnya reaktor biodiesel sederhana berkapasitas 100-
200 liter per hari milik UGM itu, maka pengembangan teknologi dan 
distribusi energi alternatif akan mudah.
 
Reaktor ini menerapkan teknologi tepat guna sehingga mudah 
dioperasikan. Pembuatan reaktor untuk industri kecil itu akan segera 
dikenalkan ke masyarakat sebagai persiapan sumber daya manusia 
menerima teknologi pengolah biodiesel.
 
 
Can we learn something about that?
Please visit www.insinyur-kimia.com for other updates.
 
Best Regards,
 
 
 
Portal Insinyur Kimia
Updating & Maintenance Team
This portal was developed by BKK-PII.
Badan Kejuruan Kimia - Persatuan Insinyur Indonesia 
   
 












------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke