Nyarioskeun perkawis Kampung Naga, kumaha pami urang Sunda nu aya di dayeuh di tatar Pasundan. Hayu atuh wargi2 KUSnet urang ngalalana nyumpingan ka Kampung Naga. Mugia urang tiasa ngarojatkeun kareeus urang ka lemah cai.
Mangga ieu aya laporan lalampahan wartawan Kompas,Eko Hendrawan ka Kampung Naga. Mugia aya manfaatna : JAKARTA, KCM--Suara adzan isya baru saja terdengar ketika kaki ini mulai melangkah menuju lokasi perkampungan tradisional masyarakat Sunda, Kampung Naga, yang secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, provinsi Jawa Barat. Malam belum terlalu tua. Namun warna malam terasa begitu pekat. Untungnya, pancaran sinar bulan sedikit membantu pandangan saat melangkah menapaki ratusan anak tangga menuju perkampungan Naga. ( KCM/ Eko Hendrawan Seorang ibu bersama anaknya tengah melewati Undak Tangga (sengked) menuju perkampungan Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Selawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat) Kampung Naga, ya, sebuah kampung yang begitu eksotik. Di sana lah kearifan lokal masih dijaga dengan penuh ketaatan dan kesadaran para warganya. Kampung Naga terletak di sebuah lembah yang dilalui sungai Ciwulan. Untuk bisa mencapai ke sana, memang sedikit dibutuhkan stamina lebih. Maklum lah, para pelancong harus melalui sengked (undak tangga) yang jumlahnya mencapai 325 buah. Belum lagi kemiringan yang nyaris 50 derajat dengan jarak turunan mencapai sekitar 300 meter. Separuh jalan sudah undak tangga itu saya lewati. Sejenak saya berhenti sembari menarik nafas panjang-panjang. Barang bawaan yang lumayan berat cukuplah membuat saya sedikit kerepotan. "Ah, payah betul nih fisik," gumam saya. "Begini lah kalau jarang berolah raga," lanjut saya menyesali diri. Tapi sudahlah, ketimbang berkeluh kesah, pikir saya, mending rehat sejenak sembari mencicipi pemadangan langka ini: Bukit-bukit, pohon- pohon serta hamparan sawah di bawah sana seperti sebuah gambar siluet yang samar-samar di bawah sorotan bulan. Mmmm cantik nian, memang... Malam terasa begitu hening. Suara angin yang menyelinap di dedaunan terasa terdengar kencang. Ditambah suara air yang meluncur melewati bebatuan besar yang bertebaran di Sungai Ciwulan. Di kota besar seperti Jakarta dan Bandung, sulit rasanya menikmati momen ini. Yang ada hanya suara gaduh di mana-mana. Dua tiga tarikan nafas, saya lakoni. Sesekali mata saya melirik ke arah Abah Entu, lelaki tua yang menemani saya memasuki Kampung Naga. Tarikan nafasnya masih terjaga. Ia malah terlihat begitu tangguh ketimbang saya. "Sakeudap deui ge nyampe da (sebentar lagi juga sampai)," kata Abah Entu seolah memberi semangat. Syukurlah, setelah melewati sengked yang curam, jalan setelapak di bibir sungai Ciwulan, akhirnya sampai juga saya ke Kampung Naga. Embikan domba dari sebuah kandang yang saya lewati seperti menyambut kedatangan kami. (KCM/ Eko Hendrawan Inilah suasana Perkampungan Naga yang berdiri di lahan seluas 1,5 hektar. Sebanyak 111 rumah berdiri di sana, tiga di antaranya, mesjid, bale dan bumi ageung.) Gelap gulita. Ya, itulah kampung Naga di malam hari. Tak ada listrik di sana. Semua terasa gelap. Satu-satunya penerangan adalah lampu cempor yang bisa ditenteng ke sana-ke mari. Tapi malam itu, hanya rumah Abah Rida (74)--adik Abah Entu--yang terlihat terang oleh pancaran lampu cempor. Ada kesibukan di sana. Para penghuni rumah tengah menyiapkan sebuah hajatan besar. Cucu Abah Rida yang berusia 4,5 tahun, Mardiana, akan dikhitan pada beberapa hari ke depan. Inilah maksud kedatangan saya ke sana: Menyaksikan bagaimana Sanaga-- warga Kampung Naga-melakukan prosesi adat saat hendak menggelar khitanan anak-anaknya. Sebuah prosesi yang tergolong langka. Jika dilihat dari strata ekonomi warga Sanaga, tak gampang memang bisa menggelar hajatan seperti ini. Setidaknya dibutuhkan beaya sekitar Rp35 juta untuk sebuah prosesi adat khitanan. Padahal, kebanyakan dari mereka menggantungkan hidupnya sebagai petani. Yang membuat saya begitu bersemangat tentu saja, tak seorang pun orang luar Kampung Naga yang bisa menyaksikan proses ritual semacam ini. Kasarnya, jangankan pak Bupati, sekelas Gubernur pun tak bakal diberikan izin untuk menyaksikannya, kecuali punya hubungan keluarga. "Saleureusna seueur pisan ano hoyong nyaksian acara adat sapertos kieu teh. Tapi nya moal diwidian (Sebetulnya banyak sekali yang ingin menyaksikan acara adat seperti ini. Tapi enggak akan diizinkan)," ujar Abah Rida seolah mempertegas hal itu. Tentunya, ini sebuah kehormatan besar bagi saya untuk bisa menyaksikan proses adat khitanan itu sedari awal. Sayangnya, tak banyak informasi yang bisa didapat. Maklum lah bagi warga Kampung Naga, pamali atau tabu bagi mereka membicarakan hal-hal tentang adat istiadat pada hari-hari tertentu, seperti pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Hari-hari tersebut merupakan hari menyepi, di mana warga Sanaga pantang melakukan perbincangan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat mereka. Masyarakat Kampung Naga percaya bahwa dengan menjalankan adat- istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para karuhun atau leluhur mereka. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Ini menjadi aturan tak tertulis yang harus dijalani. Jika tidak mereka dianggap melanggar adat, tidak menghormati karuhun. Hal ini diyakini mereka akan menimbulkan malapetaka. (KCM/ Eko Hendrawan Seorang punduh, tetua kampung, tengah memimpin doa untuk meminta restu kepada karuhun agar hajatan berlangsung dengan lancar dan tanpa gangguan. Ritual ini dinamakan ngarajah ubrug) Seperti halnya upacara pernikahan, acara khitanan yang digelar masyarakat Kampung Naga tak serampangan bisa digelar. banyak prosesi yang harus dilakoni. Sebut saja dari mulai merencanakan jadwal pelaksanaan berdasarkan perhitungan waktu yang tepat untuk menggelar hajatan. Bulan Sapar dan Bulan Ramadhan merupakan larangan bulan, di mana pamali bagi mereka menggelar acara-acara penting, seperti khitanan, membangun rumah, dan upacara adat. Di samping itu perhitungan menentukan hari baik didasarkan kepada hari-hari yang dianggap sial pada setiap bulannya. Ambil contoh, hari yang dianggap sial pada bulan Juli ini, yakni hari Senin-Selasa tanggal 10,14 ((Jumalid Akhir) dan Rabu-Kamis tanggal 12,13 (Rajab). Nah, setelah hari baik ditentukan barulah segala macam kebutuhan prosesi adat dilakukan. Diawali dengan prosesi turun wadah. Inilah pertanda akan dimulainya hajatan. Semua parabotan dan bahan masakan yang sudah disiapkan disimpan dalam sebuah lokasi khusus yang dinamakan Ubrug. Di sinilah seorang punduh, tetua kampung, akan memimpin berdoa untuk meminta restu kepada karuhun agar hajatan berlangsung dengan lancar dan tanpa gangguan. Ritual ini dinamakan ngarajah ubrug. Setelah proses ini selesai baru lah, acara masak-memasak bisa dilakukan. Yang unik justru, yang punya hajat tidak diperkenankan untuk terlibat. Semua proses hajatan diserahkan kepada orang lain. Catatan ieu masih nyambung ... Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

