Cenah, kamari aya haseup aneh di Bandung, ngan hanjakal kuring henteu nempo. Ieu haseup teh jiga haseup di Yogya, sateuacan aya lini. Bade aya bancang Pakewuh di Bandung? Ngan Gusti Alloh anu terang ....
ANu narik deui, dina wartos ieu, disebat-sebat Kadarsah. Lamun teu salah mah Kadarsah teh urang Kusnet oge, Kadarsah aktif di Kusnet waktu mahasiswa keneh. Salah sahiji kamonesanana, ngapopulerkeun kecap "Sapuk", tepi katelah "si Sapuk". Ciri khasna sejenna, sok nyutat papatah Einstein : "Tuhan tidak bermain Dadu .... Wartos haseup aneh jeung Kadarsah nyanggakeun tina PR : Cuaca Daerah Tropis tak Menentu Zakir, "Awan Aneh Lantaran Suhu Laut Hangat" JAKARTA, (PR).- Karakteristik cuaca di daerah tropis yang berubah-ubah, membuat Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sulit memprediksi cuaca secara tepat. Berbeda dengan negara empat musim yang hanya dipengaruhi dua faktor, yakni angin dan tekanan udara. Wajar bila peneliti dari Cina dan Turki, merilis ada keterkaitan awan aneh dengan gempa. Demikian Kepala Bidang Cuaca BMG, Ahmad Zakir, di kantornya,Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (1/8). "Mereka mengakui, cuaca yang ada di negeri tropis very difficult. Itu sudah diakui tidak hanya oleh negara yang mengamati cuaca, tapi badan cuaca internasional," ungkapnya. Menurut dia, sedikitnya variabel penentu cuaca di negara subtropis menyebabkan ramalan cuaca lebih mendekati kenyataan. "Saya ditaruh tiga hari di sana sudah bisa meramalkan. Sebaliknya kalau di sini, setahun belum tentu bisa," tuturnya. Zakir menyatakan, tidak ada kekhasan awan di negara tropis seperti Indonesia. "Dari dulu yang namanya jenis awan hanya ada 37. Dari 37 di-breakdown jadi 10, lalu dibagi menjadi tiga, rendah, sedang dan tinggi," katanya. Hanya, karakteristik awan tahun ini berbeda. Tetap tenang Munculnya awan aneh banyak disangkutpautkan akan terjadinya bencana. Namun BMG tak sependapat. Ini terjadi lantaran suhu laut hangat. Awan itu terlihat selama 15 menit itu merupakan gejala alamiah biasa. "Proses itu terjadi lantaran suhu laut menghangat, dan menarik uap air ke atas menjadi partikel awan. Nah awan itu membentuk berbagai jenis awan yang kerap terlihat," kata Ahmad Zakir. Kondisi berawan, bukan hal yang ekstrem, hanya fenomena yang bersifat lokalistik. "Artinya, ada daerah hujan dan tidak. Ini terjadi karena awan hujan tak menyebar merata," katanya. Karenanya, masyarakat agar tetap tenang, karena tak berpotensi menimbulkan banjir," katanya. Menurut dia, jika ada yang menghubung-hubungkan fenomena awan aneh dengan akan datangnya bencana, itu karena masyarakat masih trauma atas peristiwa bencana beruntun. "Padahal secara ilmiah, tak ada hubungan cuaca dengan gempa," katanya. Muncul di Bandung Awan aneh juga muncul di Kota Bandung, Jabar. Salah seorang peneliti Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) melihat jelas awan itu dan mengatakan, sangat aneh. Ia bersama Kadarsah, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Meteorologi, melihat awan aneh itu pukul 09.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. "Saya melihat ke angkasa dan saya melihat awan aneh ini. Tujuh orang teman saya di LAPAN juga menyaksikannya," kata ahli meteorologi yang akan melanjutkan program doktor di Tokyo Technology Institute di Jepang ini. Menurut Kadarsah, awan aneh yang memanjang secara horisontal ini terdiri atas tiga lapis. Lapis paling atas, tampak tipis dan pendek. Lapis kedua, tebal dan panjang. Lapis ketiga, pendek tapi tebal. Awan yang memanjang seperti jalan pesawat jet ini merupakan anomali. "Dari jenisnya, awan ini sangat aneh dan perlu diteliti apakah ada kaitannya dengan kejadian gempa atau tidak," ujarnya. Awan aneh di Bandung ini hilang sekira pukul 11.00 WIB. Pagi hari pukul 05.30 WIB, warga Jakarta dan Bogor juga melihat awan memanjang ini. (dtc)*** Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

