Moal di Sundakeun da aslina oge Indo;

Repot amat dan salah kalau mau teliti ngukur pake
Kompas. Tidak akan ada sensitifitasnya. Bayangkan dari
Jakarta (dari sestiap titik di Jakarta) yang begitu
luasnya ditarik garis lurus ke Mekah (azimuth). Ngukur
dengan Theodolit, apalagi, bukan untuk itu..wong Mekah
tidak kelihatan dari sini.

Sekarang ada alat untuk mengukur Koordinate dengan
system referensi GPS (bentuknya seperti DOPOD atau PDA
lah).Pertama kita harus ketahui dahulu di Mekah itu
dimana yang dituju, tentunya Kabah, tarohlah
tengah2nya. Catat Koordinatnya. Kemudian dari titik
dimana kita mau shalat di masjid, dirumah, di Mall
dimana saja..diukur Koordinatnya dengan alat GPS tadi.
Maka akan didapat Koordinate secara exact. kemudian
masukkan harga2 koordinate itu ke Software khusus
(tergantung system GPS nya) maka akan didapat Azimuth
dalam derajat (0-360 derajat) dari garis lurus tempat
kita shalat ke tengah2 Kabah. O derajat adalah Utara,
90 derajat Timur,180 derajat Selatan, 270 derajat
barat dan 360 derajat adalah Utara lagi. Kalau kita di
Jakarta maka Mekah ada antara Barat dan Utara, jadi
Azimuthnya antara 270 derajat dan 360 derajat. Sesudah
pasti...barulah...kita shalat dengan segala kepuasan
perhitungan.....Apa ini yang dimaksud ?

Engke kumaha koordinat Imam beda jeung
urang..kulantaran urang shalat 40 meter ditukangeun
Imam ? Kok tiasa mantan Staff Menag dugi kakieu
pamendakna?

--- RaRaDuTaN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Subject: [daarut-tauhiid] Kiblat masjid di Indonesia
> salah arah?
> 
> >            Sensitifnya Arah Kiblat
> >
> >
> >            Usep Fathudin
> >            Mantan Staf Khusus Menteri Agama
> >
> >            Percayakah Anda bahwa pada umumnya
> kita, umat Islam kurang 
> > begitu peduli, apakah arah kiblat dalam shalat
> kita sudah benar? Mungkin 
> > dalam hati kita terbersit sekilas keyakinan bahwa
> masalah ini sudah 
> > dibicarakan oleh para ahlinya, sebelum sebuah
> masjid dibangun. Kita 
> > menjadi merasa tidak perlu mempertanyakan
> kesahihan kiblat suatu masjid. 
> > Bahkan bisa kita simpulkan, hatta para pengurus
> suatu masjid, bahkan 
> > masjid besar sekalipun, mempunyai sikap yang sama,
> tidak peduli.
> >
> >            Satu di antara dalil yang membuat kita
> kurang peduli, 
> > barangkali karena memang kita tidak diwajibkan
> untuk persis 100 persen 
> > menghadap kiblat di dalam shalat kita. Ayat
> Alquran yang sering menjadi 
> > dalil dalam hal ini adalah Surat Al Baqarah ayat
> 144, yang memerintahkan 
> > kita untuk shalat ke arah kiblat. Kata-kata 'ke
> arah', ditafsirkan sebagai 
> > usaha maksimal mengarahkan shalat kita ke Masjidil
> Haram, di Makkah. Sebab 
> > betapa pun kita shalat mengarah kiblat, ketika
> tanpa sengaja bergeser 1 cm 
> > di tempat kita shalat, itu berarti bisa bergeser
> hingga 100 km ketika 
> > ditarik terus ke arah kiblat.
> >
> >            Kisah kecil
> >            Adalah arah kiblat masjid Al Mukhlishun
> di Griya Depok Asri, 
> > Depok Tengah yang mulai memicu masalah ini untuk
> saya diskusikan. Masjid 
> > kompleks ini berdiri tahun 2001. Arah kiblat
> ditentukan menggunakan suatu 
> > kompas kecil berbahasa Inggris, dengan tulisan
> Latin dan Arab, tanpa 
> > tahun. Di situ tertulis bahwa untuk Jakarta (dan
> sebagian besar kota di 
> > Indonesia), arah utaranya harus menunjuk angka 9.
> Dengan jarum kompas 
> > mengarah tepat ke angka 9, arah itu ditunjuk
> kompas sebagai kiblat. 
> > Bagaimana terjadinya Jakarta dan hampir seluruh
> Indonesia berada pada 
> > angka 9, hanya para ahli yang memahaminya.
> >
> >            Belakangan ada seorang jamaah
> mempermasalahkan arah ini. Jamaah 
> > ini seorang insinyur, yang setahun ini relatif
> setia shalat di masjid. 
> > Tetapi kemudian ia menemukan satu peta dunia
> dengan judul US/UK World 
> > Magnetic Chart -Rpoch 2000 Declination- Main Field
> (D). Di situ 
> > digambarkan bahwa Indonesia berada pada garis O,
> dan kalau ditarik garis 
> > lurus ke barat, maka menurut penghitungan ini arah
> kiblat masjid yang 
> > sekarang ini menuju ke Tanzania atau Zanzibar di
> Afrika Timur. Dia dan 
> > putera-puteranya pun memilih shalat di rumah.
> >
> >            Atas dasar 'gugatan' seorang jamaah
> ini, Sekretaris takmir, 
> > mengambil inisiatif mengadakan pengumpulan data
> kiblat di wilayah Depok 
> > Tengah dan Depok Timur yang meliputi tujuh masjid.
> Dari data yang 
> > diperolehnya, ditemukan bahwa lima masjid
> mengambil arah pada kompas 
> > dengan angka 9 (sembilan), dan dua masjid
> mengambil arah utara pada angka 
> > 75 (7,5).
> >
> >            Saat umrah tahun 2003 saya sempat
> membeli beberapa buah kompas 
> > (satu jenis). Cetakannya memang berbeda dengan
> cetakan buku kompas yang 
> > digunakan untuk mengukur arah kiblat di masjid
> kompeks Griya Asri. 
> > Demikian juga bentuk kompasnya. Di situ tertulis
> sangat jelas bahwa 
> > Jakarta dan sekitarnya sampai Sukabumi, untuk
> kiblat, angka pada kompas 
> > harus menunjuk 75 (7,5).
> >
> >            Pada Ahad (16/7), sehabis shalat
> magrib, insinyur tadi diundang 
> > untuk mempresentasikan pendapatnya, dilengkapi
> dengan globe yang cukup 
> > besar. Pada intinya ia menunjukkan bahwa kiblat
> masjid, sebagaimana juga 
> > kiblat lima masjid lainnya yang disurvei, dianggap
> keliru, karena tidak 
> > mengarah ke Makkah, tetapi ke Afrika Timur, jauh
> di bawah Mesir.
> >
> >            Presentasi dan tanya jawab berakhir
> lima menit sebelum waktu 
> > 'Isya dan ia pamit. Saya minta ia ikut shalat dulu
> bersama-sama, tapi ia 
> > menolak karena merasa kiblat masjid ini tidak
> tepat. Atas dasar pengalaman 
> > ini, saya minta izin jamaah untuk mengadakan
> dialog dengan MUI Pusat, 
> > Pengurus Masjid Istiqlal, dan Departemen Agama.
> >
> >            Depag harus berperan
> >            Senin (17/7), sebelum pukul 12.00 WIB
> saya datangi MUI Pusat 
> > dan berharap bertemu ketua Majlis Fatwa atau
> pejabat majelis lainnya. 
> > Sayang tidak ada seorang pun masuk kantor. Saya
> bertemu dengan seorang 
> > staf, yang sudah sangat senior yang bekerja sejak
> awal berdirinya MUI. Ia 
> > memberitahukan bahwa MUI tidak mempunyai data atau
> keterlibatan dalam hal 
> > ukur-mengukur kiblat. Saya disarankan ke
> Direktorat Urusan Agama Islam, 
> > Departemen Agama.
> >
> >            Usai Dzuhur bersama-sama jamaah
> Istiqlal, saya berbicara dengan 
> > sekretaris Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI),
> Subandi. Ternyata yang 
> > bersangkutan tidak mengetahui masalah ini dan saya
> disarankan ke Bagian 
> > Takmir. Sebelum itu saya mengambil inisiatif
> mengukur arah kiblat Masjid 
> > Istiqlal. Ternyata arah kiblat Istiqlal bukan 9
> dan bukan 7.5 melainkan 
> > 8,5.
> >
> >            Sub Direktorat Kemasjidan yang selama
> ini berwenang mengelola 
> > masalah kiblat di masjid-masjid sudah berubah
> fungsi. Khusus masalah 
> > kiblat masuk dalam wewenang Subdit Rukyat dan
> Hisab. Seorang pejabat yang 
> > baru diangkat tiga bulan, semula sebagai dosen UIN
> Yogyakarta, tidak tahu 
> > apa-apa tentang kiblat Istiqlal. Tapi ia
> menegaskan bahwa masalah kiblat 
> > ini harus diadakan pengukuran kembali dengan
> teodolit, alat yang banyak 
> > digunakan orang agraria.
> >
> >            Pukul 14.00 WIB, saya terdampar di
> ruang Dirjen Bimbingan 
> > Masyarakat Islam, Nazaruddin Umar, yang juga
> kolega ketika saya di Yayasan 
> > Wakaf Paramadina. Karena ada tamu, saya harus
> menunggu untuk bisa bertemu 
> > Nazaruddin Umar dan kemudian saya menelepon Dirjen
> Peradilan Agama, Wahyu 
> > Widiada, untuk minta waktu mau singgah. Dulu,
> dialah yang selalu 
> > membacakan Keputusan Menteri Agama tentang awal
> Ramadhan, hari Idul Fitri, 
> > dan ia memang ahlinya. Ternyata ia juga
> menyarankan agar diadakan 
> > pengukuran dengan teodolit. Walaupun begitu, dari
> tiga fakta di atas (9, 
> > 8,5, dan 7,5) Dirjen lebih cenderung kepada angka
> 7,5 atau 75 di dalam 
> > kompas. Begitulah fakta tentang kiblat kita.
> Bagaimana masjid-masjid 
> > lainnya? Dan hari berikutnya, 18 Juli saya berada
> di kantor Jakarta 
> > Islamic Center, Tanjung Priok. Masjid Pemerintah
> DKI Jakarta yang terletak 
> > di atas lahan eks kompleks prostitusi Kramat
> Tunggak ini besarnya 
> > menduduki rangking dua setelah Istiqlal. Di depan
> tempat imam, dengan 
> > disaksikan seorang staf takmir, saya letakkan
> kompas saya, dan ternyata 
> > angkanya sama dengan Istiqlal, yakni 8,5.
> >
> >            Sedikitnya, ada tiga model arah kiblat,
> yaitu model dengan 
> > angka 9, angka 8.5, dan angka 7.5. Mana yang benar
> dari tiga angka 
> > tersebut? Barangkali umat Islam, khususnya
> Departemen Agama, dalam hal ini 
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke