Ti Millis sabeulah, cenah sumberna tina koran "Warta Kota", koran Jakarta. Geuning, lain wae awewe urang lembur bau lisung, tapi oge mahasiswi di Jakarta kersa dikawin "nyakeudeung".
Wartosna nyanggakeun: Kisah Mahasiswi Kawin Kontrak Dari sekian banyak perempuan yang diamankan petugas dalam operasi kawin kontrak di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, ada dua perempuan yang mengaku masih kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) di Jakarta. Mereka melakukan hal itu untuk biaya kuliahnya. Kedua mahasiswi tersebut adalah Aida (22) dan Sarah (20). Aida mengaku masih kuliah di sebuah PTS di Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sedangkan Sarah ngaku kuliah di sebuah PTS di Kalibata, Jakarta Selatan. Mereka rela kawin kontrak lantaran tak ingin terputus kuliahnya. "Saya terjerumus ke bisnis kawin kontrak gara-gara ditawari bekerja di Arab Saudi dengan imbalan gaji yang sangat besar oleh seseorang yang mengaku bernama Astuti. Saya baru mengenalnya di salah satu diskotek ternama di Jakarta," tutur Sarah ketika ditemui di Mapolwil Bogor, Selasa (1/8). Astuti menjanjikan, Sarah akan dipekerjakan di salah satu rumah makan milik rekan bisnis Astuti di Arab Saudi dengan gaji yang sangat besar. Namun, sebelum dapat bekerja di Arab Saudi, Sarah diharuskan berkenalan dengan rekan bisnis Astuti di kawasan Puncak. Karena tergiur dengan iming-iming gaji besar, Sarah pun menerima tawaran tersebut. "Saat itu saya benar-benar sedang dalam kesulitan untuk meneruskan kuliah karena terbentur biaya," kata perempuan berambut pirang itu. Diantar oleh seorang pesuruh Astuti yang belakangan terkuak identitasnya sebagai mucikari, Sarah yang bermukim di kawasan Jakarta Timur itu dipertemukan dengan seorang pria Arab di kawasan Puncak. Dalam pertemuan itu, Sarah juga didampingi seorang germo. "Katanya, bos yang punya restoran di Arab itu ingin bertemu. Kebetulan dia sedang berlibur di Puncak," kata Sarah. Dalam pertemuan awal itu, pria Arab bernama Ahmed Abdullah tersebut berjanji akan memenuhi segala kebutuhan Sarah selama bekerja di Arab Saudi. Namun ada syaratnya. "Syaratnya, waktu itu saya harus mau menemani dia untuk menjadi istri kontraknya selama dia berada di Puncak, sekitar 4 bulanan," ujar Sarah lagi. Setelah menerima penjelasan panjang lebar dari sang germo, Sarah pun tergiur dengan iming-iming uang puluhan juta. Akhirnya, sejak tiga tahun lalu Sarah rela menjalani profesi sebagai istri kontrak dari beberapa pria Arab. Angan-angan bekerja di Arab Saudi pun melayang entah ke mana. "Saya sudah tiga kali memiliki suami Arab, meski status perkawinan kami hanya kontrak," ujarnya. Berbeda dengan penuturan Aida. Gadis lembut bertubuh montok yang mengaku bermukim di kawasan Semper, Jakarta Utara, itu mengaku bahwa ia memang memilih menjadi istri kontrak daripada menjadi pelacur jalanan. "Daripada saya melacur di jalan atau istilahnya menjadi WC umum, mending dinikahin kontrak. Dapat nafkah, enggak usah di jalanan," katanya. Nasib kedua gadis itu sama, yakni menjalani kawin kontrak atas jasa seorang makelar yang menawari mereka menjadi istri dari pria asal Timur Tengah. Proses kawin kontrak di kawasan Puncak memang tergolong mudah dan singkat. Sepintas, kawin kontrak layaknya nikah sesungguhnya. Ada penghulu, saksi dan wali dari orangtua cewek. Tapi semua itu hanyalah akal-akalan saja. Kawin kontrak tak lepas dari sisi bisnis prostitusi terselubung. Misalnya saja, calon pengantin pria harus membayar mahar antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Seperti dikemukakan Sarah. Saat kawin kontrak, suaminya membayar mahar Rp 15 juta. Namun uang itu dibagi- bagi untuk dirinya, makelar, penghulu, saksi, dan wali. "Saya sendiri hanya mendapat Rp 8 jutaan," beber Sarah. (Akn) Sumber: Warta Kota Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

