Jabar kembangkan objek wisata alam
Sambil mengaduh kesakitan, tatapan kosong tampak nyata di mata Euis
Komariah, 37, pedagang cenderamata di kawasan pantai timur Pangandaran,
yang selamat dari amukan tsunami. Nampak jelas dia berusaha menahan sakit
yang menderanya.
"Saya bersyukur bisa selamat meski kaki luka-luka. Tapi kios saya
hancur tidak bersisa. Bingung, bagaimana nanti mau buka lagi. Cicilan [kios]
yang kemarin saja belum lunas," katanya saat dijumpai Bisnis di Puskesmas
Pangandaran pekan lalu.
Boleh jadi derita wanita asal Maleber, Ciamis itu merepresentasikan
tatapan sedih masyarakat pariwisata Jabar. Atau setidaknya, mewakili kegetiran
atas keterpurukan pariwisata laut Jabar yang sebelumnya telah dihantam isu
terorisme dan tsunami Aceh.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar
Idjudin Budiana, dampak travel warning pada Indonesia dan tsunami Aceh 2004
membuat total pengunjung Pangandaran pada 2005 hanya mencapai 3 juta orang.
Jumlah tersebut, lanjutnya, menurun dari jumlah pengunjung awal tahun
2000-an yang mencapai 6 juta wisatawan. Itu pun dengan komposisi
pengunjung yakni 2,9 juta wisatawan nusantara (wisnus) dan 100.000 wisatawan
mancanegera (wisman).
"Wisman yang masih mau berkunjung hanya dari segelintir negara seperti
Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Belanda. Wisman negara besar
enggan masuk Pangandaran karena ketakutan dampak isu teroris dan tsunami
Aceh," ujarnya.
Selain ketakutan, Budiana mengakui bahwa objek wisata di pesisir
selatan
Sambil mengaduh kesakitan, tatapan kosong tampak nyata di mata Euis
Komariah, 37, pedagang cenderamata di kawasan pantai timur Pangandaran,
yang selamat dari amukan tsunami. Nampak jelas dia berusaha menahan sakit
yang menderanya.
"Saya bersyukur bisa selamat meski kaki luka-luka. Tapi kios saya
hancur tidak bersisa. Bingung, bagaimana nanti mau buka lagi. Cicilan [kios]
yang kemarin saja belum lunas," katanya saat dijumpai Bisnis di Puskesmas
Pangandaran pekan lalu.
Boleh jadi derita wanita asal Maleber, Ciamis itu merepresentasikan
tatapan sedih masyarakat pariwisata Jabar. Atau setidaknya, mewakili kegetiran
atas keterpurukan pariwisata laut Jabar yang sebelumnya telah dihantam isu
terorisme dan tsunami Aceh.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar
Idjudin Budiana, dampak travel warning pada Indonesia dan tsunami Aceh 2004
membuat total pengunjung Pangandaran pada 2005 hanya mencapai 3 juta orang.
Jumlah tersebut, lanjutnya, menurun dari jumlah pengunjung awal tahun
2000-an yang mencapai 6 juta wisatawan. Itu pun dengan komposisi
pengunjung yakni 2,9 juta wisatawan nusantara (wisnus) dan 100.000 wisatawan
mancanegera (wisman).
"Wisman yang masih mau berkunjung hanya dari segelintir negara seperti
Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Belanda. Wisman negara besar
enggan masuk Pangandaran karena ketakutan dampak isu teroris dan tsunami
Aceh," ujarnya.
Selain ketakutan, Budiana mengakui bahwa objek wisata di pesisir
selatan
Jawa itu sudah terdistorsi banyaknya pedagang kaki lima (PKL) di
sepanjang pantai serta pengelolaan lingkungan yang buruk. Akibatnya, pesiar ke
Pangandaran tidak bikin happy tapi malah makin sumpek dan pusing.
H.S. Hermawan, Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) Jabar,
membenarkan hal tersebut. Malah, objek wisata alam di Jabar mulai dari
Puncak, Tangkuban Perahu, hingga Pangandaran tidak membuat nyaman
pengunjung. Sebab, wisatawan hanya disuguhi "tenda biru" PKL, bukan
melihat keindahan kawah Ratu, Tangkuban Perahu. Ataupun melihat 'lukisan' alam
yang sempurna dalam prosesi sunset di Pananjung, Pangandaran.
Kondisi ini tidak terlepas sebagai dampak era otonomi daerah yang
membuat pemda salah kaprah. Lapak-lapak PKL di Pangandaran, misalnya, dijual
dan disewakan dengan dalih menambah kas pendapatan asli daerah (PAD).
Begitulah kondisinya, demikian menyedihkan.
Sekalipun begitu, kondisi ini tidak membuat surut pemda untuk terus
mengembangkan objek wisata ini. Seperti yang diungkapkan Gubernur Jabar
Danny Setiawan, bencana tsunami justru merupakan momentum perbaikan dan
kebangkitan.
Menurut dia, Pemprov Jabar telah menganggarkan dana sekurangnya Rp450
juta guna pemulihan di pantai selatan itu dengan fokus utama perancangan
kawasan yang nyaman dan aman.
"Saya sudah instruksikan ahli lingkungan, insinyur, dan pakar wisata
untuk
mendesain konsep wisata Pangandaran yang baru. Tsunami membuat penataan
kawasan akan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan sebelumnya,"
katanya
usai pembukaan Pameran Jabar Travel Exchange (JTX) 2006 di Bandung
belum
lama ini.
Diperkirakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan waktu
sekurangnya dua tahun. Dengan demikian, pemandangan berjubelnya
wisatawan di
Pangandaran baru akan terlihat kembali paling cepat pada liburan
sekolah
2008.
Pemprov Jabar berjanji akan mengawasi implementasi redesign Pangandaran
yang dipercayakan pada Pemkab Ciamis. Tentunya, dengan harapan pantai
tersebut
nantinya akan dikunjungi wisatawan lebih banyak dari sebelumnya.
Penataan terintegrasi
Dalam penataan kembali wisata Pangandaran, Asita (Asosiasi Perusahaan
Perjalanan Indonesia) Jabar berpendapat pemprov harus segera memiliki
cetak biru (blue print) penataan Pangandaran yang terintegrasi dan
mengutamakan keselamatan wisatawan.
Menurut Ketua Asita Jabar Herman Rukmanadi, cetak biru bukan hanya
menata kawasan yang rusak akibat badai tersebut, tapi menata seluruh wilayah
Pangandaran menuju kawasan wisata pantai yang aman, nyaman, dan
memuaskan kaum pelancong.
"Tentukan batas-batas yang bisa jadi pemukiman serta atur lokasi lapak
PKL
yang mudah dijangkau namun tidak mengganggu kenyamanan wisatawan. Blue
ini harus segera ditetapkan biar masyarakat tidak keburu membangun
sendiri-sendiri," katanya.
Herman yang juga Direktur PT Bara Tours itu mengungkapkan cara tersebut
secara simultan dibarengi upaya pemulihan psikologi masyarakat. Salah
satu caranya adalah Depbudpar menjalin kemitraan dengan Badan Meteorologi
dan Geofisika (BMG). Departemen Kebudayaan dan Pariwisata meminta BMG agar
memberi informasi cuaca untuk kemudian dipublikasikan secara periodik
di media massa, khususnya informasi cuaca di wilayah rawan bencana.
Cara tersebut, sambungnya, secara perlahan akan memunculkan kepercayaan
dan gairah masyarakat untuk kembali mau menikmati enaknya minum kelapa muda
dengan iringan suara burung camar dan deburan ombak.
Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar Ries Hermawan
mengungkapkan pihaknya tidak khawatir akan nasib pariwisata di
wilayahnya
pasca tsunami yang menghancurleburkan kawasan pantai Pangandaran.
Menurut dia, kontribusi pengunjung Pangandaran pada 2005 mencapai
sekitar 3 juta pengunjung atau 10% dari total wisatawan di Jabar yakni 35 juta
wisnus dan 400.000 wisman.
"Dengan asumsi pengeluaran wisnus Rp100.000 dan wisman Rp1 juta serta
lama
kunjungan satu hari, potential lost Pangandaran selama satu tahun
mencapai
Rp129 miliar. Nominal yang besar. Tapi saya yakin akan ter-cover,"
katanya.
Keyakinan Ries berpijak pada begitu banyaknya objek wisata alam di
Jabar yang bagus tapi belum banyak dipublikasikan, seperti Gunung Papandayan
Garut, kawasan Ciwidey Kab. Bandung, Lido Sukabumi, Cibodas Cianjur,
dan lainnya.
Menurut dia, dengan sedikit sentuhan promosi dan perbaikan
infrastruktur,
objek wisata alam yang masih belum banyak pengunjung itu akan memancing
kembali minat wisatawan.
Selain wisata alam tersebut, sambungnya, dia optimistis pesona wisata
belanja dan kuliner Bandung yang kian hari kian ramai akan mampu
mensubsitusi hilangnya wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran.
H.S. Hermawan menambahkan wisata budaya di Jabar layak dijadikan jagoan
baru karena budaya Sunda yang bisa dijadikan tontotan sangat banyak dan
tersebar di seluruh kota/kabupaten.
Dia mencontohkan seni musik Sunda seperti Gending Karesmen Lutung
Kasarung, Kecapi Suling, Rampak Kendang, dan lainnya akan diminati wisatawan.
Demikian pula dengan atraksi budaya seperti Sisingaan asal Subang, Reak
(Bandung), Kuda Renggong (Sumedang), dan Longser (Majalengka).
"Asal mau konsisten, itu [wisata budaya] bisa menarik banyak wisatawan.
Tapi harus meniru seniman tari kecak di Bali yang akan tetap menari, ada
atau tidak ada pengunjung. Itu yang harus diterapkan."
Baik Herman maupun Ries Hermawan optimistis target kunjungan wisatawan
Pemprov Jabar 2006 yakni 40 juta wisnus dan 500.000 wisman masih bisa
terealisasi, sejauh pelaku industri wisata juga tetap giat bekerja.
Semoga saja ungkapan orang bijak blessing in disguise nantinya akan
terealisir. Alias Pangandaran khususnya dan wisata Jabar umumnya makin
bangkit setelah disapu tsunami. Dan mari berharap pihak terkait bisa
gesit
bertindak, sehingga tidak malah terjadi disaster in disguise.
([EMAIL PROTECTED])
Oleh Muhammad Sufyan
Kontributor Bisnis Indonesia
http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A08&cdate=04-AUG-2006&inw_id=460204
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Organizational culture assessment |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___

