Punten ka para Kuncen manawi teu disundakeun...
1. ilmu tentang hubungan kelinci dengan gempa
Posted by: "sony surbakti" [EMAIL PROTECTED] hisfunkykid
saya (Sony) mencoba penasaran dan menemukan sekelumit penerangan tentang
hubungan antara perilaku satwa dengan yang akan terjadi dengan habitatnya
(alami maupun buatan). dengan harapan memuaskan sedikit rasa keingintahuan
kita.
dari www.pikiran-rakyat.com:
Kantor berita Reuters melaporkan, Taman Nasional Yala di Sri Langka telah
dipenuhi mayat manusia, namun tidak satu pun ditemukan bangkai-bangkai
hewan. Taman Nasional Yala merupakan rumah bagi 200 ekor gajah Asia,
leopard, rusa, dan hewan liar lainnya. Gelombang tsunami yang menerjang Sri
Langka sama sekali tidak membunuh hewan-hewan yang terdapat di daerah
tersebut.
Seorang staf di Taman Nasional Yala mengatakan, tidak ada gajah yang mati,
bahkan tidak ditemukan bangkai hewan kecil seperti kelinci sekalipun. Hewan
memiliki indra keenam dan dapat merasakan gejala suatu bencana.
Di Pantai Khao Lak, Thailand, gajah-gajah tunggang yang sedang dinaiki
turis terlihat gelisah dan berlarian ke arah bukit. Beberapa saat sebelum
datangnya gelombang, gajah ini terus-menerus bersuara dan gelisah
(agitated). Mereka ini kembali tenang dan tidak bersuara setelah berada di
bukit. Setelah itu, muncul gelombang tsunami yang menghantam pantai sejauh 1
km. Gajah-gajah yang ditunggangi turis itu pun selamat dan tidak tersentuh
gelombang. Gajah ini telah menyelamatkan sejumlah turis asing dari gelombang
tsunami.
Ethologi sebagai ilmu
Kepercayaan yang mengatakan, hewan dapat merasakan gejala alam dan gempa
telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Tahun 373 sebelum masehi, sejumlah
sejarawan mencatat, hewan seperti tikus, ular, dan musang telah meninggalkan
kota Helis di Yunani beberapa hari sebelum terjadinya gempa yang
menghancurkan kota tersebut.
Hewan memiliki tingkah laku yang terlihat dan saling berkaitan secara
individual maupun kolektif. Berbagai macam tingkah laku hewan merupakan cara
bagi hewan tersebut untuk berinteraksi secara dinamik dengan lingkungannya.
Tingkah laku yang dimiliki berbagai macam hewan telah melahirkan bidang ilmu
tersendiri bernama ethology. Ethologi merupakan ilmu yang mempelajari
gerak-gerik atau tingkah laku hewan di lingkungan alam dan di lingkungan
lain hewan tersebut biasa hidup.
Para peneliti perilaku hewan (ethologist) mempelajari fisiologi perilaku
dengan metode analisis dan morfologi perilaku dengan metode komparatif.
Konrad Z. Lorenz dianggap sebagai Bapak Ethologi Modern. Lorenz merumuskan,
perilaku hewan, adaptasi fisiknya, merupakan bagian dari usahanya untuk
hidup. Dalam ethologi diakui, perilaku hewan timbul berdasarkan motivasi,
hal ini menunjukkan, hewan mempunyai emosi. Etologi erat kaitannya dengan
bidang ilmu lain seperti geologi, karena ada beberapa perilaku hewan yang
dapat menunjukkan akan terjadinya suatu gempa atau tsunami.
Meskipun demikian, beberapa ahli geologi di Amerika masih bersikap skeptis
dalam melihat fenomena tingkah laku hewan sebelum terjadinya tsunami. Andi
Michael, seorang ahli dari United States Geological Survey (USGS)
menganggap, tingkah laku abnormal hewan yang terlihat sebelum terjadinya
tsunami ini hanyalah sebuah anekdot.
USGS menyatakan, tidak ada hubungan antara perilaku hewan dengan
terjadinya gempa. Pada tahun 1970-an, USGS pernah melakukan penelitian
tentang prediksi gempa melalui pengamatan perilaku hewan, namun tidak ada
hasil nyata dari penelitian tersebut.
Gempa di Haicheng dan Tangshan
Sementara itu, George Carayanis dalam artikelnya menulis, sebuah
penelitian di Cina telah mengindikasikan penggunaan perilaku hewan sebagai
metoda untuk memprediksi sebuah gempa. Para peneliti telah sukses
memprediksi sebuah gempa di Kota Haicheng pada bulan Februari 1975 melalui
pengamatan perilaku hewan yang abnormal. Ular keluar dari lubangnya di musim
dingin dan terlihat pula kemunculan sejumlah besar tikus yang berlari tanpa
arah. Kejadian ini diakhiri beberapa gempa pada akhir Desember 1974.
Pada bulan Januari 1975, laporan mengenai perilaku hewan yang abnormal
telah diterima di berbagai tempat di kota Haicheng. Aktivitas ini semakin
intensif pada tiga hari pertama di bulan Januari dan telah dilaporkan pula,
hewan ternak seperti sapi, babi, kuda, dan anjing telah memperlihatkan
tingkah laku yang abnormal. Setelah itu, pada tanggal 4 Februari 1975 sebuah
gempa pun menghancurkan kota Haicheng di Provinsi Liaoning Cina. Namun,
melalui pengamatan perilaku hewan ini, sekira 90.000 nyawa dapat
diselamatkan.
Setahun kemudian, seorang peternak kuda di sekitar kota Tangshan, Cina,
melaporkan, kuda dan keledai mereka tidak mau makan, namun ternak tersebut
malah melompat dan menendang hingga keluar dari kandang. Beberapa detik
kemudian, terlihat cahaya putih menyilaukan di angkasa dan terjadilah gempa
di area tersebut. Laporan lain menyebutkan, beberapa ekor kambing menolak
kembali ke kandang, kucing dan anjing membawa anak-anaknya keluar rumah,
babi mengeluarkan suara-suara aneh, ayam meninggalkan kandang di tengah
malam, ikan berenang tanpa tujuan, dan burung-burung meninggalkan sarangnya.
Kasus serupa terjadi pula di Jepang. Sekira 80% gempa di Jepang terjadi di
tengah lautan. Hal ini menyebabkan terjadinya perilaku abnormal pada ikan.
Spesies ikan yang biasa hidup di lautan dingin yang dalam, dapat tertangkap
nelayan di perairan yang dangkal dan hangat beberapa saat sebelum terjadinya
gempa. Ikan memiliki sensitivitas tinggi terhadap variasi medan elektrik
yang terjadi sebelum gempa. Sensitivitas seperti ini memungkinkan beberapa
hewan untuk dapat mendeteksi gas radon yang dikeluarkan dari tanah sebelum
gempa.
Setelah diketahui, hewan dapat memprediksi terjadinya bencana alam,
beberapa peneliti Cina telah melakukan survei mengenai variasi perilaku
hewan sebelum terjadinya gempa. Kelompok peneliti yang terdiri dari ahli
biologi, geofisika, kimia, meteorolgi dan biofisika ini melakukan survei di
kota Tangshan dan sejumlah daerah disekitarnya yang telah dilanda gempa pada
tahun 1976. Setelah mengunjungi beberapa tempat dan melakukan wawancara
dengan penduduk lokal, peneliti ini memperoleh 2.000 kasus tentang perilaku
abnormal hewan yang terjadi sebelum gempa.
Beberapa perilaku abnormal
Berbagai fenomena dan fakta tentang perilaku abnormal hewan sebelum
terjadinya gempa tertulis pula dalam artikel David Jay Brown yang berjudul
Etho-Geological Forecasting. Disebutkan, seorang ahli geologi dari
California,AS mengklaim dapat memprediksi sebuah gempa dengan tingkat
akurasi 75% melalui penghitungan jumlah hewan peliharaan (pets) yang hilang,
penghitungan ini telah dilakukan selama bertahun-tahun. Akhirnya, dapat
disimpulkan, angka hilangnya hewan peliharaan (anjing dan kucing) akan naik
secara signifikan selama dua minggu sebelum gempa. Kesimpulan ini terbukti
ketika memprediksi gempa di Loma Prieta, Northern California, AS.
Sebelum terjadinya gempa, beberapa hewan menunjukkan perilaku abnormal
dengan pola tingkah laku yang khas pada setiap spesies. Ular merupakan hewan
yang biasa tidur di musim dingin (hibernate), namun ular ini akan keluar
dari lubangnya sebelum terjadinya gempa, kemudian membeku di atas permukaan
salju. Tikus akan terlihat linglung (dazed) beberapa saat sebelum gempa,
sehingga dapat dengan mudah ditangkap tangan. Burung merpati akan
memperlambat terbangnya ketika akan menuju suatu tempat. Ayam akan
menghasilkan telur yang sedikit, bahkan tidak bertelur sama sekali. Babi
secara agresif saling menggigit satu sama lain sebelum terjadinya gempa
(Tributsch, 1982).
Lebah terlihat meninggalkan sarangnya dalam kondisi panik beberapa menit
sebelum gempa, dan tidak akan kembali ke sarangnya sampai 15 menit setelah
gempa berhenti. Bahkan hewan kecil seperti lintah (leechs), cumi-cumi
(squid), dan semut pun memperlihatkan perilaku abnormal sebelum terjadinya
gempa (Miller, 1996).
Fenomena terjadinya perilaku yang tidak lazim pada hewan sebelum
terjadinya gempa dapat dijelaskan dengan berbagai teori. Sebagian besar
hewan memiliki kapasitas pendengaran (auditory capacities) yang melebihi
manusia. Selain itu, hewan dapat memberikan reaksi terhadap pancaran suara
ultra (ultrasound) sebagai getaran mikroseismik dari patahan batuan.
Fluktuasi medan magnet bumi dapat menyebabkan perilaku abnormal pada
hewan. Beberapa hewan memiliki sensitivitas terhadap variasi medan magnet
bumi yang terjadi di dekat pusat gempa (episenter). Perubahan medan magnet
bumi dapat memengaruhi proses migrasi burung-burung, dan menganggu kemampuan
navigasi ikan. Selain itu, ion-ion yang bermuatan dapat keluar sebelum
terjadinya gempa. Hal ini menyebabkan partikel ion yang bermuatan listrik
dapat mengubah pemancar gelombang saraf (neurotransmitter) dalam otak hewan.
"Animal's warning system"
Kemampuan hewan yang dapat mendeteksi sebuah gempa memberikan inspirasi
pada manusia untuk membuat peralatan yang memiliki kemampuan serupa. Marsha
Adams, seorang peneliti gempa di San Fransisco, AS mengklaim dirinya telah
mengembangkan sensor yang dapat menangkap sinyal elektromagnetik frekuensi
rendah dengan keakuratan 90%. Peralatan itu menangkap sinyal yang sama
dengan sinyal yang ditangkap hewan. Beberapa hewan memiliki reseptor untuk
menangkap getaran berfrekuensi tinggi dan rendah.
Sistem peringatan dini (early warning system) dengan menggunakan
pengamatan terhadap perilaku hewan memerlukan pengembangan dan penelitian
lebih lanjut. Cina telah menjadi pioner dengan mendirikan stasiun percobaan
(experimental station) untuk memprediksi terjadinya gempa bumi menggunakan
observasi biologi di Provinsi Xingtai pada tahun 1968. Jika sistem ini telah
teruji dan berkembang dengan baik, maka sistem ini dapat menghemat biaya
dalam membeli berbagai instrumen dan peralatan untuk memprediksi gempa.***
M. Ikhsan Shiddieqy,
Mahasiswa Departemen Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Unpad.
------------------------------------------------------------------------
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/