FYI..
Uing nampi surelek ceramah Kang Amien Rais 
di aula barat ITB , 27-8-06 , 
mugia mangpaat.
Ka anu tos nampi...nya gitu deh, delete saja.

Isi Ceramah Pak Amien di depan Mahasiswa Islam ITB.

(a) Dalam pergaulan intenasional, saat ini Indonesia
itu dalam kedudukan seperti pepatah melayu : masuk
tidak menggenapkan, keluar tidak mengganjilkan.
Artinya nggak dianggap lagi. Ukurannya sederhana,
Indonesia jarang muncul di koran International Herald
Tribune. Jauh dibandingkan Malaysia, Thailand,
Singapura, apalagi Cina. Kalaupun muncul, biasanya
masalah bencana tsunami, gempa, longsor, penyebaran
flu burung, hingga korupsi. Pokoknya yang jelek-jelek
lah. Dalam berbagai kesempatan perjalanan ke luar
negeri, beliau juga merasakan betapa sebagai anak
bangsa sering kesal dan terkadang jadi agak minder
karena kenyataan itu.

(b) Salah satu penyebab keadaan di atas adalah karena
tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
masih tertinggal dibanding negara lain. Sebagai
contoh, penguasaan teknologi nuklir kita masih
tertinggal satu generasi dibanding Pakistan. Padahal
justru hal inilah yang paling menentukan daya saing
bangsa saat ini. Pak Amien memberikan contoh kota
Shanghai. Kepada pak Amien, walikota Shanghai
mengatakan bahwa 70 persen pendidikan tinggi adalah
politeknik. Dan secara umum, RRC memang
memprioritaskan penguasaan teknologi ini. Hasilnya?
Akhir tahun lalu, cadangan devisa RRC sudah melampaui
1 milyar dolar. Bandingkan dengan cadangan devisa RI
yang berkisar 30 juta dolar! Dengan landasan berpikir
seperti itu, maka pak Amien menkankan pentingnya peran
para mahasiswa ITB ini di kemudian hari.

(c) Ada logika sederhana disampaikan pak Amien.
Pemerintah kita selalu beralasan ketiadaan dana
sebagai sebab tidak berhasil maju seperti negara lain.
Mau meningkatkan anggaran pendidikan, tidak ada uang.
Mau meningkatkan kekuatan militer, tidak ada uang.
Singkatnya, ketiadaan uang adalah alasan bagi seluruh
kegagalan bangsa untuk bisa bersaing. Lha lalu di mana
kekayaan negara yang berlimpah dari karunia Allah itu?
Paling banyak dikeruk oleh perusahaan-perusahaan
asing. Akibatnya kita tidak punya uang, lalu terpaksa
utang. Sudah begitu, lebih sial lagi, utang itu
dikorupsi pula oleh elit-elit pemimpin.

(e) Selain rendahnya penguasaan teknologi, sola
mentalitas juga sangat besar pengaruhnya.Sebagai
bangsa saat ini kita sudah kehilangan kepercayaan
kepada diri sendiri, jadi bangsa sontoloyo menurut
SUkarno. Lalu beliau menceritakan sebuah anekdot
tentang SI AMAT MENCARI CINCINNYA YANG HILANG.

Alkisah ada seorang bernama Amat. Suatu hari ia
kehilangan cincinnya. Begitu pentingnya cincin itu,
maka ia segera mencarinya. Ia keluar rumahnya, mencari
di halaman dan kebun. DIbolak-balik di sana sini tidak
juga ketemu. Hal ini menarik perhatian tetangganya :
ada apa gerangan si Amat kebingungan mutar-muter di
kebun. Si tetanggal bertanya
T : Ada apa sih pak AMat kok kelihatan bingung
A : Saya mencari cincin saya yang hilang
T : Lho emangnya hilangnya di mana?
A : Seingat saya, cincin saya itu hilang di dalam
rumah saya.
T : Lalu mengapa pak AMat mencarinya di luar rumah?
A : Soalnya di dalam rumah saya gelap, jadi saya cari
di luar yang lebih terang.

Apa moral cerita ini? Wong jelas tahu cincinnya hilang
di dalam rumah, tapi kok dicarinya di luar rumah.
Hanya karena di dalam rumah gelaap! Bego kan?
Kita sebagai bangsa seperti pak AMat itu. Sesungguhnya
para cerdik pandai yang menjunjung tinggi nurani sudah
tahu problema negara ini dan bagaimana mengatasinya.
Namun penyelesaian itu tidak diambil oleh para elit
politik karena mereka malas. Mereka enggan berpikir
kreatif dan semata-mata memasrahkan urusan kepada para
penasihat asing!

(f) Seperti biasa, soal pertambangan juga menjadi tema
besar pak Amien. Di ceramahnya pak AMien sudah
menyebut bahwa korupsi terbesar adalah di sektor
pertambangan. Kalau korupsi markup harga helikopter,
atau calau urusan haji, itu ecek-ecek saja dibanding
besarnya kerugian negara akibat pengambilan kekayaan
tambang kita secara ugal-ugalan oleh korporasi
internasional. Beliau mengambil contoh Freeport.
Tailing (limbah tanah yang diambil bersama
emas/perak/tembaga lalu dipisah) yang digelontor dari
pegunungan Jaya Wijaya ke selat Arafura itu sudah
sangat besar. Kalau volume tailing itu di gelontorkan
ke Jabotabek, maka Jabotabek akan tenggelam terurug
sedalam 10 meter. Ironisnya, proses pengambilan
kekayaan tambang itu sama sekali tidak bisa kita
periksa. Prof Subroto (Menteri Pertambangan Era
Suharto) pernah memberitahu paka AMien bahwa ada
pasal-pasal dalam perjanjian kotrak karya dengan
Freeport yang dirahasiakan. DPR pun tidak boleh
mengetahui! Lebih ironis lagi karena kontrak karya itu
berakhir tahun 2040-an. Pada waktu itu, kata pak
AMien, beliau, SBY, atau Jusuf kalla insya Allah sudah
di alam baka. Lalu anak cucu kita tinggal mendapatkan
bumi yang telah dirusak oleh perusahaan asing itu
tanpa memberikan keuntungan yang layak untuk bangsa
kita. Bisa-bisa anak cucu itu akan melaknat kita.

Kejadian serupa Freeport itu juga terjadi di Newmont
hingga berbagai kontrak karya bidang perminyakan.
Termasuk yang paling akhir di blok Cepu. Ikatan ahli
geologi bahkan protes keras karena sebuah tambang yang
sudah produktif dan gampang ngurusnya kok malah
dikasih ke perusahaan asing.

Masih soal yang sejenis, beliau bercerita ketika jadi
ketua MPR pernah berdialog dengan Goh Cok Tong. Pak
Amien bertanya kepada Goh : Mengapa SIngapura tega
mencuri pasir laut dari Riau untuk mereklamasi pantai
mereka hingga bertambah seluas 200 km2? Goh menjawah :
Kami tidak mencuri kok, kami membeli pasir dari pasar
internasinal. Pak Amien menukas : Tapi Anda tahu bukan
bahwa asal-usul pasir itu dicuri dari pulau-pulau
Indonesia? Gok Cok Tong tidak lagi menjawab dan secara
demokratis mengatakan akan mendikusikan hal itu dengan
rekan-rekannya di Singapura. Kepada saya dan adik-adik
GAMAIS beberapa waktu lalu beliau juga berkata bahwa
untuk reklmasi pantai singapura itu, 3 pulau sudah
lenyap dari peta Indonesia. Tenggelam, habis diangkut
ke negeri tetangga kita yang kaya raya itu.

(g) Salah satu pertanyaan paling menarik diajukan
salah seorang kader GAMAIS. Kalau (sekali lagi kalau)
Pak Amien diberi kesempatan mengurus negara ini, apa
yang dilakukan pertama kali?
Dengan mantap Pak AMien menjawab : Meski tidak persis,
yang akan dilakukan mirip apa yang dilakukan Hugo
Chavez (Venezuela) dan Morales (Bolivia). Pada
hari-hari pertama pemerintahan, angkatan bersenjata
akan menduduki seluruh pertambangan yang dikelola
pihak asing, menghentikan seluruh operasional. Lalu
para pemimpinnya dipanggil presiden dan diberi pilihan
dua hal : (1) tinggalkan negeri ini, seluruh investasi
yang telah ditanam akan dibayar oleh pemerintah, (2)
mari kita negosiasikan lagi kontrak karya menjadi
lebih adil dan masuk akal, untuk sebesar mungkin
kepentingan bangsa. Pak Amien yakin, mayoritas
perusahaan asing itu akan bertindak sama seperti yang
terjadi di Venezuela : memilih pilihan kedua.
Nah dengan menghentikan perampokan kekayaan alam oleh
pihak asing ini, maka Insya Allah sedikit demi sedikit
kita akan mempunyai biaya untuk bangkit sebagai
bangsa! Semua hadirin tepuk tangan. yang paling keras
di antaranya pak rektor yang kebetulan duduk dua kursi
di kiri saya. Beliau berkomentar : saya nggak habis
pikir, kalau bangsa ini beres dalam berpikir, mestinya
pak Amien yang harus memenangkan pemilihan presiden!

(f) Bagian penutup ceramah pak Amien selalu mirip.
Beliau menyanyikan sebuah lagu tradisional Amerika
yang isinya bahwa kami selalu siap untuk maju, lalu
anak kami lebih maju, lalu cucu kami lebih maju, dan
seterusnya. Semuanya untuk bangsa yang besar tsb. Dan
yang lebih akhir lagi tentu lagu Ibu Pertiwi : (karena
suara pak Amien sudah hampir habis, beliau tidak lagi
menyanyi, cuma dibacakan)
Kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Emas intannya terkenang
Gunung sawah serta lautan
timbunan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa.

Ini bagian pertama lagu Ibu pertiwi. Ada bagian kedua
yang juga dibaca pak Amien, tapi aku nggak hapal.
Intinya kira-kira bahwa kami ini putra pertiwi, akan
selalu menyerahkan seluruh daya tenaga untuk ibu
pertiwi. Jad ibu pertiwi jangan menangis lagi.

Cukup sekian dulu.

Wassalaam.


M. Kholil







Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke