Rumasa di ITB mah taya jurusan teknik nu neuleuman bahasa daerah, janten ITB teu kalebetkeun kana list eta patarosan ti MH teh. Cobi pami aya mah, patarosan teh janten kieu : ITB, UNPAD, UPI, UNPAS katut ITENAS iraha nya...?!
Heuheuheu....


Baktos,
OTA



"mh" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]

09/25/2006 06:47 PM

Please respond to
[email protected]

To
[email protected], "kisunda" <[email protected]>, "urangsunda" <[email protected]>
cc
Subject
[Urang Sunda] UNPAD, UPI, UNPAS iraha nya?





Baraya,
Aya beja hade ti pulo Borneo, sugan we bisa jadi eunteung keur urang di
Tatar Sunda. Ari UNPAD, UPI, UNPAS, iraha nya boga kamonesan jiga kieu?

salam,
mh
=====

Pusat Penelitian Kebudayaan Melayu Untan Terbitkan Enam Kamus
Laporan Wartawan Kompas Haryo Damardono

PONTIANAK, KOMPAS — Pusat Penelitian Kebudayaan Melayu (PPKM) Universitas
Tanjungpura (Untan) menerbitkan enam kamus bahasa daerah di Kabupaten
Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Yakni lima bahasa daerah sub etnis Dayak
dan satu sub etnis Melayu.

Enam kamus tersebut tersebut adalah Bahasa Kayan-Bahasa Indonesia, Bahasa
Iban-Bahasa Indonesia, Bahasa Punan-Bahasa Indonesia, Bahasa Kantuk-Bahasa
Indonesia, Bahasa Taman-Bahasa Indonesia, dan Bahasa Melayu Kapuas
Hulu-Bahasa Indonesia.

“Kami menghabiskan waktu tiga tahun untuk menyusun kamus dari enam bahasa
utama di Kabupaten Kapuas Hulu. Memang hasilnya masih dapat disempurnakan,
tetapi setidaknya ini merupakan awal baik,” kata peneliti PPKM, Dr Chairil
Effendi, Minggu (24/9) di Pontianak.

Peneliti PPKM lain yang terlibat dalam pembuatan buku ini adalah, AR
Muzammil, Firman Susilo, Dedy Ari Aspar, Agus Syahrani, Hangga Dwitika,
dan Ediyanto.
“Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu mendanai penerbitan kamus sebesar Rp 60
juta. Tidak banyak membantu sebenarnya, walaupun menunjukkan sudah ada
perhatian. Warga Kapuas Hulu pun sangat membantu dalam pembuatan kamus
ini,” ujar Dr Chairil Effendi.

Peluncuran buku ini dilaksanakan Sabtu (23/9) di Auditorium Untan,
bersamaan dengan peluncuran dua buku Dr Chairil Effendi bertajuk Sastra
Sebagai Wadah Integrasi Budaya dan Becerite dan Bedande: Tradisi
Kesastraan Melayu Sambas.
Bupati Kapuas Hulu, Abang Tambul Husen, menghadiri peluncuran buku ini,
menempuh perjalanan darat sekitar 20 jam. Sebab tidak ada jadwal
penerbangan dari Putussibau hingga Pontianak (sejauh 700 kilometer).

Dalam buku Kabupaten Konservasi, yang diterbitkan Gramedia tahun 2005,
Abang Tambul menulis penduduk Kapuas Hulu tahun 2003 berjumlah 193.616
orang, dengan kepadatan 6 jiwa per kilometer persegi. Penduduk di
Kabupaten ini, mayoritas etnis Dayak diikuti etnis Melayu.

Sementara luas Kabupaten Kapuas Hulu, sekitar 30.000 kilometer persegi,
atau sebanding dengan 20 persen lebih luas Pulau Jawa. Walau demikian,
sekitar 55 persen dari wilayah Kabupaten Kapuas Hulu merupakan kawasan
konservasi.

“Saya bilang kepada bupati, investasi bukan saja dalam bentuk ekonomi,
tetapi juga bahasa. Orang luar pun harus mempelajari bahasa bila ingin
datang ke sini. Turis mancanegara, misalnya, akan sangat senang bila ada
kamus,” ujar Dr Chairil.

Menurut Dr Chairil, hal utama lain adalah dengan kamus, orang dari suku
lain akan tahu bahwa ada beberapa kesamaan dalam berbahasa. Sehingga,
kesadaran sebagai bagian dari rumpun besar ada, dan menyadarkan
masing-masing orang bahwa sebenarnya saling bersaudara, sehingga
melenyapkan benih-benih permusuhan.

Sumber:
Kompas | Dikbud | Minggu, 24 September 2006
http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0609/24/193301.htm


=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]


__._,_.___

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id





SPONSORED LINKS
Culture change Corporate culture Cell culture
Organization culture Tissue culture

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke