Sehelai Jilbab, Sebuah Ancaman?

Sekolah negeri di Prancis kembali memecat siswi berjilbab. Demokrasi
dinilai lemah di hadapan fundamentalisme.

PERASAAN kecewa dan marah berkecamuk pada dua gadis cantik, Alma Levi dan
adiknya, Lila Levy, ketika menerima surat pemecatan dari sekolahnya.
Keputusan itu datang dari dewan disiplin Sekolah Menengah Negeri Henry
Wallon di Aubervilliers, kawasan tepi kota Paris, pada Jumat dua pekan
lalu, karena mereka bersikeras mengenakan jilbab. "Saya lebih dari marah.
Saya merasakan ketidakadilan," kata Lila.

Sebenarnya, sudah hampir sebulan Alma, 18 tahun, dan Lila, 16 tahun,
terpaksa belajar di rumah?sejak pengurus sekolah menjatuhkan hukuman
skorsing lewat surat yang mereka terima pada 24 September silam. Dalam
surat itu pengurus sekolah menilai kebiasaan Alma dan Lila mengenakan
kerudung di sekolah bertentangan dengan pendidikan. "Kerudung Islami yang
mereka (Alma dan Lila) pakai di dalam kelas dinilai sebagai sikap sok
pamer," begitu pernyataan resmi pengurus sekolah Henry Wallon.

Skorsing berlanjut dengan pemecatan, dan meluaplah kegeraman Laurent Levy,
ayah kandung kedua gadis itu. Levy adalah seorang pengacara keturunan
Yahudi yang beristri perempuan Aljazair. Kedua anak gadisnya tertarik
dengan agama ibunya dua tahun silam, dan mulai mengenakan jilbab setahun
lalu. Meski keturunan Yahudi dan mengaku atheis, Laurent Levy membela
sikap keagamaan anaknya. Ia menuduh kelompok kiri dan kanan garis keras
sebagai "ayatullah sekularisme" yang berkhotbah tentang doktrin baru
antitoleransi. "Dengan mengatakan mereka (Alma dan Lila) mempraktekkan
ajaran agama sebagai sesuatu yang buruk, itu jelas menciptakan jalan untuk
menimbulkan kekacauan," kata Levy.

Kini warga menjumpai momentum yang tepat untuk mempertanyakan kembali
makna kebebasan di negeri itu. Gerakan Antirasial Prancis (MRAP),
misalnya, punya pandangan khusus. "Keputusan pemecatan itu merupakan
kekalahan buruk untuk sekularisme, kecerdasan, dan dialog," kata Mouloud
Aounit, Presiden MRAP. Tapi salah seorang guru di Henry Wallon, Loris
Castellani, menyatakan sekolahnya tak akan surut dari tekanan. Apalagi
pemerintah sayap kanan Prancis mendukung keputusan pengurus sekolah Henry
Wallon. "Peraturan itu harus dihormati setiap orang," kata Menteri Dalam
Negeri Nicolas Sarkozy. Bahkan pemimpin oposisi Partai Sosialis, Francois
Hollande, menyatakan hukum harus ditegakkan. "Kita kan hidup di negeri
sekuler," katanya.

Sekularisme sebagai ideologi negara di Prancis muncul pada 1905, yang
secara hukum memisahkan negara dan gereja. Sejak itu Republik Prancis
menghentikan perlindungan terhadap agama mayoritas, Katolik. Tapi
pemerintah mengizinkan berdirinya dewan Katolik, Protestan, dan Yahudi,
yang menjamin berdirinya sekolah berciri tiga agama itu. Fasilitas inilah
yang tak dimiliki kelompok muslim, yang umumnya imigran dari Afrika Utara
dan Timur Tengah. Padahal Islam kini merupakan agama kedua terbesar di
Prancis dengan lima juta pemeluknya.

Kerepotan pun terjadi ketika penduduk muslim yang kuat memegang tradisi
berjilbab menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri yang melarang penggunaan
jilbab atas nama sekularisme. Tak mengherankan bila kasus pemecatan
pelajar berjilbab sering terjadi di Prancis, bahkan hampir setiap tahun
ajaran baru. Kasus pemecatan siswi berjilbab terbesar terjadi pada 1994,
yakni 19 siswi didepak dari sekolah negeri.

Upaya menyelesaikan masalah ini bukannya tak ada. September silam berdiri
sekolah menengah muslim pertama di Prancis yang dibiayai pemerintah
sebagaimana sekolah swasta berciri agama lainnya. Sekolah muslim yang
diberi nama Averroes itu?diambil dari nama filsuf Spanyol keturunan Arab
pada abad ke-12?muncul setelah terbentuk Dewan Muslim Prancis pada April
lalu atas inisiatif pemerintah. "Dewan ini dibentuk untuk memberikan hak
warga muslim bersuara," kata Menteri Sarkozy. Pemerintah berharap sekolah
muslim dapat membantu integrasi masyarakat muslim dengan warga kulit putih
Prancis.

Repotnya, ada yang khawatir kemunculan sekolah muslim di Prancis justru
mengisolasi masyarakat muslim dan buntutnya akan melahirkan radikalisme di
kalangan pelajar muslim. "Kami menganut demokrasi, dan mereka (warga
muslim) berhak membuka sekolah sebagaimana lainnya. Tapi demokrasi lemah
di hadapan fundamentalisme," kata Jacqueline Costa-Lascoux, anggota komisi
pemerintah urusan masyarakat muslim.

Sehelai kerudung, ancaman terhadap sekularisme. Sekadar paranoid? Atau
sekularisme yang mengeras, kehilangan toleransi, sebagaimana dipraktekkan
rezim militer Turki?

Raihul Fadjri (BBC, Christian Science Monitor, AP) 

Sumber:
http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2003/10/20/LN/mbm.20031020.ln4.id.html

=====
Lalampahan rewuan mil, cukup dimimitian ku salengkah.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke