Peraji dan IPM Jawa Barat
Oleh US TIARSA R.

Entah siapa yang mulai menyebut peraji sebagai dukun beranak. Akibat
penyebutan seperti itu, peraji benar-benar termarginalisasi. Peraji
ditempatkan pada posisi dukun yang sering berkonotasi jelek. Seorang dukun
dalam terminologi orang Sunda tidak lebih dari seorang tukang santet,
penyebar teluh, werejit, ganggaong, tukang pelet, juru tipu, dan
sebagainya.

Sebagian besar orang Sunda tidak percaya, dukun dapat menyembuhkan orang
sakit. Karena itu orang Sunda "menyindir" dukun lewat ungkapan sinis,
"dukun lintuh kasakit matuh" (dukun makin gemuk, orang yang sakit tak
kunjung sembuh).

Peraji bukan dukun, tetapi penolong yang berjiwa sosial sangat tinggi.
Seorang peraji tidak akan pernah berhitung apakah pasiennya mampu atau
tidak, mau membayar atau tidak. Ia dimintai tolong dan itu ibadah yang
harus dilaksanakan. Karena itu peraji dalam kehidupan orang Sunda suka
disebut indung beurang, ibu siang hari.

Dilihat dari profesinya, ada dua golongan paraji. Penolong orang yang
melahirkan, dan golongan kedua, juru khitan atau disebut juga bengkong.
Paraji yang pertama pasti perempuan. Sedangkan yang kedua tidak selalu
laki-laki karena di Sumedang dan daerah lain ada satu dua orang perempuan
yang jadi peraji sunat.

Dukun lepus peraji sakti

Dalam kehidupan orang Sunda peraji memiliki kedudukan sangat penting.
Kedua golongan peraji dianggap sebagai orang berilmu tinggi, punya
keahlian yang tidak dimiliki sembarang orang. Lebih dari itu, peraji bagi
orang Sunda merupakan orang yang mampu membuka pintu kehidupan bagi janin
atau anak (si Utun dan si Inji). Berkat pertolongan paraji, seorang anak
manusia lahir ke dunia. Seseorang pindah dari alam rahim ke alam dunia,
syariatnya atas pertolongan paraji. Seorang anak menjadi Muslim,
syariatnya atas pertolongan peraji sunat. Dikhitan biasa juga disebut
diislamkan.

Seorang paraji, terutama penolong orang melahirkan, dianggap memiliki
indra keenam. Ia mampu mengira kapan bayi akan lahir setelah meraba perut
yang sedang mengandung. Ia juga dapat membuat prakiraan, bayi yang
dikandung itu si Utun atau si Inji (berjenis kelamin laki-laki atau
perempuan), tanpa menggunakan alat yang disebut USG. Berkenaan dengan itu,
peraji suka diberi predikat "sakti", peraji sakti. Sedangkan dukun diberi
predikat "lepus", dukun lepus. Memang lepus berarti sakti, wacis, berilmu
tinggi, namun berkonotasi kurang baik. Dukun menganggap dirinya mampu
mengabulkan segala permintaan orang padahal dalam pandangan Muslim, yang
mampu memenuhi keinginan manusia itu hanya Allah SWT.

Tak berbeda dengan seorang bidan, peraji melakukan pemeriksaan kehamilan,
melalui indra raba. Biasanya perempuan yang mengandung, sejak ngidam
sampai melahirkan, selalu berkonsultasi kepada peraji. Bedanya, di bidan,
perempuan yang mengandunglah yang datang ke tempat praktik bidan.
Sedangkan paraji, ia sendiri yang berkeliling dari pintu ke pintu,
memeriksa perut orang yang berbadan dua. Sejak usia kandungan tujuh bulan,
kontrol dilakukan lebih sering. Paraji menjaga kalau-kalau ada gangguan,
baik fisik maupun nonfisik terhadap ibu dan janinnya. Agar jabang bayi
lahir normal, peraji melakukan repositioning janin dalam kandungan dengan
cara pemutaran disertai doa, tentu saja.

Karena peraji memiliki kedudukan istimewa di tengah masyarakat Sunda,
peraji suka disebut indung beurang (ibu siang). Bagaimana laiknya seorang
ibu, segala pepatah-petitih dan nasihatnya pasti dituruti. Banyak
pantangan yang biasanya dibisikan ke telinga calon ibu, apalagi bila
perempuan itu mengandung anak pertama. Perempuan yang baru pertama kali
mengandung, biasa disebut dara. Perlakuan peraji terhadap dara, biasanya
lebih khusus atau istimewa.

Ketika usia kandungan empat bulan, peraji melakukan upacara tasyakur.
Katanya utun inji mulai memiliki roh. Hal itu terasa pada perut bagian
kanan ada getaran lamat-lamat. Pada usia kandungan tujuh bulan, peraji
melakukan upacara tingkeban. Katanya, janin mulai bergerak meninggalkan
alam rahim menuju alam dunia, melalui kelahiran. Calon ibu mendapat
perawatan khusus, selain perutnya dielus-elus, badannya juga dipijat, dari
ujung kepala sampai ujung jari kaki. Malah disisiri dan dibedaki, agar
dara tetap cantik meskipun perutnya makin lama makin buncit.

Angka kematian ibu

Masyarakat perkotaan makin sadar kesehatan. Keberadaan peraji sudah
sepenuhnya tergantikan bidan dan tenaga medis lainnya. Kepercayaan
terhadap kerja peraji semakin luntur. Begitu juga khitanan. Sekarang
muncul alat baru pemotong bertenaga laser. Dari pada repot-repot harus
berdarah-darah disunat peraji (bengkong), datang saja ke klinik khitan
atau ke rumah sakit. Selesai dikhitan, pengantin sunat sudah bisa
berjalan, bercelana pula.

Sekarang peraji di kota besar semakin berkurang meskipun sebetulnya belum
punah sama sekali bahkan di sebagian besar kabupaten, peraji masih eksis
dan dominan. Menurut data yang diperoleh Dinas Kesehatan Jabar, jumlah
bidan siaga di Jawa Barat sampai tahun 2005 ada 7.623 orang. Disebutkan
pada data tersebut, jumlah peraji di perkotaan hanya setengah jumlah bidan
termasuk di Kota Bandung. Di sembilan daerah (kota kabupaten) jumlah
peraji lebih banyak (dua kali lipat) jumlah bidan. Malah, di Jabar masih
ada 10 kabupaten yang tidak ada bidan, yang ada ya indung beurang.
Berangkat dari data tersebut, akselerasi pencapaian IPM 2008 melalui
sektor kesehatan setidaknya agak terkendala.

Masalahnya, salah satu target akselerasi itu ialah penurunan angka
kematian ibu (AKI). Jawa Barat masih memiliki AKI tertinggi dibanding
provinsi lain di Pulau Jawa. Sampai 2004 rata-rata AKI provinsi mencapai
angka 321,5. AKI tertinggi ada di Pantura yakni 411,02. Menurut sinyalemen
Dinkes, AKI itu cenderung tinggi akibat pertolongan persalinan tanpa
fasilitas memdai, antara lain tidak adanya tenaga bidan apalagi dokter
kebidanan. Karena persalinan masih ditangani paraji, kasus kematian ibu
saat melahirkan masih tetap tinggi. Pertolongan gawat darurat bila terjadi
kasus pendarahan atau infeksi yang diderita ibu yang melahirkan, tidak
dapat dilakukan.

Selama ini pengalihan penanganan persalinan dari peraji ke tenaga medis
terdidik, berjalan tersendat. Selain pendidikan kebidanan tingkat menengah
sudah tidak ada lagi, juga karena faktor dana. Penyediaan fasilitas
persalinan yang relatif lengkap, terbilang sangat mahal. PAD kabupaten
atau kota kecil belum mungkin menyediakan fasilitas persalinan yang
idealnya ada di tiap kecamatan. Namun sebenarnya masih ada faktor dominan
lainnya, yakni kultural atau budaya masyarakat.

Masyarakat kita, terutama di perdesaan, masih lebih percaya kepada peraji
daripada kepada bidan apalagi dokter. Rasa takut masuk rumah sakit masih
melekat pada kebanyakan kaum perempuan di Jawa Barat. Kalaupun terjadi
kematian ibu atau kematian bayi, mereka terima sebagai musibah yang bukan
ditentukan manusia.

Selain itu masih banyak perempuan, terutama Muslimah, yang tidak
membenarkan, pemeriksaan kandungan, apalagi persalinan oleh dokter atau
paramedis laki-laki. Dengan sikap budaya dan agama seperti itu, kebanyakan
kaum perempuan di perdesaan tetap memilih peraji meskipun dengan risiko
sangat tinggi. Artinya penggantian fungsi dan peranan peraji dengan tenaga
medis terdidik masih agak sulit dilakukan. Siapa pun, baik pemerintah
maupun tokoh masyarakat, tidak mudah menembus barikade budaya dan agama.
Fungsi dan peranan peraji masih akan dominan atau tak tergantikan dalam
kurun waktu cukup lama.

Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh sektor kesehatan dalam mengejar
akselerasi IPM 2008. Penyediaan fasilitas yang memadai bagi persalinan,
terutama gawat darurat, menjadi prioritas utama. Pendanaan tidak bisa
hanya diserahkan kepada kemampuan kota/kabupaten. Pemerintah provinsi
harus mampu meyakinkan penyusun RAPBN, pentingnya sektor kesehatan,
khususnya persalinan teranggarkan secara nasional. Pendekatan kepada NGO
dan badan dunia akan membantu penyediaan fasilitas tersebut, termasuk
transportasi (mobil unit/ambulans).

Sosialisasi yang langsung maupun melalui media massa tentang pentingnya
kesehatan ibu dan anak (KIA) tidak boleh terhenti. Di samping itu,
tumbuhnya keberanian pemerintah dan masyarakat, mengakui keberadaan
paraji. Hilangkan anggapan, peraji itu dukun. Konsekuensinya, semua pihak
berupaya menumbuhkan kesadaran KIA pada diri semua paraji. Hal itu akan
tumbuh hanya dengan pendidikan jalinan kerja sama harus semakin erat
antara peraji dan bidan atau tenaga medis kebidanan. Sebaiknya, pemerintah
memilih perempuan sebagai dokter ahli kandungan dan tenaga medis kebidanan
yang ditempatkan di daerah.

Benar, sikap hidup sehat, jauh lebih penting daripada penyediaan fasilitas
kesehatan di tiap kecamatan. Bila masyarakat punya sikap hidup sehat,
pasti akan jauh dari berbagai penyakit, termasuk penyakit kandungan dan
persalinan. Namun sikap hidup sehat itu akan tumbuh pada masyarakat yang
benar-benar terdidik dan sejahtera. Menuju ke arah sana masih amat jauh
dan membutuhkan waktu cukup lama. Artinya masyarakat yang punya sikap
hidup sehat tidak mungkin terkejar pada tenggat waktu pencapaian IPM Jawa
Barat tahun 2010. Berbicara sikap hidup, pasti berbicara tentang budaya,
pendidikan, dan kesejahteraan sosial.*** 

Penulis, Ketua Mitra Peduli Kependudukan/Milik Jabar.


=====
Lalampahan rewuan mil, cukup dimimitian ku salengkah.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke