|
Euleuh...kutan kitu Kang Yani?...ni boros nya
urang Indonesia teh...
Paingan atuh korupsi angger we teu tiasa
dibasmi...
Ieu aya artikel ti milis tatanggi, ngeunaan
bangsa urang nu konsumptip.
Mugia mangpaat & janten pieunteungeun kangge
urang sadayana.
Nu tos kantos maos, hapunten.
ro2
Dalam Cengkeraman Konsumtivisme
"Mama, aku mau ke Starbucks! Ayo, aku mau ke Starbucks!" Tina,
ibu
muda 36 tahun yang tinggal di pinggiran Bekasi itu kewalahan melayani rengekan anak sulungnya yang tidak akan berhenti kalau tidak dituruti. ina semakin geleng-geleng kepala ketika beberapa hari kemudian, dengan pede-nya anaknya yang belum genap 11 tahun itu memamerkan kaus hijau pupus yang dikenakannya, dengan gambar "ajaib" yang terkesan dijahit serampangan di bagian punggung, sebagai suvenir ulang tahun teman sekolahnya yang kebetulan dirayakan di sebuah mal megah di Jakarta, "Ini merek terkenal, Mama," ujar si anak bangga, sambil menyebut salah satu merek pakaian yang mirip nama buah dalam bahasa asing. Setiap generasi tampaknya punya zaman atau masanya sendiri. Tetapi, Tina tidak habis pikir, dari mana anaknya yang sepertinya baru kemarin lepas ngedot tiba-tiba dengan fasihnya mampu menghafal nama-nama seperti Gucci, Louis Vuitton, Armani, Prada, Dunhill, Zegna, Ferragamo, Tiffany & Co, Tuleh, Mulberry, Issey Miyake, Kate Spade, Escada, Cartier, Fendi, Chanel, Diesel, Chloe, Hermes, Coach, Polo, Ralph Lauren, dan masih banyak lagi nama asing entah dari planet mana yang sulit dihapal. "Ah, Mama kuno! Ya lihat di TV sama majalah dong! Makanya gaul!" tukas si anak, waktu si ibu mempertanyakan dari mana ia mempelajari semua itu. Kisah di atas menunjukkan betapa arus konsumtivisme sudah sedemikian dalam dan deras merasuk ke Indonesia, hingga menembus batas-batas usia, strata sosial, dan juga batas-batas wilayah. Sebenarnya itu bukan fenomena yang mengherankan, terutama dengan menjamurnya gerai-gerai fashion karya desainer internasional dan juga berbagai jaringan ritel asing yang tumbuh subur berbarengan dengan bermunculannya pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia. Fenomena ABG (anak baru gede) yang sudah melek merek hanya salah satu contoh gaya hidup konsumtif yang menghinggapi masyarakat kita, seperti juga merayakan ultah di hotel, menikmati segelas cokelat panas di kafe, atau sekadar nongkrong di mal. Hidup hemat dan menabung tidak lagi dipahami oleh kebanyakan anak muda zaman sekarang. Pemimpin atau tokoh panutan menurunkan budaya konsumtif kepada rakyat atau audiens-nya. Dan orangtua menularkan kepada anak-anaknya dengan menghujani mereka dengan barang-barang atau fasilitas mewah lain untuk menebus rasa bersalah karena tak cukup meluangkan waktu untuk anak. Iklan yang persuasif dan berbagai strategi pemasaran agresif membuat masyarakat semakin dalam terjebak arus konsumtivisme atau kecanduan belanja yang sifatnya impulsif atau emosional, bukan lagi rasional. Konsumtivisme sudah menjadi gaya hidup masyarakat kelas menengah perkotaan di Indonesia yang separuh lebih penduduknya masih miskin (diukur dari standar kemiskinan internasional 2 dollar AS per hari). Fenomena seperti ini, menurut ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ikhsan, sebenarnya bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga negara-negara lain, termasuk negara eks komunis. Konsumtivisme adalah dampak dari globalisasi dan sistem kapitalisme modern yang mendasarkan pada tata nilai materialistis, mulai dari tingkah laku, pola pikir, hingga sikap. Masyarakat menengah perkotaan di Indonesia, seperti juga di negara Asia lain, bahkan lebih agresif menjiplak gaya hidup konsumtif ketimbang masyarakat di negara asal budaya konsumerisme itu sendiri. Contohnya fanatisme pada produk-produk bermerek dan budaya konsumsi makanan cepat saji. Menjemput bola Kalangan peritel menyebut bertumbuhannya mal-mal dengan ikon- ikon konsumerisme Barat di Indonesia sebagai strategi menjemput bola. Sebelum hadirnya mal-mal mewah ini, orang kaya Indonesia harus berburu hingga ke Singapura, Eropa, atau AS untuk mendapatkan barang-barang bermerek dari pusat-pusat mode internasional seperti Paris, London, Italia, dan New York. Kini mereka tidak perlu susah-susah pergi jauh. Bahkan, kota seperti Jakarta memiliki gerai produk fashion karya desainer dunia yang jauh lebih banyak dari kota-kota asalnya di Eropa. Hal serupa juga terjadi untuk produk makanan, kosmetik dan toiletries (keperluan kamar mandi), perlengkapan rumah tangga dan lain-lain, dengan hadirnya jaringan ritel global seperti Carrefour, Giant, dan Wal Mart. Angka penjualan barang-barang bermerek dan juga konsumsi consumer goods (barang kebutuhan sehari-hari) lain terus melonjak dramatis dari tahun ke tahun, tidak peduli apakah perekonomian dalam kondisi sulit atau tidak. Setiap dua dari 10 konsumen kelas menengah Indonesia yang disurvei ACNielsen mengatakan, mereka memilih membeli produk karya desainer internasional, kendati 90 persen dari mereka menganggap barang tersebut terlalu mahal dan kualitasnya tidak istimewa. Mereka membeli itu lebih untuk status. Hal serupa juga berlaku untuk consumer goods. Pada semester I-2006, menurut ACNielsen, angka penjualan 51 kategori produk consumer goods meningkat 10 persen dan untuk keseluruhan 2006 naik setidaknya 15 persen. Ini angka tertinggi kedua di antara 15 negara di Asia Pasifik. Keterpurukan ekonomi dan daya beli masyarakat, terutama akibat kenaikan tajam harga bahan bakar minyak pada 2005, tidak memengaruhi konsumsi barang-barang ini. Belum tahu apakah ini dampak penurunan suku bunga yang ditempuh Bank Indonesia, yang memang dimaksudkan untuk menggenjot kembali aktivitas investasi dan konsumsi swasta. Yang pasti, selama semester I-2006, perbankan mencatat kenaikan kredit konsumsi, selain juga kenaikan penggunaan kartu kredit, hingga 20 persen. Indikator konsumsi yang lebih digerakkan oleh gaya hidup juga tercermin dari meningkatnya pengguna internet dari hanya 4,5 juta (2002) menjadi 33 juta (2006), meningkatnya alokasi belanja konsumen untuk makanan, meningkatnya jumlah mobil, meningkatnya belanja produk consumer electronics (barang elektronik), dan bahkan juga belanja makanan anjing dan kucing. Selain itu, konsumsi minuman ringan, rokok, kosmetik, toiletries dan juga belanja untuk rekreasi. Menurut ACNielsen, 93 persen konsumen Indonesia termasuk recreational shoppers (pembelanja rekreasi). Mereka berbelanja bukan karena kebutuhan, tetapi lebih untuk kesenangan. AS yang masyarakatnya terkenal konsumtif hanya 68 persen konsumennya yang recreational shoppers. Hasil survei ACNielsen memang belum mencerminkan gaya hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan, mengingat responden hanya mereka yang memiliki akses internet, yang di Indonesia jumlahnya tak sampai 8 persen dan umumnya kondisi ekonominya baik, berpendidikan, dan ada di perkotaan. Political and Economic Risk Consultancy menggambarkan Indonesia sebagai kebalikan total dari Singapura. Meskipun memiliki angka kemiskinan tinggi, konsumsi masyarakat di Indonesia mampu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir. Jika dicermati, bisnis-bisnis yang prospeknya bagus beberapa tahun terakhir di Indonesia adalah juga bisnis yang terkait dengan konsumsi. Selain properti, mal-mal atau pusat perbelanjaan, masuknya investasi asing seperti akuisisi perusahaan rokok HM Sampoerna oleh Philip Morris International juga karena konsumsi terkait gaya hidup. Karena budaya konsumtif, Indonesia salah satu negara dengan tingkat tabungan nasional terendah di Asia Pasifik. Kerakusan kelas menengah-atas terhadap barang-barang bermerek menunjukkan gengsi yang melekat pada produk menjadi pertimbangan penting konsumen. Merek busana meningkatkan status sosial bahkan identitas seseorang. Orang dinilai dari apa yang dipakai, dikonsumsi, atau dibeli. Dengan merek, seolah mereka ingin mengatakan, "Inilah saya". Gejala konsumtivisme ini menjadi peluang bagus mereka yang mampu mengendus dan memanfaatkan fenomena ini sebagai peluang bisnis. Kekhawatiran orang terhadap gejala konsumtivisme lebih karena alasan bahwa konsumtivisme yang berlebihan cenderung menghancurkan nilai-nilai luhur budaya lokal, lunturnya identitas bangsa dan kesetiakawanan sosial, hancurnya industri nasional serta hancurnya lingkungan. Kekhawatiran itu beralasan karena konsumtivisme sudah seperti virus ganas, yang tidak saja menghinggapi kaum kaya di perkotaan, tapi juga mereka yang sehari-hari sebenarnya masih berkutat dengan masalah perut. Kontribusi ke ekonomi Terlepas dari kritik terhadap konsumtivisme, sikap konsumtif ternyata tidak selalu berarti buruk. Setidaknya bagi perekonomian. Faktanya di Indonesia dan juga beberapa negara lain, konsumsi jadi komponen terbesar pembentuk produk nasional bruto (PDB). Di Indonesia, konsumsi swasta menjadi penyelamat ekonomi di masa krisis, pada saat sektor manufaktur dan ekspor terpuruk, dengan kontribusi ke PDB mencapai 66,5 persen tahun 2004 dan 74 persen tahun 2005. Konsumsi 10 persen rumah tangga terkaya (yang umumnya lebih banyak bermotifkan gaya hidup) terhadap total konsumsi nasional mencapai sekitar 30 persen. Ini menunjukkan perilaku konsumtif kelompok kaya juga menjadi penyumbang penting pertumbuhan. Sebagai perbandingan, kontribusi konsumsi 10 persen penduduk termiskin hanya 3,6 persen dari total konsumsi nasional. Fauzi Ikhsan menyebutkan, perilaku konsumtivisme masih bisa dikatakan sehat selama barang-barang yang dikonsumsi adalah buatan dalam negeri. Persoalannya, produk-produk dalam negeri yang ada belum tentu kompetitif. Perilaku konsumtif juga tidak sehat dan bisa berbahaya bagi ekonomi jika terlalu ditopang dengan kredit. "Ketergantungan konsumen pada kredit atau utang sebenarnya belum pada tingkat membahayakan, tetapi tren ke arah itu meningkat. Utang di Indonesia lebih banyak utang korporasi dan pemerintah. Sedangkan utang di level masyarakat relatif masih lebih rendah dibandingkan Thailand atau Korsel," ujarnya. Untuk sekarang ini, Fauzi mengakui bahwa perusahaan-perusahaan asinglah yang lebih bisa memanfaatkan tren meningkatnya konsumtivisme di Indonesia. Salah satu gambaran nyata betapa fenomena konsumerisme di Indonesia lebih banyak ditangkap oleh pemain asing adalah data penguasaan pasar garmen lokal di pasar domestik dan lonjakan angka impor tekstil dan produk tekstil yang dilaporkan Asosiasi Pertekstilan Indonesia. Porsi produk impor di pasar domestik melonjak dramatis dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan pangsa produk lokal terus menyusut. Ini menunjukkan pangsa pasar produk lokal dimakan oleh produk asing. Fenomena ini diperkuat lagi oleh merosotnya ekspor dan bergugurannya industri tekstil lokal. Porsi barang selundupan meningkat dari 22 persen tahun 2004 menjadi 66 persen tahun 2005, impor legal naik dari 3 persen menjadi 9 persen. Pada saat yang sama, pangsa produk lokal menciut dari 75 persen menjadi 25 persen. Di satu sisi, konsumtivisme berlebihan memang mematikan industri nasional, atau kalau tidak mematikan, paling tidak memperlemah industri nasional. Namun, di sisi lain konsumsi juga mendorong ekonomi dan masuknya pemain asing yang kompetitif baik untuk konsumen, karena konsumen bisa menikmati barang pada harga yang lebih murah. "Persoalan di Indonesia, kalaupun perusahaan itu lebih kompetitif, banyak ongkos atau biaya tinggi yang berada di luar kendali perusahaan. Ini yang membuat mereka tidak bisa bersaing. Jadi, ini tidak bisa semata-mata salah perusahaan nasional," ujarnya. Agar produk Indonesia lebih kompetitif, tak ada pilihan lain, iklim berusaha di Indonesia harus diperbaiki. Jadi kesimpulannya, konsumtivisme harus didorong atau diperangi? Untuk Indonesia yang belum mampu membangun pertumbuhan ekonomi yang berbasiskan ekspor (export-led growth), tampaknya tak ada pilihan selain mendorong konsumsi swasta. Itu pula yang dilakukan BI melalui instrumen moneter dan perbankan: mendorong masyarakat untuk lebih banyak, dan lebih banyak lagi berbelanja, dalam rangka menggerakkan ekonomi. Sayangnya, di Indonesia sendiri belum ada kebijakan atau insentif bagaimana agar disposable income (pendapatan yang bisa dibelanjakan) bisa diarahkan untuk kepentingan perkembangan ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan. Perekonomian yang ditopang oleh konsumsi semata tetapi tidak dibarengi peningkatan kemampuan dan kapasitas produksi, pada akhirnya juga tidak sehat bagi ekonomi. >>> [EMAIL PROTECTED] 10/19/06 09:22AM
>>>
__._,_.___
Humas BI didongengkeun ka Eri Sudewo. Cenah mah, tugas unggal poena teh, nyaeta nyayagikeun buket (karangan bunga) di ruangan Direktur BI. Harga buket eta teh 400 rebu rupiah. Tugas anu kadua nyaeta nyadiakeun "makanan" keur direktur BI, beayana 2 juta rupiah/dinten. (bandingkeun jeung "uang makan" Gubernur Jabar Rp 300 rebu/hari, anu di milis ieu kantos rame jadi paguneman). baktos, mrachmatrawyani Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
- Re: [Urang Sunda] Ahmadinejad Roro Rohmah
- Re: [Urang Sunda] Ahmadinejad surtiwa surtiwa

