Kanca kanca kanca,....tacan patos lami simkuring
mosting inohong Sunda di widang IT, nyaeta Teh Merry Harun, alias "Ibu
Canon"... tah ayeuna ku abdi dicemplungkeun deui ka Kusnet ieu,..hiji deui
inohong Sunda widang TI nu kalintang ageung peranna dina pengembangan open
source software di Indonesia... jenenganna...Pa' Bhra Eka Gunapriya,
Presdir Sun Microsystems Indonesia...
Kawitna mah manawi teh sanes
urang Sunda diilik tina namina mah, he... mangga diaos....khususnya ka para
kanca nu aya di Kusnet ieu, nu neuleman dunya IT...
Atuh simkuring
saparakanca, sakulawargi neda dihapunten dina samudaya kalepatan,..lahir
tumikaning bathin,...Minal Aidin Wal Faidzin,...Wilujeng Boboran Siyam 1427,..
bray ah,...
kembang tineutik sinebaran sari, tutup lawang
sigotaka....
Iwa Ahmad Sugriwa,
Kujang Putra Anom
Bhra Eka
Gunapriya, Presiden Direktur PT Sun Microsystems Indonesia.
Open Source di
Enterprise Sudah Berimbang
Sejauh mana sektor
enterprise kita memakai open source software (OSS) ?
Dari sisi server,
sudah banyak enterprise yang memakai OSS, seperti untuk internet facing: web-server, email,
proxy, dan sebagainya. Begitu juga untuk core aplikasi, seperti untuk
database, print, serta file server dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena
di sisi server atau back-end, OSS sudah mature dan sangat secure,
reliable dan scalable.
OSS yang dipakai di server ini juga tidak berhadapan
langsung dengan end-user, sehingga tidak ada masalah cultural
atau kebiasaan yang harus dihadapi. Sementara ini, yang baru mulai berkembang
adalah pemakaian OSS di sisi client atau desktop.
Apa saja kendala
penerapannya di enterprise?
Secara teknis
sebenarnya di enterprise berimbang antara OSS dengan proprietary. Artinya masing-masing punya
kelebihan dan kekurangan. Karena proprietary ini sudah incumbent, maka ada
masalah migrasi untuk beralih ke OSS. Kendala terbesarnya lebih di sisi cultural atau
kebiasaan user. Kalau masalah teknis bisa dikerjakan oleh ahlinya asalkan
mendapatkan vendor yang tepat.
Apa pula komentar
Anda tentang penggunaan OSS? Bagaimana menurut Anda setelah memakai
OSS?
Kalau memakai hukum
pareto, maka OSS sangat memadai untuk dipakai oleh 80% user yang
biasanya hanya memakai 20% functionality yang ada. Tantangan terbesar
sekali lagi adalah merubah kebiasaan user. Masa transisi untuk setiap
user berkisar dua minggu sampai sebulan. Kalau perusahaan bisa melewati
masa ini, maka manfaatnya akan makin terasa. Contohnya dari sisi virus dan
reliability. Artinya, sekali OSS-nya sudah terpasang dan jalan dengan
baik, maka akan jalan terus, tidak seperti di proprietary yang
seringkali harus di-patch ataupun install ulang.
Sejauh ini
bagaimana sosialisasi OSS untuk enterprise di negara
kita?
Masih kurang,
disebabkan beberapa hal, antara lain, kesadaran hak cipta masih kurang, jadi
push-factor yang mendorong pemakaian OSS masih lemah. Kedua, infrastruktur internet yang
merupakan media utama penyebaran OSS di Indonesia juga masih lemah. Ketiga,
tidak adanya keberpihakan pemerintah terhadap OSS. Pemerintah tidak perlu memusuhi proprietary.
Tetapi jelas OSS ini yang harus dikembangkan karena keuntungannya
bagi negara sangat signifikan, seperti devisa-out yang bisa dikurangi.
Sebab selain biaya pembelian OSS lebih murah bahkan gratis. Sisa biaya adalah untuk
migrasi dan support, yang notabene bisa mengurangi pengangguran dan duitnya
tetap di Indonesia.
Pemerintah kita juga
masih gamang dengan selalu mengatakan bahwa pemerintah bersifat netral. Di
negara lain, seperti Malaysia tegas disebutkan di undang-undang mereka bahwa
negara akan mendahulukan pemakaian OSS dibandingkan proprietari. Banyak negara termasuk
negara maju juga sudah mengadopsi ODF (Open Document Format), sehingga semua
dokumen negara dan eGovernment harus menggunakan format tersebut. Di negara
kita tampaknya pemerintah belum menyadari implikasi dari penyimpanan dokumen
negara tersebut dalam format proprietari.
Pengalaman
penerapan OSS untuk enterprise negara lain yang bisa diambil
contoh?
Bicara TI tidak bisa
dipisahkan ke enterprise saja. Ada ekosistem yang memengaruhinya, seperti vendor,
developer, support, bisnis, regulasi dan lainnya. Keberpihakan negara terhadap
OSS, penegakan hak-cipta dan kualitas internet yang
bagus dan murah akan mendorong adopsi OSS.
Brazil, India, China, Malaysia bisa kita contoh dalam hal ini. Misalnya dengan
mengadopsi ODF, artinya form dan dokumen di eGovernment harus di-submit
dalam form tersebut, sehingga enterprise akan mempertimbangkan penggunaan
OSS. Di Indonesia, misalnya form pajak yang disediakan
di website pajak adalah dalam format proprietari, sehingga perusahaan tidak
punya alternatif selain menggunakan software proprietari tersebut. Pilihannya
adalah beli atau bajak.
Aplikasi
OSS apa saja yang dibutuhkan enterprise
Indonesia saat ini?
Hampir semua aplikasi
di OSS sudah ada. Dari yang bersifat infrastruktur,
seperti Operating System, application server, web, email, portal, directory,
proxy, database dan sebagainya. Programming language seperti Java, PHP, dan
lain sebagainya. Aplikasi seperti CRM, ERP dan lain-lain.
Untuk desktop ada browser, mail-client, Office-suite, multi-media,
graphics dan sebagainya.
Untuk
Indonesia selain dilihat dari sisi fungsionalitas atau
kegunaan, masalah infrastruktur perlu dipertimbangkan. Contohnya untuk Net
Meeting butuh bandwidth, yang di Indonesia harga masih tinggi, sedangkan kualitas masih
rendah.
Bagaimana
OSS berperan mengikis digital
gap?
Yang pertama
OSS bisa gratis. Bayangkan kalau mau beli proprietari,
harga software lebih mahal daripada hardware-nya. Kedua,
OSS, karena source-code-nya tersedia,
memungkinkan orang untuk belajar menciptakan software, dibandingkan kalau
memakai proprietari berarti belajar memakai. Dengan demikian negara kita
sebenarnya punya kesempatan yang sama dengan negara maju untuk menghasilkan
software.
Bagaimana soal
sertifikasinya bagi enterprise?
Sertifikasi berguna
untuk menyamakan persepsi mengenai "Ahli" antara enterprise dengan
profesional. Ini sangat penting mengingat di Indonesia pengangguran berpendidikan sangat tinggi,
sedangkan di sisi lain enterprise kesulitan untuk mencari tenaga ahli. Adanya
sertifikasi ini akan menguntungkan kedua belah pihak.
Deklarasi IGOS
belum tampak hasil nyatanya untuk OSS, bagaimana ini?
Keberpihakan
pemerintah yang lebih tegas untuk OSS masih diharapkan. Jadi selain deklarasi dan
beberapa sosialisasi yang dilakukan, tindakan nyata yang signifikan belum ada.
Kerjasama antara deklarator juga tidak terlihat. Ini terlihat dari tidak
adanya blue print, roadmap, anggaran dan peraturan yang dikeluarkan untuk
mendukung OSS ini.
Untuk blue print dan
roadmap, Sun bisa membantu, dikarenakan visi dan pengalaman kami. Tapi untuk
penerapannya yang bisa tercermin dari anggaran dan peraturan, balik lagi ke
pemerintah. Di sisi lain perlu dilihat bahwa butuh waktu bagi
OSS untuk berkembang. Di negara lain, inisiatif
OSS adalah program jangka panjang dan terintegrasi, 5
- 20 tahun.
Kenyataannya
masyarakat sendiri masih sulit menemukan OSS yang dikembangkan?
Benar, jadi selain
masalah internet tadi, sosialisasi juga diperlukan. Makanya OSS bukan
pekerjaan oleh satu departemen saja, tapi seharusnya langsung di bawah
presiden. OSS menyangkut hukum-politik-keamanan, ekonomi
dan kesejahteraan rakyat.
Soal kelemahan,
belum semua aplikasi bisa dijalankan dengan OSS,
bagaimana?
Menerapkan OSS bukan
berarti membuang proprietari. Realistis dan bertahap saja. Seperti contoh di
atas, kalau 80% user bisa dipindahkan ke OSS, saving-nya sudah luar biasa. Saat ini
OSS dan proprietari juga bisa jalan bareng dengan
teknologi seperti virtualisasi. Dari Sun punya OpenOffice dan StarOffice yang
bisa jalan juga di Windows. Kita juga punya Sun Secure Global Desktop yang
memungkinkan aplikasi apa pun bisa diakses dari browser.
Hatur nuhun pisan, Pak Bhraâ¦
Sami-sami Kang Iwa, mugi tiasa kaanggo...
Do you Yahoo!?
Get on board.
You're
invited to try the new Yahoo! Mail.