Laporan Utama Majalah Tempo minggu ieu :

Beribu Jalan Menyenangkan Tuhan dan Umat

Sejumlah kiai mendakwahkan Islam dengan berbagai gaya yang unik. 
Pendekatan sufistik membuat mereka lebih lentur.  

DI panggung dakwah Islam, pelan tapi pasti, generasi pendakwah yang 
memilih jalur dakwah bil hal semakin merebut perhatian masyarakat. 
Generasi ini menawarkan pendekatan yang berbeda. Umumnya mereka 
menolak pendekatan lama, pendekatan fikih yang biasanya hitam dan 
putih. Mereka lebih mengandalkan pendekatan sufistik, supernatural, 
terkadang berbau mistik—tapi tak bisa dibilang mengamalkan klenik. 
Kalau mereka terlihat aneh, nyleneh, itu sesungguhnya 
hanya "aksesori" yang melekat akibat pendekatan yang mereka pilih. 
Yang terpenting, generasi pendakwah itu memilih berbuat nyata, terjun 
langsung memerangi "penyakit" masyarakat, dan umumnya jauh dari kilau-
kemilau sorotan lampu kamera televisi.

Muhammad Sutanto adalah salah satunya.

Ia tergolong warga Nahdlatul Ulama yang unik. Di Semarang, dia yang 
biasa dipanggil Gus Tanto ini justru berdakwah di kalangan yang 
biasanya dijauhi kalangan beragama: lingkungan para preman. Kiai muda 
ini menurut orang yang mengenalnya konon memiliki ilmu kanuragan yang 
ampuh. Kata orang sekelilingnya, dia sanggup merebus telur dan 
menanak nasi hanya dengan meletakkan panci berisi telur dan beras di 
atas kepalanya. 

Ia masuk dunia preman lewat ujian yang keras. Dalam sebuah 
perkelahian dengan para preman, ia kabarnya menunjukkan ilmu kebal. 
Belati tak mampu menggores kulitnya, tebasan pedang cuma membuat 
rambutnya menyala. Para preman itu melongo, lalu tunduk patuh belajar 
agama kepadanya.

Benarkah semua kesaktian itu dia miliki? Wallahualam bissawab. Yang 
sudah nyata, Pesantren Istighfar alias tempat minta ampun yang ia 
dirikan sudah dikenal luas sebagai Pesantren Preman. Di sana kiai 
berambut panjang ini tak mengajarkan ilmu fikih dan tata bahasa Arab. 
Ia hanya mengajarkan ilmu tauhid mengenai keesaan Allah. Ilmu yang 
disebutnya tombo ati alias obat hati.

Jangan heran bila Gus Tanto tak mempermasalahkan santrinya yang masih 
bertato. Ia tak meminta mereka menghapus tato itu. Yang penting 
mereka bersedia meninggalkan dunia hitam. Pada bulan puasa, ia juga 
membiarkan warung makan milik tetangganya tetap buka tepat di depan 
pesantrennya.

Kiai nyentrik ini justru mengkritik pemahaman yang menurut dia salah 
kaprah, bahwa orang berpuasa minta dihormati. Ia berpendapat, kita 
harus bisa menghormati orang yang tidak berpuasa. Godaan karena ada 
orang yang tak berpuasa seharusnya membuat ibadah puasa menjadi lebih 
khusyuk.

Ada pula kiai yang istimewa karena berdakwah di dunia hitam. 
Contohnya Khoiron Syu'aib, yang memilih tinggal sambil berdakwah di 
kompleks pelacuran Bangunsari Surabaya. Ia yakin, dalam hati kecil 
para pelacur dan germo, tetap ada niat untuk berbuat baik. Ia 
memahami bahwa para pelacur terpaksa menjajakan diri karena terdesak 
kebutuhan ekonomi. 

Ia menyelenggarakan pengajian dari rumah bordil satu ke rumah bordil 
lainnya. Kadang-kadang berisiko bentrok dengan sang germo. Khoiron 
selalu berusaha memanusiakan para pelacur dan germonya. Persis di 
depan rumahnya, sejumlah lelaki penghuni kompleks berjudi kartu 
sepanjang hari. Ia membiarkan saja sambil berharap hati mereka 
tersentuh ketika melihat anak-anak mereka belajar mengaji di dekat 
tempat berjudi itu.

Di Parung, Bogor, Jawa Barat, kedermawanan luar biasa diperlihatkan 
Habib Saggaf Bin Mahdi Bin Syeikh Abu Bakar. Ia berdakwah lewat 
pendidikan dengan menyediakan pesantren gratis bagi anak yatim dan 
kaum miskin. Untuk membiayai ribuan santri, ia merelakan pendapatan 
dari bisnis pabrik roti, daur ulang sampah, dan hasil pertanian 
miliknya. "Harta hanya titipan Allah, mereka sangat memerlukan 
pendidikan," begitu prinsipnya. 

Konsep dakwah unik lainnya dilakukan Yusuf Mansur. Yang satu ini 
memang laris jadi pelanggan stasiun televisi. Tema dakwahnya tetap, 
investasi berupa sedekah. "Ini jalan keluar mengatasi kesempitan 
hidup," katanya. Ia kerap mengutip sepotong ayat Al-Quran yang berisi 
anjuran kepada manusia agar menyisihkan sebagian harta untuk 
dinafkahkan di jalan Allah. Sebab, dengan demikian ia akan dikaruniai 
kelapangan hidup dan rezeki lebih banyak.

Kiai Husein Muhammad dari Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat, punya 
keistimewaan lain. Kendati dibesarkan di tengah tradisi pesantren dan 
kitab kuning yang biasanya bercorak patriarkis, Husein justru getol 
memperkenalkan kesetaraan gender. Dengan mengutip sejumlah kitab 
klasik, ia menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan itu setara. 
Seperti Amina Wadud di Amerika, ia juga berpendapat bahwa perempuan 
boleh menjadi imam salat.

Tak terhitung jumlah kiai Nahdlatul Ulama yang dipercaya memiliki 
pemikiran berbeda dan ilmu-ilmu "aneh" semacam itu. Kisah kiai-kiai 
itu barangkali sulit dipahami secara rasional. Namun, secara 
sosiologis kalangan nahdliyin percaya, bahkan akrab dengannya.

Di masa lalu ada almarhum Kiai Hamim Djazuli dari Kediri, Jawa Timur. 
Kiai yang akrab disapa Gus Miek ini biasa menenggak bir hitam dan 
kongkow di klub-klub malam seantero Surabaya. Bir jelas bukan tujuan, 
tapi sarana untuk mendekati para pekerja malam dan artis yang hidup 
jauh dari sentuhan agama. Dan benar. Kepada Gus Mieklah para artis, 
selebriti, dan pekerja malam datang mengadu. Bersama ribuan umat 
lainnya, mereka rajin mendatangi majelis semakan alias membaca Quran 
yang diadakan Gus Miek. Majelis itu masih berjalan sampai sekarang, 
kendati Gus Miek sudah wafat 13 tahun lalu.

Ada lagi cerita Gus Nuril, bekas komandan pasukan berani mati pembela 
Abdurrahman Wahid. Syahdan, Gus Nuril bercerita bahwa suatu hari ia 
bertemu seorang tua misterius yang memperkenalkan diri sebagai Syekh 
Yakub. Sejenak kemudian dia menghilang. 

Selama dua tahun, Gus Nuril mencari siapa gerangan syekh itu. Suatu 
ketika secara tak sengaja ia membuka kitab lama kalangan nahdliyin. 
Di sana ia menemukan keterangan bahwa Syekh Yakub tak lain adalah 
mertua Kiai Hasyim Asy'ari. Jadi ia masih terhitung kakek buyut bekas 
presiden Abdurrahman Wahid. Syekh Yakub telah wafat berpuluh tahun 
yang lalu! Pertemuan spiritual itu membalik hidupnya. Secara 
emosional ia merasa dekat dengan sang buyut. "Itulah alasan mengapa 
saya sangat membela Gus Dur," katanya. Seperti yang lain, Gus Nuril 
juga merupakan tempat bertanya masyarakatnya.

Kalangan pejabat masa lalu, apalagi yang dekat dengan Keluarga 
Cendana, pasti mengenal sosok Mbah Lim yang bernama asli Kiai Muslim 
Rifa'i Imampura dari Klaten, Jawa Tengah. Omongan kiai ini sulit 
ditangkap telinga orang normal dan hanya dimengerti anak dan 
asistennya. Toh, para petinggi lokal maupun dari Jakarta kerap 
mendatanginya untuk meminta nasihat spiritual darinya sampai sekarang.

Kebiasaan nyleneh itu justru membuat pamor para kiai ini mencorong. 
Orang datang untuk sekadar bertanya atau sekalian bermukim untuk 
mendapatkan ilmu dan ketenangan hati.

Ahli tafsir Quran, Quraish Shihab, mengakui sebagian ulama memang 
masih mempercayai adanya hal-hal yang berbau supernatural. Namun, 
menurut dia, tak semua hal supernatural merupakan anugerah yang 
diberikan Allah untuk memuliakan manusia.

Karamah (kemuliaan) memang diberikan Allah kepada hambanya yang taat 
dan beriman. "Tapi, ada pula ihanah (kehinaan) yang diberikan karena 
manusia menyimpang dari ajaran Allah," ujarnya. 

Tak cuma kaum nahdliyin yang mempercayai hal-hal supernatural. Abdul 
Munir Mulkan yang berlatar belakang Muhammadiyah pun mengakuinya. Ia 
sendiri pernah mengalami kejadian aneh. Semasa muda ia berkumpul 
bersama sejumlah kiai di Lampung. Mereka diundang ke suatu tempat 
yang jaraknya sekitar 30 kilometer. "Kalau ditempuh dengan sepeda, 
makan waktu sekitar 1 jam," katanya. Mereka berangkat pukul 06.00, 
mestinya sampai ke tempat tujuan pukul 07.00. Kenyataannya, setiba di 
sana jarum jam masih menunjuk angka 6. Ketika kejadian itu ia 
tanyakan kepada kiai kenalannya, si kiai cuma mesam-mesem. "Saya 
tidak mendapat penjelasan yang bisa diterima akal. Tapi itulah yang 
terjadi."

Pendekatan sufistik, di mata Munir Mulkan yang juga pengamat tasawuf, 
memang membuat mereka menjadi lebih lentur dalam berhubungan dengan 
masyarakat. Mereka tidak keras berorientasi pada fikih. "Mereka 
beranggapan, dengan melayani, akan ada peluang menjadikan masyarakat 
lebih baik dari sebelumnya." Hal itu berbeda dengan ulama fikih, yang 
biasanya bersikap hitam-putih. Mereka membatasi pergaulan. "Sebab, 
mereka percaya, bergaul dengan orang yang tak jelas sama saja dengan 
ketidakjelasan itu sendiri," ujar Munir Mulkan.

Pendekatan apa pun yang diambil, semua kiai punya peran. Dan kita 
bersyukur, semakin banyak dai yang kukuh di jalur dakwah bil hal—
mereka menyelami isi kalbu masyarakatnya, lalu dengan pikiran luasnya 
mencarikan solusi konkret untuk semua problem kehidupan. Bukankah 
kita memerlukan dai yang memilih menyenangkan Tuhan dengan cara 
menyenangkan masyarakat ini?

Nugroho Dewanto, Suseno, Adek Media Roza






Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke