Catatan Pinggir Goenawan Muhammad, Tempo, Edisi 9-15 Oktober 2006 Panganteur: Ngahaja kolom Catatan Pinggir GM dina Tempo, ku kuring diteruskeun ka baraya, bilih bae teu acan maca, keur lenyepaneun. Naha nu didongengkeun ku GM ieu, aya pangaruhna oge jeung situasi di urang? Mangga nyanggakeun:
2020 Pada tahun 2020, dunia baru akan lahir. Kekhalifahan Islam akan menang, dan "umat manusia sekali lagi akan dituntun ke pnatai rasa aman dan oasis kebahagian..." Waktu itu berakhirlah "konfrontasi total" antara kaum "mukminin" dan "orang Kafir" yang berlangsung diseluruh dunia-dan tahap ketujuh dalam rencana besar Al-Qaidah akan terpenuhi. Jika benar seperti yang diuraikan Fouad Hussein dalam buku yang versi Inggrisnya disebut Al Zarqawi : The Second Generation of Al-Qaida, rencana Al-Qaidah untuk menang itu - yang terdiri dari tujuh tahap - sudah mulai tampak sekarang. Tahun 2006 termasuk "tahap kedua", ketika Irak jadi tempat Al-Qaidah menemukan tenaga baru dari anak- anak muda yang ingin menyerang Amerika - musuh yang angkuh dan bodoh yang masuk ke perangkap yang dibuatnya sendiri. Tapi, sebelum saya lanjutkan cerita ini, baiklah saya perkenalkan sedikit Fouad Hussein. Ia seorang wartawan Yordania. Dari sosoknya yang kurus dan sikapnya yang tenang - Ia sering tampak di Cafe VIenna di Kota Amman - kita tak akan menduga ia punya bahan cerita yang mengagetkan. Tapi 10 tahun yang lalu Fouad - yang tulisan-tulisannya tak selama menyenangkan raja - disekap pemerintah di penjara Suwaqah. Disitulah ia bertemu dengan dua tahanan lain. Yang satu seorang Palestina, Abu Muhammad al Maqdisi. Yang lain Abu Musab al-Zarkawi. Maqdisi sudah lama dikenal sebagai perumus ideologi gerakan "Islamis" radikal yang menganggap najis penguasa Arab Saudi. Bukunya mengutuk kerajaaan itu sebagai bid'ah - dan agaknya berpengaruh. Pada tahun 1995, tempat latihan Garda Nasional Saudi diledakkan orang. Maqdisi menghilang. Ketika ia berada di Peshawar, Pakistan, pada awal 1990-an, ia berjumpa Zarkawi. Keduanya berteman, meskipun tak selamanya Maqdisi membenarkan langkah temannya itu. Zarkawi adalah seorang Badui asal Yordania, seorang man of action yang menurut pelbagai penuturan, hidup dengan aksi sebagai impuls, tanpa pemikiran dan strategi. Ia pasti berbeda dari Maqdisi. Tapi keduanya beraliansi dalam kemarahan dan nasib yang sama. Kembali dari Pakistan dan Afganistan, merka membentuk kelompok perjuangan, Mereka ditangkap. Pada tahun 1993 keduanya masuk bui. Disitulah Fouad Hussein dapat meminta bahan untuk bukunya. Yang menarik dari buku yang terbit pada tahun 2005 itu - yang menguraikan rencana besar Al Qaidah tadi - adalah ia bisa mirip sebuah ramalan. Disana sudah disebutkan apa yang diharapkan Al Qaidah : menyulut KONFLIK antara IRAN dan AS. Menurut Zarkawi, kunci strategi Al Qaidah adalah menyeret Bush hingga mesin perangnya harus melayani medan yang terlampau luas. Tak berarti rencana besar itu seluruhnya masuk akal. Mendirikan kekhalifahan Islam - meniadakan pelbagai republik dan kerajaan yang sekarang ini tak tampak akan runtuh - memerlukan revolusi yang menjalar dari tempat ke tempat. Mungkin antara 2013 dan 2016 hal itu bisa terjadi di SAUDI dan SURIAH - yang legimintasi pemerintahannya selalu rapuh - tapi sudah berabad-abad Islam tak pernah bisa mempersatukan orang muslim. Kini bahkan iman dan tekad yang sama tak membentuk konsensus di antara kelompok perang jihad. Bagi Zarkawi (ini saya pinjam dari tulisan Lawrence Wright di The New Yorker 11 September 2006) MENTEROR dan MEMBUNUH orang SYIAH itu sesuatu yang perlu. Agustus 2003, ia mengebom sebuah masjid Syiah. Lebih dari 100 orang tewas, termasuk Ayatullah Muhammad Bakr al-Hakim. Maqdisi mengecam kebrutalan yang berlebihan itu, terutama setelah Mei 2004 Zarkawi membuat dan menyebar-luaskan rekaman film penyembelihan Nicholas Berg, seorang Amerika yang dikontrak Pentagon sebagai penjaga keamanan di Irak. Dalam tulisannya di website yang ia pakai untuk menyebarkan ide-idenya, Maqdisi bersuara seperti seorang yang jauh dari terorisme. "Tak ada alasan untuk menuntut balas dengan cara menakut-nakuti orang, memprovokasi seluruh dunia hingga membenci kaum mujahiddin, dan mendorong dunia memerangi mereka" Maqdisi agaknya salah satu dari sedikit ideolog "Islamis" yang tahu bahwa pada akhirnya perjuangan untuk menegakkan suatu tata di dunia adalah perjuangan politik: mencari dukungan, mendapatkan pembenaran, mengajak, menarik, merangkul. Tak ada tata yang pada abad yang penuh sesak ini bisa berdiri sendiri diatas bangka dan puing. Hal ini yang tampaknya mulai jadi tema "oto-kritik" para penjihad. Tulisan Wright menyebutkan Abu Bakr Naji, yang tidak diketahui identitasna, tapi kritiknya muncul pada musim 2004 di Internet. Ada langkah politik disamping langkah militer, kata Naji, tapi ia mencatat bahwa pelbagai kelompok Islamis menganggap politik sebagai "aktivitas jorok sang setan". Dan Naji sebenarnya bertanya: bisakah politik dihindari? Citra Al Qaidah di kalangan muslim rusak, kata Naji, sebab kurang usaha meraih dukungan. Maka langkah pertama, tulisnya, "adalah ....... memfokuskan usaha, untuk secara rasional memberikan pembenaran langkah ...kita". Langkah berikutnya: " Mengkomunikasikan pembenaran ini secara jelas kepada khalayak ..." Suara seperti ini memang seharusnya tak ganjil. Tapi kata "jihad" telah membangkitkan kultus kepada darah dan besi, bukan kesadaran akan rasionalitas sesama manusia. Retorika pun bergerak dalam pemujaan kepada kekerasan dan kematian. Ada penampikan kepada hidup dimana keintiman sehari-hari punya harganya sendiri. Ada sikap destruktif kepada apa yang bisa mengimbau orang lain. ADA SIKAP ALPA, bahwa soal kita ialah BAGAIMANA MENGUBAH DUNIA, BUKAN MELONCAT KE SURGA. Tapi siapa yang MEMUTLAKKAN KEMURNIAN memang harus MEMILIH KETERPENCILAN. Siapa yang memilih keterpencilan lewat pembunuhan memang TAK DIMAKSUDKAN UNTUK MENANG DI KEHIDUPAN. Juni 2002, konon seorang putra Bin Ladin, Hamzah, memasang satu pesan dalam website Al Qaidah: "Oh, Ayah! aku lihat telatah bahaya dimana-mana ..." Dia benar. Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

