Cenah, aya buku tarjamahan judulna teh "Teras Terlarang" (judul aslina "The 
Dream of Trespass") karangan Fetimma Mernissi, dimedalkeun ku Mizan, 
November 1999. Ningali aranna mah Fetimma teh urang Turki. Fetimma nu keur 
leutikna digedekeun di lingkungan harem, ayeuna jadi aktivis wanoja 
(gender). Kuring oge acan maca buku "heubeul" ieu, ngan kabeneran meunang 
resensi bukuna ti millis sabeulah. Mangga nyanggakeun, resensina. Paling 
henteu pan urang jadi terang, geuning baheula teh (oge ayeuna di Brunei 
Darusalam) para sultan teh resep gaduh koleksi wanoja tepi ka puluhan 
...malah ratusan ...hehehehehe

Baktos,
WALUYA


KONSEP HAREM DALAM PERSPEKTIF FETIMMA MERNISSI

Oleh Burhanuddin

Ada yang menarik dari rubrik "Kisah" berjudul Pengakuan "Selir" Pangeran
Jefri dalam Media Indonesia edisi Minggu, 4/6/2000. Kisah ini mirip cerita
1001 malam, demikian Media mengawali beritanya. Kehidupan seorang pangeran;
bergelimang uang, hidup mewah dan dikelilingi wanita-wanita cantik yang siap
menghibur "luar-dalam." Ya, benar, laporan tersebut membicarakan seorang
pangeran flamboyan nan kaya raya bernama Pangeran Jefri Bolkiah, anggota
kerajaan Brunei Darussalam.

Bukan kekayaan dan hobi pangeran yang suka pesta itu yang dijadikan
satu-satunya sasaran tembak. Tapi "kesukaan" Pangeran Jefri Bolkiah yang
lain yang hendak dikupas seiring dengan adanya pengakuan seorang model asal
Los Angeles bernama Rebbeca Ferratti kepada Melba Newsome dari Majalah Marie
Claire. Rebbeca mengaku pernah menjadi "harem" (selir) Pangeran Jefri dengan
gaji puluhan ribu dollar. Yang menghebohkan lagi, selain dirinya, masih ada
69 harem (selir) Pangeran Jefri plus empat istri resmi sang pangeran.

Istilah "harem" yang dipakai Rebbeca untuk menyebut dirinya bersama 69 selir
Pangeran Jefri inilah yang menarik untuk dicermati. Tepatkah istilah "harem"
itu dipakai untuk melihat kasus Rebbeca? Adakah implikasi teologis-politis
penyebutan "harem" yang berkonotasi Arab? Di atas segalanya, untuk
mendudukkan persoalan, perlu kiranya kita merefer karya  Fetimma Mernissi
tentang The Dream of Trespass   yang diterjemahkan dalam Edisi Bahasa
Indonesia menjadi Teras Terlarang. Buku terbitan Mizan (November, 1999) ini
banyak mengupas sisi-sisi kehidupan di dalam harem yang langsung dilakoni
oleh sang penulisnya sendiri.

Sebagai seorang akademisi, Mernissi telah sekian lama merebut perhatian para
aktivis perempuan dan peminat gender melalui buku-bukunya seperti Beyond the
Veil: Male-Female Dynamic in Modern Moslem Society- yang aslinya adalah
disertasi doktornya, The Veil and the Male Elite dan seabrek buku lainnya
yang-alhamdulillah- sebagian besar telah diterjemahkan ke dalam edisi bahasa
Indonesia.

Dari tulisan-tulisannya, sedikit atau banyak kita dapat menarik benang merah
untaian pemikiran Mernisi sekitar feminisme: Yakni betapa gigihnya dia
menelisik kekurangan-kekurangan yang ada pada pemerintahan Arab -yang
menurutnya- bukanlah intrinsik karena doktrin agama. Namun, lebih karena
agama itu telah dimanipulasi oleh orang yang berkuasa untuk kepentingan
dirinya sendiri. Mernissi rela "mewakafkan" sebagian besar usianya untuk
melakukan penggalian arkeologis dengan membuka-buka teks agama dan
mengakrabi ruang-ruang perpustakaan. Dengan maksud, tentu saja, untuk
membuktikan hipotesis dia tentang intervensi budaya patriarkhat dalam
teks-teks sakral yang bersifat misoginis

Tapi, satu hal yang agak berbeda pada buku ini dari buku-buku Mernissi yang
lain adalah "keengganannya" untuk masuk lebih dalam lagi pada arena debat
kusir teologis tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Persoalan feminisme
dalam Islam tidaklah harus melulu serius mengagendakan perlu tidaknya
penghapusan poligami, kesetaraan harta waris, hijab, dan hal-hal lain yang
bisa menegakkan bulu alis kaum agamawan konservatif. Mernissi ingin
menampilkan area of expert-nya itu dalam tulisan yang ringan-ringan saja
alias mudah dicerna.

Oleh karenanya, ia serasa ingin bertutur tentang dirinya. Dan buku yang
aslinya berjudul Dreams of Trespass: Tales of a Harem Girlhood ini memuatnya
sekelumit lika-liku perjalanan hidup Fatima Mernissi dari seorang gadis
kecil manis yang hidup dalam lingkungan budaya patriarkhi yang diskriminatif
sampai pada proses pematangan ideologinya sebagai seorang feminis.

Bak seorang penulis biografi yang piawai, Mernissi menceritakan masa
kanak-kanaknya di dalam sebuah harem Fez, yang dilihat dari kacamata seorang
gadis muda. "Masa kanak-kanak saya tidaklah seindah dalam buku ini,
"tuturnya dengan nada agak getir. Memang sekilas Mernissi tampak menikmati
masa kecilnya di dalam harem, tapi ia tetap tidak dapat mengabaikan adanya
penindasan di dalamnya.

Seperti pernah diulas Satrio (1994) ketika meresensi buku ini dalam edisi
bahasa Inggris, judul The Dreams of Trespass (Impian-impian tentang Keluar
Batas) sengaja dipakai karena inilah yang Mernissi ingat tentang apa yang
dilakukan kaum perempuan di dalam harem. Mereka melihat ke rentang langit
dari dalam lingkungan halaman harem dan memimpikan hal-hal yang sederhana,
seperti melangkah bebas di jalan. Ia menulis tentang batas-batas yang
mengatur perilaku dalam masyarakat, garis antara laki-laki dan perempuan.
Bukankah inovasi besar di dunia ini berawal dari sebuah mimpi yang
menggantung?

Mernissi membuat perbedaan antara harem kerajaan (imperial) dan harem
tingkat biasa (domestic) (h. 37). Orang Barat biasanya membayangkan harem
kelas tinggi, yakni istana-istana yang dimiliki laki-laki yang kaya raya dan
berkuasa, yang membeli ratusan wanita budak dan menyimpan mereka dalam
lingkungan harem dengan dijaga ketat oleh orang kasim. Harem-harem semacam
ini telah lenyap oleh Perang Dunia I, ketika kerajaan Ottoman runtuh dan
praktek-praktek itu dilarang oleh penguasa Barat. Mernissi dibesarkan dalam
harem tingkat biasa, yakni rumah bertembok anggun, meskipun bukan istana.
Rumah ini didiami oleh sebuah keluarga besar dengan maksud mencegah
perempuan memiliki kontak dengan dunia luar (Ibid.)

Distingsi kategoris yang dibuat Mernissi tentang harem di atas sebenarnya
sangat membantu kita untuk menjernihkan pandangan steriotipikal Barat yang
menganggap bahwa para raja Islam di Timur Tengah dan Maghribi (Afrika Utara)
masih melanggengkan  institusi harem. Dalam bayangan mereka, harem yang
berisi selir-selir raja yang berjumlah belasan, bahkan puluhan wanita
beserta anak-anaka yang berjumlah puluhan masih bercokol hingga kini.
Walhal, harem model imperial seperti itu telah lama punah, sementara harem
model domestik tetap ada seiring dengan masih hidupnya "kepercayaan
  teologis" yang berakar pada faktor kultural untuk menjaga sekaligus
memudahkan proses pemantauan terhadap istri-istri dan anak-anak perempuan
dari pengaruh luar.

Harem model imperial, dalam wujudnya yang tak jauh beda, sebenarnya bisa
kita jumpai di Indonesia, katakanlah di Keraton Solo, misalnya. Secara
fisikal-arsitektural, bangunan yang diperuntukkan buat kalangan istri-istri
raja itu tentu tampak anggun dan megah, dan merupakan bagian dari institusi
keraton secara keseluruhan. Selain secara latent ditujukan untuk membatasi
pergaulan istri-istri raja berikut anak-anak mereka dengan dunia luar,
bangunan yang boleh juga disebut harem imperial tersebut berguna untuk
memisahkan sekaligus membedakan "trah" garis keturunan raja dengan yang
lain.

Yang menarik sebagaimana dapat dibaca dalam entri "seclusion" dalam The
Oxford Encyclopedia of Modern Islamic World, meskipun lekat dengan tradisi
masyarakat dan nilai keislaman, pemisahan ruang antara kedua jenis kelamin
itu ternyata bukan berasal dari Islam sendiri. Masyarakat Bizantium, Kristen
Suriah, serta masyarakat pra-Islam di kawasan Mediterania, Mesopotamia,
serta Persia, sudah terlebih dahulu mempraktekkan hal ini. (h. x).

Di samping itu, pemisahan ruang ini juga sesuai dengan gagasan yang dipegang
oleh suku-suku asli di Timur Tengah yang menghendaki kemurnian darahnya
terjaga. Meskipun demikian, Mernissi tak selalu menunjuk institusi harem
sebagai cerminan dari  "keangkuhan" laki-laki untuk mengendalikan perempuan.
Harem dalam buku ini adalah harem domestik yang sebenarnya mirip sebuah
keluarga besar (extanded family) tanpa budak maupun kasim. Tapi, apa pun
alasannya, karena eksistensi harem yang sengaja diperuntukkan buat
pengekangan perempuan dari aktivitas dengandunia luar, maka bagaimana pun
juga harem tetaplah sebuah produk institusi budaya patriarkhi yang menindas
perempuan.

Tradisi harem yang membatasi perempuan dalam berinteraksi dengan dunia luar
ini sebenarnya bisa dijelaskan melalui konsep space yang biasa dikenal dalam
literatur antropologi. Dalam hal ini, segregasi yang ketat menyangkut space
(ruang) buat laki-laki atau perempuan lebih merujuk pada faktor budaya yang
melingkupinya. Dan karenanya, lepas dari tanggung jawab sakralitas teks
agama. Meskipun, misalnya, ada teks yang menyebut secara eksplisit batas
demarkasi laki-laki dan perempuan, itu tak lebih dari bentuk akomodasi teks
agama terhadap kultur budaya lokal (baca: Arab). Kalau kita mengikuti asumsi
ini, maka teks-teks suci yang membatasi ruang gerak perempuan-yang kemudian
berimplikasi pada penyudutan peran perempuan- bersifat relatif atau nisbi.
Atau, meminjam istilah bahasa tafsir (Ulumul Qur'an) disebut dzanniy.

Contoh sederhana bahwa pemisahan laki-laki dan perempuan bisa dibaca lewat
konsep space yang berdimensi lokal-kultural adalah hanya pada konteks Arab
sajalah, daerah komunitas muslim, yang memiliki batasan ketat pemisahan
laki-laki dan perempuan. Di Indonesia misalnya, hampir-hampir tidak ada
segregasi antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan dapat
beraktivitas bersama, tanpa pemisahan, baik di kampus, kantor, sarana
transportasi umum dan lain-lain. Hanya WC dan kamar mandi saja yang
terpisah.

Namun di atas segalanya, kehidupan masa kecil Mernissi di lingkungan harem
malah mematangkan visinya sehingga ia berhasil menjadi scholar kaliber
international yang sangat dihormati. Menarik disimak, yakni tumbuhnya
benih-benih kritisisme Mernissi justru ketika ia mendapat kungkungan yang
kuat. Itu merupakan pesan berharga bahwa "penjara" seketat apa pun tidak
bakal mampu mengerdilkan pemikiran seseorang. Hanya tubuhnya saja yang
terbelenggu. Bukankah Raden Ajeng Kartini besar karena pikiran-pikirannya
yang -tertuang dalam lipatan surat kepada Abendanon, sahabatnya-ternyata
mampu menerobos kungkungan tradisi yang melingkupinya dan mampu melampaui
zamannya?

             "Bagaimanapun banyaknya keterbatasan Anda, Anda selalu bisa
memiliki impian dan visi. Jika Anda berpegang pada hal itu, Anda bisa
mengubah dunia. Itulah cerita saya, "ujar Mernisi. Dus, melalui buku ini,
Mernissi tidak saja mampu mendeskripsikan ketertindasan perempuan secara
apik, tapi ia juga memiliki semangat liberatif dan transformatif untuk
mengubahnya.

             Sebagai epilog, boleh saya katakan bahwa buku ini niscaya 
sayang
seribu sayang apabila dilewatkan begitu saja oleh para peminat kajian gender
dan aktivis perempuan. Selamat Membaca! [] 

Kirim email ke