Artikel ti Kompas, kanggo wanoja anu satuju jeung ikhlas dipangnyandungkeun :
Suamiku adalah Tuhan-ku http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0611/27/swara/3121685.htm Dewi Candraningrum Namaku Prithivi Maharani. Aku akan dinikahkan dengan seorang keturunan Brahmana. Ayahku menyediakan dowri, mahar dari pengantin perempuan. Terkadang merupakan kekayaan yang luar biasa banyak: kerajaan, misalnya, atau seratus ekor sapi bahkan. "Aku dinikahkan dalam upacara panjang dan berlangsung berhari-hari. Setelah selesai, kemudian, selamanya, sampai akhir hayatku, aku hidup di dalam zenana, semacam ruang terpisah di rumah suamiku, di mana aku tinggal bersama ibu mertua dan semua adik-kakak ipar perempuan. "Di zenana kami bermain bersama. Ibu mertuaku mengajari aku menjahit, memasak, dan terutama beribadah. Ibadah utama yang aku lakukan adalah memohon kepada dewa agar aku dianugerahi anak laki-laki. Aku memasakkan makanan untuk suamiku dan anak-anakku. Tatkala suamiku meninggal, aku akan pergi bersamanya dalam api membara. Suamiku adalah Tuhan-ku." Kisah Kisah ini ditulis Cornelia Sorabji (1866-1954) dalam India Recalled (1936). Menerobos zenana dan bercakap bersama para perempuanmulai dari gadis-gadis kecil yang telah menjadi istri sampai yang sudah menjadi jandamemberikan wujud "dunia antara". Dunia antara, tempat perlintasan makna, menjadi sumber inspirasi bagi novel dan memoarnya. Pada waktu itu, perempuan India dalam ortodoks Hindu tidak diperbolehkan bekerja di luar rumah atau bertatap muka dengan "dunia luar". Dan, melahirkan bayi laki-laki adalah impiannya. Suami mereka adalah tempat bakti dan ujung ritual ibadah sehari-hari. Ketika suaminya bangun pagi hari, sang istri mencuci kakinya. Dan, ketika memulai ritual setiap harinya, dioleskannya kunkum, titik merah di dahi di antara kedua matanya sebagai tanda "aku adalah istri- mu dan engkau adalah Tuhan-ku". Ketika suaminya meninggal, dia ikut mati bersamanya, membakar diri dalam api, suttee. Ketika suttee dilarang oleh Kolonial Inggris, janda-janda tersebut berpakaian selembar kain katun putih dan berpuasa setiap hari sampai akhir hayat menjemputnya dan tidak menikah lagi sebagai tanda kesetiaan. "Suamiku adalah Tuhan-ku" Kalimat "Suamiku adalah Tuhan-ku" memiliki interpretasi beragam, bergantung lokasi episteme si penerjemah berada. Ketika "agama pagan" atau "agama bumi" membimbing peradaban manusia, kekuatan dan posisi tawar alam dan tubuh manusia masih kuat. Bumi disebut sebagai ibu, tepatnya dewi ibu. Sungai disebut sebagai dewi kehidupan. Ritual-ritual agama menyatu dalam aktivitas alam. Tatkala bunga, buah, dan daun menjadi syarat wajib implementasi dari sebuah ritual. Alam tidak berada dalam genggaman tangan manusia. Manusia juga tidak diberi hak absolut atas alam. Suara alam dan suara tubuh menjadi nadi ritual sehari-hari. Dalam ruang epistemik agama-agama tersebut, manusia dan alam adalah dua sahabat satu sama lain. Berkelindan dalam kosmos dewa-dewi. Ini berbeda dengan pandangan agama-agama Semit di mana alam diciptakan untuk kepentingan manusia. Manusia diberi kewenangan nyaris absolut untuk menguasai alam demi kebutuhan hidupnya. Alam tak lagi istimewa seperti sebelumnya dan irama tubuh tak lagi penting. Praktik selibat adalah puncak penolakan terhadap tubuh. Tatkala suara tubuh menjadi penghalang menuju kesucian. Tatkala fakultas jiwa dan fakultas roh menempati posisi paling tinggi. Tatkala interpretasi tubuh mengalami pergeseran, dari yang suci menjadi yang dosa. "Suamiku adalah Tuhan-ku" dapat juga diinterpretasikan sebagai peniadaan tubuh perempuan atas tubuh laki-laki. Tatkala tubuh laki- laki lebih superior daripada tubuh perempuan secara metafisik. Dengan demikian, beribadahlah kepada suamimu dan bercita-citalah memiliki bayi laki-laki daripada bayi perempuan. Misteri Tubuh adalah misteri yang menyimpan makna seluas imajinasi. Karenanya, masing-masing tradisi agama memberikan penjelasan berbeda- beda tentang hakikat dan makna tubuh. Tubuh juga merupakan kunci misteri ketuhanan. Meski banyak tradisi agama menganggap tubuh sebagai sesuatu yang rendah, perlu dikekang dan dikendalikan, tidak ada yang sepenuhnya menolak tubuh. Kenyataannya, hanya dengan tubuhlah manusia menjadi manusia sehingga hanya melalui tubuhbaik dipuja maupun ditolak manusia bisa mencapai realitas lebih tinggi, yang adalah Brahma, Azura Mazda, Yahweh, Allah . Perempuan-perempuan yang tersebar dalam beragam episteme tersebut sepertinya akan menerjemahkan tubuh mereka sesuai dengan kosmologi metafisik tersebut. Prithivi Maharani akan menerjemahkan tubuhnya sesuai dengan konsep Hindu ortodoks yang dianutnya, dan Cornelia Sorabji juga akan menerjemahkan tubuhnya sesuai dengan konsep Kristen yang dianutnya. Makna tubuh dapat ditelisik melalui kompleksitas tradisi, bukan sekadar rasionalitas dogmatis berdasarkan persepsi inderawi. Dengan kata lain, letak makna tubuh perempuan sangat kontekstual. Dan, kosmologi agama seorang perempuan memiliki peranan cukup penting dalam membangun makna tubuhnya. Bagaimana seorang perempuan menghayati agamanya bisa menjadi jawaban bagaimana makna tubuh diejawantahkan. Dewi Candraningrum Pengajar UMS, Sedang Menempuh Studi Doktoral Sambil Mengajar di Institut Ethnologie Uni Muenster, Anggota Vorstand SOAI, Asienhaus

