Lamun kitu mah leuwih hebat R.Dewi Sartika, lantaran naon manehna mah lain ngan ukur surat-suratan tapi geus nepi ka realita ngadirikeun sakola, hebat-hebat..........
Naha urang sunda teu reueus kitu...................................................................? Jiga-na teu aya lepatna pemda jabar ngayakeun perda khusus keur mieling Dewi Sartika kawas R.Kartini diperingati barudak sakola marake kabaya........................ Kumaha saderek urang bandung???????????urang sumedang????? Jeung urang sunda di mana wae ayana??????????? -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of mh Sent: Monday, December 04, 2006 5:51 AM To: [email protected]; kisunda Subject: [Urang Sunda] Mieling Dewi Sartika Dewi Sartika dan Kartini Oleh NINA H. LUBIS, M.S. RADEN Dewi Sartika adalah tokoh emansipasi wanita. Jasanya tak kalah besar dari R.A. Kartini. Karena itu, Pemerintah mengangkat Dewi Sartika sebagai pahlawan nasional pada tahun 1966. Hari ini adalah tanggal kelahirannya. Namun, kita tidak pernah memperingatinya sebagaimana kita memperingati Kartini. Mengapa hanya Kartini saja yang selama ini diagung-agungkan dan dipopulerkan? Apakah kalau Kartini tidak pernah lahir, lalu status dan peranan wanita Indonesia tidak berubah? Dewi Sartika tidak dicitrakan sehebat R.A. Kartini. Ini adalah sebuah kesalahan sejarah akibat campur tangannya kekuasaan terhadap sejarah. Riwayat singkat Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 di kalangan menak Sunda. Dia adalah putri kedua dari lima bersaudara. Ayahnya adalah Raden Rangga Somanagara, Patih Bandung. Ibunya adalah Raden Ayu Rajapermas, putri Bupati Bandung Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1876). Ketika Dewi berusia sembilan tahun dan masih duduk di kelas III ELS (Europesche Lagere School), ayahnya dibuang ke Ternate karena dituduh terlibat dalam percobaan pembunuhan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara (yang keturunan menak Sumedang) dan para pejabat Belanda di Kota Bandung pada 1893. Dewi harus berhenti sekolah. Teman dan kerabatnya menjauhi keluarganya; mereka takut dituduh terlibat dalam peristiwa itu. Dewi dibawa pindah oleh uwaknya yang Patih Cicalengka. Di sana ia mendapat pendidikan keterampilan wanita bersama putra-putri uwaknya antara lain dari istri Asisten Residen Cicalengka. Dalam waktu senggangnya, Dewi bermain "sekolah-sekolahan" dengan anak-anak pegawai kepatihan dan ia sendiri menjadi gurunya. Kebiasaan bergaul dengan anak-anak somah ini membentuk pandangan hidupnya. Ia bercita-cita untuk memajukan anak-anak gadis, baik anak menak maupun anak somah. Setelah menginjak remaja Dewi Sartika kembali ke Bandung. Cita-cita mendirikan sekolah ingin diwujudkannya di kota ini. Sebagai anak mantan patih, ia berani menghubungi kalangan menak dalam pemerintahan kabupaten yang bisa mendukungnya Pada 16 Januari 1904 ia membuka Sakola Isteri, atas bantuan Bupati R.A.A. Martanagara dan didukung C. den Hamer, inspektur sekolah. Di sekolah ini, anak-anak gadis selain mendapat pelajaran umum, juga mendapat pelajaran keterampilan wanita, seperti memasak, membatik, menjahit, merenda, menyulam, dll. Di sekolah ini diajarkan pula pelajaran agama Islam, yang di sekolah-sekolah bergaya Barat dilarang diajarkan. Pada 1910 nama sekolah diganti menjadi Sakola Kautamaan Isteri. Jumlah murid semakin banyak dan cabang-cabang sekolah dibuka di Bogor, Serang, dan Ciamis. Pada 1911 jumlah muridnya 210 orang dengan guru lima orang. Pada 1914 nama sekolah diganti menjadi Sakola Raden Dewi. Sekolah ini didirikan pula di berbagai kota di Jawa Barat, seperti di Garut, Ciamis, Purwakarta, Bogor, Serang, bahkan di Sumatra Barat. Atas jasa-jasanya, Pemerintah Hindia Belanda memberi tanda penghargaan bintang mas (gouden ster). Dewi Sartika baru menikah pada usia 22 tahun dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seorang guru di Sekolah Karang Pamulang Bandung. Setelah berjuang hingga melewati zaman kemerdekaan, Dewi Sartika wafat pada 11 September 1947 di Cineam, Tasikmalaya dengan meninggalkan enam orang anak. Melawan arus Sejarah menunjukkan rendahnya status sosial wanita Indonesia. Mereka (terutama bangsawan) hanya dianggap sebagai upeti, benda yang bisa di-alungboyong-kan sebagai hadiah. Setelah menjalani masa kanak-kanak yang singkat, mereka dipingit. Dalam usia 11-12 tahun anak-anak perempuan itu dinikahkan atas kehendak orang tua. Mareka harus menerima apabila suami menghendaki istri lain (garwa leutik). Dalam situasi seperti itulah Raden Dewi Sartika lahir. Sejarah menghendaki lain: ternyata dia tidak ditakdirkan mengikuti nasib kaumnya. Bila dibandingkan dengan R.A. Kartini, Dewi Sartika harus mengalami penderitaan yang sangat berat. Ia harus menumpang di rumah uwaknya , dijauhi kerabat, harus mandiri. Kartini, "hanya" menderita antara lain karena ia harus dipingit ketika semangat bersekolahnya sedang berkobar-kobar atau karena ia harus dimadu. Kekuatan Dewi ditunjukkan dengan keberanian melawan arus zamannya. Demi cita-citanya, dia menikah dalam usia 22 tahun. Pada masa itu, menikah dalam usia setinggi itu dianggap mahiwal (lain dari yang lain). Perempuan lain dalam usia dua puluhan itu mungkin sudah punya 5 atau 6 anak. Entrepreneur Dewi Sartika seorang yang memiliki jiwa entrepreneur (wiraswasta). Buktinya: sejak 1901 Belanda sedang mempromosikan Politik Etis yang memberikan kesempatanpribumi untuk mendapatkan pendidikan Barat. Dewi menangkap peluang ini hingga tahun 1904 dia mendirikan sekolah. Istri pejabat-pejabat Belanda acapkali berkunjung ke sekolahnya. Meski mendapat bantuanbaik dari pemerintah kolonial maupun elite pribumi, Dewi Sartika tetap independen. Kesalahan sejarah Belanda mengangkat nama Kartini melalui publikasi buku Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) yang berisi surat-menyurat R.A Kartini dengan tokoh-tokoh Belanda itu. Kalaulah zaman kolonial dulu ada semacam "litsus", Raden Dewi Sartika memang sulit untuk bisa lolos. Ayahanda Dewi Sartika di-blacklist Belanda. Sedangkan ayah Kartini, terbilang mulus-mulus saja. Loyalitas tanpa cacat adalah jaminan bagi seorang pejabat pribumi dan anak keturunannya untuk menerima segala privilese. Tidaklah mengherankan Belanda menganggap Dewi Sartika "bukan apa-apa". Celakanya, warisan sejarah kolonial itu terabadikan pula dalam sejarah nasional kita. Memang, 20 tahun pertama masa kemerdekaan, sejarah yang ditulis diusahakan untuk menjadi "Indonesia sentris". Aktor utama dalam sejarah itu adalah orang Indonesia, sedangkan pihak penjajah menjadi tokoh kedua bahkan figuran. Namun, karena kesulitan metodologis, sejarah pada masa awal itu hanya bisa membuat para tokoh yang dalam sejarah kolonial disebut sebagai "pemberontak" menjadi "pahlawan" (yang umumnya mengalami kekalahan) dan membiarkan semua kisah sejarah berjalan seperti sebelumnya. Inilah kesalahan sejarah. Memperbaiki kesalahan Penulis berusaha memperbaiki kesalahan ini. Kisah perjuangan Raden Dewi Sartika ditulis kembali secara proporsional dengan R.A. Kartini dan para pejuang wanita lainnya, di dalam jilid ke-5, buku Sejarah Indonesia 8 jilid, yang baru diluncurkan dalam Konferensi Nasional Sejarah, 14-15 November 2006 lalu. Buku yang ditulis secara independen oleh 80 sejarawan Indonesia, memberikan informasi yang tepat tentang sejarah Indonesia, termasuk sejarah emansipasi. Setelah itu, pemerintah diharapkan bisa menetapkan tanggal 4 Desember sebagai hari yang wajib diperingati sebagaimana halnya tanggal 21 April, hari kelahiran R.A. Kartini. Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa Barat, sudah selayaknya memperingati tanggal ini sebagai hari istimewa, terutama untuk kaum wanitanya. Dengan munculnya tokoh progresif seperti Dewi Sartika, citra wanita bukan lagi hanya sekadar benda mati, bukan lagi sekadar objek tetapi subjek yang memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, berhak atas pendidikan dan menjadi pribadi mandiri yang dihargai sama tinggi dengan pria. Dengan demikian kesalahan sejarah telah diperbaiki. Insya Allah.*** Penulis, Guru Besar Ilmu Sejarah Fak. Sastra Unpad/Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat. Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 04 Desember 2006 ___ _ _ _ ___ ____ ___/ __| |_ _ _ __| (_)___| __|__ / _ \\__ \ _| || / _` | / _ \__ \ / /\_, /|___/\__|\_,_\__,_|_\___/___//_/ /_/ __________________________________________________________ Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business. http://smallbusines <http://smallbusiness.yahoo.com/r-index> s.yahoo.com/r-index

