Baraya,
Urang reureuh sakeudeung, tina ngacapruk poligami jeung nu lianna. Ieu aya
ubar lieur, keur ngareureuhkeun pikiran.
salam,
mh
==========
Van der Dog
Kumpulan Cerpen Khas Ranesi
Gigi SW
04-12-2006
Nenek memberi nama anjing keluarga kami Van Der Dog. Semua anjing yang
pernah dimiliki nenek diberinya nama Van Der Dog. Dari cerita ayahku, aku
tahu alasannya kenapa dulu anjing pertamanya diberi nama itu. Nenek ingin
meluapkan kebenciannya pada orang-orang Belanda yang telah membunuh kakek.
Aku bisa membayangkan bagaimana rasa sakit hati nenek, ketika melihat
kakek diseret dan dihajar oleh serdadu-serdadu Belanda sambil dimaki
dengan sebutan anjing inlander. Sebutan itu, peristiwa itu sangat
menyakitkan hatinya. Orang yang sangat dihormatinya diperlakukan tidak
ubahnya seekor anjing.
Dendam nenek setinggi gunung. Dibeli seekor anjing besar, lalu diberinya
nama Van Der Dog. Setiap hari dengan pukulan kayu nenek menghajar anjing
yang dirantai di bawah pohon jambu sambil terus memaki-maki "Dasar Van der
Dog, anjing Belanda sialan! Anjing..kau!" Sebulan kemudian anjing itu
mati, dan nenek membeli lagi. Anjing kedua diberi nama sama dan mendapat
perlakuan yang sama pula. Terlebih saat nenek mengingat kakek. Anjing itu
akan mendapat siksaan yang teramat berat. Dipukul, dihajar, dilempar batu,
bahkan pernah disiram dengan air panas hingga bulu-bulunya terkelupas.
Lolong kesakitannya menambah nafsu nenek untuk terus menyiksa. Anjing
kedua mati dalam waktu seminggu.
Kematian anjing kedua tidak menyurutkan nafsu nenek menyiksa anjing.
Disuruhnya ayah membeli anjing yang baru. Seekor anjing hitam kembali
dirantai di bawah pohon jambu untuk penyaluran kemarahan nenek. Tapi hari
itu nenek hanya berdiri mematung menggenggam pentungan di depan anjing
yang baru.
"PardiĀ
! Mengapa kau beli anjing betina?" teriaknya pada ayah. Ayah
bergegas lari keluar begitu mendengar teriakan marah nenek.
"Anjing di pasar tinggal itu, Bu."
"Mengapa pula kau beli yang lagi bunting, ha?"
"Itu satu-satunya anjing yang ada, Bu!" nenek terdiam mendengar jawaban
ayah. Matanya melotot ke arah anjing baru yang menatapnya tak paham.
"Hei.., anjing Belanda sialan! Kau beruntung karena bunting, tapi tunggu
nanti kalau anakmu lahir. Kau akan mendapat siksaan lebih berat dariku."
Nenek berbalik masuk ke dalam rumah. "Beri makan dan minum Belanda sialan
itu!" Perintahnya pada ayah yang masih berdiri di beranda.
Mulai saat itu nenek tak memukul anjing betina yang baru. Ketika hampir
tiba waktunya Van Der Dog betina itu melahirkan, nenek menyuruh ayah agar
membawanya ke belakang dan membuatkan kandang. Bahkan semenjak anjing itu
ada di belakang nenek terkadang ke kandangnya sambil membawa nasi berlauk
di atas piring seng.
Suatu hari nenek mendapat laporan dari ayah bahwa Van Der Dog telah
melahirkan. Wajahnya langsung berbinar seperti mendapat suntikan semangat
baru.
"Seminggu lagi rantai betina Belanda sialan itu di pohon jambu!"
perintahnya pada ayah sambil menggosok pentungan kayu yang mulai berdebu
dengan kain. Ritual balas dendam yang berbulan-bulan tertunda hendak
dimulainya lagi. Suara lolongan anjing kesakitan akan kembali mewarnai
kegaduhan di depan rumah yang pasti ditimpali sumpah serapah nenek.
Seminggu kemudian ketika Van Der Dog sudah dirantai di bawah pohon jambu,
nenek keluar sambil membawa pentungannya. Dengan langkah mantap dan bara
dendam terpendam dia menuruni tangga beranda. Sesampai di dekat pohon
jambu nenek kembali tertegun, berdiri mematung menatap anjing betina yang
tiduran di bawah pohon jambu. Nenek seperti berubah menjadi patung batu
membeku. Tak ada sumpah serapah dari mulutnya, tak ada ayunan pentungan,
tak ada pula lolong anjing kesakitan. Van Der Dog betina itu terlentang di
bawah pohon, sementara empat anaknya yang berumur seminggu berebut punting
susu dengan gerakan-gerakan lucu. Rupanya itulah yang membuat nenek
berdiri tertegun dan surut segala nafsunya.
Nenek masih berdiri tegak ketika salah satu anak anjing itu tiba-tiba
mendekati kakinya dan menjilati ujung jari kakinya. Mungkin anak anjing
itu mengira ujung jari nenek adalah puting susu induknya. Nenek seperti
terbangun dari mimpi, menunduk melihat ke arah anak anjing berbulu hitam
yang menjilati ujung jari kakinya sambil menggoyang pantat dan ekor. Nenek
melempar pentungannya kemudian berjongkok. Dengan tangan gemetar
dipegangnya anak anjing itu.
Entah apa yang dirasakannya, dengan halus tangannya membelai punggung anak
anjing itu lalu mengangkatnya dan menempelkannya ke dada. Anak anjing itu
menurut, tanpa meronta atau bersuara. Dia sekarang menjilati tangan nenek
yang masih juga bergetar. Nenek mendongak, mengalir turun air mata di
kedua pipinya. Tubuhnya bergetar menahan isak, air matanya terus mengalir
melewati leher menuju ke dada. Anak anjing itu seperti melihat air susu,
menjilati air mata yang membasahi dada nenek sampai ke arah leher.
Cukup lama kejadian itu, sampai kemudian nenek mampu menguasai dirinya
kembali. Perlahan diangsurkan anak anjing itu ke arah perut induknya dan
segera berlari masuk ke dalam rumah. Seharian nenek mengurung diri di
dalam kamarnya, hanya menjelang maghrib dia keluar sebentar menyuruh ayah
memasukkan anjing-anjing itu ke kandangnya di belakang.
---
Sejak saat itu perlakuan nenek terhadap anjing berubah total, meskipun
sesekali umpatan "Anjing Belanda sialan!" itu terdengar, tetapi lebih
bernuansa canda dan tak ada secuilpun kemarahan di dalamnya.
Bertahun-tahun kemudian anjing tetap menjadi peliharaan keluarga besar
kami. Keturunan-keturunan mereka tetap menyandang nama yang sama. Atas ide
ayahku di belakang nama itu diberi angka romawi seperti raja-raja Eropa
maupun raja-raja Jawa untuk menunjukkan mereka generasi ke berapa. Yang
kami pelihara sekarang adalah generasi ke XVIII, jadi namanya Van Der Dog
XVIII.
Karena induknya mati tertabrak mobil, Van Der Dog XVIII mendapat perhatian
lebih dan tak diijinkan keluar pagar rumah. Nenek tak ingin kejadian yang
menimpa induknya terjadi pada anjing kecil itu. Bahkan saking sayangnya
Van Der Dog XVIII harus tidur bersama nenek. Terkadang aku cucunya merasa
iri terhadap perlakuan nenek pada Van Der Dog XVIII, namun aku segera
memakluminya begitu mengingat cerita masa lalu nenek.
Sebuah mobil mewah bercat hitam berhenti di depan pintu pagar kami.
Seorang wanita asing sebaya ibu turun dari mobil itu. Kami saling
memandang seolah bertanya apakah ada yang mengenal wanita itu? Tak
seorangpun mengenalnya, juga nenek. Ibu segera menyuruhku membuka pintu
pagar.
"Permisi, selamat siang. Apakah benar ini rumah keluarga Sukarto?" Logat
bahasa Indonesianya terpatah-patah seolah takut salah.
"Benar, anda mencari siapa?" Raut wajah wanita itu tampak berubah gembira.
"Perkenalkan saya dari Belanda, nama saya Ludwina. Saya ingin sekali
bertemu dengan Nyonya Sukarto, apakah beliau ada di rumah?" Terasa suara
itu bergetar.
"Benar, mari silahkan masuk." Aku mempersilahkan dia.
Wanita Belanda itu mengikutiku menuju beranda di mana ayah, ibu, dan nenek
memperhatikan kami dengan penuh tanda tanya.
"Nek, Nyonya ini hendak bertemu nenek."
Nenek segera menghampiri kami. Tampak mata Ludwina berkaca-kaca melihat
nenek, serta merta dia maju menubruk dan memeluknya erat. Tampak jelas
nenekku kebingungan, dan berusaha menolak dengan halus pelukan wanita itu.
Nenek menatap wanita itu dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan
tak mengerti. Segera wanita asing itu memahami ketidakmengertian nenek.
"Maafkan tindakan saya, saya sampai lupa memperkenalkan diri karena saya
sangat bahagia sekali."
"Siapa anda? Apakah anda mengenal saya?" Suara nenek terdengar lirih,
bergetar penuh tanda tanya.
"Saya Ludwina, anak mama Juliana dari Amsterdam."
"Siapa Juliana, rasaya saya tak pernah mengenal nama itu?"
Ibu segera melihat kejanggalan-kejanggalan itu, dengan ramah ibu meminta
wanita itu masuk ke dalam ruang tamu. Sebentar kemudian kami berkumpul di
ruang tamu, tak ketinggalan Van Der Dog XVIII yang duduk di pangkuan
nenek. Kami mendengar wanita Belanda itu menuturkan dirinya dengan
seksama.
Dari wanita itu akhirnya kami mengetahui bahwa sebenarnya dia putri kakek
dengan gadis Belanda yang bernama Juliana. Kakek adalah mata-mata pejuang,
dan untuk mendapatkan informasi rahasia pihak Belanda, kakek berpacaran
dengan Juliana anak Jenderal Van De Jonk. Karena informasi-informasi itu
akhirnya para pejuang berhasil menyerbu ke dalam benteng dan membunuh
Jenderal Van De Jonk.
Juliana sempat melarikan diri dan dalam keadaan hamil dia kembali ke
Belanda. Kekalahan itu membuat pasukan Belanda menjadi kalap dan mencari
kakek sebagai sumber kebocoran rahasia pertahanan Belanda. Kakek
tertangkap dan seperti yang pernah diceritakan ayahku, serdadu-serdadu
Belanda itu menyiksa dan membunuh kakek.
Cerita itu seperti membuka lembaran sejarah baru di atas luka-luka
perasaan nenek yang sudah lama mengering. Kakek, sosok yang sangat
dihormati dan dikagumi nenek karena kesetiaannya, ternyata mempunyai anak
di luar pernikahan mereka. Dan anak itu sekarang berdiri di hadapannya.
Bayangan anjing-anjing yang mati disiksanya berubah menjadi bayangan
kakek. Nenek menutup wajah dengan kedua tangan keriputnya. Tampak bahunya
berguncang, di sela isak tangis yang makin mengeras. Kami semua terdiam,
tak tahu harus berbuat apa. Air mata nenek meluncur turun sampai membasahi
dada. Tiba-tiba Van Der Dog XVIII mendongak dan menjilati air mata di dada
nenek hingga sampai ke lehernya. Tangisan nenekpun makin menjadi.
Ludwina maju menubruk nenek, dan bersimpuh memohon ampun karena telah
membuat hati nenek sedih. Wajahnya menyusup di pangkuan nenek, Ludwina
menangis sesunggukan. Ayah mengusap matanya yang telah menjadi basah
sambil memeluk ibuku yang juga tak kuasa menahan rasa haru. Sementara aku,
kubiarkan air mataku menetes turun.
Setelah drama di ruang tamu usai, kami semua berkumpul mengitari meja
makan. Tante Ludwina meneruskan ceritanya.
"Mama Juliana sangat sakit hati, setelah tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan
papa Sukarto. Terlebih sampai Opa De Jonk meninggal dan semua orang
Belanda tahu bahwa itu informasi berasal dari mama. Di Belanda mama
Juliana dikucilkan dan beliau terpaksa tinggal bersama pendeta Jacobs
sampai kemudian aku dilahirkan." Tante Ludwina berhenti sebentar, menghela
nafas panjang. Dia seperti hendak mengumpulkan kenangan pahit yang
dialaminya ketika itu.
"Karena sakit hati, mama memelihara seekor anjing dan diberi nama anjing
itu Sukarto. Mama sangat benci tapi juga sangat cinta. Nama anjing itu
hanya untuk menunjukkan kebenciannya, selebihnya anjing itu dirawat dan
dicintai. Setiap hari anjing itu diajaknya berbicara, dan setelah aku
lahir anjing itu menjadi satu-satunya teman bermainku. Aku baru tahu
riwayat seluruhnya seminggu sebelum mama meninggal dan beliau berpesan
agar aku ke Indonesia untuk menemui Nyonya Sukarto menyampaikan permintaan
maaf beliau, sekaligus mengunjungi makam papa Sukarto."
Tante Ludwina kembali mengusap air mata yang terus menuruni pipinya.
Nenek tercenung mendengar penuturan Tante Ludwina. Perlahan nenek mulai
pula bercerita tentang kehidupannya sepeninggal kakek, tentang Van Der Dog
I dan perubahan-perubahan sikapnya terhadap anjing-anjing itu.
"Entah mengapa aku tidak tega pada anjing betina yang sedang bunting itu,
mungkin ada hubungan perasaan antara aku dan Juliana. Aku sangat menyesal
dengan apa yang telah aku lakukan." Nenek mengusap lembut kepala Van Der
Dog kecil yang menyusupkan kepalanya di dada nenek. Tante Ludwina
mengangguk-angguk mendengar cerita nenekku.
Suasana di ruang makan itu menjadi hening ketika nenek selesai bercerita.
Semua orang seperti tenggelam dalam alunan perasaan masing-masing. Hanya
Van Der Dog kecil yang sesekali mengeluarkan suara manja sambil
mengibaskan ekornya.
Yogyakarta, Oktober 2006
Sumber: Radio Nederland
___ _ _ _ ___ ____ ___/ __| |_ _ _ __| (_)___| __|__ / _ \\__ \
_| || / _` | / _ \__ \ / /\_, /|___/\__|\_,_\__,_|_\___/___//_/ /_/
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com