Assalaualaikum,

Teu aya nu bade diserat  yeuh, ieu we 
Di cut-copy-paste dari kompas tanggal 11 Desember 2006

mangga di ilo.

wass
Ely Evalita.

Empat Istri Tinggal Serumah: Suami-Istri Bergelar
Doktor 

SENTUL, WARTA KOTA- Isu poligami mendadak ramai
setelah pemerintah berniat merevisi aturan untuk
pengetatan. Tapi komunitas poligami yang tinggal di
Sentul tidak terusik karena sudah matang. Di Perumahan
Cluster Victoria, Bukit Sentul, Kabupaten Bogor,
terdapat beberapa keluarga yang hidup berpoligami.
Mereka tergabung dalam komunitas Jamaah Rufaqa’ yang
berarti Kawan Setia.

Di Malaysia, jamaah ini mendiringan perusahaan bernama
Rufaqa’ Sdn. Sementara Rufaqa’ Indonesia berkantor
pusat di Kompleks Niaga 2, kawasan Bukit Sentul,
Bogor, dengan menempati empat blok ruko berlantai dua.
Rufaqa’ antara lain membuka Klinik Langit (klinik
kesehatan), Biro Travel Qotrunnada, Production House
Anak Sholeh, dan Spectral Technology (Teknologi
Informasi).

Dari 400-an kepala keluarga (KK) yang tinggal di
Cluster Victoria, terdapat 35 KK anggota Jamaah
Rufaqa’, sembilan di antaranya hidup berpoligami. Dari
9 KK anggota Jamaah Rufaqa’ itu, hanya 2 KK yang
istri-istrinya tinggal serumah.

Salah satunya adalah Dr Ing Abdurrahman R Effendi yang
sekaligus menjadi pimpinan Jamaah Rufaqa Indonesia.
Abdurrahman memiliki empat istri. Istri pertamanya
juga bergelar doktor lulusan Perancis, Dr Ing Gina
Puspita. Keempat istri Abdurrahman tinggal serumah.

Ahmad Fahmi juga memiliki dua istri yang tinggal satu
rumah. Jamaah yang lain, para istri umumnya bertempat
tinggal terpisah. Ada yang tinggal di Jawa Tengah,
Kalimantan, Brunai Darussalam, hingga Malaysia. "Kami
bukan ingin mengampanyekan poligami. Dalam Rufaqa’,
poligami masalah kecil. Yang perlu dikampanyekan
adalah pendidikan supaya manusia akhirnya membesarkan
Tuhan, apa pun bentuk rumah tangganya, mau monogami
maupun poligami. Kalau dapat menjadikan Allah adalah
segalanya dalam hati, Insya Allah tidak ada masalah
mau monogami atau poligami," tutur Dr Ing Gina
Puspita, salah satu keluarga intelektual yang
menjalani kehidupan berpoligami.

Ahmad Fahmi (29), karyawan bagian maintainance Rufaqa’
Indonesia, menjelaskan bahwa ia menjalani hidup
berpoligami dengan dua istrinya dalam satu rumah sejak
dua tahun terakhir. "Saya belum pernah mendengar
omongan negatif dari para tetangga. 

Sepertinya mereka malah merasa heran. Kata mereka, kok
bisa kalian hidup begitu," tutur lelaki asal Palembang
ini kepada Warta Kota, Sabtu (9/12).
Fahmi menuturkan, pernikahan pertamanya berlangsung
pada 1999. Saat itu dia berumur 22 tahun. Dia
mempersunting Durroh binti Sulat (21) asal Pati, Jawa
Tengah. Pernikahan kedua dilangsungkan 2003. Dia
menikahi Sya’wana binti Bakri (24). Saat itu lelaki
lulusan sebuah Sekolah Teknologi Menengah (STM) di
Palembang itu sudah memiliki tiga anak dari istri
pertamanya.

Fahmi bersama dua istrinya menghuni rumah di Jalan
Mahkota Perak, Cluster Victoria, Bukit Sentul. Rumah
itu punya tiga kamar. Dua kamar untuk dua istri, satu
kamar lagi khusus untuk anak-anak. Dari kedua istrinya
itu, kini Fahmi memiliki lima anak, empat anak dari
istri pertama, dan satu anak dari istri kedua.
Kehidupan rumah tangganya dijalani dengan penuh
kerukunan. Anak-anak mereka memanggil nama `Umi’ pada
Durroh, dan `Ibu’ pada Sya’wana.

Soal `giliran’, Fahmi mengatakan kedua istrinya itu
pula yang mengaturnya sendiri. Dia hanya memberikan
persetujuan. Lalu dia mendatangi kamar kedua istrinya
satu per satu. "Tergantung kesepakatan, biasanya satu
hari di kamar istri pertama, satu hari di kamar istri
kedua. Kalau pas lagi giliran istri yang satu, istri
yang lain mengurus anak," ungkapnya.

Tak jauh dari rumah Ahmad Fahmi, masih di Jalan
Mahkota Perak, ada dua kepala keluarga lainnya yang
hidup berpoligami. Namun para istri di kedua keluarga
tersebut tidak tinggal serumah. "Ini bukan satu hal
yang patut dibanggakan. Ini adalah cara guru kami
mendidik agar kami bisa lebih kenal, cinta, dan takut
kepada Tuhan. Saya dan istri-istri saya satu guru,
satu ilmu," kata Fahmi dengan nada serius.

Ditemui terpisah, Tengku Abdurrahman Umar (44) yang
menjabat sebagai Board Director Rufaqa’ International,
menjelaskan bahwa anggotanya tidak bisa sembarangan
menikah lagi. Sebab, sudah ada sebuah biro khusus yang
menangani poligami. Namanya Biro Kesejahteraan Sosial.
Tugas biro ini memberi masukan, pasangan mana yang
sudah pantas melakukan poligami. Jadi, bukannya suami
yang mencari sendiri calon istri yang akan dipoligami.

Di Rufaqa’, aturan poligami sangat ketat. Orang yang
menggebu-gebu ingin poligami, justru harus menahannya
karena niat dan kemampuan belum memadai. Salah satu
syarat itu adalah suami harus mampu membawa istrinya
mengenal dan mencintai Tuhan, melebihi cintanya kepada
suami itu sendiri. Salah satu ukurannya mampu berbaik
sangka kepada suami, di mana pun, kapan pun, dan apa
pun yang dikerjakannya. "Gambarannya, kalau suami
terlambat pulang, istri mendoakan suami agar selamat
sampai di rumah. Kalau ternyata suami terlambat pulang
sampai rumah disambut istri yang marah-marah, itu
tandanya istri belum siap dipoligami," kata Tengku
mencontohkan.

Tengku sendiri baru tiga bulan menikahi istrinya yang
keempat yaitu Athiroh binti Nik Hisyamudin (18). Tiga
istrinya tinggal di Pekanbaru, satu istri tinggal
bersamanya di Malaysia. Tengku sendiri berada di
Sentul sekadar mampir karena akan ke Makassar. Ia pun
menepis anggapan Rufaqa’ menganjurkan seluruh
anggotanya untuk berpoligami. "Bagi kami, poligami itu
mubah (dibolehkan) . Jika disatukan dari semua anggota
Rufaqa’ di dunia, paling hanya sekitar 30 persen yang
melakukan (poligami)," tuturnya.

Tengku menjelaskan rumahnya di Pekanbaru memiliki
empat kamar, tiga untuk istri-istrinya, satu kamar
khusus untuk dirinya. Ketiga istrinya itu yang
mengatur sendiri jadwal `giliran’. Biasanya, para
istri itu yang mendatangi kamar sang suami sesuai
jadwal.

Dari ketiga istrinya terdahulu, Tengku telah memiliki
12 anak, 3 anak diantaranya meninggal. Hanya anak-anak
yang dibawah usia 6 tahun yang masih tinggal bersama
mereka. Lebih dari umur 6 tahun, anak-anak itu akan
disekolahkan ke pesantren terdekat. "Kami tekankan di
sini bahwa kami membangun rumah tangga ini agar tampak
kuasa Tuhan, bukan hebatnya saya sebagai suami, atau
pun cakapnya istri-istri kami. Bila kami gagal, bukan
hanya manusia yang dihadapi, tetapi Tuhan," tandasnya.
(chi)

Sumber: Warta Kota


 
____________________________________________________________________________________
Any questions? Get answers on any topic at www.Answers.yahoo.com.  Try it now.

Kirim email ke