Waah.....ngingu oray mah atuh Tamiang Meulit Kana Bitis
Eh...bitis mah meulit kana bitis ketang...! eMody On 12/26/06, Yuliadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
moal bakalan kabur ku jangkrik mah, piara oray geura sok -----Original Message----- *From:* Ahmad Toha [mailto:[EMAIL PROTECTED] *Sent:* Tuesday, December 26, 2006 3:07 PM *To:* [email protected] *Subject:* Re: [Urang Sunda] Ngala Jangkrik Euy! Bade tumaros, naha enya beurit siuneun ku sora jangkrik.....? Pedah dirorompok, eta si monyong beurit ngagorogotan kabel mobil...! Mun enya teh rek ngingu jangkriklah. eMody On 12/14/06, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hujan Turun, Waktunya "Ngala" Jangkrik > > BELASAN anak terlihat menungging dengan posisi kepala berusaha lebih > didekatkan ke tanah. Tangan-tangan mungil mereka, meraba-raba tanah dan > menyingkapkan rumput liar di tengah sawah yang belum dicangkul itu. > Sebagian terlihat serius, sementara sebagian lainnya tertawa > tergelak-gelak karena dirinya dan teman-temannya berlepotan lumpur sisa > hujan malam sebelumnya. > > Pemandangan di Kp. Citeureup, Desa Sukamukti, Kec. Katapang, Kab. > Bandung > Rabu kemarin itu, terlihat sangat mencolok. Pasalnya, belasan anak-anak > tersebut tidak sedang bermain bola atau lainnya, namun mencari jangkrik. > Ya, jangkrik, serangga tanah yang selalu berbunyi nyaring saat malam > hari. > > Biasanya, anak-anak itu mulai "beraksi" saat matahari tidak terlalu > terik > atau mulai condong ke barat. Berbekal botol atau wadah sejenisnya, > mereka > bertemu teman-teman sebayanya sesama "pemburu" jangkrik selepas sekolah. > Sebagian anak, bahkan masih mengenakan celana merah seragam SD mereka. > > Bagi anak-anak di Kp. Citeureup, awal musim hujan memang musimnya ngala > (menangkap) jangkrik. Tanah yang lembek, memudahkan anak-anak mencari > jangkrik hingga ke sarangnya. Suara krikk... krikk... di sela-sela > rumput, > adalah petunjuk awal bagi mereka untuk mulai mencari jangkrik. > > ** > > SEBUT saja Agustin Purwanto (11). Siswa kelas VI SDN Sukamukti 1 > Katapang > yang biasa dipanggil Agus itu, sedikitnya mendapatkan 15-20 ekor > jangkrik > berbagai jenis setiap harinya. Sebagian ia pelihara sendiri untuk > ditarungkan dalam ajang ngadu jangkrik dan sebagian lagi ia jual kepada > pengumpul jangkrik di samping rumahnya. > > "Saya jual Rp 500,00 sampai Rp 3.000,00 per ekornya. Harga tergantung > jenis kelamin dan jenis jangkrik," ucapnya. Agus menyebutkan, nama-nama > jenis jangkrik yang dikenalnya antara lain jangkrik tiriling, kalung, > konar, colat, koes, bawang, bagejid, atau jangkrik mikung. > > "Tapi yang paling bagus untuk ngadu jangkrik dan harganya mahal adalah > jangkrik kalung jantan berwarna hitam dan jangrik konar jantan > kecokelatan," katanya. > > Deden Arifin (14), rekan Agus, menambahkan bahwa jangkrik yang tangguh > menjadi kebanggaan mereka, layaknya memiliki mainan canggih bagi > anak-anak > di kota. Sementara, jangkrik yang dijual berarti tambahan uang jajan > sehari-hari. Masa ngala jangkrik ini merupakan kegiatan musiman bagi > anak-anak di Citeureup. Saat lahan-lahan sawah itu mulai dicangkuli, > mereka tidak gampang lagi mencari jangkrik. (Deni Yudiawan/"PR")*** > > Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis, 14 Desember 2006 > > ___ _ _ _ ___ ____ ___/ __| |_ _ _ __| (_)___| __|__ / _ \\__ \ _| || / > _` | / _ \__ \ / /\_, /|___/\__|\_,_\__,_|_\___/___//_/ /_/ > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com >

