kaleresan simkuring pituin kawit ti wanaraja garut. memang leres pisan, di
wewengkon simkuring kecap galuh teh sami gaharna sareng kecap "goblog!"
punten bilih kasar teuing...
mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote: punten ka urang
galuh. di salah sahiji wewengkon garut mah, kecap 'galuh' teh boga harti nu
kurang hade. biasa sok dipake pikeun keur nyarekan. nyarekan nu laklak dasar
tea. duka kumaha tah sasakalana. sugan aya nu apal?
salam,
mh
On 1/5/07, oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hehehe...parebut Galuh eung jeung urang Banyumas. Nya mangga, bade nu mana wae
anu mimiti, sigana ga penting banget" ceuk si sujang abg kuring. Ngan, memang
dina seratan Kang Danasasmita saparakanca anu sumberna tina Naskah Wangsakerta
tea, asal-usul karajaan Ratu Sima teu pate dieceskeun. Ujug-ujug disebut-sebut
nalika incu Wreti Kandayun (Raja Galuh kadua versi urang Banyumas), Sanjaya,
nikah ka puteri katurunan Ratu Sima.
Hurip Sunda!
baktos,
manAR
On 1/5/07, Maman Gantra <[EMAIL PROTECTED] > wrote:
Aya nu dipilari, nembe ngotektak Mang Google. Ana kodehel teh mendakan ieu
"artikel". Sigana mah kolegana Kang Oman ieu teh.
Wallohualam leres heunteuna mah. Etang-etang nambihan informasi bae -- kanu teu
acan. Punten upami tos terang.
Nyanggakeun...
Baktos,
Pun Maman
==========================================================
Maaf diskusi sejarah sejenak, sekedar meluruskan. Harus diwaspadai bahwa Galuh
yang terkenal berlokasi di antara Garut dan Kawali itu adalah sebuah kerajaan
yang pindah dari sekitar lereng Gunung Slamet yang dikenal sebagai Kerajaan
Galuh Purba. Perpindahan ini terjadi sekitar abad ke 6-7 M. Dari kawasan
Garut-Kawali baru mereka pindah ke pusat Padjadjaran pada 1300-an M. Dua kali
perpindahan ini tercatat di Prasasti Bogor. Maka, Galuh bukan asli Sunda,
tetapi asli sekitar Banyumas sekarang. Kalau kita buka peta yang cukup detail
akan banyak tempat dengan nama Galuh di sekitar perbatasan Jabar-Jateng :
Rajagaluh (Cirebon), Galuh (Purbalingga), Galuhtimur (Bumiayu), Sirahgaluh
(Cilacap), bahkan di Kulonprogo dekat perbatasan Kedu ada desa Samigaluh.
Diduga keras bahwa semua tempat tadi pada masa lampaunya pernah dikuasai Galuh
Purba. Van der Meulen (1988) : Indonesia di Ambang Sejarah - Kanisius, punya
tesis bagaimana bangsa Galuh memasuki
Jawa Tengah. Tesisnya ini belum ada yang menentang di kalangan para ahli
sejarah. Katanya, mula2 bangsa Galuh ini adalah pendatang dari Kutei, dari
kerajaan Hindu pertama di Indonesia, atau turunan2 sebelum Mulawarman, Kudungga
- yang bukan Hindu. Bangsa Galuh ini masuk ke Jawa melalui pantai sekitar
Cirebon sebelum abad ke-5. Lalu mereka masuk makin dalam melalui lereng barat
Ciremai, masuk ke aliran Citanduy akhirnya menduduki lereng2 Slamet dan lembah
Kali Serayu. Ada yang memilih menetap di sekitar Ciremai, dan kelak mereka ikut
mendirikan budaya Sunda. Tetapi yang di lereng2 Slamet dan lembah Serayu, utara
Banyumas, mereka mendirikan Kerajaan Galuh purba (untuk membedakannya dengan
Galuh Garut-Kawali yang merupakan pindahannya). Sumber2 Cina menyebut kerajaan
Galuh Purba ini "Topoteng". Berdasarkan catatatan resmi Kekaisaran Cina Dinasti
Tang, selama periode 627-649 kerajaan Holing (Kalingga - kelak Ratu Sima) di
Jawa bersama dengan dua
kerajaan tetangganya, Topoteng (Galuh Purba) dan Dwapatan (tanpa penjelasan)
mengirim utusan2 ke Cina. Ratu Sima memerintah Kalingga pada 674 M. Berdasarkan
babad Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara (tulisan Pangeran Wangsakerta dari
Cirebon), pada abad ke-7 dan ke-8 ada tiga wangsa : Kalinggawangsa,
Sanjayawangsa, Sailendrawangsa) (keterangan yang sama disampaikan pula oleh
Fruin-Mees : Geschiedenis van Java, 1919, p. 16-20). Kelihatannya Galuh Purba
saat itu sudah menurun pamornya dan mungkin saja sudah pindah ke Garut-Kawali,
tersingkir oleh leluhur Sailendra. salam, awang Budi Brahmantyo <[EMAIL
PROTECTED]> wrote: Untuk Kang Yudi dan mas Edwin... Sebenarnya
kerajaan-kerajaan Sunda tidak kalah pamor, lho. Menurut suatu dokumen bernama
Carita Parahyangan (yang belum semua sejarawan mengakui keotentikannya),
Kerajaan di Jawa Barat tidak pernah putus sejak Tarumanegara, Kendan, Galuh,
Sunda dan akhirnya Pajajaran. Bahkan menurut
dokumen itu, Sanjaya pendiri mataram Hindu adalah keturunan Galuh (bapak
Sanjaya adalah anak hasil perselingkuhan permaisuri Galuh, yang kemudian
menikah dengan Ratu Kalingga di Jawa Tengah). Hanya itu tadi, kerajaan2 Sunda
tidak banyak membuat prasasti atau candi(atau belum ditemukan; bisa terkubur
lahar, terbawa banjir bandang, longsor, dsb) sehingga sejarahnya seakan-akan
bagai kepingan-kepingan puzzle yang hilang. Bahkan kalau tidak salah di dalam
dokumen itu, Hayam Wuruk berkakek kandung orang Sunda. Itulah sebabnya Hayam
Wuruk tidak berani menganeksasi Sunda karena menghormati leluhurnya. Tapi Gajah
Mada termakan sumpahnya...sehingga terjadilah pembantaian di lapangan Bubat
itu. Menariknya cerita itu direkam pula oleh orang-orang Bali dalam
kidung-kidung Bali yang berjudul "Gaguritan Sunda". Begitu katanya, entah
benar, entah tidak... BB
Maman Gantra
Jalan Salemba Tengah 51,
Jakarta 10440.
0812-940-5441
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com