ti Kompas poe ieu....senen 8 januari 2007

Profil usaha
Asep, Komitmen Berbagi Bisnis


ku M Fajar Marta

Usianya baru 29 tahun, tetapi Asep Sulaiman Sabanda, pemuda asal Desa
Cidahu, Subang, Jawa Barat, telah mengimplementasikan filosofi tertinggi
dalam dunia bisnis. Baginya, bisnis akan berkembang jika usaha itu
dibangun dengan mengedepankan manfaat bagi sesama dan tidak terjebak dalam
kapitalisme absolut.

Lelaki yang tak lulus kuliah ini tidak lagi memandang bisnis sebagai
tujuan mencari keuntungan semata, tetapi lebih sebagai sebuah wadah
pemberdayaan ekonomi. Apa yang dilakukannya tidak terlahir begitu saja,
melainkan muncul dari pengalaman. Bisnis yang terlalu mengagungkan
keuntungan tidak akan langgeng. Namun, ketika konsep itu diubah, yakni tak
lagi menempatkan keuntungan sebagai tujuan utama dari bisnis, usahanya
justru meroket dalam waktu cepat.

Bermula dari seseorang yang tidak memiliki apa-apa, hanya dalam waktu lima
tahun, kini Asep mengelola grup usaha PT Santika Duta Nusantara dengan
omzet mencapai ratusan miliar rupiah setahun. Total asetnya senilai Rp 60
miliar. Usahanya beragam, mulai dari agrobisnis (peternakan dan
pertanian), kontraktor, perdagangan, dan jasa. Lokasi usahanya tersebar
dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Bahkan, Asep juga telah mengepakkan
sayap usahanya sampai Brunei Darussalam, plus usaha waralaba ayam goreng
siap saji.

"Dalam kemitraan mengandung konsep berbagi dan berkembang bersama," kata
pria lulusan Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, ini. Atas sepak
terjangnya inilah, pada 30 November 2006, dia dinobatkan sebagai Young
Entrepreneur of The Year 2006 oleh lembaga keuangan internasional
terkemuka, Ernst & Young.

Titik balik

Drop out dari kuliah, Asep pun mulai berbisnis pada tahun 1998, saat
krisis ekonomi melanda Indonesia. Mengikuti jejak ayahnya, Shobur
Tadjudin, dia mencoba menjadi peternak plasma ayam pedaging di desa
kelahirannya, Cidahu, Garut. Dia memulai dengan sekitar 10.000 bibit ayam.
Satu setengah bulan kemudian ayamnya telah siap jual. Hasilnya, Asep
untung Rp 10 juta.

Tergiur, Asep pun lalu meningkatkan jumlah produksi menjadi 60.000 ekor.
Alih-alih meraup untung, Asep malah rugi Rp 80 juta. Ditekan untuk
membayar utang plus rasa penasaran, usahanya dinaikkan, jumlah produksinya
menjadi 80.000 ekor. Hasilnya, dia kembali rugi Rp 90 juta. "Jadilah saya
seorang pemuda yang berutang Rp 170 juta hanya dalam tempo enam bulan,"
kenangnya.

Kehidupannya pun menjadi gelap. Tak tahan ditagih debt collector, Asep pun
kerap meninggalkan rumah. Beruntung ayahnya seorang yang bijak. Sang Ayah
menyelamatkan Asep bukan dengan cara membayar utangnya, tetapi membukakan
mata dan pikirannya.

Bersama ayahnya yang rela menjadi penjamin utangnya, Asep pun
merestrukturisasi utang-utangnya. Inilah poin titik balik pertama dia
dalam memandang bisnis. "Kesuksesan merupakan sinergi dari keinginan,
kemampuan, mental, dan kesempatan. Saya mungkin telah memiliki keinginan,
kemampuan, dan kesempatan. Tapi, mental, saya belum punya," katanya.

Sukses, Asep pun menuju Mekkah menunaikan ibadah haji. Kepergiannya ke
Tanah Suci inilah yang kelak akan menjadi poin titik balik keduanya dalam
menggeluti bisnis. Sepulang dari Mekkah, Asep menyadari bahwa bisnis tidak
seharusnya mementingkan keuntungan semata, tetapi juga bagaimana mengelola
bisnis agar tidak rugi.

Kemitraan

Akhirnya, pada tahun 2001, Asep pun mengembangkan pola kemitraan dalam
bisnisnya. Langkah pertamanya adalah mengajak masyarakat beternak ayam
menjadi plasmanya. Dia memberikan modal berupa bibit ayam, pakan, dan obat
kepada mereka yang berminat. Para plasma hanya diminta untuk menyediakan
tempat, kandang ayam, dan tenaga kerja. Ketika ayam sudah besar, sebagai
inti, Asep membelinya.

Awalnya, Asep menggandeng 20 orang plasma dengan total produksi 40.000
ekor. Asep juga masih memelihara ayam sendiri sebanyak 60.000 ekor. Agar
tak gagal, Asep terjun langsung membina para plasmanya.

"Kemitraan akan menjadi pola usaha yang sangat ideal jika dibungkus dengan
sistem yang bagus dan loyalitas," katanya.

Tahun 2002, produksi plasmanya naik menjadi 150.000 ekor per siklus (1,5
bulan). Lalu berkembang lagi menjadi 800.000 ekor. Dengan pola itu Asep
pun semakin percaya diri untuk melakukan ekspansi. Pada 2003, Asep
mengajukan pinjaman Rp 350 juta ke sebuah bank pemerintah, tetapi ditolak.

Asep pun mencoba lagi ke bank pemerintah lainnya, yakni BNI. Di BNI, Asep
dinilai sebagai debitor yang baik dan memiliki prospek usaha. Untuk itu,
BNI mengucurkan kredit Rp 1 miliar.

"BNI tak hanya memberikan kredit, tetapi juga konsultasi manajemen," ujarnya.

Dengan dukungan finansial dari BNI, bisnis ayam pedaging Asep makin maju.
Tahun 2004, kapasitas produksinya mencapai 2,1 juta ekor per siklus,
dengan jumlah plasma membengkak menjadi 600 orang. Pemuda desa yang
berpikiran global ini terus mencari celah. Kini dia tengah merintis usaha
kemitraan ayam pedaging di Brunei Darussalam. Negara tetangga ini juga
menjadi sasaran ekspor pakan ternaknya.

Tak cukup pada bidang usaha peternakan, suami Vina Nuryanti ini pun
merambah usaha pertanian. Kini ayah tiga anak ini tengah mengembangkan
pola kemitraan inti-plasma untuk komoditas jagung di Blitar, Ponorogo, dan
Kediri, Jawa Timur. Dia juga mengembangkan pola kemitraan untuk tanaman
jati seluas 40 hektar di Subang.

Asep masih memiliki segudang rencana terkait kemitraan yang akan
dilakukannya tahun 2007. Salah satunya adalah mengembangkan program
kemitraan petani asuh karyawan.

"Untuk mewujudkan ini, saya mewajibkan karyawan menginvestasikan bonusnya
setiap tahun dengan membeli sapi. Targetnya, dalam waktu lima tahun,
karyawan bisa memiliki 20 ekor sapi. Karyawan juga diminta mencari warga
miskin untuk mengasuh sapi-sapi tersebut. Sebanyak 20 ekor sapi bisa
diurus oleh 8-10 orang. Ini juga merupakan salah satu upaya untuk
memberdayakan masyarakat miskin," tuturnya.

mj

http://geocities.com/mangjamal




Kirim email ke