Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke, aya ma beuheula aya tu 
ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna, hana tunggak hana watang, tan hana 
tunggak tak hana watang, hana ma tunggulnya aya tu catangnya.”
   
  Sri Baduga Maha Raja ratu haji di pakuan pajajaran yang lebih dikenal sebagai 
Prabu Siliwangi, raja pertama Pajajaran yang menyatukan kembali Kerajaan Sunda 
Pakuan di Kraton Sri Bima di Pakuan (Bogor), dan Kerajaan Galuh di Kraton 
Surawisesa Kawali.

Banyak prasasti peninggalam Raja-Raja Sunda yang kesemuanya memiliki nilai 
budaya yang tidak ternilai.Tumpukan batu hanya dipandang sebagai harta karun, 
maka hanya dalam hitungan jari, peninggalann itu akan lenyap dari permukaan 
bumi dan lenyap pula nilai budaya dan historis yang dikandungnya.

Dengan demikian, wajarlah bila penghormatan Surawises sebagai pewaris dan 
pelanjut kerajaan Sunda Pajajaran untuk menghormati Raja sebelumnya, ayahnya. 
Karena dialah yang menyatukan kembali keutuhan Kerajaan Sunda. Di sisi lain, 
pendirian Prasasti Batutulis merupakan ungkapan penyesalan dari Raja Surawisesa 
karena tidak memapu menjaga keutuhan Kerajaan Sunda, seperti yang 
diamanatkannya yang juga tertulis dalam berbagai prasasti.

Pandangan, bila kesadaran historis telah hilang dari benak kita,sebagai anak 
yang dilahirkan oleh sejarah maka bukan mustahil, kita pasti menjadi orang 
asing ditanah yang menjadi saksi lahirnya kita. karena simpang siurnya catatan 
sejarah dan pembengkokan-pembengkokan yang dilakukan dan disebabkan oleh 
keserakahan penguasa jaman dahulu dan selanjutnya hinggan sekarang.
Seperti pembongkaran situs sejarah Batutulis yang dilakukan dan dikomandani 
mantan menteri Agama,Sahid Agil. Ia mendapat petunjuk dari orang-orang yang 
notabennya masih ada kaitan keluarga dengan raja Mataram dan keluarga raja 
Surosowan Banten.  
  
Dengan alasan pembangunan dan dengan alasan-alasan keraguan atas peninggalan 
sejarah yang hanya dianggap sebagai cerita mitologis , sebagai contoh, situs 
peninggalan sejarah masa lalu diratakan dengan tanah. Dan, dengan alasan untuk 
membayar hutang negara, Prasasti peninggalan etnik lain dibongkar dengan tanpa 
rasa hormat sedikitpun.

Terlalu banyak sesungguhnya situs-situ di Jawa Barat ini yang dibongkar dengan 
semena-mena, yang tidak mengindahkan pertimbangan ekologi budaya.
   
   
  Kalla S.
  Tangtung Sunda Buana 
  Ksatria Gerbang Pajajaran.

                
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
 http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke