Biasa...kenging nimu, punten teu di-Sundakeun sareng basana ge basa 
ABG (abdi resep basa kieu, asa ngongoraeun heheh...)
urang candak saripatina...mangga, nyanggakeun mugia mangpaat.

ro2


Merit Dulu Baru Pacaran...

Wahai sekalian pemuda... barangsiapa di antara kalian berkesanggupan 
(sudah mampu) maka hendaklah menikah. Karena sesungguhnya ia 
(menikah) dapat memejamkan mata dan menjaga kemaluan. Dan 
barangsiapa belum mampu, maka berpuasalah. Maka sesungguhnya puasa 
itu benteng baginya.
[HR Bukhari dan Muslim]

Seorang kakak kelas saya waktu sekolah dulu, punya pacar yang kalo 
dari segi fisik cukup bagus. Mereka pasangan yang serasi banget. 
Ibarat panci dengan tutupnya. Klop. Maklum, yang cowok selain pandai 
di bidang akademik, ia juga terampil berorganisasi dan yang 
wanitanya cerdas. Dua sejoli ini setahu saya, cukup akrab dan akur. 
Sampe-sampe banyak teman yang meramalkan bahwa pasangan ini bakalan 
terus langgeng sampe ke pelaminan.

Ternyata, ramalan tinggal ramalan, mereka berpisah alias putus 
ketika sama-sama lulus sekolah dan masing-masing menikah dengan 
pasangan lain. Yah, kita emang nggak bisa meramal. Dukun sekali pun 
nggak bisa meramal, mereka cuma nebak. Buktinya, waktu zamannya judi 
nomer buntut (atau sekarang togel), banyak orang sampe bertanya ke 
dukun. Hmm... kalo dukun tersebut tahu nomor buntut, pasti bakalan 
masang sendiri, nggak bakal ngasih tahu. Tul nggak? Eh, kok jadi 
ngomongin dukun sih? Hehehe... iya saya cuma ingin membuat alur 
logika aja. Bahwa kita nggak bisa memprediksi. Intinya begitu. Jadi 
kalo pun sekarang semangat pacaran dengan tujuan ingin menikahinya, 
itu pun tetap masih gelap. Nah, pelajaran yang bisa diambil adalah 
kita harus pandai memilih jalur dan tentunya kudu akur bin klop 
dengan panduan hidup kita, yakni ajaran Islam. Setuju kan?

Ada juga sih memang, teman saya yang pacaran sejak bangku SMP sampe 
lulus SMU (karena kebetulan bareng terus dua sejoli itu), bahkan 
sampe masing-masing bekerja mereka tetap awet menjalin hubungan. 
Hingga akhirnya mengucap ijab-kabul di depan wali dan petugas 
pencatat pernikahan dari KUA. Mereka pasangan yang cukup bahagia. 
Model yang seperti ini juga nggak sedikit di lapangan. Mereka 
berhasil membina keluarga, yang saling dikenalnya sejak SMP melalui 
pacaran.

Tapi kenapa saya tetep ngotot ingin membahas masalah ini? Kenapa 
pula ingin mempersoalkan pacaran sebelum menikah? Ya, karena saya 
punya tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran. Memangnya pacaran 
sebelum menikah nggak benar? Memang pacaran nggak boleh? Memangnya 
kita bisa langsung menikah tanpa pacaran dulu? Memang lidah tak 
bertulang...(eh, malah nyanyi!).


Coba deh SMART!

Dalam ilmu manajemen dikenal istilah SMART. Apa tuh? Itu rumusan 
dari Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Time-phased. 
Walah, masa sih untuk menentukan apakah memilih pacaran atau menikah 
aja kudu pake istilah-istilah yang bikin ribet kayak gini? 

Tenang sobat, saya mencoba mengenalkan rumusan ini karena menurut 
saya ini berlaku umum. Untuk tujuan apa saja. Tapi biasanya ini akan 
memberikan dampak yang cukup bagus untuk membuat komitmen bagi diri 
sendiri dan juga orang yang kita ajak membuat sebuah komitmen. Yuk, 
kita bahas satu per satu formula SMART ini.

Spesifik artinya tertentu atau khusus. Boleh dibilang tujuan kita 
harus tertentu, khusus, dan bila perlu jelas dan khas. Misalnya 
untuk apa kita pacaran? Tanamkan baik-baik pertanyaan itu dalam diri 
kamu. Sama seperti halnya untuk apa kita belajar. Tiap orang 
mestinya akan berbeda-beda menjawabnya karena sesuai tujuan. Ada 
yang pacaran mungkin sebatas ikutan tren, ada yang menjawab sekadar 
iseng, ada pula yang menjawab sebagai sarana mengenal pasangan yang 
akan dinikahi. Eh, saya kok malah ragu kalo pada usia yang masih ABG 
ini kita berkomitmen bahwa pacaran untuk mengenal pasangan yang akan 
dinikahi. Tul nggak? Menurut kamu gimana?

Jujur saja. Saya nggak nuduh, cuma saya sendiri sampe usia sekarang 
masih merasakan masa-masa ABG dulu, bahwa tuntutan untuk memiliki 
kekasih (pacar) lebih karena panas akibat dikomporin teman yang udah 
punya gandengan atau karena kebutuhan untuk berbagi rasa dengan 
lawan jenis. Tapi sejatinya, kalo ditanya tentang nikah, pasti 
bingung dan langsung kehilangan kata-kata. Bahkan nggak memikirkan 
sedikit pun, kecuali mungkin kalo yang ditanya udah dewasa ada yang 
langsung mantap menjawab sebagai upaya mengenal pasangan untuk 
menikah. Jadi intinya, kalo sekadar iseng percuma aja. Nggak punya 
tujuan yang jelas dan khas serta tertentu bisa berabe nantinya.

Nah, rumus yang kedua sebuah tujuan itu harus Measurable alias bisa 
terukur. Kalo tujuan belajar adalah untuk ibadah dan ingin mendapat 
wawasan, maka itu pun harus terukur. Misalnya, apa yang bisa 
didapatkan dari belajar. Kira-kira memuaskan nggak kalo sudah dapat 
sampe level tertentu yang sudah direncanakan. Ada tingkat 
keberhasilan yang bisa terukur. Begitu pun dengan membina hubungan 
seperti pacaran, bisa nggak terukur kegiatan itu. Jangan asal aja. 
Hubungan seperti apa yang bisa dijalin, dan tolong dinilai apakah 
dengan mengetahui karakter dia sudah dianggap terukur dari tujuan 
semula atau belum, apakah pertemuan dan kualitas curhat dianggap 
sebagai bentuk hasil hubungan yang bisa terukur untuk menentukan 
kelayakan hubungan tersebut bisa dilanjutkan atau tidak. Jadi, kalo 
cuma main-main dan sekadar iseng, enaknya lakukan kegiatan lain aja 
yang tak berisiko tinggi. Karena ujungnya mesti nggak bisa 
dipertanggungjawabkan.

Ketiga, soal Achievable alias dapat dicapai. Tentukan pencapaiannya. 
Misalnya, kalo belajar sekian minggu kita bisa apa. Kalo pacaran 
selama dua tahun sudah tahu apa aja dari pasangan kita. Masalah apa 
aja yang bisa diketahui dan kita kenal dari pasangan yang kita 
pacari. Tentukan target pencapaiannya. Nggak asal melakukan aja. 
Nah, kalo kira-kira proyek pacaran itu nggak bisa dicapai hasil-
hasilnya, buat apa dilakukan. Betul ndak?

Terus tentang Reasonable itu bisa diartikan layak, pantas, dan masuk 
akal. Oke jika pacaran dianggap layak, pantas, dan masuk akal, tentu 
harus ada ukurannya dong. Apa yang membuat pacaran itu pantas, apa 
yang membuat pacaran itu masuk akal. Jika memang ada, coba tunjukkan 
kepada orang-orang. Soalnya, kalo pacaran itu dianggap sebuah proyek 
yang bisa memuluskan proses mengenal pasangan untuk dinikahi, maka 
harus jelas juga apakah ini termasuk proyek padat karya atau padat 
modal (idih, kayak usaha aja?). Iya, maksudnya kita kudu merinci 
dengan detail sebelum melakukan pacaran apakah masuk akal atau cuma 
proyek fiktif dan bahkan termasuk ekonomi berbiaya tinggi? Silakan 
dipikirin.

Nah, yang terakhir adalah Time-phased, ini artinya kita kudu 
menentukan tahapan-tahapan waktunya. Kapan memulai, kapan mencapai 
klimaks, dan kapan mengakhiri. Ini kudu jelas, bila perlu dibuat 
grafik supaya jelas tergambar semua urutan waktunya. Kayak kalo 
kerja di bidang penerbitan media massa, pasti ada urutan waktu: 
mulai dari rapat redaksi, membagi tugas kepada para reporter, para 
jabrik menulis hasil kerja koresponden dan reporter, editing oleh 
tim editor bahasa, kapan setting, tanggal berapa naik cetak, sampe 
hari apa harus edar ke pembaca. Semua urutan waktu itu punya makna. 

Bagaimana dengan pacaran, mungkin bisa dirinci: pada usia berapa 
saya berani pacaran, kapan kenalannya, dengan siapa, orang yang 
kayak gimana, tujuannya apa, kapan bisa mengetahui isi hati dan 
perilakunya, kapan bisa mengenal keluarganya, tahun berapa punya 
modal, kapan serius memikirkan nikah, dan kapan waktu harus menikah. 
Semua itu harus jelas urutannya. Jangan sampe pas ditanya sama calon 
mertua, "Kapan bisa menikah dengan anak saya?E kamu jawabnya, "Ya, 
sekarang mah mau main-main dulu aja, Pak. Saya juga masih kuliah. 
Belum kerja!EWaduh, belum siap kok nekat?


Main-main terus, atau mulai serius?

Oke deh, semoga kamu paham dengan paparan formula yang saya tulis. 
Ini sekadar ingin ngajak kamu merenung aja. Apakah selama ini apa 
yang kamu lakukan dengan memilih pacaran dulu sebelum merit 
menguntungkan atau tidak secara ekonomi, sosial, dan juga politik 
(eh, secara politis orang tua itu suka kepada anak-anak yang mandiri 
dan bertanggung jawab, kalo cuma iseng aja atau masih perlu milih-
milih dan apalagi tanpa ikatan jelas dan kuat, maka bisa meruntuhkan 
keyakinan dan kepercayaan mereka kepada kita. Suer!). 

Sobat muda muslim, kalo dalam proyek pacaran kamu nggak bisa 
mempertanggungjawabkan formula SMART ini, jangan harap bisa benar 
pacarannya. Ini baru dilihat dari sudut pandang manajemen lho. Belum 
hukum Islam. Karena kalo bicara hukum, meskipun terpenuhi unsur 
lain, misalnya sudah sesuai formula SMART, tapi dalam hubungannya 
melanggar batasan-batasan yang ditetapkan Islam, maka tetap tertolak 
dan diberi label dosa.

Gimana, masih tetep pengen pacaran dulu? Saran saya sih, jangan 
dikalahkan oleh nafsu, jangan rela akal sehat dijajah gerombolan 
setan yang menutup mata dan hati kita dari kebenaran. Oke deh, 
lanjutin ke bagian berikutnya. Insya Allah soal nyari pasangan yang 
pas dengan formula SMART dan sekaligus sesuai syariat akan kita 
bahas juga. Tetep semangat!

Di sadur dari buku: Loving You, Merit Yuk
Penulis : O.Solihin & G.Hafidz
Penerbit : Gema Insani


--- In [email protected], shaqses purnama <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Assalamualaikum ka sadayana....
> 
> Pribados sakedap deui bade pangantenan sareng hiji istri org bdg, 
namung abi masih aya ganjelan anu matak ngabingungkeun manah. 
Masalahna kuring (lalaki paling naip keur wanci kieu) jujur bae 
salami bobogohan sareng anu ieu atanapi sareng nu kapengker teu 
pernah ciuman atanapi langkung ti kitu, ayeuna kuring ngarasa klick 
sareng hiji istri cuma kuring masih kurang sreg sareng masa lalu na 
anu terlalu gampangan ciuman sareng para mantana mungkin hal ieu 
sepele bagi sabagian org tapi henteu bagi pribados, anu jadi 
patarosan kanggo sadayana....dugi ka palih mana batasan gaya 
bobogohan wanci ayeuna ? saur urang sunda sadayana Naha ciuman, 
pegang dada atanapi peting itu masih kalebet wajar ?
> 
> Hatur nuhun sateuacana
> 
> Anu nuju bingung
> 
> 
> 
> 
> 
>  __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com
>


Kirim email ke