BELAJAR DARI TUKANG SEMIR SEPATU Ini merupakan pengalaman berharga buat saya. Hari Selasa, 28 November 2006, setelah saya menyerahkan draft thesis saya di kampus MM UI Salemba, saya mampir ke Kwitang Senen untuk mencari buku. Waktu itu sudah masuk waktu sholat Dhuhur. Saya pergi ke Masjid dekat stasiun Senen. Lepas sholat, pandangan saya tertuju pada 3 orang tukang semir sepatu yang masih anak-anak. Dari 3 tukang semir sepatu tersebut hanya 1 yang ramai pelanggannya. Saya perhatikan dia, usianya mungkin masih kelas 3 SD. Saya penasaran. Karena tertarik, saya pun akhirnya menggunakan jasa dia. Saya sengaja duduk di depan dia untuk mengetahui rahasia apa yang membedakan dia dengan tukang semir lainnya. Langkah pertama tidak jauh berbeda dengan tukang semir lainnya, tarifnya pun sama. Langkah kedua, ini yang sudah mulai nampak perbedaannya. Semir sepatu yang dia gunakan bukanlah semir sepatu ecek-ecek seperti yang dipakai tukang semir sepatu lainnya. Dia menggunakan semir sepatu yang kualitasnya terbaik. Kemudian dia menyemir sepatu sambil bernyanyi, saya lihat dari ekspresinya, dia sangat menikmati pekerjaannya. Saya mulai tersentuh hingga timbul pertanyaan dalam hati saya, Sudahkah saya menyenangi pekerjaan saya?. Kemudian dia mengambil sepatu yang sudah dia semir. Dia pandang sepatu tersebut, dia bolak-balik, kemudian dia semir lagi. Hal itu dilakukannya berulang-ulang. Saya tanya dia, apa yang sudah dilakukannya barusan. Dia jawab, Saya ngaca pak. Kalau saya sudah bisa melihat bayangan saya di sepatu ini, berarti semiran saya sudah bagus. Kalau belum terlihat ya saya ulangi lagi semirannya. Saya manggut-manggut, semakin kagum saja saya. Selesai sudah sepatu saya. Saya perhatikan sepatu saya jauh lebih bagus daripada saya beli baru dulu. Saya puas. Saya tidak beranjak, saya tetap diam disitu sambil tetap mengobrol dengannya. Ternyata tebakan saya tidak meleset, dia memang masih kelas 3 SD. Kemudian dia panggil 2 orang temannya sesama tukang semir sepatu yang sepi pelanggan tadi, dia minta tolong untuk mengantarkan sepatu-sepatu yang sudah selesai dia semir ke pemiliknya masing-masing dengan memberikan uang 200 rupiah kepada teman-temannya tadi untuk setiap sepatu yang sudah diantarkannya. Saya hanya geleng-geleng kepala, terkagum-kagum. Hari itu saya mendapatkan 4 pelajaran yang berharga dari seorang tukang semir sepatu yang masih anak-anak kelas 3 SD.
1.Berikan kualitas yang terbaik kepada pelanggan anda. Kualitas disini bisa macam-macam. Jika anda pedagang, juallah barang-barang hanya kualitas terbaik, jangan menipu konsumen. Jika anda pegawai swasta/negeri, berikan hasil pekerjaan yang maksimal kepada atasan/bawahan kita. 2.Bekerjalah dengan antusias, selalu ceria, dan senangilah pekerjaan anda. Masih ingatkah anda dengan Bekerja adalah Ibadah???? 3.Buat standard yang jelas dan terukur untuk mengontrol hasil kerja anda. Si tukang semir sepatu tadi telah menentukan standard hasil semiran sepatunya dengan cara melihat bayangan dirinya pada sepatu hasil semirannya. Jika masihbelum, dia akan mengulanginya hingga dia dapat melihat bayangannya. Secara tidak sadar sebenarnya dia sudah melakukan apa yang dinamakan TQCM (Total Quality Control Management). 4.Berbagilah dengan sesama. Kalau sudah sukses, jangan sombong & pelit. Ingat!!! Manusia diciptakan Tuhan untuk saling memberi sebagai tanda bersyukur. Si tukang semir sepatu dengan tarif semir hanya Rp 2000,00, masih anak-anak kelas 3 SD saja bisa melakukan hal yang luar biasa seperti itu. Kita yang tingkat pendidikannya lebih tinggi dengan penghasilan jauh diatas dia, masa tidak bisa melakukan hal yang lebih dari dia, minimal sama lah!!!??? rgds, aha __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

