Tah kudu kiyeu atuh.... hayu urang galakkeun ketidak tergantungan ka Operating 
system nu Mahal... sok atuh mun sadayana bangsa iyeu ti awalna nganggo Open 
source..?? mereun urang teu jadi nagara BEBEK



Republika: Senin, 22 Januari 2007

Pesantren Rancabango, yang Pertama Berdigital


Pesantren kerap dicitrakan dengan hal yang bersifat minim. Baik kualitas
maupun sarana fisiknya. Stigma yang cenderung melekat erat itu tak ayal
menjadikan pesantren hanya sebagai lembaga pendidikan alternatif setelah
sekolah umum.


Tak terima dicap seperti itu, beberapa pesantren di Indonesia mencoba
membuat formula lebih segar. Salah satu di antaranya Pesantren Persatuan
Islam (PPI) No 99 Rancabango, Garut.


PPI yang terletak di Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten
Garut sejak didirikan pada 11 Muharam 1409 atau tepatnya pada 3 Agustus
1989 menyadari stigma buruk pesantren. ''Namun, saat itu perangkat
teknologi belum berperan besar di dunia pendidikan,'' kata KH Aceng
Zakaria, pimpinan umum PPI Rancabango.


Lebih serius


Walau pada saat pendirian pesantren peran teknologi belum begitu terlihat,
Aceng sangat yakin suatu saat nanti perangkat tersebut akan memberikan
andil sangat besar bagi lembaga yang dipimpinnya. Mak a, setelah lebih dari
10 tahun berdiri, PPI Rancabango kemudian mulai mempersiapkan diri untuk
membuka perangkat teknologi canggih sebagai bagian terintegrasi dari
pesantren. ''Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mendirikan
laboratorium komputer sekolah. Itulah cikal bakal dari penerapan teknologi
informasi di pesantren,''jelasnya.


Tidak butuh waktu lama. Setelah lab khusus komputer, PPI Rancabango pun
mulai mematok misi yang lebih serius: Menjadikan pesantren digital yang
bisa diaplikasikan dalam aktivitas pembelajaran.


Pesantren yang memiliki santri lebih dari 700 orang itu pun mulai menjajaki
langkah ke arah itu. ''Pilihannya adalah dengan menerapkan satu software
khusus yang lebih mudah, murah, dan legal,'' papar Aceng tentang
angan-angannya itu.


Empat bulan menjelang milad pesantren yang ke-17, Aceng bersama staf
pesantren mulai mendapat ide untuk membuka akses itu menjadi lebih nyata.
Ia langsung menghubungi Kementerian Riset dan Teknologi RI.


''Alhamdulillah, Pak Menteri begitu welcome saat saya mengutarakan
keinginan itu. Meski saya tidak tahu harus memulainya seperti apa,''
ungkapnya menerangkan rencana awal penerapan pesantren Rancabango sebagai
pesantren digital berbasis open source software (OSS).


Gayung bersambut. Kementerian Ristek melalui konfirmasi resmi
memberitahukan keinginan itu akan siap diwujudkan dalam penyelenggaraan
milad. Aceng sendiri mengaku saat itu tidak bisa membayangkan seperti apa
pesantren digital yang dimaksud. ''Saya hanya bisa membayangkan kalau
pesantren akan bisa melakukan koneksitas dengan dunia luar,'' ungkapnya.


Pertama dan satu-satunya


Akhirnya, tepat pada Ahad (7/1) lalu, angan-angan itu akhirnya benar-benar
terwujud. Kementerian Ristek, yang saat itu langsung dihadiri menterinya,
Kusmayanto Kardiman, secara simbolis meresmikan penggunaan software khusus
berbasis Linux, IGOS (Indonesia, Go Open Source!) di pesantren tersebut.


''Penggunaan IGOS ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.
Mudah-mudahan bisa menjadi pionir bagi lembaga pendidikan yang lain,
khususnya pesantren,'' papar Menristek dalam sambutan resminya.


Fasilitas yang dibangun dalam penerapan konsep pontren digital itu, menurut
Menristek, adalah disediakannya 30 unit komputer yang sudah terintegrasi
dengan software IGOS. Puluhan unit komputer yang disediakan itu, 20 di
antaranya adalah sumbangan pemerintah melalui Kementerian Ristek. ''Dan, 10
unit lagi itu sumbangan dari PT Telkom,'' ucapnya.


Untuk lebih memudahkan proses transformasi ilmu teknologi dan informasi
yang dibutuhkan, pesantren sengaja menyiapkan 20 orang instruktur berusia
muda. Mereka semua, menurut Kepala Bidang Analisis Pengembangan Perangkat
Lunak Kementerian Ristek RI, Ir Kemal Prihatman M Eng, dilatih secara
khusus oleh tenaga ahli Kementerian Ristek. ''Dua puluh orang yang dilatih
itu kemudian bertugas menjadi instruktur bagi santri-santri yang belajar di
warintek,'' jelasnya kepada Republika seusai pencanangan pesantren sebagai
Pontren Digital Berbasis OSS, Ahad (7/1).


Selain sebagai lab komputer, Kemal mengungkapkan, fasilitas warintek juga
sekaligus berfungsi sebagai warung internet (warnet) yang disediakan secara
gratis bagi santri yang belajar di sana. Untuk proyek percontohan ini,
jaringan internet yang disediakan langsung dibangun Telkom tanpa biaya
berlangganan sama sekali selama setahun ke depan. ''Itu juga sebagai bentuk
dukungan pemerintah terhadap proyek digitalisasi lembaga pendidikan yang
ada di Indonesia,'' ujarnya.


Karena konsepnya digitalisasi, sistem basis data dan managerial pesantren
yang ada seluruhnya secara perlahan mulai dialihkan ke dalam bentuk
digital. Termasuk, perpustakaan pesantren pun ke depannya akan menggunakan
sistem digital.


Melihat semua pencapaian itu, satu langkah telah dijejakkan PPI Rancabango
dari pesantren biasa menjadi pesantren yang memanfaatkan sistem digital
yang dewasa ini semakin diminati dan dibutuhkan semua orang. Citra baru pun
mulai melekat ke pesantren yang menyediakan jenjang pendidikan TK,
ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga mu'alimin itu: yakni pesantren modern
pertama yang menerapkan konsep digital. muslim ambarie

Kirim email ke