Lamun enya gol, ah..teuing  moal diteruskeun..bandingkeun we jeung berita
dihandap ieu.

 

 

Liputan6.com, Jakarta: Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 yang
mengatur tambahan tunjangan bagi anggota DPRD terus menuai reaksi.
Pemerintah menyatakan tidak akan merevisi kecuali mereview bagian peraturan
yang menyebut berlaku surut. "Salah satu pasal yang akan direview menyangkut
raker," kata Menteri Dalam Negeri M. Ma`ruf seusai rapat kerja dengan Ketua
DPRD se-Indonesia di Jakarta, Rabu (24/1).

Namun Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Taufikurahman Ruki mengatakan, PP
Nomor 37 Tahun 2006 rawan korupsi. Taufikurahman mengingatkan, bila
peraturan ini diterapkan harus tetap diawasi agar tidak menjadi lahan
korupsi. Dana tunjangan komunikasi intensif dan operasional dinilai sebagai
bentuk pemborosan keuangan daerah. Apalagi kondisi Bangsa saat ini masih
diimpit kesulitan ekonomi [baca:
<http://liputan6.com/view/7,136254,1,0,1169618696.html> Kenaikan Tunjangan
DPRD Ditolak Mahasiswa di Yogyakarta].

Rakyat boleh saja protes. Aksi penolakan tidak membuat rikuh anggota DPRD
Pontianak, Kalimantan Barat. Mereka menerima dana itu yang dibagikan pada
malam hari. "Rezeki ini dari Allah," kata Syech Ribut, anggota DPRD Kota
Pontianak dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Sebagian warga Pontianak menilai kinerja anggota DPRD tidak sepadan dengan
besarnya dana tunjangan yang mereka terima. "Apakah anggota Dewan nggak
pernah mikir, dengan keadaan masyarakat yang semerawut dengan kemiskinan,"
kata Abastari, tokoh pemuda Pontianak.

Pernyataan Abastari mungkin ada benarnya. Terlebih lagi, banyak anggota
Dewan tidak hadir dalam sidang DPRD Kota Pontianak, kamarin. Padahal mereka
baru lima hari silam menerima uang komunikasi sesuai PP Nomor 37 Tahun 2006.
Sebanyak 40 anggota Dewan menerima rapelan dan gaji Februari antara Rp 64
juga sampai Rp 170 juta.(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)

 

  _____  

From: Mang Iman [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 23 Januari 2007 16:21
To: [email protected]
Subject: [Urang Sunda] Re: FW: berita buruk (karyawan dengan gaji di atas Rp
3,3 juta per bulan tak mendapat pesangon)

 

 

On 1/23/07, Hasan Supriadi <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
co.id> wrote:

hehehe... teu kedah lieur Kang...

cobi we diparios pejabat atawa anggota DPR mana nu teu gaduh pausahaan ?!
mun teu aranjeuna nu gaduh pausahaan, minimal dulur2na (kroni-na)... teras
we pausahaanna ngiringan tender di lingkungan kantorna (pasti gollll...)

 

komo pan pausahaan JK sareng wargi-na mah seueur pisan...

nya kesimpulan : RPP-na ieu mah kedah gol deui waeee... hidup gollll !!!

 

mudah2an tong aya deui pangusaha janten penguasa...

 

 

^_^

hapunten teu tiasa ngirim ka milist, mung tiasa no'ongan wungkul...

 

 

Kirim email ke