Gila!
Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Koran Tempo - Sabtu, 27 Januari 2007

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gila diartikan sebagai sakit ingatan, sakit 
jiwa, sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal; tidak biasa, tidak 
sebagaimana mestinya, berbuat yang bukan-bukan; terlalu, kurang ajar, ungkapan 
kagum; atau dapat juga berarti terlanda perasaan sangat suka. Jadi memang 
pemakaian kata gila tidak melulu identik dengan seseorang yang sakit ingatan. 

Beberapa hari terakhir ini, media massa ramai memberitakan kasus 
"menghilangnya" pesawat Adam Air rute Surabaya-Manado yang belum ditemukan. 
Nasib 102 penumpang dan awak pesawat itu hingga kini masih tak tentu rimbanya. 
Ketika dikabarkan pesawat Adam Air jatuh di Desa Rangoan, Sulawesi Barat, semua 
perhatian segera mengarah ke lokasi tersebut. Informasi ini sulit untuk tidak 
dipercaya, karena cukup detail. Ketika teman saya tahu bahwa informasi tersebut 
hanya hoax belaka, ia hanya bisa bergumam, "Gila!" 

Ditujukan kepada apa atau siapa ungkapan tersebut, saya tidak tahu. Apakah 
ditujukan kepada orang yang menyebarkan berita bohong tersebut atau kepada 
pemerintah yang percaya mentah-mentah berita tersebut tanpa perlu melakukan 
check and recheck terlebih dulu? Dan ketika membaca ulasan di media yang 
memberitakan bujet perawatan pesawat dibikin cekak untuk menaikkan keuntungan 
bisnis mereka, dus, keselamatan penumpang diabaikan, lagi-lagi teman saya 
menggumam untuk yang kedua kalinya, "Gila!"

Pada akhir 2006, kita dikejutkan oleh berita keterlambatan pengiriman katering 
jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Sekitar 200 ribu anggota jemaah haji asal 
Indonesia harus menahan lapar lebih dari 30 jam. Sepanjang sejarah pengelolaan 
haji yang sudah dilakukan pemerintah selama berpuluh tahun, baru kali inilah 
manajemen kateringnya amburadul. Teman saya pun tak bisa tidak untuk 
berkomentar "gila!" untuk kasus ini.

Ketika rakyat di beberapa daerah terpaksa makan nasi aking hanya untuk sekadar 
bertahan hidup, pada saat yang bersamaan diberitakan gaji para anggota DPRD 
naik sebesar dua kali lipat dari sekarang. Hal itu terjadi setelah Presiden 
Yudhoyono menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 pada November 
lalu. Peraturan tersebut mengamanatkan dua tambahan tunjangan bagi anggota 
DPRD, yaitu tunjangan komunikasi intensif dan dana operasional. 

Kenaikan gila-gilaan dialami ketua dan wakil ketua DPRD. Selain mendapatkan 
tunjangan komunikasi intensif sebesar Rp 9 juta, ketua DPRD masih mendapatkan 
dana operasional yang mencapai Rp 18 juta, sedangkan wakil ketua mendapat dana 
operasional Rp 9,6 juta! Banyak orang kemudian geleng-geleng kepala dan kembali 
saya mendengar (bukan hanya satu) orang berkomentar, "Gila!" 

Dari hari ke hari, kita disuguhi berita-berita yang tidak hanya dapat membuat 
kita mengurut dada, tapi juga sering mendorong kita untuk berkomentar, "Gila!" 
Cerita getir memilukan (bahkan kadang memalukan) dari berbagai pelosok negeri 
ini datang silih berganti. Masyarakat pun cenderung bersikap permissiveness. 
Hari ini menjadi headline, esok hari sudah tidak dibicarakan atau bahkan 
dilupakan. 

Kondisi ini tampak diperparah dengan makin bertambahnya jumlah penganggur di 
Indonesia. Dalam penelitiannya, Profesor M. Harvey Brenner dari Universitas 
John Hopkins mengemukakan, untuk setiap kenaikan 1 persen angka pengangguran, 
tercatat kenaikan 1,9 persen penyakit jantung, 4,1 persen bunuh diri, dan 4,3 
persen pasien baru di rumah sakit jiwa. Jangan-jangan, dengan "kegilaan" yang 
melanda republik ini, persentase dari hasil studi Brenner bisa berubah.

Ketua Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa Ontoseno menuturkan gejala sakit jiwa 
yang dialami penderitanya, antara lain mudah melakukan kekerasan seperti 
membakar atau menggebuki pencuri sampai mati, manipulatif, cuek, serta tidak 
mengenal apa yang baik dan buruk. Dan hal tersebut terjadi di semua lapisan 
masyarakat. Satu bait ramalan Jayabaya, "sungguh zaman sedang gonjang-ganjing, 
menyaksikan zaman gila, tidak ikut gila tidak dapat bagian", bisa jadi 
menggambarkan keadaan bangsa kita saat ini: kalau tidak ikut gila, kita tidak 
kebagian. Kalau memang demikian halnya, sungguh malang negara ini. Jelas ada 
sesuatu yang salah di negeri ini, tapi dari mana kita hendak memulai mengurai 
benang kusut ini?

Tak usah lagi mengurusi hal-hal remeh-temeh. Banyak persoalan besar yang perlu 
diselesaikan di negeri ini: bencana lumpur Lapindo, potensi pandemi flu burung, 
berbagai peraturan daerah yang tumpang-tindih, lemahnya daya tarik investasi 
asing, krisis energi yang berimpak pada ketahanan nasional, reformasi birokrasi 
yang belum menyentuh lembaga yudikatif, dan segepok masalah besar lain yang 
masih menunggu. 

Bahkan Presiden Yudhoyono berjanji tak akan lagi melakukan kompromi dalam 
mengambil keputusan yang menyangkut rakyat. Berbagai masalah yang merundung 
negara ini memang membutuhkan tindakan cepat, tegas, dan nyata--seperti 
dijanjikan Presiden dalam pidato sambutannya pada acara ulang tahun ke-69 
kantor berita Antara. Dalam konteks ini, sudah sewajarnya jika Presiden 
bertindak cepat sehingga bisa mengundang komentar, "Wah, gile bener, Presiden 
sudah bongkar kabinet, tak ada kompromi lagi rupanya dengan parpol," atau 
mungkin komentar lain yang tidak kalah gilanya: "Gila benar, kapan SBY ada 
waktu istirahat kalau sampai akhir pekan pun masih mengurus tugas negara." 

Francis Fukuyama dalam bukunya, Trust, mengingatkan kita, langkah apa pun tak 
akan cukup untuk menyelesaikan masalah suatu bangsa tanpa adanya trust, jaminan 
rasa aman. Sesungguhnya yang diperlukan saat ini adalah kerelaan para pemimpin 
dan elite untuk saling mendengar, mengakhiri perdebatan, dan mencari jalan 
keluar terbaik buat menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Para pemimpin harus 
duduk bersama dan mendengarkan aspirasi masyarakat. Dan yang tak kalah penting, 
pemimpin haruslah memberi contoh teladan yang baik bagi rakyatnya. Panutan 
harus dimulai dari atas. Tanpa itu semua, jangan harap bangsa ini keluar dari 
situasi gila seperti saat ini. 

http://www.korantempo.com/korantempo/2007/01/27/Opini/krn,20070127,39.id.html 

Kirim email ke