Tahu Sumedang

DIA memperkenalkan diri, namanya Momon. Usianya di atas saya. Ini diketahui
setelah kami berbincang lebih jauh tentang asal masing-masing. Hal yang
tidak terduga, rupanya kami sempat satu kampus. Dia lulus tahun '82-an,
sedangkan saya empat tahun kemudian.

Kami tertawa ketika mengaku sama-sama jadi "pengkhianat" pada almamater.
Seharusnya kami menjadi guru. Akan tetapi, takdir bicara lain, saya bekerja
di koran, dia berjualan tahu sumedang. "Ini sesuai jurusan saya dulu, dari
ekonomi," kata Momon, enteng.

Saya rada menyesal, lantaran keakraban dengan dia justru terjadi pada ujung
kami akan berpisah. Pertemuan tersebut di Kalimantan Timur, tepatnya di
lokasi bazar Kompleks Stadion Madya, Sempaja, Samarinda. Ketika itu, di sana
mulai 3 Februari hingga 10 Februari berlangsung Pekan Olah Raga Wartawan
Nasional (Porwanas) IX. Bazar diselenggarakan persis di depan Hotel Atlet
yang terbilang cukup megah.

Soal mengapa Momon jadi tukang tahu sumedang, bagi saya mengundang tanya.
Bahkan, tiba-tiba di tengah bazar itu ada tahu sumedang saja juga sungguh *
surprise*, karena jadi makanan selingan di tengah rasa bosan menyantap
makanan pedas dan manis yang disediakan panitia. Benarkah tahu sumedang bisa
intervensi ke Kaltim dan cocok dengan lidah orang sana?

Momon pun bercerita, tahu sumedang bisa diterima dengan baik oleh konsumen
Kaltim. Hanya, apabila tidak terlalu renyah, karena faktor kacang kedelai.
Di Kaltim tidak ada kedelai lokal yang justru paling baik untuk tahu
sumedang. "Di sini yang melimpah kedelai impor," katanya.

Lalu, ada lagi yang membuat saya terpana, dari cerita Momon, bahwa dirinya
hanya pegawai, bukan pemilik. Pemilik pabrik tahu sumedang yang
dijajakannya, sesungguhnya milik putra Rektor Universitas Mulawarman!
Pegawainya semua direkrut dari Jawa Barat. Luar biasa!

Obrolan kemudian berkembang pada faktor budaya orang Sunda. Menurut Momon,
dia tidak peduli lagi soal titel kesarjanaan yang disandangnya. Ia meyakini
tahu sumedang punya prospek di Kaltim dan bisa berkembang jadi bisnis besar.
Karenanya, ia betah ikut jualan tahu.

Pria yang tidak sempat ditanya sudah berapa lama di Kaltim juga
mengungkapkan, pada dasarnya orang Jawa Barat di Kaltim banyak yang
berhasil. Apa yang diungkap Momon, mungkin tidak terlalu salah sebab
beberapa stan di bazar ditempati orang Sunda. Mereka berjualan produk
garmen.

Akan tetapi, ini persoalannya, kata Momon, orang Sunda (Jawa Barat) agak
sulit bersatu. Meski ada paguyuban, tapi kurang aktif. Bicara pada bagian
ini, saya sendiri lumayan iri dengan warga Jawa Timur. Mengapa demikian?
Lantaran pada harian lokal sempat saya baca, mantan Gubernur DKI Jakarta,
Basofi Sudirman, datang berkangen-kangenan dengan warga Jatim.

Selang beberapa hari, dari pengeras suara di hotel terdengar pengumuman
bahwa atlet Porwanas asal Sumsel diundang makan malam di sebuah hotel
berbintang oleh pengurus Himpunan Warga Sumatra Selatan (HWSS) Kaltim. Untuk
warga Jabar? Ah, mudah-mudahan tahu Sumedang menjadi pengikatnya. (Asep S.
Bakrie/"PR")***

Sumber: PR, Kamis, 22 Februari 2007

*
*

*
*

Kirim email ke