Punten aya artikel ngeunaan bahasa sunda/carita dina basa sunda,
punten nyalin tina "PR"
Sunda Santai, Islam Santai
Oleh ACEP ZAMZAM NOOR
BEBERAPA tahun yang lalu saya dan teman-teman
mengadakan "pengajian budaya" di Pondok Pesantren Cipasung dengan
menggelar kesenian-kesenian tradisional Sunda yang masih tersisa di
sekitar Tasikmalaya dan Ciamis. Di antara jenis kesenian yang sempat
ditampilkan pada program bulanan itu ada yang benar-benar buhun se
perti pantun beton, calung tarawangsa, beluk, terebang gebes, terebang
sejak, genjring ronyok, dan ronggeng gunung.
Menyaksikan kesenian-yang sudah sangat langka tersebut, saya seperti
menemukan kembali benang merah yang mengaitkan kesenian-kesenian
tersebut dengan Islam, khususnya dengan budaya pesantren. Keterkaitan
itu mungkin karena kesenian buhun tersebut telah dipengaruhi budaya
pesantren, namun bisa juga terjadi sebaliknya.
Masyarakat Sunda sudah terbentuk jauh sebelum Islam masuk. Sebelum
datangnya Islam, selain sudah memeluk agama sendiri, masyarakat Sunda
juga sudah memiliki beragam jenis kesenian, termasuk sastra di
dalamnya. Almarhum M. Holis Widjaja, salah seorang juru pantun paling
senior di Tasikmalaya, pernah mengatakan bahwa seni pantun merupakan
jenis sastra tutur yang sangat tua dan sudah dikenal sejak
beradab-abad lalu. Maka tak mengherankan jika dalam setiap
pementasannya, seorang juru pantun selalu mengawali dengan pembacaan
rajah, semacam mantera untuk memohon restu dan keselamatan kepada para
leluhur, batara-batari dan dewa-dewi.
Setelah pengaruh Islam masuk, rajah atau mantera tersebut tidak
dihilangkan namun permohonan restu disampaikan juga kepada Allah SWT,
Rasulullah, para wali, para kiai, dan tokoh-tokoh setempat. Meskipun
begitu, sesaji yang terdiri dari umbi-umbian, rupa-rupa kembang,
rumput palias, minyak wangi, beras, telur, kopi, cerutu, dan ayam
saadi tetap harus dipenuhi sebagai syarat berlangsungnya pementasan.
Keterkaitan berbagai kesenian Sunda dengan Islam sudah punya sejarah
panjang, termasuk juga dengan wayang (golek dan kulit) yang pada
beberapa bagian lakon dan tokoh-tokohnya mengalami penyesuaian dengan
kepercayaan Islam, bahkan menjadi media dakwah Islam. Demikian juga
halnya dengan bidang sastra, begitu banyak karya-karya klasik seperti
wawacan (baik asli maupun saduran) yang berisi uraian-uraian tentang
agama seperti fikih, akhlak, tasawuf, tarikh serta riwayat nabi yang
ditulis para pujangga Sunda abad ke-19. Sementara H. Hasan Mustapa
yang dikenal sebagai kiai dan penghulu besar, sekitar tahun 1890
banyak menulis uraian-uraian masalah keagamaan dalam bentuk geguritan
yang sangat indah, yang berhasil memasukkan kemerduan bahasa Arab ke
dalam bahasa Sunda. Menurut Ajip Rosidi, pada masa-masa produktifnya,
Hasan Mustapa telah menulis geguritan sebanyak 20.000 bait meskipun
yang dapat ditemukan hanya 10.815 bait saja.
**
DALAM karya-karya sastra klasik banyak dijumpai unsur-unsur dakwah
yang bersifat langsung, di mana baik wawacan maupun guguritan telah
menjadi media penyampai pesan keagamaan yang efektif karena karya
sastra yang umumnya dituturkan (ditembangkan) tersebut sangat disukai
masyarakat. Pesan dalam karya-karya klasik ini ada yang bersifat
formal seperti uraian-uraian tentang fikih, akhlak, tasawuf dan
tarikh, namun ada juga yang simbolis dan berbau mistik. Sementara
dalam karya-karya sastra modern (khususnya yang mulai ditulis sebelum
perang kemerdekaan) unsur-unsur dakwah tampil lebih halus dan
tersamar, yang menonjol justru masalah-masalah keseharian masyarakat
Sunda yang umumnya rakyat kecil.
Meskipun begitu, membaca karya-karya sastra (khususnya prosa) pada
zaman sebelum perang ini seperti menunjukkan bahwa posisi pesantren
dalam kehidupan masyarakat Sunda punya tempat yang penting. Hampir
semua pengarang besar mulai dari Moh. Ambri, Samsoedi, Tjaraka, Ki
Umbara, Ahmad Bakri sampai RAF (Rachmatulloh Ading Affandi) dan
dilanjutkan Usep Romli HM kerap mengambil kehidupan pesantren sebagai
inti dari cerita-ceritanya. Tokoh-tokoh seperti kiai, haji, santri,
penghulu, lurah atau dukun adalah tokoh yang umum dalam karya-karya
mereka. Namun yang perlu dicatat, baik pesantren maupun orang-orang
pesantren selalu ditempatkan pada posisi yang wajar, manusiawi dan
santai. Dengan demikian tokoh-tokoh seperti kiai, haji, penghulu atau
santri tidak selalu menjadi tokoh yang paling benar, kadang mereka
digambarkan berbuat konyol. Begitu juga pesantren tidak pernah
digambarkan sebagai lembaga yang sakral, tapi hanya bagian dari
kelengkapan sebuah kampung.
Ki Umbara (1914-2005) merupakan pengarang yang sangat piawai dalam
menggambarkan suasana batin orang-orang Sunda, baik dari kalangan
pesantren maupun mereka yang percaya pada adanya makhluk halus.
Meskipun dalam biodatanya tidak ada catatan pernah mondok, namun ia
sangat menguasai atmosfer pesantren. Bersama pengarang SA Hikmat, ia
menulis roman yang berjudul Pahlawan-pahlawan ti Pasantren. Selain itu
ia pun banyak menulis cerita saduran dari khazanah pesantren, seperti
yang terkumpul dalam Nu Tareuneung dan Hamzah Singa Allah yang
merupakan kisah para syuhada Islam. Sementara kisah-kisah tentang
perjuangan mempertahankan tauhid dikumpulkan dalam Sempalan Tina
Tareh, yang merupakan hikmah-hikmah dari kehidupan para nabi. Tiga
bukunya yang terakhir ini bukanlah sekadar catatan sejarah, tapi
refleksi sang pengarang terhadap sejarah itu sendiri.
Ki Umbara juga dikenal sebagai pengarang cerita-cerita misteri,
terutama lewat buku-bukunya yang laris seperti Diwadalkeun Ka Siluman,
Teu Tulus Paeh Nundutan, Si Bedog Panjang, Maju Jurang Mundur
Jungkrang, Si Lamsijan Kaedanan serta sebuah cerita misteri yang
dikumpulkan Ajip Rosidi belakangan ini, yakni Jurig Gedong Setan. Ki
Umbara menulis cerita-cerita misteri bukan untuk menyangkal adanya
kekuatan supranatural, makhluk halus, hantu atau siluman dari pikiran
orang-orang Sunda, tapi lebih untuk mengingatkan bahwa manusia yang
beriman lebih mulia dari hantu atau siluman. Memang tak bisa
dimungkuri cerita-cerita Ki Umbara baik yang disadur dari sejarah
maupun mengenai hantu sangat kental dengan unsur dakwah Islam, meski
ia melakukannya dengan cara menampilkan contoh-contoh dan bukan menggurui.
Di tangan para pengarang Sunda tema-tema keagamaan sering tampil
dengan santai dan kadang terkesan main-main. Ahmad Bakri (1917-1988)
adalah pengarang Sunda yang sangat digemari para pembaca, selain
karena produktivitasnya juga karena keterampilannya dalam melukiskan
kehidupan masyarakat kecil dengan begitu hidup dan segar. Kejadian
sehari-hari dengan tokoh-tokohnya yang berkisar antara camat, lurah,
penghulu, kiai atau haji, santri dan anak-anak kampung kerap hadir
menjadi cerita yang menarik. Tema-tema keagamaan seperti puasa,
tarawih, lebaran, dan zakat dihadirkan lewat jalan pikiran dan
perilaku orang-orang kecil. Misalnya bagaimana bedug dipindahkan dari
masjid ke atas bukit sebagai protes karena anak-anak dilarang ngadulag
pada malam hari. Bagaimana kelelawar yang biasa keluar dari sarangnya
setiap senja dijadikan petunjuk waktu berbuka puasa. Begitu juga
kejadian-kejadian lucu saat tarawih, menyetor zakat fitrah atau
perdebatan yang seru seputar lebaran yang jatuh pada Jumat, yang
dipercaya akan mengundang harimau datang ke kampung karena ada dua
khotbah dalam satu hari.
Ahmad Bakri yang pada masa mudanya pernah mondok ini bukan hanya
menulis cerita pendek tapi juga cerita anak-anak, buku-bukunya yang
sudah terbit lumayan banyak dan di antara yang terkenal adalah Payung
Butut, Rajapati di Pananjung, Srangenge Surup Manten, Saudagar Batik,
Mayit Dina Dahan Jengkol, Jurutulis Malimping, dan Ki Marebot.
Belakangan, atas upaya Ajip Rosidi, beberapa cerpennya yang tercecer
di berbagai majalah diterbitkan dalam dua buku yang cukup tebal: Dina
Kalangkang Panjara dan Dukun Lepus. Dengan caranya yang santai Ahmad
Bakri sebenarnya banyak melakukan kritik lewat cerita-ceritanya,
misalnya soal penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan penghulu atau
aparat desa, soal menak-menak yang sombong dan serakah, haji yang
merasa benar sendiri, ustadz yang gila hormat, lurah yang ucapannya
berbeda dengan kelakuannya, dan semacamnya.
Di pesantren-pesantren tradisional Sunda yang umumnya berada di
kampung-kampung, agama diperkenalkan pada anak-anak juga dengan cara
yang santai. Anak-anak dilatih melaksanakan salat dan puasa misalnya,
dengan cara membiasakan diri. Itu pun sangat bergantung pada kemampuan
masing-masing. Agama juga diajarkan dengan penuh kegembiraan, misalnya
menghapal nama-nama nabi, menghapal keluarga Rasulullah, menghapal
rukun iman dan rukun Islam, semuanya dilakukan lewat nyanyian, lewat
nadoman. Dengan "metode" santai seperti ini, juga dengan dosis yang
tidak berlebihan agama merasuk ke dalam jiwa anak-anak tanpa terasa
dan sangat alamiah. Tidak diawali dengan menjejalkan ayat-ayat ke
dalam otak, tapi dimulai dengan berlatih dan merasakannya dalam hati.
Wajah agama yang santai ini dengan berhasil digambarkan oleh RAF dalam
Dongeng Enteng Ti Pasantren yang terdiri dari 40 cerita. Meskipun
ditulis pada dekade tahun 1960-an, cerita-cerita seputar dunia
pesantren ini konon berlangsung sebelum perang atau tepatnya sebelum
Jepang datang, Maka baik tokoh maupun latar tempatnya tak jauh berbeda
dengan cerita-cerita Ahmad Bakri, masih tentang orang-orang sederhana
yang hidup di kampung. Hanya saja RAF bercerita bukan dengan kacamata
orang luar, tapi sebagai orang dalam yang memang tinggal di pesantren.
Dengan demikian detail-detail mengenai kehidupan santri dan suasana
pesantren waktu itu terungkap begitu gamblang. Bagi yang pernah
merasakan mondok di pesantren tradisional, membaca cerita-cerita ini
mungkin seperti mengurai kembali kenangan.
Dongeng Enteng Ti Pasantren bentuknya mendekati sebuah roman meskipun
cerita-cerita yang terdapat di dalamnya bisa berdiri sendiri-sendiri.
Dimulai dengan penggambaran tentang sosok kiai Sunda yang umumnya
hidup sederhana, tentang keluarganya yang terdiri dari istri dan anak
perempuan, lalu tentang suasana pesantren yang lokasinya hampir bisa
dipastikan selalu dekat dengan sawah, kolam, gunung, dan sungai.
Begitu juga bangunan-bangunan sederhana yang terdapat di dalamnya:
rumah kiai, masjid, dan pondok yang semuanya berdinding bambu. Setelah
itu cerita demi cerita mengalir dengan lancar. RAF yang lahir tahun
1929 di Banjarsari, Ciamis, sehabis menyelesaikan sekolah memang
pernah mondok beberapa lama di sebuah pesantren, dan sepertinya roman
semibiografis ini merupakan cerita kenang-kenangan mengenai masa
mondok-nya itu.
Tentu saja yang diceritakan RAF bukan sekadar pengalaman romantik
pernah mondok di pesantren. Sejumlah persoalan keagamaan juga
terungkap di balik cerita-ceritanya yang lucu. Di sini tampak
kepiawaian pengarang dalam menyerap pandangan umum orang-orang kampung
terhadap aturan-aturan agama. Dalam cerita "Poe Kahiji", misalnya,
diceritakan bagaimana kagetnya para santri mendengar kiai yang
tiba-tiba saja menetapkan hari pertama puasa lebih cepat sehari
dibanding kampung-kampung lain, padahal sejumlah santri sudah
terlanjur menyiapkan acara munggahan pada hari itu. Namun ada seorang
santri yang mengaku masih ingat ucapan kiai, yang mengatakan bahwa
tidak puasa diperbolehkan apabila sedang berkunjung ke tempat yang
belum memulai puasa, asal kunjungan tersebut dilakukan pagi-pagi
sekali dan punya alasan yang kuat.
Dengan dasar itulah sejumlah santri pergi ke kampung tetangga sambil
membawa makanan yang sudah disiapkan untuk munggahan. Sebelum pergi
mereka tidak lupa mengucapkan niat bahwa kepergiannya untuk
mengantarkan kitab kepada seseorang di kampung itu. Sebuah alasan yang
sangat kuat karena mengantarkan kitab merupakan pekerjaan mulia, dan
pekerjaan mulai seyogyanya dilakukan bersama-sama. Dan setibanya di
kampung tujuan, puasa memang belum dimulai, maka setelah mengantarkan
kitab mereka pun munggahan dengan gembira tanpa merasa telah melakukan
dosa. Sorenya baru mereka pulang kembali ke pesantren.
Dalam kebanyakan ceritanya RAF kadang memakai istilah-istilah Arab
yang umum diucapkan di pesantren, namun sedikit sekali ia mengutip
dalil-dalil dari Alquran atau Hadist. Persoalan-persoalan keagamaan
justru lebih banyak terungkap lewat obrolan sehari-hari dan perilaku
tokoh-tokohnya yang santai, lucu, polos namun kreatif. Tema-tema
mengenai fikih atau tauhid mengalir dengan ringan, terkesan main-main
namun tetap menyiratkan makna yang dalam. Begitu juga tema-tema yang
berhubungan dengan etika atau moral seperti menjelekkan orang lain,
berbohong, sombong, malas, niat, cita-cita, dan semacamnya juga tampil
menjadi rangkaian lelucon yang segar, penuh kejutan, dan jauh dari
kesan berkhotbah atau menggurui.
Pengarang lain yang juga banyak menggarap kehidupan pesantren adalah
Usep Romli HM. Pengarang ini sudah menerbitkan sejumlah kumpulan
cerpen dan novelet seperti Jiad Ajengan, Ceurik Santri, Bentang
Pasantren, dan Dulag Nalaktak. Pengarang yang lahir di Limbangan,
Garut, tahun 1949 ini memang seorang santri yang cukup lama mondok di
pesantren. Selain menulis cerpen dan novelet, ia juga menulis sajak
yang sudah dikumpulkan dalam beberapa antologi. Meskipun
cerita-ceritanya kebanyakan terjadi sekitar tahun 1970-an namun
suasana pesantren yang digambarkannya tak jauh berbeda dengan yang
pernah digambarkan para pengarang generasi sebelumnya. Memang
demikianlah kondisi pesantren-pesantren tradisional di tatar Sunda,
selain selalu mengambil lokasi di daerah pinggiran juga tak banyak
melakukan perubahan dari waktu ke waktu.
Usep Romli HM banyak menggarap cerita-cerita santai yang menggambarkan
romantika pesantren seperti halnya RAF. Namun Usep kadang bergaya
serius juga, misalnya pada cerita-cerita yang menunjukkan
keprihatinannya yang mendalam terhadap kondisi umat Islam yang
terpuruk di tengah perubahan zaman dan terjangan globalisasi. Namun
hampir dalam semua karyanya, baik yang santai maupun bergaya serius,
ia rajin mengutip dalil-dalil yang berasal dari Alquran dan Hadist
dengan sangat fasih. Ia juga kerap memasukkan istilah-istilah bahasa
Arab untuk menghidupkan ceritanya. Hal ini tentu dapat dimaklumi
mengingat selain pengarang, ia pun dikenal luas sebagai mubalig dan
pembimbing jemaah haji. Maka wajarlah jika semangatnya untuk berdakwah
lewat sastra terasa sangat kental, apalagi pada cerita-cerita
terbarunya yang dikumpulkan dalam Paguneman Jeung Fir'aun.
Dalam pengamatan saya sementara ini, setelah era RAF dan Usep Romli HM
rasanya tak ada lagi pengarang Sunda yang cukup kuat dan menonjol
dalam menggarap tema-tema kepesantrenan, kalau pun ada mungkin lebih
cenderung pada tema-tema keagamaan yang sifatnya formal dan umum. Saya
juga mengamati bahwa pengarang-pengarang Sunda sekarang seperti mulai
kehilangan sikap kesantaiannya, baik kesantaian sebagai orang Sunda
maupun orang Islam.***
Penulis, Penyair. Tinggal di Tasikmalaya.