Mang, asana mah perkara ieu kantos dibahas sareng Kang Miki waktos anjeuna ka 
Bandung di Lemlit UNPAD, Cisangkuy 62.
  Rajin nya ari dosen mah geus maca teh terus ditulis, teu jiga kuring geus 
maca mah nya ditutup wae disimpen deui buku teh. Sae tah mun ditulis deui, jadi 
batur kabejaan, jadi bahan paguntrengan. Hasil penelitian Kang Miki masih tiasa 
diperdebatkeun, asal urang boga bukti keur ngabantahna.
   
   
  Baktos,
  -ika-

mj <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
kenging ngorowot ti
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/24/Jabar/10592.htm

saptu kamari

Forum
Sunda Dicipta Belanda

Oleh Gani A Jaelani

Orang Sunda seharusnya berterima kasih kepada Herbert de Jager. Sebab,
sarjana Belanda itulah orang pertama yang menyebut zondase taal (bahasa
Sunda) untuk menamai bahasa yang digunakan penduduk sebelah barat Pulau
Jawa. Bahasa pada saat itu diyakini sebagai identitas kebudayaan. Suatu
kelompok dianggap memiliki kebudayaan yang khas jika berkomunikasi dengan
bahasa yang khas pula.

Itu terjadi pada abad ke-18, ketika gagasan Sunda sebagai yang berbeda
dari Jawa masih garib. Galib sudah orang-orang Barat masa itu melihat
Sunda sebagai bagian dari Jawa. Kebudayaan Sunda hanya salah satu varian
dari Jawa. Sebab, penduduk di sebelah barat Pulau Jawa yang juga disebut
Priangan ini berbicara dengan bahasa yang mirip Jawa. Ada beberapa istilah
Jawa yang dipakai, tetapi tidak seluruhnya. Itulah yang menjadi dasar
kenapa orang-orang Barat kemudian bersepakat mengelompokkan Sunda sebagai
bagian dari Jawa.

Adanya bahasa Jawa dalam kosakata Sunda mungkin yang menjadi dasar
pandangan mereka. Agaknya pendapat seperti itu banyak dipengaruhi
interaksi mereka dengan para bangsawan Sunda. Umumnya, bangsawan Sunda
pada masa itu berkomunikasi dengan bahasa Jawa, dengan beberapa istilah
Sunda karena bahasa tersebut dianggap lebih berwibawa.

Ini bisa dipahami dengan melihat politik ekspansi Mataram semasa Sultan
Agung, yang mewajibkan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa administrasi
kerajaan. Mereka yang berkomunikasi dengan bahasa Sunda yang agak Jawa
(atau Jawa yang agak Sunda) itulah yang banyak ditemui para pelancong
Barat. Karena Jawa lebih dulu dikenal, dengan mudah mereka mengelompokkan
Sunda sebagai bagian dari Jawa.

Orang Sunda tidak seluruhnya menak, tentu saja. Karena itu, sebagian dari
mereka pun tidak berbicara dengan bahasa yang dipakai para menak itu.
Jumlah orang yang berbicara dengan "bahasa yang lain" itu lebih besar, dan
banyak tinggal di daerah pegunungan.

Keberadaan mereka jarang ditemui para pelancong yang lebih banyak
mengunjungi "perkotaan", di mana para menak lebih banyak tinggal. Bahasa
yang digunakan orang kebanyakan ini dinamai sebagai Jawa Gunung. Namun,
ada juga yang menamainya sebagai bahasa Sunda, seperti Herbert de Jager
tadi mungkin. Dua bahasa

Jadi, di Priangan pada masa itu ada dua bahasa yang digunakan. Setidaknya
itulah yang dilaporkan para pelancong Barat itu. Kata Mikihiro, profesor
Jepang yang tergila-gila dengan Sunda itu, Raffles saja pernah dibuat
bingung soal ini. Dalam perbandingan kosakata Melayu, Jawa, Madura, Bali,
dan Lampung, yang dimuat sebagai lampiran dalam karya monumentalnya, The
History of Java, bahasa Sunda tidak dibuatkan tempat tersendiri dalam
senarai kata-kata, tetapi dimasukkan ke dalam kolom Jawa.

Begitu pula dengan Andreas de Wilde yang menerbitkan studi etnografi
tentang daerah Priangan pada 1829. Dalam edisi revisi yang diterbitkan
satu tahun kemudian, ia melampirkan daftar kosakata bahasa Sunda. Namun,
ia masih ragu menyebut kosakata yang dikumpulkannya sebagai bahasa. Wajar
saja kalau dia kemudian mengelompokkan Sunda sebagai bagian dari Jawa.

Kenyataan tadi menunjukkan bahwa gagasan mengenai kesatuan Jawa masih
cukup kuat. Gagasan bahwa kebudayaan Jawa sangat tinggi masih cukup
dominan. Barangkali, justru karena itulah para sarjana Belanda menjadi
semakin bernafsu. Didorong oleh semangat mengikis dominasi Jawa, mereka
terus bersemangat untuk menemukan Sunda. Penemuan Sunda barangkali akan
sedikit mengurangi dominasi Jawa. Selain itu, aktivitas menemukan pada
masa itu sangat digandrungi para sarjana.

Setiap penemuan akan selalu diiringi dengan aktivitas penamaan. Dan,
penamaan adalah bahasa lain untuk penguasaan karena yang dinamai akan
selalu berada dalam bayang-bayang pemberi nama. Lihat saja bagaimana
marahnya orang Belanda itu ketika sayembara penulisan kamus berbahasa
Sunda dimenangi Jonathan Rigg, seorang pengusaha perkebunan teh
berkewarganegaraan Inggris yang tinggal di Bogor selatan. Kamus bahasa
Sunda pun menjadi bahasa Sunda-Inggris.

Akan tetapi, orang Belanda juga sebetulnya tidak benar-benar marah. Sebab,
usaha Jonathan Rigg ini baru dilakukan belakangan. Selain itu, kamus yang
ditulis Jonathan Rigg ternyata masih banyak kekurangan. Setidaknya itulah
yang dikatakan para sarjana Belanda. Mereka lebih menghargai usaha rekan
senegaranya, Andreas de Wilde, yang menyusun kamus Sunda 20 tahun lebih
awal dari Jonathan Rigg. Andreas de Wilde mengumpulkan kosakata bahasa
Sunda selama 10 tahun setelah menerbitkan catatan etnografisnya.

Untuk itu, ia tak segan untuk hidup di tengah-tengah mereka. Pada 1842
terbitlah Kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Sunda. Sebetulnya, bukan Andreas
de Wilde benar yang menyusun, melainkan Roorda, sarjana bahasa-bahasa
Timur yang paling berwibawa. Namun, kosakata yang ada dalam kamus tersebut
berasal dari Andreas de Wilde seluruhnya. Bahasa mandiri

Penerbitan sebuah kamus berarti sebuah pengakuan: bahasa Sunda adalah
bahasa mandiri yang berbeda dari bahasa-bahasa lain. Selain itu, juga
pengakuan Sunda sebagai satuan budaya yang mandiri. Kalau kamus itu
diterbitkan oleh orang Inggris, berarti pengakuan itu berasal dari mereka.
Karena itu, Sunda pun berada dalam kerangka pemikiran orang Inggris.

Itulah kenapa orang-orang Belanda demikian marah ketika Jonathan Rigg
menerbitkan karyanya tahun 1862. Sekalipun demikian, orang Belandalah yang
untuk kali pertama menemukan Sunda. Sunda pun berada dalam bayang-bayang
Belanda.

Akan tetapi, pengakuan itu hanya ditujukan kepada Sunda yang dicipta
Belanda, melalui penerbitan kamus tentu saja. Sebuah pengakuan, karenanya,
akan selalu berkait dengan banyak kepentingan. Barangkali sejak saat itu,
Sunda, sekalipun sudah menjadi satuan budaya yang mandiri, selalu berada
dalam rekayasa Belanda.

Lihat saja, misalnya, bagaimana Sunda disederhanakan. Model Sunda Bandung
dipilih sebagai bentuk Sunda yang murni. Pilihan itu dikukuhkan oleh
sebuah surat keputusan pemerintah yang dikeluarkan pada 1872. Mungkin
karena keberadaannya sebagai ibu kota Karesidenan Priangan di mana
pemerintahan kolonial berpusat itulah kenapa perlu dijadikan standar
kesundaan.

Mulai saat itu bahan ajar untuk wilayah Priangan disusun dengan ukuran
Bandung, versi sahih penguasa. Sunda di wilayah Priangan pun berada dalam
pengawasan Bandung, Sunda ciptaan Belanda.

Akan tetapi, Sunda tentu saja sudah ada sebelum orang-orang Belanda itu
tiba. Tanpa Herbert de Jager dan Andreas de Wilde, Sunda pun akan tetap
ada. Kita tahu sudah mereka berdua dan beberapa orang Belanda lain yang
mungkin tidak pernah tercatat berteriak tentang Sunda yang berbeda dari
Jawa. Karena mereka pulalah Sunda mendapat pengakuan.

Sunda, dalam kerangka pengakuan Belanda, mungkin masih terus dipertahankan
sampai sekarang. Ingatan kita akan Sunda sebetulnya ingatan akan Sunda
yang direkayasa Belanda. Artinya, sampai sekarang kita masih mengamalkan
kebudayaan Sunda yang dicipta Belanda.

Setiap pembicaraan dan pengembangan Sunda barangkali sebetulnya kita
sedang membicarakan dan mengembangkan Sunda ciptaan Belanda. Kalau dulu,
jelas amalan tersebut dimaksudkan untuk kolonisasi. Sekarang, kalau benar
masih diamalkan, siapa yang diuntungkan dengan Sunda kreasi Belanda itu?

GANI A JAELANI Dosen Sejarah Unpad, Bergiat di Selasar Sastra Jatinangor

mj

http://geocities.com/mangjamal



         

 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

Kirim email ke