waduh gumbira Hiduplah Ibu Popon ngaraos reeus tur limpahan rasa nu teu tiasa 
dikedatkeun duh bungahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh di ciamis aya ratu dongeng hidup ! 
ceuk jaman nu modernmah eleh dongeng ku cerita cobochan, sinchan tur ninja 
hatori......tapi ayakeneh tempat lah abdi mah yaqin.
  keur palawargi sadaya nukagungan no contekna diantos di
  rachmat abdillah 081322970843.....sugan we ke ibu Popon nyumpingan lembur 
Cieurih geuningan cakeut ti baregbegmah pikeun ngadongeng dipayuneun 
murangkalih SD jeung masyarakat umum keun kukuring dikempelkeun di AULA atawa 
mun teu cekap dilapang.

mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Popon Segera "Road Show" untuk "Ngadongeng" 
  GURU mata pelajaran kesenian, SMA Negeri I Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Ny. 
Popon Fatonah, sama sekali tidak menduga, akan menjadi juara pertama ngadongeng 
dalam Bahasa Sunda, se-Jawa Barat. Ketika namanya diumumkan sebagai juara, 
Popon tidak bergegas ke panggung, karena antara percaya dan tidak. Namun 
setelah banyak orang yang menyalaminya, ia sadar bahwa kemenangan itu bukan 
sebuah mimpi. 
  "Saya terharu, dan bangga bisa menjadi juara lomba ngadongeng dalam bahasa 
Sunda se-Jabar. Karena semua itu sama sekali tidak pernah saya bayangkan," kata 
Popon saat ditemui "PR", Senin (26/2) di sekolahnya.
  Bagi Popon, menyampaikan dongeng atau cerita merupakan kebiasaannya setiap 
malam untuk mengantarkan tidur bagi tiga anaknya. Dengan mendongeng, Popon 
merasa memiliki hubungan emosional yang lebih dekat antara dirinya dengan tiga 
anaknya. Dari dongeng, ia memberikan banyak pesan yang dibungkus dalam dinamika 
dan ragam cerita.
  Dari kebiasaan itu, dengan sendirinya ia melakukan sosialisasi berbahasa yang 
baik, serta tata krama kepada anaknya. Cara yang dilakukan sekaligus 
menggambarkan, bahwa kebaikan akan selalu menang. "Kadang cerita dongeng untuk 
anak-anak ini, hasil karangan saya sendiri. Yang paling penting bisa membangun 
imajinasi anak, menarik serta menyampaikan pesan yang baik. Saya merasa selama 
ini bahagia sekali, karena hubungan dengan anak-anak begitu harmonis buah dari 
kebiasaan memberikan dongeng itu," katanya.
  Nilai positif lain, kalau tradisi mendongeng masih dibangun adalah adanya 
dorongan yang besar untuk membaca buku sejarah, kisah-kisah orang besar. Dari 
berbagai bacaan itu, ia kemudian mengubahnya menjadi bahan cerita seru yang 
diekspresikan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami.
  Tapi, kebiasaan memberikan dongeng yang selama ini dilakukan, hanya sebatas 
untuk pendidikan di rumah atau keluarga. Waktu itu Popon tidak pernah ikut 
lomba ngandongeng, baik di Ciamis maupun tempat lainnya. Makanya, ketika ada 
lomba ngadongeng basa Sunda untuk ibu-ibu rumah tangga berusia 20-40 tahun, 
yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemrov Jabar, Kamis 
(15/2), ia tidak menargetkan apa pun.
  "Saya hanya ikut lomba. Cerita yang saya angkat yaitu Ciung Wanara. Ternyata, 
cara saya menyampaikan dongeng ini, dinilai baik. Padahal, saya tidak punya 
pengalaman lomba mendongeng. Pengalaman saya pernah melatih dongeng untuk 
anak-anak SMP di Panawangan, Kabupaten Ciamis. Memang waktu itu, anak-anak 
tampil sebagai juara dua untuk lingkungan pelajar di Jabar. Tapi saya sendiri 
baru pertama kali ikut dan akhirnya menang," kata perempuan kelahiran 3 Fe-
  bruari 1968 ini.
  Popon mengakui bahwa saat ini sudah tak banyak lagi orang tua memberikan 
dongeng kepada anak-anaknya, baik karena kesibukan orang tua itu sendiri, 
maupun karena maraknya tontonan di televisi. Tapi ia merasa yakin bahwa melalui 
dongeng dari orang tua ke anak, banyak manfaat yang dirasakan.
  Popon sendiri selain sebagai guru di SMAN Baregbeg, dikenal aktif di teater 
yang ada di Ciamis. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan seni di Tatar Galuh 
Ciamis. Lulusan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Galuh ini, 
sudah 12 tahun berprofesi sebagai guru. Awalnya, ia mengajar di SMPN 
Panumbangan, lalu sejak setahun lalu pindah ke SMAN Baregbeg, untuk mengajar 
mata pelajaran kesenian.
  Kini setelah tampil sebagai juara mendongeng, Popon akan berkampanye 
melakukan road show ngadongeng ke sekolah-sekolah. "Ini untuk menumbuhkan lagi 
budaya ngadongeng," katanya. Karena tanpil sebagai juara itu pula, kini Popon 
sering disebut "Ratu Dongeng".
  Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Wawan Arieffin mengatakan, dirinya 
sangat gembira dengan kemenangan Popon. Itu menunjukkan bahwa masih ada guru 
yang bisa menjadi pioner dalam mempertahankan tradisi yang hampir punah di 
tengah masyarakat.
  "Waktu dulu, dongeng merupakan pengantar tidur bagi anak-anak, selain perekat 
hubungan dalam keluarga. Tapi tradisi itu sekarang hampir punah, dan beruntung 
ada guru di Ciamis yang tampil hingga jadi juara," katanya. (Undang 
Sudrajat/"PR")***
  Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/28/0702.htm

  

         

                
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke