sim kuring kataji ku kiprahna.

  Manawi aya nu kagungan kontak atanapi komunitasna, mugia kersa ngawartosan. 

  Hatur nuhun


    ----- Original Message ----- 
    From: mj 
    To: [email protected] 
    Sent: Friday, March 09, 2007 12:57 PM
    Subject: [Urang Sunda] Zaini jeung Hong jeung kaulinan barudak sunda



    Kenging ngorowot ti Kompas poe ieu...
    Edisi cetak, kaca 16...

    Zaini dan Mainan Tradisional 

    Bulu matanya penuh embun karena berjalan selama 1,5 jam sejak subuh. Kampung
    dan sekolahnya berjarak sekitar lima kilometer. Sesampai di sekolah, ia
    kedipkan mata dan embun-embun yang menggantung itu membasuh matanya. "Segar
    sekali," kata Mohamad Zaini Alif (31) mengenang masa SMP. 

    Tak hanya embun yang menemani lelaki dari Kampung Bolang, Desa Cibuluh,
    Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini berangkat
    sekolah, pepohonan karet dan kluwak di kebun-kebun pun menjadi bagian hidup
    peneliti mainan tradisional ini. 

    Ketika lelah sehabis sekolah, ia dan teman-temannya mencari biji pohon-pohon
    tersebut untuk dibuat kerkeran, mainan seperti kipas angin. Baling-balingnya
    terbuat dari bambu dengan penyangga dari biji-karet, kluwak, atau batok
    kelapa. 

    "Proses membuat kerkeran lebih seru daripada memainkannya," tutur Zaini
    mengenang saat berburu bambu dililit tanaman rambat di kebun-kebun yang amat
    bagus untuk dibuat baling-baling. 

    Bagi anak kampung seperti dirinya, mainan buatan sendiri adalah bagian indah
    dari hidup yang terbawa hingga dewasa. Ia memainkan kolencer (sejenis kipas
    angin yang dipancang di sawah) dan karimbing (alat tiup dari batang bambu
    yang disobek tengahnya) untuk mengusir binatang hama padi seperti serangga
    dan burung. Ia juga membuat wayang golek dari batang daun singkong yang
    mengering. 

    Lulus dari SMA, ia ingin sekali meneliti mainan anak-anak. Ia masuk ke
    jurusan Desain Produk, Institut Teknologi Nasional (Itenas), Kota Bandung.
    Sambil kuliah, tahun 1996 ia mulai mendesain dan membuat mainan edukasi dari
    sendal jepit. Ia membuat berbagai mainan pengasah kreativitas dan kemampuan
    motorik anak. Namun, ia tak pernah puas. 

    Saat itu ia mulai mengenang berbagai jenis mainan tradisional yang
    dimainkannya di kampung. Ia pun mulai bertualang, terutama ke
    kampung-kampung adat di Jabar selatan untuk mencatat jenis-jenis permainan
    tradisional. 

    Ia juga mendirikan Hong, komunitas pencinta, peneliti, dan pemroduksi mainan
    anak. Hong adalah kata yang diteriakkan anak-anak Sunda saat bertemu teman.
    "Hong juga berarti pertemuan dengan Yang Mahakuasa," kata Zaini. Komunitas
    Hong terdiri dari anak-anak dan orang dewasa. 

    Punahnya "hempul" 

    Karena terus bergelut di dunia mainan tradisional, Zaini melanjutkan
    pendidikan pascasarjana Desain Produk, Institut Teknologi Bandung, untuk
    meneliti lebih dalam mainan tradisional. "Tidak mungkin meneliti permainan
    tradisional. Tidak ada naskah acuannya," kata dosennya mengingatkan agar
    Zaini mengubah obyek penelitiannya. 

    Namun, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan guru Asid Enu Saputra
    dan Yuyum Sukaesih ini amat berhasrat mengungkap kekayaan mainan
    tradisional. Ia keluar masuk museum dan perpustakaan untuk menemukan naskah
    kuno tentang mainan tradisional masyarakat Sunda. "Saya tak putus asa. Kalau
    mainan tradisional begitu banyak diwariskan leluhur, pasti pernah ada
    seseorang yang menuliskannya," ujar Zaini. 

    Akhirnya Zaini menemukan naskah abad ke-15 Saweka Darma Sanghyang
    Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung yang menyebutkan tentang hempul.
    Hempul adalah orang yang mengetahui aturan memainkan, cara membuat, dan
    filosofi mainan atau permainan. Namun, kini hempul sudah punah. Tak ada
    masyarakat adat di Jabar yang memiliki hempul lagi. 

    "Dulu, mainan sudah jadi hal yang amat penting sehingga ada ahlinya. Jadi
    mainan bagi manusia itu tidak sepele atau sekadar main-main, justru dari
    mainan orang belajar bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur
    keseimbangan otak, bekerja sama, serta mengenal lingkungan," kata suami Mia
    Rosmiati ini. 

    Diburu jadi suvenir 

    Dari perjalanan meneliti mainan tradisional di daerah Jabar selatan saja,
    Zaini menemukan 120 jenis mainan. Mainan digunakan oleh anak-anak dan orang
    dewasa. 

    Orangtua memangku anaknya untuk bermain surser dengan menggerakkan tangan
    anak bergantian ke lulut kanan dan kiri orangtuanya untuk melatih koordinasi
    otak kiri dan kanan serta mendekatkan hubungan keduanya. 

    Anak-anak bermain jajangkung (egrang) untuk melatih keseimbangan, mengusir
    sepi dengan memainkan keprak (batang bambu yang dibelah salah satu ujungnya
    menjadi lengkungan), hatong (batang bambu yang disobek dan dilubangi), atau
    celempung (bambu yang dilubangi dan dipukul). 

    Kini, Zaini banyak diminta memamerkan hasil temuannya. "Ternyata banyak
    orang yang senang bernostalgia dengan mainan tradisional dan ingin
    menyimpannya sebagai suvenir," ungkap Zaini yang kini menjabat selaku dosen
    Desain dan Kebudayaan di Itenas ini. 

    Karena masih sulit menemukan ahli membuat mainan anak, ia dan komunitasnya
    baru mampu membuat mainan tradisional untuk sekadar dipamerkan agar
    masyarakat menyadari pentingnya mainan dan permainan tradisional. Ia juga
    berharap masyarakat mau memelihara alamnya karena bahan untuk mainan
    tradisional selalu dari alam yang hijau. 

    Kini, ia sedang berusaha mencari sponsor untuk meneliti penyebaran budaya
    berdasarkan peta penyebaran mainan tradisional. Ia juga berharap bisa
    membuat komunitas mainan tradisional di berbagai provinsi agar terekam
    seluruh keakraban budaya dan alam manusia Indonesia. 

    Siapa tahu dengan pendekatan cara bermain, kelak orang tak main-main lagi
    dengan alam. Tidakkah orang masih ingin merasakan memainkan embun pagi untuk
    membasuh mata? (Yenti Aprianti)



     

 

Kirim email ke