Pasal 30: Melarang pembangunan rumah ibadah agama lain jika sudah 
ada gereja..........
  Atawa sabalikna, teu meunang ngadirikeun rumah ibadah agama lain mun geus aya 
masjid.
  Ieu ngarana diskriminasi, Sabenerna mun hayang rukun mah kudu ngidinan agama 
naon bae ngadirikeun rumah ibadahna masing masing. Kabeh boga hak nu sarua WNI. 
Nu teu meunang teh ngaganggu ketertiban umum. Contona lamun dikomplex perumahan 
nu mayoritas muslim ngadirikeun gereja, lain teu meunang ngadirikeun gereja 
tapi akibatna nu datang ka gereja teh pasti urang jauh nu marake mobil/motor, 
heg mobilna teh parkir sapanjang jalan komplex lu lebarna ngan tilu meter atuh 
matak macet. Kadang kadang mobil warga teu bisa kaluar da kahalangan ku mobil 
tamu.  Nya kitu deui masjid, mun di lingkunganana aya urang non muslim wayahna 
mun manehna teu ngidinan speakerna tarik teung, nya kudu dilaunan, arahkeun 
speakerna ka nu mayoritas muslim. Kecuali mun dilingkungaan muslim wungkul, eta 
mah wajib ditarikeun, ngelingan waga, hayu urang solat.
  Wasalam,
  Kang Santosa


waluya56 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Sanggeus aya sababaraha Perda di 
Daerah Tingkat II didasarkeun 
Syariat Islam, Urang Manokwari Papua oge embung eleh, rek nyieun 
Perda didasarkeun ka Syariat ....Injil. Wartosna nyanggakeun tina 
koran Republika :

Manokwari Godok Raperda Berbasis Injil

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=287214&kat_id=3

JAKARTA -- Pemerintah dan DPRD Kab Manokwari, Provinsi Irian Jaya 
Barat, sedang memfinalisasi rancangan peraturan daerah (raperda) 
pembinaan mental dan spiritual berbasis Injil. Raperda yang 
dimunculkan kali pertama pada 7 Maret 2007 itu dinilai merugikan 
pengembangan agama lain di daerah tersebut.

Julukan Manokwari sebagai Kota Injil, kata Wakil Ketua DPRD 
Manokwari, Amos H May, baru sebatas wacana. Usulan raperda itu 
hanyalah pokok pikiran yang diusung unsur gereja dan sejumlah 
pakar. ''Bentuknya baru berupa pokok pikiran, bukan raperda karena 
tidak diusulkan eksekutif dan legislatif,'' ujar Amos saat
dihubungi, Kamis (22/3).

Namun, dia mengakui jika usul tersebut sudah masuk ke eksekutif. 
Walau, ada sejumlah pasal yang bertentangan dengan peraturan di 
atasnya, terutama terkait cara peribadatan. ''Hal bertentangan ini 
perlu dikaji, sehingga jika diberlakukan tidak menimbulkan konflik 
SARA,'' kata Amos.

Dia menjanjikan, peraturan yang dibuat tidak akan menimbulkan 
perpecahan karena pada dasarnya setiap orang menginginkan kotanya 
baik. Sebagai awalan, minuman keras dan prostitusi akan 
dilarang. ''Peraturan ini untuk mewanti-wanti
masyarakat supaya mengubah perilakunya.''

Di antara isi pasal raperda itu adalah melarang pemakaian busana 
Muslimah di tempat umum, melarang pembangunan masjid di tempat yang 
sudah ada gereja. Dibolehkan dibangun masjid atau mushala, asalkan 
disetujui tiga kelompok masyarakat (terdiri atas 150 orang) dan 
pemerintah setempat terlebih dulu.

Raperda juga melarang azan, dan membolehkan pemasangan simbol salib 
di seluruh gedung perkantoran dan tempat umum. ''Kami khawatir, 
raperda ini memunculkan kekerasan,'' kata Junaidi, warga Manokwari 
yang juga aktivis GP Anshor, belum lama ini di Jakarta.

Kerusuhan yang memecah kerukunan umat beragama di Ambon dan Poso, 
bisa terjadi di Manokwari jika Pemda dan DPRD setempat bersikukuh 
mengesahkan raperda itu. Kondisi demografis di Manokwari mirip 
dengan Ambon dan Poso. Menurut Junaidi, selisih penduduk non-Muslim 
dan Muslim di Manokwari tidak terpaut jauh. Sedangkan komposisi 
anggota DPRD, dari 25 anggota dewan, empat di antaranya
Muslim.

Sejauh ini, situasi masih damai dan tenang. ''Warga juga tak 
menghendaki raperda yang membuat hidup rukun kami jadi bermusuhan,'' 
kata Junaidi. Dari perspektif hukum, kata mantan ketua YLBHI, 
Munarman, raperda itu rancu dan diskriminatif terhadap raperda 
antimaksiat yang pernah diusulkan di beberapa daerah, tapi
ditentang oleh LSM sekular. Bahkan, raperda antimaksiat itu dicap 
sebagai bentuk radikalisme.

''Padahal, raperda itu tak pernah melarang penganut agama selain 
Islam pergi ke tempat ibadah, atau menggelar ibadahnya,'' jelas 
Munarman. Raperda sejenis di Manokwari, menurut Ketua Harian KAHMI, 
Asri Harahap, menjadi bibit munculnya perpecahan. Semestinya, 
raperda ini tak diterbitkan karena hanya mengistimewakan
satu agama saja. ''Butuh kearifan dari pemimpin daerah untuk tidak 
meletupkan perpecahan di tengah bencana yang bertubi-tubi menimpa 
bangsa Indonesia. Kami menyesalkannya,'' kata dia. tid/ren

Pasal Diskriminatif Reperda Manokwari

Butir 14 Ketentuan Umum: Injil sebagai kabar baik
Pasal 25: Pembinaan mental memperhatikan budaya lokal yang menganut 
agama Kristen
Pasal 26: Pemerintah dapat memasang simbol agama di tempat umum dan 
perkantoran
Pasal 30: Melarang pembangunan rumah ibadah agama lain jika sudah 
ada gereja
Pasal 37: Melarang busana yang menonjolkan simbol agama di tempat 
umum



         

 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

Kirim email ke