Aya warta ti Kantor Berita Antara, cenah pendidikan seks nu ayeuna 
aya di urang kulon, cikal bakalna ti Islam. Mangga geura ieu 
wartosna, kenging nyutat ti millis tatangga :

http://www.antara.co.id/arc/2007/3/31/pendidikan-seksual-islam-
dicontoh-barat/
 
31/03/07 08:29

Pendidikan Seksual Islam Dicontoh Barat

Sana`a (ANTARA News) - Pada masa keemasan Islam yang dipimpin oleh 
tokoh-tokoh Muslim yang sebagian besar dari bangsa Arab, sumber ilmu 
pengetahuan hampir seluruhnya berasal dari timur (negeri Muslim).

Barat yang masih dalam masa kegelapan kala itu belajar banyak ilmu 
dari Arab seperti kedokteran, ilmu aljabar, ilmu astronomi, kimia, 
fisika, politik, sosial, psikologi dan sejumlah disiplin ilmu 
lainnya.

Apakah termasuk juga pendidikan seksual yang saat ini masih tabu 
dibicarakan secara terbuka di kalangan masyarakat Arab? 

Menurut DR Fauziah Al-Dare, pendidikan seksual berkualitas secara 
Islami berasal dari kawasan Arab yang kemudian juga dicontoh 
masyarakat Barat.

"Pendidikan seksual juga dari Arab, seperti ilmu-ilmu lain layaknya 
aljabar dan kimia. Buktinya, Dewan Senat Inggris pernah melarang 
penerjemahan pendidikan seksual Arab ke dalam bahasa Inggris pada 
tahun 1865," kata perempuan doktor spesialis pendidikan seksual asal 
Kuwait itu kepada TV Alarabiya, Dubai Jumat (30/3).

Dalam paket acara "idha`at" (sorotan) yang disiarkan langsung 
setelah shalat Jumat itu, doktor tamatan Fakultas Ilmu Jiwa Jurusan 
Pendidikan Seksual di Universitas York, Inggris, tersebut menilai 
bahwa Islam adalah agama yang paling banyak mengupas tentang 
pendidikan seks.

Paket acara TV Arabiya tersebut dikhususkan untuk mengupas berbagai 
isu yang menjadi sorotan publik Arab. "Pada tahun 1850, ditemukan 
sebuah buku bahasa Arab yang mengupas tentang seks di Prancis, lalu 
diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis," katanya lagi.

DR. Fauziah yang membahas tentang pendidikan seks lewat paket 
tetapnya bertajuk "siratul hub" (biografi cinta) di TV Alraai, 
Kuwait menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat negaranya.

Salah satu tema yang pernah dibahas dalam paket itu yang mendapat 
reaksi dari media massa setempat adalah tentang besar dan panjangnya 
alat vital laki-laki. Tapi, sang doktor tetap tidak bergeming, dan 
menilai apa yang disampaikannya masih sebatas koridor syariat Islam.

Pakar seks Arab yang sekarang selalu memakai jilbab itu, yang 
menyelesaikan S2 di Amerika Serikat (AS), juga menjelaskan masa-masa 
studinya di negeri Paman Sam tersebut dan kehidupan pribadinya 
sebelum memakai jilbab. 

Tentang program "siratul hub" yang dibawakannya, ia menjelaskan 
bahwa bertujuan memberikan pemahaman kepada publik agar tidak 
terpengaruh iklan-iklan yang menyesatkan.

"Saya melihat beberapa iklan di majalah tentang alat vital pria, 
karena itu saya perlu mengupasnya dalam salah satu tema program 
tersebut agar jelas bagi publik bahwa ukuran alat vital tidaklah 
sebagai ukuran kepuasan hubungan seksual," katanya.

Fauziah menegaskan bahwa tema tentang alat vital itu merupakan yang 
paling sulit dibawakannya dalam paket program rutin biografi cinta. 

"Yang jelas, saya melihat publik semakin mengerti permasalahan ini," 
katanya lagi.

Meskipun pengupasan tentang pendidikan seks secara terbuka di 
masyarakat Kuwait dan Arab umumnya masih tabu, namun ia menegaskan, 
akan tetap melanjutkan program rutinnya "siratul hub", karena 
keyakinan akan pentingnya pendidikan yang satu ini bagi publik Arab. 
(*)


Copyright © 2007 ANTARA


Kirim email ke