bahan kenging ngorowots ti: masarakat sadar sejarah, mesiass.
http://www.mesias.8k.com/dewisartika.htm


Dewi Sartika
Istri-Istri, Bersekolahlah!

DI SEBUAH ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika
mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Saat itu tahun
1902, ketika wanita pribumi masih jauh dari mandiri karena kungkungan
adat. Dan pendidikan bagi dia adalah jalan keluarnya. Inilah alasan kenapa
Dewi Sartika mencetuskan gagasan mendirikan sekolah wanita pribumi yang
pertama di Indonesia. Dia mengajarkan cara merenda, memasak,
jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya. Muridnya membawa
makanan, beras, garam, buah-buahan, dan sebagainya untuk Dewi Sartika dan
ibunya.

Kegiatan ini perlahan tecium Inspektur Pengajaran Hindia Belanda di
Bandung, C. Den Hammer. Den Hammer menilainya kegiatan liar yang
membahayakan dan patut dicurigai. Tapi, setelah melihat secara dekat, Den
Hammer menilai positif, bahkan terkesan dengan pemikiran dan obsesi Dewi
Sartika yang ingin mendirikan sekolah wanita pribumi.

Dukungan Den Hammer ternyata tak cukup. Masih saja ada yang menghalangi
usahanya. Alasannya bertentang dengan adat istiadat. Inilah yang lebih
menyedihkan Dewi Sartika. Dalam salah satu artikelnya dia menyayangkan,
“… masih banyak di antara orang-orang setanah air saya yang
rupanya selalu berusaha untuk lebih dahulu menentang segala yang
baru”.

Den Hammer ikut prihatin. Dia lalu mengusulkan agar Dewi Sartika meminta
bantuan dari Bupati Bandung R.A. Martanegara.

Dewi Sartika ragu. Dia belum bisa melupakan pengalaman pahit yang menimpa
keluarganya sembilan tahun silam. Ketika itu ayahnya, Raden Rangga
Somanegara, harus menjalani hukuman buang ke Ternate hingga meninggal
dunia di sana. Pemerintah Hindia Belanda membuangnya karena ayahnya
menentang pelantikan R.A. Martanegara sebagai Bupati Bandung. Dewi Sartika
sudah membayangkan bahwa dia akan kena marah ibunya dan mungkin akan
dimusuhi oleh saudara-saudaranya Tapi setelah berpikir ulang, dia akhirnya
menerima usul Den Hammer.

Bupati Bandung R. A. Martanegara terkejut mengetahui Dewi Sartika hendak
menghadapnya. Apalagi mendengar gagasan Dewi Sartika yang ingin mendirikan
sekolah bagi wanita pribumi. Ada rasa haru, kagum, tapi sang bupati perlu
waktu untuk merundingkan ide itu dengan sejumlah sahabat dan kerabat
dekatnya. Tak lama kemudian Dewi Sartika dipanggil di pendopo dalem.

"Nya atuh Uwi, ari Uwi panting jeung kekeuh haying mah, mugi-mugi bae
dimakbul ku Allah nu ngawasa sekuliah alam, urang nyoba-nyoba nyien sakola
sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya ka teu ngeunah di akhir,
sekolah the hade lamun di pendopo wae heula. Lamun katanyaan henteu aya
naon-naon, pek bae pindah ka tempat sejen," ujar Martanegara.

Hilang debaran dan rasa was-was itu. Dewi Sartika senang. Ucapan sang
bupati menandakan dukungan dan perlindungan atas rencananya mendirikan
sekolah untuk wanita pribumi. Maka, pada 16 Januari 1904, Sakola Istri
berhasil dibentuk –istri dalam bahasa Sunda berarti juga wanita.
Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya,
Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Untuk sementara tempat belajar meminjam ruangan
di Paseban Barat di halaman depan rumah Bupati Bandung. Murid yang
diterima untuk kali pertama sebanyak 60 siswi, yang sebagian besar berasal
dari masyarakat kebanyakan.

Pada 1905 sekolah tersebut pindah ke jalan Ciguriang-Kebun Cau karena
ruangan tak mampu lagi menampung jumlah siswi yang bertambah. Lokasi baru
ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya plus bantuan dana
pribadi dari Bupati Bandung.


DI LINGKUNGAN keluarganya, Dewi Sartika yang lahir dari keluarga
“Menak” di Bandung lebih akrab dipanggil Uwi. Dia putri dari
perkawinan Raden Rangga Somanagara dengan Raden Ayu Rajapermas. Lahir di
Bandung pada 4 Desember 1884 ketika ayahnya menjabat Patih Afdeling
Mangunreja. Tujuh tahun kemudian ayahnya menjadi Patih Bandung.

Dewi Sartika tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya di sebuah
rumah besar yang terletak di Kepatihan Straat. Rumah besar itu
semipermanen berhalaman sangat luas yang terletak di pinggir jalan raya.
Di berandanya terdapat pot-pot bunga besar berisi tanaman suflir dan
kuping gajah yang tertata rapi. Di halamannya yang cukup luas
tumbuhiberbagai tanaman serta bunga, termasuk bunga hanjuang merah yang
menjadi ciri khas orang Sunda.

Kebutuhannya hari diurus dan dilayani para abdi dalem yang setia dan
patuh. Jauh dari kesusahan dan kesengsaraan. Untuk acara cukup penting,
ayahnya acap mengajaknya serta saudara-saudaranya. Misalnya menonton acara
pacuan kuda di Tegallega, pagelaran hiburan rakyat, dan sebagainya.

Dewi Sartika bersekolah di Eerste Klasse School. Dia mendapat kesempatan
belajar bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Gerak-geriknya lincah, sigap,
dan berani, agak berbeda dari wanita umumnya. Bicaranya pun lugas dengan
tutur kata yang tegas dan terkadang bernada keras. Kendati sehari-hari dia
mengenakan kebaya dan kain panjang, boleh dibilang pembawaannya agak
tomboy.

Keinginannya mengajar sudah terlihat sejak kecil. Dia suka mengambil peran
sebagai guru saat bermain sekolah-sekolahan bersama teman-teman perempuan
sebayanya, sepulang dari sekolah dasar di Cicalengka.


KEGIATAN Dewi Sartika sebagai kepala sekolah cukup menyita waktunya. Dia
berangkat pagi dan pulang tengah hari. Begitu berlangsung setiap harinya
sehingga menimbulkan keibaan bagi ibunya yang tak ingin melihat putrinya
bertambah usia dan tak kunjung punya suami. Dewi Sartika pada mulanya
pernah dilamar keluarga Pangeran Djajadiningrat dari Banten untuk salah
satu putranya. Lamaran itu ditolak dengan alasan belum mengenalnya, meski
ibunya berkenan dengan pria itu.

Suatu hari, Dewi Sartika membantu menyediakan hidangan di rumah Bupati.
Lalu dia bertemu dengan seorang pria gagah yang menggugah hatinya. Pria
tersebut bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata, salah seorang guru di
Erste Klasse School di Karang Pamulang. Pertemuan itu berlanjut menjadi
hubungan yang lebih akrab.

Pada mulanya sang ibu keberatannya jika Dewi Sartika menikah dengan Raden
Agah. Menurutnya, Raden Agah tak setara untuk menjadi suami putrinya,
karena Dewi Sartika adalah putri seorang Patih Bandung yang sangat
disegani banyak pihak. Dewi Sartika kecewa dan menganggap ibunya kolot dan
tak realistis. Tapi, meski ditentang, dia tetap menjalin hubungan dengan
Raden Agah. Akhirnya sang ibu pun menyetujui, dan pada 1906, resmilah
Raden Kanduruan Agah Suriawinata menjadi suami Dewi Sartika.

Upaya Dewi Sartika terus berlanjut, bahkan mengalami kemajuan. Pada 5
Nopember 1910, persisnya Minggu pukul 19.00 WIB, Perkumpulan Kautamaan
Istri dibentuk Residen Periangan W.F.L. Boissevain di kediamannya. Hadir
dalam peresmian itu antara lain Inspektur Pengajaran J.C.J. Van Bemmel,
Bupati Bandung R.A.A. Martanegara dan dua orang Raden Ayu, Dewi Sartika
dan Raden Agah, serta sejumlah pejabat Belanda dan para istrinya. Tujuan
Perkumpulan Keutaman Istri untuk mendukung pengembangan dan pembangunan
sekolah wanita pribumi yang dipimpin Dewi Sartika. Tugas perkumpulan
berusaha menghimpun dana dari para dermawan Belanda maupun pribumi.

Perkumpulan Keutamaan Istri yang dipimpin oleh istri Residen Periangan
dalam waktu singkat telah membuahkan hasil. Dana yang terhimpun bisa untuk
mendirikan cabang Sakola Kautamaan Istri di daerah Sumedang, Cianjur,
Sukabumi, Tasikmalaya, Garut, Purwakarta dan berbagai kota lainnya di Jawa
Barat. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Sakola Kautamaan Istri
menyesuaikan kurikulumnya dengan kurikulum Tweede Klasse School. Tapi,
bidang studi ketrampilan wanita masih tetap menjadi acuan utama.

Perkembangan itulah yang menarik para pejabat pemerintah untuk berkunjung.
Bahkan pemerintah juga memberikan bantuan dana untuk membiayai. Hingga
akhirnya pada 1929 sekolah ini memiliki gedung sendiri, dan berganti lagi
namanya menjadi Sekolah Raden Dewi.

Pada 25 Juli 1939 Dewi Sartika harus kehilangan suami tercintanya. Raden
Agah meninggal dunia. Meski sedih, Dewi Sartika masih punya tanggung
jawab; melanjutkan upaya memajukan sekolah wanita. Seperti biasa pula
sebelum waktu belajar dimulai, Dewi Sartika akan berdiri didepan ruangan
sekolahnya, membunyikan lonceng kuningan yang nyaring sebagi tanda
dimulainya waktu belajar.

Dewi Sartika sendiri meninggal pada 11 September 1947 dan dimakamkan
dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa
Rahayu, Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di
kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar Bandung.*(budi
setiyono/bsumber/buku Sang Perintis – R. Dewi Sartika)
mj

http://geocities.com/mangjamal




Kirim email ke