kang ukay...basa thn antara 1996 1999 eta aya dimana.....upami mulih kalembur nitip salam wae nya ka...karyawan didinya...tah aya anu namina mang darkom...baheula mani ngabantos pisan ka abdi mah..jiga na anjeun na masih dipuskesmas pedes keneh....tong hilap nya..titip sonoooooooo..pisan...deuh saha nya namina hilap nu kaduh bumi anu waktos harita pernah di calikan ku abdi sakeluarga....dianggo muka praktek...
Ukay Karyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Kanggo Teh Leli sareng Kang
Marwan
Lembur abdi na di Kp Pedes Ds Payungsari Kec Pedes. SD abdi kan caket
Puskesmas. Tapi ayuena damel di Jakarta, linggih di bogor.
leli nurleli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
wah kang ukay...lembur na dimana na?......kang lamun soal tkw mah tos
ti baheula...malah alhamdulilah...para tkw ti kacamatan abdi mah..seueur anu
berhasil....(jaman harita eta ge...)malah dari para tkw eta jigana kehidupan
masyarakat di pedes rada bisa setara sareng desa2 nu sanes.....
harita oge basa abdi tugas di ditu ...masih seueur masyarakat anu busung
lapar....tapi nya kitu walaupun program pemberantasan terus dilakukan...tapi
teu aya atnapi mung sakedik anu tiasa di dongkrak na...da program pemerintah
waktu itu dengan pelaksanaan nana..teu sajalan. seueur teuing bolong di
mana2.bolong dari mulai tingkat atas..dugikeun ka tingkat handap di instansi
kesehatan....idealis yg dibawa dari kampus...teu aya anu tiasa
dipraktekkeun.dilapangan.....yah itu mah sekedar kenangan bagaimana susah nya
seorang kepala puskesmas muda yg dengan sejuta ambisi ingin membangun desa
pedes....heuheuheu...jadi seuri sorangan inget waktos pribados di demo
karyawan...karena ceuk mereka cara pembagian THR...abdi teu adil
ceunah....geuningan adil menurut kita belum tentu adil menurut orang lain
nya....tah eta oge pelajaran anu ku pribados diraoskeun...
Ukay Karyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Waduh pedes mah lembur kuring. Dibanding suasana taun 1999, Kiwari teu
aya parubahan anu signifikan, paling-paling wargina seeur any jadi TKW ka saudi.
Kab Karawang bagian kidul (daerah industri) sareng bagian kaler (daerah
pertanian) timpangna masih karaos pisan. Padahal lamun para pamimpina cerdas
mah masalah eta tiasa diatasi. Maenya, lumbung padi nasional tapi rakyatna loba
anu miskin.
leli nurleli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
melihat perjalanan panjang kota karawang....eh naha jadi bhs indonesia
punten ah...
abdi janten emut waktos kapengker....waktos pribados ngabakti di tanah
karawang sekitar tahun 1996 sampai 1999.....kalelersan pribados di tempatkeun
di kacamatan pedes...caket sareng rengas dengklok....selama 3 tahun abdi ulung
biung di desa eta....dikecamatan eta....waktos eta mah masih
seueur...pasawahan....suasana desa masih sangat kental....
hanya 3 tahun saya ditempatkan disana tapi rasanya saya sudah menjadi bagian
dari masyarakat tersebut...suka duka...pengalaman di
demo...karyawan....wah...semua jadi kenangan yg tak terlupakan...setiap malam
selalu ada masalah yg melanda masyarakat disana....upami aya anggota milis ini
anu sok ka puskesmas kecamatan Pedes...pang nitip keun salama wae ti
pribados....kanggo karyawan..puskesmas na...
jadi sedih...tur sono....anu sono ka lembur.......
"Marwan Faizal A. Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sekilas perjalanan Kabupaten Karawang dari waktu ke waktu.
Kapan terbentuknya daratan di daerah Kabupaten Karawang dan kapan orang pertama
kali menetap di daerah ini tidak dapat ditentukan dengan pasti. Yang jelas
adalah bahwa Jawa dan Indonesia (dalam nama lain Colandia, Kun lun,
Dvipantara, Zabag, Bhar Al Jawa) sudah di kenal oleh orang-orang India (Asia
Selatan), Timur Tengah, Eropa dan China sejak sekitar 2000 tahun yang lalu.
Bahkan di Jawa, berdasar tulisan dari India, sudah ada beberapa negara/kerajaan.
Pada awal abad ke 4 TU (sekitar 1600 tahun yang lalu), berdasarkan prasasti dan
catatan dari China, di Indonesia sudah beberapa negara di Jawa, Sumatera dan
Kalimantan. Berdasarkan catatan dari China ada negara Kan-toli (di Sumatera)
dan di Jawa ada negara Ho lo tan/To lo mo (Taruma). Berdasarkan
prasasti, ada negara/kerajaan miliknya raja Mulawarman di Kalimantan Timur (di
Kutai) dan negara Taruma miliknya raja Purnawarman di Jawa Barat (di Jakarta
dan sekitarnya). Masih berdasarkan catatan dari China, di Jawa juga ada negara
Cho po (Jawa).
Pada abad ke 4 TU hingga awal abad ke 7 TU, menurut catatan China, terdapat 2
(dua) negara besar di Indonesia, yaitu Kan-to-li (di Sumatera) dan Ho-lo-tan
(To-lo-mo, Taruma) di Jawa.
Negara Ho-lo-tan/To-lo-mo (Taruma) yang pusatnya di sebelah barat Sungai
Citarum/Karawang sangat mungkin juga berkuasa di daerah Kabupaten Karawang
(sebelah timur kali Citarum/Karawang).
Pada awal paroh pertama abad ke 7 TU, Negara Kan-To-li di Sumatera telah
digantikan/ diteruskan oleh negara Mo lo you (Malayu, di Jambi),
ShilIfotshi (Sriwijaya, di Palembang) dan To lang dan Poh wang(Tulang
Bawang, di Lampung). Pada akhir abad ke 7 TU negara/kerajaan Shi-li-fo-shi
(Sriwijaya) sudah menaklukan dan memasukan Mo-lo-you (Melayu), To-lang dan
Poh-wang (Tulang Bawang). Shriwijaya juga menaklukan Bangka-Belitung dan
menaklukan Kedah (di seberang Selat Malaka di Semenanjung Malaysia) dan
To-lo-mo (Taruma, di seberang tenggara Laut Jawa di Jawa). Boleh dikatakan juga
bahwa saat ini pun daerah Kabupaten Karawang ikut masuk dalam wilayah jajahan
Shriwijaya. Tetapi Bhumi Jawa di Jawa Tengah (di bawah raja-raja Dinasti
Syailendra) menolak bergabung dengan Shriwijaya.
Pada awal abad ke 8 TU, raja Sanjaya (salah satu pangeran dari Dinasti
Shailendra) telah menyatukan kembali kerajaan/negara Jawa milik kakak ibunya.
Seperti raja-raja Sriwijaya, Sanjaya berusaha menyatukan Jawa dan Indonesia.
Berdasarkan catatan dari China, para penggantinya meneruskan usaha ini bahkan
melanjutkan penyatuan/penaklukan ke Daratan Asia Tenggara (Khmer di Kamboja dan
Champa di Vietnam Tengah). Para Penggantinya mulai memakai gelar Shri Maharaja
(The King of kings) dan keturunan dari penggantinya menjadi raja di Suwarna
(Shriwijaya, Sumatera) dan di Angkor (Kamboja). Dan seperti Dinasti Shailendra
di Jawa, para keturunan/cabang Dinasti Shailendra di Sumatera dan Kamboja juga
banyak membangun bangunan-bangunan yang indah. Pada saat ini boleh dikatakan
bahwa daerah Kabupaten Karawang juga termasuk dalam wilayah para Maharaja
Shailendra Jawa.
Pada pertengahan akhir abad ke-9 TU, "persatuan" negara Dinasti Shailendra ini
(Jawa dan Indonesia) sudah tidak utuh lagi. Angkor (Kamboja) sudah menyatakan
merdeka. Demikian juga dengan Suwarna (Sumatera/Shriwijaya) dan Kedah
(Semenanjung Malaysia). Jawa sendiri juga dalam beberapa tahun mengalami
"chaos", dan Maharaja Balitung dan penggantinya untuk beberapa saat berhasil
memulihkan kerajaan. Pada saat ini boleh dikatakan, bahwa daerah Kabupaten
Karawang masih tetap menjadi bagian dari Dinasti Shailendra di Jawa.
Pada awal abad ke 10 TU, negara/kerajaan Shriwijaya (Sribuza, San-fot-tsi)
sudah bangkit kembali dan berhasil menguasai kembali Kedah (di Semenanjung
Malaysia) serta kemudian juga Jambi di kuasai kembali. Sementara itu, Dinasti
Shailendra digantikan/diteruskan oleh Dinasti Ishana dan memindahkan pusat
kekuasaannya di Jawa Timur bagian barat. Di Jawa Barat, di sebelah barat sungai
Citarum/Karawang, Rahyang Juru Pangambat berhasil memulihkan kembali
haji/kepangeranan Sunda. Sangat mungkin tadinya daerah Sunda adalah
kepangeranan/vasal dalam negara Taruma.
Pada akhir abad ke 10 TU, Maharaja Teguh Darmawangsa berhasil menyatukan Jawa,
dan berdasarkan informasi dari China meluakan wilayahnya ke San-fot-tsi
(Shriwijaya/Sumatera). Dari prasati diketahui bahwa kerajaannya/negaranya
hancur akibat serangan dari haji/gubernur Wura Wari (Jawa Tengah bagian barat).
Pada tahun-tahun ini bisa diperkirakan bahwa daerah Kabupaten Karawang pun
masuk dalam wilayah Maharaja Teguh Dharmawangsa.
Pada awal abad ke 11 TU, Maharaja Airlangga berhasil memulihkan kembali wilayah
kerajaan mertuanya dan dalam prasatinya menyebutkan banyak daerah (asal para
pedagang) di seluruh Indonesia, Asia Tenggara, India (Asia Selatan) dan China.
Pada saat yang sama kerajaan Shriwijaya dan daerah-daerah bawahan/jajahannya
sedang mengalami serangan-serangan secara besar-besaran dari
Kerajaan/Kekaisaran Cola (Tamil Nadu, India Selatan). Sementara itu,
Jayabhupati, haji/gubernur Sunda (sebelah barat sungai Citarum/Karawang) sangat
mungkin tetap setia pada Maharaja Airlangga. Daerah Kabupaten Karawang pun pada
saat ini sangat mungkin tetap setia kepada Maharaja Airlangga.
Pada akhir abad ke 11 TU, negara-negara Indonesia sedang mengalami
kelemahan/kekalutan. Di Jawa, persaingan para raja pengganti Maharaja Airlangga
menjadikan Jawa dalam masa kegelapan. Di Sumatera, akibat serangan
besar-besaran dari Negara Cola (Tamil, India Selatan) hingga masa ini
mengakibatkan Kerajaan Shriwijaya menjadi tak berdaya.
Pada awal abad ke 12 TU, raja-raja Dinasti Ishana di Daha-Kediri berhasil
menyatukan Jawa. Dan selanjutnya Maharaja Jayabhaya berhasil menyatukan
Indonesia. Pada saat ini boleh dikatakan, bahwa daerah Kabupaten Karawang juga
ikut masuk dalam wilayah Maharaja Jayabhaya.
Pada akhir abad ke 12 TU, para pengganti Jayabhaya mengalami penurunan kekuatan
dan berdasarkan catatan dari China wilayah dari Su-ki-tan di Jawa terfokus
daerah-daerah Indonesia Timur. Sedang di wilayah bagian barat Indonesia,
negara-negara di Indonesia bagian barat menjadi bagian/jajahan dari San-fot-tsi
(Melayu? yang telah bangkit kembali). Berdasarkan catatan ini, Sun-to (Sunda,
daerah yang banyak bajak lautnya) dan Palembang ikut menjadi wilayah/jajahan
dari San-fot-tsi.
Pada awal abad ke 13 TU, Dinasti Rajasa telah menggantikan/meneruskan Dinasti
Ishana di Jawa dan berpusat di Jawa Timur bagian timur. Sejak awal Dinasti ini
telah menguasai Jawa dan pulau-pulau lain.
Pada separoh akhir abad ke 13, Maharaja Kertanegara berhasil menyatukan
Indonesia, dan juga Malaysia dan Brunei. Dan negara Jawa dan Indonesia
berhadapan dengan Kekaisaran Mongolia Raya yang juga telah menguasai
negara-negara daratan Asia Tenggara. Pada saat ini boleh dikatakan daerah
Kabupaten Karawang juga termasuk dalam Kekaisaran Maharaja Kertanegara.
Pada abad ke 14 TU, boleh dikatan seluruh Indonesia dan juga Malaysia serta
Brunai dan Filipina Selatan boleh dikatan menjadi wilayah/jajahan dan pengaruh
para Maharaja Dinasti Rajasa di Majapahit. Dan daerah Kabupaten Karawangpun
demikian juga.
Pada awal abad ke 15 TU, "persatuan" Indonesia-Majapahit sudah tidak ada lagi.
Malaka (Semenanjung Malaysia) dan Brunai (Kalimantan Utara) sudah merdeka dan
meminta perlindungan ke China dari ancaman Siam (Thailand) dan Vietnam serta
Sulu (Filipina). Palembang pun mulai sering melakukan pemberontakan.
Pada pertengahan abad ke 15 TU, terjadi anarki di Majapahit. Palembang lebih
sering berontak. Dan di Sunda, Prabu Wastu (Wastu Kancana) berhasil menguasai
seluruh Jawa Barat. Pada saat ini boleh dikatakan, daerah Kabupaten Karawang
pun ikut dalam wilayah Prabhu Wastu. Di Indonesia Timur mulai timbul Negara
negara baru.
Pada akhir abad ke 15 TU, Dinasti Demak-Pajang telah menggantikan Dinasti
Rajasa dan berpusat di Jawa Tengah. Wilayahnya selain di Jawa Tengah, juga
termasuk beberapa daerah di Jawa Barat (Cirebon), Jawa Timur (Gresik), Sumatera
(Palembang dan Jambi) dan Kalimantan (daerah barat daya) dan pulau-pulau lain.
Pada saat yang sama, negara Pajajaran didirikan di daerah Bogor dan daerah
Kabupaten Karawang termasuk di dalam wilayah Pajajaran.
Pada awal abad ke 16 TU, wilayah Sultan-sultan Dinasti Demak-Pajang di Jawa
melebar ke barat (pantai utara dan pedalaman Jawa Barat)) dan timur (Pantai
Utara, Madura dan pedalaman Jawa Timur). Pada saat ini wilayah Kabupaten
Karawang juga termasuk dalam wilayah Sultan-sultan Demak. Di Kalimantan dan
Indonesia timur pengaruh Demak juga ada/terasa.
Pada akhir abad ke 16 TU, terjadi kerusuhan dan raja Pajang memindahkan pusat
kerajaan. Daerah pesisir utara Jawa Barat dibagi menjadi wilayah Banten (di
barat) dan wilayah Cirebon (di timur). Sementara daerah Jakarta menjadi wilayah
Banten, sangat mungkin daerah Kabupaten Karawang menjadi wilayah Cirebon.
Akhirnya Dinasti Demak-Pajang di gantikan oleh Dinasti Mataram dan sejak awal
ingin menguasai seluruh Jawa dan Indonesia serta menyerang Banten lewat laut.
Pada awal abad ke 17 TU, Sultan/Susuhunan Mataram sudah menguasai hampir
seluruh Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia (luar Jawa). Sementara itu
VOC sudah mulai berpusat di Batavia (Jakarta). Daerah Kabupaten Karawang dan
sekitarnya menjadi wilayah yang sangat penting bagi Dinasti Mataram. Tumenggung
Singoranu (salah satu Pate Sultan Agung) sangat mungkin juga sering mengunjungi
daerah ini, selain Ciasem (Subang Utara). Demikian juga para pejabat lainnya.
Pada saat ini daerah Kabupaten Karawang ikut dalam wilayah/propinsi Pesisir
(Utara) Barat yang berpusat di Tegal.
Pada akhir abad ke 17 TU, Sunan Amangkurat Agung sudah sejak awal menganggap
bahwa VOC adalah vazal/bawahan bagi dirinya dan para penggantinya. Daerah
kabupaten Karawang tetap menjadi daerah yang penting bagi Dinasti Mataram.
Banyak orang-orang dari Karawang ikut membangun Kraton Susuhunan di Plered
(Bantul, Yogyakarta). Pangeran Martasana, pejabat pesisir (utara) timur sering
mengunjungi daerah ini. Demikian juga lainnya. Saat inipun daerah Kabupaten
Karawang ikut dalam wilayah Pesisir Barat. Perjanjian antara Amangkurat II
(Sunan) dan VOC (vasal Sunan) mengatakan bahwa daerah Karawang diserahkan
(disewahkan, dikelola) oleh VOC.
Pada awal abad 18 TU. Daerah Kabupaten Karawang dan sekitarnya tetap dikelola
oleh VOC (secara teori vasal Sunan di Kartasura).
Pada akhir abad 18 TU. Daerah Kabupaten Karawang dan sekitarnya tetap dikelola
oleh VOC (secara teori vasal Sunan/Sultan di Surakarta dan Yogyakarta). Pada
saat ini VOC mengalami kebangkrutan, dan sering meminjam uang dan tentara ke
para Sultan/Sunan dan semakin terpisah dari Belanda/Eropa. Pada tahun 1800 VOC
ditutup (tutup buku untuk selamanya).
Pada awal abad 19 TU. Gubernur Jenderal Daendels memutuskan/menghentikan
hubungan "teoritis" Sunan/Sultan Vazal dengan para Sunan/Sultan dan "merdeka
penuh". Daerah Karawang sejak saat ini menjadi wilayah Daendels. Letnan
Gubernur Jenderal Raffles (orang Inggris) mengikuti jejak Daendels, dan
mengklaim dirinyalah yang benar-benar penerus para Maharaja di Majapahit dan
penguasa Nusantara/Indonesia, bukan Sultan/Sunan di Yogya dan Surakarta.
Demikian juga dengan Pemerintah Hindia-Belanda (1816-1942), mengikuti jejak
Daendels dan Rafles, mereka benar-benar tidak mau lagi mengakui kemerdekaan
para Sunan/Sultan dan memasukkan mereka dan wilayah mereka sebagai bagian dari
Hindia-Belanda.
Pada akhir abad 19 TU, Daerah Kabupaten Karawang tetap menjadi wilayah Hindia
Belanda (masuk dalam Propinsi/Karesidenan Batavia) dan sebagai salah satu
penghasil sumber hasil bumi.
Pada awal abad 20 TU. Daerah Kabupaten Karawang tetap menjadi wilayah Hindia
Belanda (masuk dalam Karesidenan Batavia). Saat di bentuk West Jawa Province
(Propinsi Jawa Barat-nya Hindia Belanda, 1926), Karesidenan dan Kabupaten tadi
ikut masuk dalam propinsi tersebut. Pada masa pendudukkan Jepang, Daerah
Kabupaten Karawang ini juga ikut diduduki. Pada masa Perang Revolusi
Kemerdekaan Indonesia, daerah ini menjadi daerah yang sangat penting. Saat
menjelang proklamasi, calon Presiden Indonesia yang pertama ada di
Rengasdengklok (sebelah utara Karawang).
Pada akhir abad ke 20 TU, Daerah ini (Kabupaten Karawang) merupakan daerah
penting bagi Indonesia, karena dekat dengan pusat pemerintahan Indonesia. Di
jaman orde Baru (1966 1998), daerah selatan dari Kabupaten Karawang menjadi
daerah industri yang penting. Banyak industri ada di daerah ini seperti : Pupuk
Kujang, Texmaco, Timor, Bukit Indah, Kota Delta? Dan lain lain. Demikian juga
dengan perumahan-perumahan modern untuk para boss, pegawai/pekerja, baik
pemerintahan maupun swasta. Daerah Tengah dan Utara, seperti daerak Kabupaten
Bekasi bagian utara Utara dan timur laut dan Kabupaten Subang, tetap dalam
ketertinggalan dan miskin. Miskin penduduknya dan juga miskin infrastrukturnya.
Pada awal abad ke 21 TU, Kabupaten Karawang memiliki Otonomi Daerah, seperti
Kabupaten kabupaten dan Kota kota lain di Indonesia. Seperti Kabupaten
kabupaten di sebelahnya, penduduknya adalah masyarakat yang multi kultur
(plural), baik dilihat dari asal-usul, etnik, budaya, bahasa, agama,
pendidikkan, kekayaan dan tingkat pendapatan. Diperlukan demokrasi, kebebasan
dan toleransi yang sungguh-sungguh untuk melindungi dan menjamin
keamanan/memberi rasa aman (untuk hak dan kewajiban) dari masyarakat yang
beragam ini.
---------------------------------
Building a website is a piece of cake.
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel
and lay it on us.
http://us.rd.yahoo.com/evt=48516/*http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
hot CTA = Join Yahoo!'s user panel
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
http://us.rd.yahoo.com/evt=48517/*http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
hot CTA = Join our Network Research Panel
---------------------------------
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on,
when.
Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new
Car Finder
tool.http://us.rd.yahoo.com/evt=48518/*http://autos.yahoo.com/carfinder/;_ylc=X3oDMTE3NWsyMDd2BF9TAzk3MTA3MDc2BHNlYwNtYWlsdGFncwRzbGsDY2FyLWZpbmRlcg--
hot CTA = Yahoo! Autos new Car Finder tool<<image/gif>>

