Muhun, tapi dina prak-prakanna mah benten Ieu kecap keur manusa, ieu kecap keur sato. Kecap keur sato teu kenging pagentos sareng kecap keur manusa.
Kecap "Pupus" kanggo menak, pa jabat, jelema jegud, nu ngajajapna ngaleut, bari jeung kana ECNALUBMA. Kecap "Paeh" kanggo jalmi teu nyondong. Nu ngajajapna mung opatan, da paeh eta mah sanes pupus. (Nyutat tina caramah Kang Ibing) --- In [email protected], leli nurleli <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Siapa paling jelek ??! > > Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. > Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. > Ia > menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai Fulan, kau telah menempuh > semua > tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti > kamu lulus ", kata Kyai. > > "Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?" > > "Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri > waktu tiga hari ". Akhirnya santri tersebut > meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas > pertanyaan Kyai-nya. > > Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan pemabuk berat yg dapat > di > katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, " > Inilah > orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun > sedang > dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di rumah, timbul > pikirannya. > "Belum tentu, sekarang Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir > hayatnya > Allah memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku > sekarang > baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul > Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya. > Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg > menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri bergumam, " > Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, > kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas > pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis `Isya, dia merenung, > "Anjing > itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab > atas > perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban > yg > sangat berat yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku. > "Aku > tidak lebih baik dari anjing itu. > > Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah dapat > jawabannya muridku ?" "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang > yang > paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan > lulus". > > Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita masih sama-sama hidup > kita > tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang > berhak > sombong adalah Allah SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup > kita > nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada > orang/mahkluk lain yg sama-sama ciptaan Allah. [] > > [Non-text portions of this message have been removed] >

