wilujeung kangge akang2 sareng teteh2 sadaya! neupangkeun sim abdi ziman,neumbe gabung di ieu forum, mugiya ku ayana forum ieu tiasa nambih2 kalestarian budaya sunda.
upami anu gaduh fs atanapi ym, tiasa di add di: [EMAIL PROTECTED] wassalam. cinta sejati tak akan pernah mati, bagimu PERSIB jiwa raga kami. Persib Bandung dan Harga Diri Daerah (Tamat) Oleh: IIK NURULPAIK IA berasal dari rakyat sebagai wahana hiburan dan memupuk persatuan, kebanggaan sebagai bangsa di era perjuangan kemerdekaan dan prestise kedaerahan hingga ia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan rakyat Bandung dan Jawa Barat. Persib telah menjadi spirit dan jiwa bagi masyarakat Jawa Barat. Masyarakat di Banten pun (yang dulu Jawa Barat) tidak melepaskan kebanggaan, fanatisme, dan dukungannya kepada tim sepak bola asal Kota Kembang ini walaupun secara administratif Banten sudah terpisah dari Jawa Barat, tapi Persib masih dapat dijadikan perekat jiwa yang kuat bersama Jawa Barat. Kalaulah Jawa Barat adalah Siliwangi dan Siliwangi adalah Jawa Barat, demikian pula Persib adalah Jawa Barat, Jawa Barat adalah Persib. Semangat inilah yang dalam realitas sosiologis terpatri dan mengalir dalam identitas kedaerahan yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Jadi, melihat Persib sebagai entitas tim sepak bola dalam konteks sosiologis, tidaklah berdiri sendiri dilihat dari sudut profesionalisme belaka yang ukurannya uang dan prestasi melainkan bagaimana kaitan uang dengan prestise. Prestise menyangkut jati diri, identitas, semangat, bahkan harga diri. lnilah persoalan yang harus kita sadari dalam melihat Persib sebagai sebuah entitas tim sepak bola. Pandangan ini mungkin terlalu naif jika dikaitkan bahwa era sekarang adalah era profesionalisme sehingga segala sesuatunya harus terukur secara materil dan kasatmata. Tapi sekali lagi realitas historis-sosiologis Persib adalah tim olahraga sepak bola yang lahir dari semangat persaudaraan kerakyatan. Kalaupun tuntutan sejarah menghendaki era profesionalisme, barangkali kita butuh waktu untuk mengawalinya. Kembali pada wacana pendanaan Persib, hendaknya kita perlu lebih arif dalam melihat realitas ini. Memang pemkot dan pengurus Persib akan dihadapkan pada pilihan yang sulit. Di satu sisi Persib sudah menjadi bagian dari jiwa rakyat Bandung dan Jawa Barat sehingga menjadi kepentingan publik secara spiritual yang tidak boleh disepelekan signifikansinya. Andaikan Persib "mati" karena tidak mendapat lagi dukungan pendanaan dari Pemkot, kita telah kehilangan harga diri daerah yang tidak dapat dipandang sepele pula. Dalam konteks ini kita berharap bahwa dengan ataupun tanpa dukungan finansial dari pemkot, Persib sebagai sebuah entitas harus tetap hidup dan hadir di tengah rakyat Bandung dan Jawa Barat sebagi pemiliknya. Di sinilah perlunya tanggung jawab kolektif seluruh stake holder tidak hanya dibebankan kepada pemkot dan manajemen. Kalaupun pemkot harus dihadapkan pada pilihan terpahit melepas tanggung jawab pendanaan yang disebabkan oleh aturan, tim Persib sebagai sebuah entitas rakyat Bandung dan Jawa Barat harus dikembalikan kepada stakeholders-nya, yakni rakyat Bandung dan Jawa Barat sebagi pemilik dan pemegang saham Persib. Pemkot bersama DPRD sebagai kepanjangan tangan rakyat Bandung hendaknya menyadari fakta sosiologis ini. Swastanisasi pengelolaan persib adalah solusi yang dapat ditempuh dengan catatan seluruh stake holder menyepakatinya. Pemkot, rakyat Bandung, bobotoh, harus memutuskan langkah terbaiknya, sesuatu pilihan yang dapat menjaga eksistensi Persib dan harga diri daerah. Swastanisasi tidak berarti rakyat Bandung harus kehilangan kepemilikannya. Jika Persib harus dilepas kepemilikan menjadi milik kelompok sponsor/pengusaha tertentu pemilik sahamnya seperti tim-tim sepak bola di negeri orang, Persib akan memasuki babak baru kehidupannya, barangkali Persib pun akan dibawa pergi entah ke mana. Mungkin markas Persib pun tidak akan lagi di Jln. Gurame Bandung melainkan ke mana saja sesuka pemiliknya karena pemegang saham Persib sudah bukan lagi rakyat Kota Bandung dan Jawa Barat yang selama ini mencintai dan membanggakannya. (penulis adalah dosen/peneliti pada lemlit universitas pendidikan indonesia, bobotoh persib)**

