Allah saren Rosulna malah saur abdi mah ngamulyakeun 
isteri kang. Dina Al Quran, urang terang surat 
Annisa sareng Mariam upami dilenyepan mah estu 
ngamulyakeun pisan. Rosul kantos ditaros, saha anu 
kedah dimulyakeun. Waler Rosululloh: Ummuka. Dugi 
katilu kali ditaros waleranana sami. Ummuka.



--- In [email protected], "waluya56" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Naha leres kitu Agama (sagala agama meureun) teu 
someah ka awewe, 
> saperti wartos tina detikcom dihandap ieu? Ceuk 
cenah awewe teh 
> didiskriminasi jeung dieksploitasi make 
legimentasi ku ajaran agama. 
> AKibatna awewe bisa jadi atheis, liberal tepi ka .
... narima pasrah, 
> euweuh inisiatif.
> 
> Tah kumaha pamikiran para Teteh jeung para Euceu 
nu aya di Kusnet?
> 
> 
> 08/06/2007 02:56 WIB 
> Agama Tidak Ramah Perempuan?
> Nograhany Widhi K - detikcom
> 
> Jakarta - Perempuan dinilai mengalami perlakuan 
diskriminatif dan 
> eksploitatif yang seringkali dilegitimasi ajaran 
agama. Reaksi 
> perempuan atas hal itu pun bermacam-macam, mulai 
dari menjadi 
> atheis, liberal, hingga konservatif.
> 
> Perilaku diskriminatif dan eksploitatif itu 
dialami perempuan tidak 
> hanya di ranah rumah tangga. Namun di tingkat 
negara, perlakuan itu 
> dinilai masih kerap terjadi.
> 
> Hal tersebut disampaikan anggota Yayasan Rahima, 
Farha Ciciek, dalam 
> diskusi publik 'Agama Seharusnya Ramah Terhadap 
Terhadap Perempuan' 
> di Istora Bung Karno, Senayan Jakarta, Kamis 
(7/6/2007).
> 
> "Dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, saya 
pernah dicurhati 
> perempuan yang juga direktur sebuah akademi 
kebidananan. Dia 
> mengatakan, kata ustadnya, kalo sedang berhubungan 
suami istri tidak 
> boleh telanjang bulat, karena malu sama malaikat. 
Saya tanggapi, 
> aturan dari mana itu? Inilah kekuatan agama, bisa 
mempengaruhi hal-
> hal yang seharusnya ditanggapi secara rasional, 
tapi dipercaya 
> begitu saja," ujar Ciciek.
> 
> Ditambahkan dia, perilaku negara yang ikut-ikutan 
memperlakukan 
> perempuan secara diskriminatif terlihat saat 
mempromosikan program 
> keluarga berencana (KB) beberapa belas tahun yang 
lalu.
> 
> "Semua institusi agama dikerahkan untuk mendukung 
program itu. 
> Negara itu pakai agama semau-maunya, kalau butuh 
ya dipakai, kalau 
> nggak ya sudah," ujar perempuan berjilbab ini.
> 
> Tak heran, reaksi yang timbul dari kaum hawa ini 
bermacam-macam. 
> Beberapa orang ada yang menjadi atheis karena 
melihat banyaknya 
> inkonsistensi.
> 
> "Mereka muak melihat inkonsistensi, seperti ada 
pemuka agama yang 
> memperkosa jamaahnya sendiri, dan banyak contoh 
lainnya," ujar 
> perempuan yang pernah mengadakan penelitian di 
Ponpes Al-Mukmin, 
> Ngruki, asuhan Abu Bakar Ba'asyir ini.
> 
> Reaksi lainnya adalah tidak percaya kepada agama 
kendati mempercayai 
> adanya Tuhan. Yang lainnya, bisa menciptakan agama 
baru yang 
> merupakan modifikasi dari agama yang sudah ada.
> 
> "Seperti komunitas Lia Eden, atau gerakan New Age 
yang timbul tahun 
> 1960-an di Amerika," jelas Ciciek.
> 
> Selain itu, ada juga yang tetap mengikuti arus 
utama tradisi agama 
> yang telah ada. Hal itu bisa dilihat dari sikap 
pasrah karena 
> perlakuan diskriminatif itu dianggap biasa, 
melakukan liberalisasi 
> melalui re-interpretasi yang lebih progresif, 
bahkan melakukan 
> konservatisasi seperti menumbuhkan kembali 
fundamentalisme.
> 
> Peneliti LIPI bidang pemikiran politik Islam yang 
juga Sekjen 
> Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
, Siti Musdah 
> Mulia mengatakan, untuk mengatasi terpuruknya 
perempuan dalam agama, 
> dalam hal ini agama Islam, maka harus dimulai 
dengan merevisi 
> penafsiran.
> 
> Salah satu dalam revisi penafsiran, adalah 
merevisi fiqih, dimana 
> fiqih adalah hasil ijtihad atau pemikiran 
berdasarkan akal.
> 
> "Perkembangan historis berbagai mazhab fiqih 
merupakan bukti bahwa 
> fiqih itu relatif, namun saat ini sudah dipandang 
sebagai aturan 
> yang tetap, padahal itu kan sifatnya pemikiran," 
ujar Siti.
> 
> Siti kemudian mencontohkan masalah perempuan yang 
harus didampingi 
> wali bila menikah. Mazhab Imam Abu Hanifah 
mengatakan tidak usah 
> didampingi wali karena wanita pada usia dewasa 
bisa menentukan 
> pilihan sendiri. Namun Mazhab Imam Syafi'i 
mengatakan harus 
> didampingi wali dengan alasan orangtualah yang 
bisa menentukan jodoh 
> terbaik untuk anaknya.
> 
> "Namun sekarang, anak sendiri bisa dijual orang 
tuanya, lihat saja 
> kasus trafficking sangat banyak. Imam Syafi'i 
mungkin berubah 
> pikiran bila beliau hidup di zaman sekarang," ujar 
Siti.
> 
> Contoh lain, masalah poligami. Siti gusar karena 
alasan berpoligami 
> adalah menyangkut kelamahan perempuan yang tidak 
bisa memenuhi 
> kewajibannya, mandul atau sakit.
> 
> "Kalau yang mandul laki-lakinya bagaimana?" dia 
mempertanyakan.
> 
> Dia menjelaskan, meskipun Al-Qur'an adalah 
kebenaran abadi, namun 
> penafsirannya tidak abadi dan selalu bersifat 
relatif. Perlu 
> dipahami pula, para penafsir seobyektif apapaun, 
sulit melepaskan 
> diri dari hukum dan tradisi yang berkembang pada 
masa dia hidup, 
> termasuk para ahli fiqih.
> 
> "Karena itulah, pembukuan pendapat-pendapat fiqih 
dalam suatu 
> masyarakat yang bias jender akan melahirkan 
kitab-kitab fiqih yang 
> memuat pandangan agama yang btidak ramah 
perempuan," tukas Siti. 
> (nwk/nvt)
>


Kirim email ke