wilujeng kang Kang Budhi anu parantos (lami) nyandar gelar Dr.
Baktos
tantan

On 6/25/07, Budhi Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  ngeunaan lahirna Jakarta, aya tulisan di millist geounpad oge di millist
IAGI ti kang Awang Satyana Harun (BPMIGAS), nu resep kana sajarah salian ti
sajarah geologi. mangga tiasa diaos di handap ieu, punten teu di sundakeun.

baktos,
budhi
kurono kopo 241

---------- Forwarded message ----------
From: Awang Satyana


22 Juni, hari ini, adalah hari ulang tahun kota Jakarta. Tanggal tersebut
ditentukan sejak tahun 1956 ketika hasil penelitian Mr. Dr. Soekanto, ahli
sejarah, diterima Pemerintah dan badan legislatif saat itu. Gubernur Jakarta
Sudiro pada tahun 1954 meminta Mr. Mohammad Yamin (negarawan dan ahli
hukum), Sudarjo Tjokrosiswono (wartawan senior Jakarta), dan Mr. Dr.
Soekanto (ahli sejarah) meneliti kapan sebenarnya kota Jakarta lahir. Tahun
1527, tahun saat Fatahillah mengalahkan Portugis di Teluk Jakarta telah
dianggap sebagai asal Jakarta (Jayakarta sebenarnya), tinggal hari tepatnya
kapan yang belum diketahui. Lalu, dari ketiga tokoh itu, Sukanto mengumumkan
hasilnya : 22 Juni 1527. Sukanto mempublikasikan hasil penelitiannya ke
dalam buku berjudul, "Dari Jakarta ke Jayakarta : Sejarah Ibukota Kita"
(Soekanto, 1954).

Hasil penelitian Sukanto segera direspon oleh para ahli sejarah lain. Yang
merespon antara lain tak kurang dari Prof. Dr. Hoesin Djajadiningrat, doktor
pertama Indonesia, yang sejak 1913 telah menjadi doktor sejarah melalui
disertasinya yang terkenal tentang sejarah Banten : "Critische Beschouwing
van de Sedjarah Banten" (Haarlem, 1913) – (Tinjauan Kritis Sejarah Banten).
Argumen Hoesin Djajadiningrat atas penelitian Soekanto dimuat di Majalah
"Bahasa dan Budaja" volume V no. 3 tahun 1956-1957, hal 3-9. Hoesin
Djajadiningrat berkesimpulan bahwa hari lahir kota Jakarta (Jayakarta)
adalah 17 Desember 1526. Argumennya adalah bahwa hari itu adalah hari
kemenangan Falatehan (Fatahillah) di Jakarta atas Portugis yang konon
bertepatan dengan hari kemenangan Nabi Muhammad dalam perang merebut Mekkah.
Falatehan adalah seorang ulama yang tawakal, maka sebagai ungkapan terima
kasih kepada Allah, ia mengucapkan ayat Al Quran "Inna fatahna laka fathan
mubinan" seperti yang yang
diucapkan Nabi Muhammad ketika berhasil merebut Mekkah.

Lebih menarik lagi adalah argumentasi dari Prof. Dr. Slamet Muljana (ahli
sejarah naskah kuno yang kerap hasil penelitiannya mengejutkan). Slamet
Muljana menyerang pendapat Soekanto dan Hoesin Djajadiningrat dalam
rangkaian tulisan ilmiah populer di Koran Suara Karya pada April-Mei 1979.
Kemudian, seri tulisan ini dibukukan ke dalam buku berjudul : "Dari Holotan
ke Jayakarta" (Yayasan Idayu, 1980) - sebuah buku Slamet Muljana yang kalah
populer dibandingkan bukunya yang kontroversial "Runtuhnya Kerajaan
Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara" (Bhratara, 1968).
Di buku terakhir tersebut, Slamet Muljana berkesimpulan bahwa Majapahit
runtuh oleh dominasi Islam, dan bahwa hampir seluruh wali dari Wali Sanga
adalah berasal dari Cina atau keturunan Cina. Maka, karena saat itu
Pemerintah ORBA sedang anti-Cina, buku Slamet Muljana langsung dilarang, tak
sampai setahun sejak penerbitannya. Tiga puluh lima tahun kemudian, 2003,
buku terlarang ini diterbitkan
kembali oleh sebuah penerbit di Yogyakarta dan segera laku keras serta
susah dicari di toko-toko buku kalau terlambat membelinya.

Sebagai seorang pecinta buku dan punya kegemaran bermain-main di tukang
loak buku, saya punya buku2 baik tulisan Soekanto (1954), Hoesin
Djajadiningrat (1913), dan Slamet Muljana (1968, 1980). Tulisan ini terutama
didasarkan kepada empat buku tersebut, didukung buku-buku lain yang
berhubungan.

Kembali ke buku "Holotan". Slamet Muljana berargumen dan menolak
tanggal-tanggal kelahiran Jakarta dari Soekanto maupun Hoesin
Djajadiningrat, bahkan Slamet Muljana mengeluarkan kesimpulan yang
mengejutkan : bahwa Falatehan atau Fatahillah itu tidak sama dengan Sunan
Gunung Jati, salah seorang wali dari Wali Sanga. Saya cek buku-buku sejarah
Jawa dari pelajaran SD sampai buku-buku besar seperti tulisan Dennys Lombard
yang terkenal itu ("Le Carrefour de Javanais" – Jawa : Silang Budaya) semua
menyebutkan bahwa Falatehan = Fatahillah = Sunan Gunung Jati. Tahun 1968,
Slamet Muljana pun berkesimpulan seperti yang lain, tetapi di buku "Holotan"
(1980) dia berkesimpulan bahwa Falatehan atau Fatahillah bukan Sunan Gunung
Jati. Itu didasarkannya kepada penelitian naskah-naskah kuno, keahliannya.

Argumen Slamet Muljana terutama didasarkan kepada naskah "Purwaka Tjaruban
Nagari" tulisan Pangeran Arya Tjarbon (1720). Ini adalah naskah sejarah
(babad) lokal wilayah Cirebon. Naskah ini sudah diterjemahkan langsung dari
bahasa aslinya ke dalam bahasa Indonesia oleh Sulendraningrat, penanggung
jawab Sejarah Cirebon, dan diterbitkan oleh Bhratara (1972).

Naskah Purwaka Caruban Nagari menguraikan dengan jelas bahwa Panglima
Demak yang berasal dari Pasai dan berhasil menguasai Banten dan Sunda Kalapa
pada tahun 1526 dan 1527 bernama Fadillah Khan. Slamet Muljana mengatakan
bahwa Falatehan ialah transliterasi (pergantian huruf dan bunyi) dari nama
asli Fadillah Khan. Nama aslinya adalah : Maulana Fadillah Khan Ibnu Maulana
Makhdar Ibrahim al-Gujarat. Kemudian, naskah Purwaka Caruban Nagari pun sama
sekali tak menyinggung pergantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta
seperti diberitakan di banyak buku sejarah ketika Falatehan menduduki Sunda
Kalapa dan mengusir Portugis. Nama Sunda Kalapa tetap dipakai sampai akhir
tahun 1500-an. Tahun 1628, ketika pasukan Sultan Agung dari Mataram
menyerang Batavia yang saat itu sudah diduduki Belanda (nama Batavia dipakai
sejak tahun 1613), naskah Purwaka menyebut nama Jayakarta. Artinya ada
pergantian nama dari Sunda Kalapa ke Jayakarta, tetapi itu terjadi sekitar
akhir 1500-an dan awal
1600-an, bukan sejak 1527.

Slamet Muljana pun berargumen bahwa Falatehan itu adalah ulama sekaligus
panglima perang Islam yang pernah hidup di Pasai , Demak, dan Banten sebelum
ke Sunda Kalapa. Bagi ulama Islam seperti Fadillah Khan, nama Arab lebih
cocok daripada nama Sanskerta. Seandainya ia mau mengganti nama Sunda Kalapa
saat didudukinya, tak mungkin nama Sanskerta yang berbau Hindu seperti
"Jayakarta" yang akan dipilihnya. Setelah menaklukkan Sunda Kalapa,
Falatehan diangkat menjadi bupati Sunda Kalapa oleh Susuhunan Gunung Jati
(Sunan Gunung Jati).

Lalu, dari mana asal nama Jayakarta kalau itu bukan mengartikan
"kemenangan (jaya) Falatehan atas Portugis di Sunda Kalapa" ? Dalam hal ini,
Jayakarta bukanlah toponim (asal nama geografi), tetapi itu adalah nama
seorang pangeran dari Banten yang ditugaskan menjadi penguasa Sunda Kalapa,
yaitu Pangeran Wijayakarta/Jayawikarta/Wijayakrama. Ayah pangeran ini adalah
Ki Bagus Angke, menantu Sultan Hasanuddin penguasa Banten pada tahun 1550-an
(Sultan Hasanuddin adalah anak Sunan Gunung Jati). Ki Bagus Angke ditugaskan
Hasanuddin menjadi bupati di Sunda Kalapa. Kemudian, Ki Bagus Angke
digantikan Pangeran Jayakarta. Begitulah, sebelum Belanda menguasai Jakarta,
saat itu Pangeran Jayakarta tengah menjadi penguasa di Sunda Kalapa.
Falatehan menetap di Cirebon sejak 1546 dan ia berkawan dengan seniornya –
Sunan Gunung Jati.

Falatehan/Fatahillah dan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayattullah adalah dua
orang yang berbeda. Kedua orang ini memang dua sahabat sebagai sesama ulama
Islam. Ini dua orang yang berbeda karena di atas gunung Sembung, sebuah
bukit di sekitar Cirebon, tempat makam para leluhur Cirebon ditemukan baik
makam Sunan Gunung Jati maupun makam Fadillah Khan. Sunan Gunung Jati wafat
pada tahun 1568, sedangkan Fadillah Khan (Falatehan/Fatahillah) wafat pada
tahun 1570.

Lalu, dari mana nama Jakarta sendiri ? Dari Piagam Banten yang bertarikh
awal 1600-an., sesudah 1602, yaitu sesudah VOC dibentuk sebab di dalam
Piagam Banten itu termuat satu kata bukan asli Sunda-Banten. Dr. van der
Tuuk (1870), ahli bahasa dan sejarah, menyebutkan pemuatan kata "Jakarta"
itu. Ini adalah kutipan dari Piagam Banten (van der Tuuk, 1870)

"Lamon ana wong Djaketra angambil daon atawa kaju atawa angambil wiru, iku
aweja ruba-ruba adjen-adjen sarejal; lamon sih wong Djaketra iku ora anggawa
tjap dalem lan surate kumendur, iku tjegahen patjuwun den wehi mandjing ing
muwara Putih; lamon maksa ora kena den tjegah, den gelis-gelis matura ing
Bumi olija den sih"

(Jika ada orang Jakarta mengambil daun, atau kayu atau nipah, supaya
memberikan uang pengganti. Jika orang Jakarta itu tidak membawa cap istana
dan surat dari komandan, supaya ditolak dan dimasukkan ke dalam muara sungai
Putih. Jika ia memaksa dan tidak mau ditolak, supaya segera memberitahu
Mangku Bumi).

Laporan Cornelis de Houtman (dalam de Jonge, 1862 : De opkomst van het
Nederlandsche gezag in Oost-Indie 1595-1610 – 's Gravenhage) pada tanggal 14
November 1596 menyebut nama Pangeran Wijayakrama (Pangeran Jayakarta)
sebagai "koning van Jacatra" (raja Jakarta). Ternyata, bahwa nama Jakarta
sudah muncul sejak akhir 1500-an.

Begitulah, berdasarkan uraian di atas, tahun kelahiran Jakarta bukanlah
1527, tetapi 50 atau 60 tahun sesudah itu; bukan mulai pada saat Falatehan
menduduki Sunda Kalapa (Sunda Kalapa kala itu adalah pelabuhan Kerajaan
Pakuan yang beragama Hindu) pada tahun 1527, tetapi pada masa Pangeran
Jayakarta menjadi bupati di Sunda Kalapa, yaitu sesudah tahun 1570.

Tetapi, tokh Pemerintah DKI Jakarta masih tetap mengakui 22 Juni 1527
sebagai hari lahir Jayakarta-Jakarta sekalipun banyak naskah kuno
menunjukkan kesimpulan-kesimpulan lain. Mengutip sebuah tulisan :

"Historical reality is often too bitter to swallow or too hot to stand.
History is a large mirror that reflects the facts of the past, and all that
has been etched into the glass of history can never be erased. If you don't
like a particular historical fact, you may try to cover it up or forget it,
but you can never remove it. A historical fact can be interpreted in a
variety of ways, but regardless of the interpretation, the fact will never
change."

Semoga bermanfaat. "Selamat ulang tahun Jakarta-ku !" Semoga kau segera
mendapatkan gubernur yang baik.

Salam,
awang

.



--
Budhi Setiawan, Dr. Eng.
@ Infrastructure Design Research Lab., Gifu Univ., Japan (visiting
associate professor)
@ Soil Mechanic Lab., Sriwijaya Univ., Palembang - Indonesia.
budhi at urangsunda dot net




--
tantan hermansah
www.tantanhermansah.co.nr

"jig geura narindak; jeung omat ulah ngalieuk ka tukang!"
--siliwangi--

Kirim email ke