Seratan pa Ayat Rochaedi teh sararae gening. Hanjakal anjeunna tos pupus,
hese milarian gentosna.
----------------------------------------------------------
Matak resep ningali kabageuran HEINRICH Schliemann. Sanaos
dongeng Perang Troya teh asalna sanes tina budaya bangsana (Jerman) tapi meni
bela nalungtik gagali ka nagri deungeun (ka Hisarlik di Anatolia Turki). Sok
kaimpi-impi aya urang Sunda beunghar anu bageur jiga anjeunna teras nalungtik
sumber-sumber budaya / sajarah (kalebet naskah-naskah) Sunda sarta keresa
ngagali situs-situs di Tatar Sunda. Mudah-mudahan wae kalaksanakeun impenan teh.
---------------------------------------------------------
kumincir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Etang2
panineungan ka almarhum Mang Ayat, patali sareng sajarah gumelarna arkeologi
atawa widyapurba...
Naskah, Sumber Ilmu yang Terlupakan
Oleh AYATROHAEDI
HEINRICH Schliemann anak seorang saudagar kaya Jerman sudah sejak
di sekolah dasar ia mendengar dan kemudian membaca sendiri kisah
Perang Troya sebagai warisan budaya dari kurun yang sudah lama
berlalu. Kisah itu termasuk salah satu kisah yang menarik dalam mitologi
Yunani. Heinrich berbeda anggapan dari orang lain dalam hal kisah
Perang Troya itu. Menurut anggapannya, kisah itu tentulah bukan
asal dongeng untuk ngabobodo budak cengeng. Haruslah terdapat suatu
kenyataan di balik semua itu dan ia bertekad membuktikan bahwa
anggapannya benar. Untuk itu, ia berusaha mengumpulkan uang agar dapat
berangkat ke Yunani dan membuktikan apakah anggapannya benar atau
salah.
Dalam satu hal ia sudah berhasil menjadi saudagar kaya seperti
orang tuanya sehingga untuk pembuktian itu ia tidak memerlukan lagi
dana dari luar. Setelah dananya cukup, termasuk sumbangan dari
orang tuanya, dan juga orang yang bersedia membantunya siap
(termasuk istrinya), mereka berangkat ke Yunani, lalu menuju tempat yang
diperkirakannya sebagai letak Kota Troya. Di situ ia menggali dan
menggali, sampai akhirnya...kita tahu semua: Kota Troya muncul dari
timbunan tanah yang menutupinya entah sudah berapa lama. Dengan itu
pula, ilmu yang kemudian dikenal dengan istilah arkeologi atau widyapruba
pun lahir menjelang pertengahan abad ke-19.
Dari kisah itu, kiranya jelas bahwa ternyata naskah (dan tradisi
lisan) sebenarnya memegang peranan penting dalam perkembangan
pengetahuan. Tanpa Heinrich yang tergila-gila pada kisah Perang
Troya, barangkali hingga sekarang widyapurba tidak akan pernah lahir
atau sekurang-kurangnya proses kelahirannya berbeda.
Di Indonesia pun peranan naskah yang besar itu pernah sepenuhnya
disadari oleh para pelopor bangsa ita. Setelah membaca naskah
"Nagarakretagama" atau "Desawarnana" yang ditulis oleh Mpu Prapanca
dalam tahun 1365, misalnya, Muhammad Yamin menulis (drama)
"Gajahmada" dan "Saptaparwa", bahkan sampai pada simpulan bahwa di
nusantara pernah ada dua "negara kesatuan" sebelum Republik
Indonesia, yaitu Sriwijaya dan Majapahit.
Kisah sejarah beberapa daerah lain pun tidak jarang yang modal
awal penyusunannya berupa naskah lama yang ditulis, baik pada masa
yang muasir maupun (agak) lama setelah peristiwanya terjadi. Naskah
"Carita Parahyangan" menjadi modal awal penulisan sejarah Tatar
Sunda, "Sejarah Melayu" untuk sejarah daerah Melayu, "Hikayat
Banjar" dijadikan modal awal menyusun kisah sejarah daerah Banjar
(Kalimantan Selatan), dan "Babad Tanah Jawa" dianggap cukup sahih untuk
dijadikan modal awal penyusunan kisah sejarah Tanah Jawa.
Beragamnya embaran yang terkandung dalam naskah, antara lain
diperlihatkan dalam salah satu mahakarya Pigeaud, "Literature of
Java" (3 jilid, 1968) setelah sebelumnya kita diperkenalkan dengan
isi sejumlah naskah berbahasa Jawa oleh Purbacaraka melalui
karyanya "Kapustakan Jawi" (1952). Dalam hubungannya dengan naskah yang
dihasilkan oleh masyarakat di wilayah budaya Sunda, ketekunan Edi S.
Ekajati dan kawan-kawan telah menghasilkan beberapa buah katalogus
naskah. Tampaknya, karya mereka terakhir hingga saat ini, Jawa
Barat: Koleksi Lima Lembaga (1999), masih menjanjikan terbitan
lainnya. Akan dapat kia simak bahwa kandungan naskah lama sangat
beragam, mulai dari masalah keagamaan, pendidikan, akhlak, kesehatan, sejarah,
undang-undang, adat-istiadat, perbintangan, perundagian, ilmu,
bahasa, kesenian, mitologi, bahkan juga perjodohan. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa kandungan naskah lama mencakup
semua hal yang berkenaan dengan kebudayaan dalam maknanya yang paling luas.
Mengapa "terlupakan"?
Pemerntah Hindia-Belanda memperkenalkan sistem pendidikan Eropa
yang memiliki dasar, kegiatan, dan tujuan yang berbeda dengan
sistem pendidikan yang berlaku sebelumnya, baik di mandala yang
berlatar Hindu Buda, maupun pasantren yang berlatar Islam.
Pengertian yang berkenaan dengan masalah ilmiah, mantik, sistmatis, dan
lain-lain, didasarkan pada acuan dan pengertian yang berlaku di
Eropa. Akibatnya, semua hal yang tidak sesuai dengan apa yang
berlaku di Eropa menjadi tidak ilmiah, tidak mantik, tidak
sistematis, dan semua ketidakan yang lainnya.
Dalam upaya menjadi orang yang lebih maju, lebih beradab, dan
lebih sopan pun, perhatian dipusatkan ke Eropa, dan kemudian ke
Amerika (Serikat). Jika ingin menjadi orang, masyarakat, atau
bangsa yang modern, ikutilah apa yang berlaku di Eropa (pada
mulanya melalui Belanda, kemudian mengembang menjadi Eropa Barat), dan
tinggalkanlah semua yang berbau pribumi!
Hasilnya kita rasakan sekarang ini: berbagai kemajuan yang kita
capai adalah kemajuan menurut cara pandang dan gagasan Eropa dan
Amerika karena itulah satu-satunya acuan yang dapat kita ikuti atau
kita anut. Cara pandang gagasan pribumi tidak lagi kita perhatikan
berdasarkan berbagai alasan yang sebenarnya bukan alasan.
Alasan yang sangat lazim diajukan untuk membela diri mengenai
ketidaktahuan tenang khazanah budaya pribumi adalah kesukaran
memelajari bahasa dan aksara daerah. Alasan itu sebenarnya berlaku
juga sebagai kendala kita memelajari kebudayaan dan teknologi asing.
Apakah mempelajari bahasa Jerman, Rusia, dan sekarang juga Jepang, tidak lebih
sukar daripada mempelajari bahasa Batak, Jawa, Sunda, Bugis, atau
Aceh? Sebenarnya kesukarannya sama, karena mempelajari bahasa asing
apa pun menuntut syarat yang sama: ketekunan dan keyakinan bahwa
apa yang kita pelajari itu akan besar gunanya bagi diri kita.
Keyakinan itulah yang tidak ada jika kita mempelajari bahasa dan
kebudayaan daerah. Bahkan, para pemimpin pun tidak berusaha
meyakinkan kita agar mendalami karya daerah. Berulang kali mereka
menganjurkan agar kia mempelajari bahasa asing (terutama Inggris)
agar kia dapat mengejar ketertinggalan kita di bidang ilmu dan teknologi.
Hampir tidak pernah kita mendengar ada di antara para pemimpin itu
yang mengimbau agar kita mempelajari bahasa dan kebudayaan daerah
karena dengan bekal itu kita akan dapat juga mengejar
ketertinggalan di bidang ilmu dan teknologi. Bahkan, tidak sedikit yang
berpendapat bahwa mempelajari bahasa dan kebudayaan daerah adalah
suatu kesia-siaan!
Sikap dan pandangan itulah yang sebenarnya pertama kali harus
diubah. Namun, tentu saja jika para pemimpin itu menyadari
pentingnya bahasa dan kebudayaan daerah, ia sendiri harus yakin
pula bahwa dengan mempelajari bahasa dan kebudayaan daerah kita akan memeroleh
manfaat. Berbagai kegiatan, terutama yang menyangkut ilmu dan
teknologi, untuk dan karena kebudayan daerah, harus mewarnai
kehidupan kita. Hal itu bukan urusan memeh mumuluk sebelum sarapan.
Pada tahap awal, diperlukan sekurang-kurangnya berbagai tindakan
yang mendukung gagasan ini. Tindakan-tindakan itu antara lain
berupa:
a. Pencarian naskah dalam bahasa dan aksara daerah untuk
menambah khazanah budaya daerah dan nasional.
b. Pengalihaksaraan naskah beraksara daerah ke dalam aksara
Latin;
c. Penerjemahan naskah berbahasa daerah ke dalam bahasa
Indonesia;
d. Pemaparan isi khazanah budaya daerah agar diketahui secara
merata;
e. Pencatatan naskah (dan karya lain) daerah secara sistematis
dan ilmiah;
f. Penyelenggaraan pusat embaran kebudayaan daerah di daerahnya
masing-masing;
g. Pelatihan, penataran, penyuluhan, dan kursus mengenai
kebudayaan daerah; dan
h. Tindakan lain yang diperlukan dalam hal yang bersifat darurat
atau mendadak.
Dari berbagai kegiatan itu, terutama kegiatan d, kita akan
memperoleh gambaran umum mengenai apa saja yang sebenarnya
merupakan milik kita, namun yang selama ini terlupakan. Kemudian,
kita akan dapat menyaringnya dan kemungkinan melakukan berbagai temubaruan
(=inovasi) dari gagasan lama, disesuaikan dengan tuntutan dan
keperluan masyarakat kita masa kini, terutama yang berkenan dengan
tuntutan ilmu dan teknologi, di samping demi kepentingan para
pelakunya sendiri.
Dengan mengkaji bahasa dan kebudayaan daerah, sebenarnya kita
sama sekali tidak tertinggal baik dalam ilmu maupun teknologi.
Bukankah untuk mendalami masalah jamu, orang asing terpaksa
mendalami bahasa dan kebudayaan Jawa? Bukankah pemerintah Hindia-Belanda
secara khusus menugasi Snouck Hurgronje mendalami Islam, bahasa Arab,
serta bahasa dan kebudayaan Aceh agar berhasil mengalahkan Aceh?***
(disalin ti http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/20/0804.htm)
On 6/27/07, Asep Hadiyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dina taun 1870, arkeolog Jerman ngagali situs di tilas karajaan Troy. Kapendak
oge Kuda Troya anu kantos dianggo aliansi Yunani nipu bangsa Troy.
--
sikandar
kumincir.blogspot.com
Asep
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.