lain abah aiko, ari hui naonna nya nu dipatenkeun teh euy?
uing kungsi nempo di mall borneo jualan hui teh. enya aya dua merk nu
kapanggih teh, nu hiji dimerekan hui cilembu, nu hiji deui hui jepun cenah.
ukuranana ampir sarua, sagarede sirit monyet, hehehe. ngan rasana asa leuwih
pelem hui cilembu euy.

salam,
mh

On 7/13/07, Budhi Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  ngeunaan tempe ...

Jepang matenkeun ragi nu biasa digunakeun keur tempe, teu pati apal
persis, da aya rumus kimia-na. ragi ieu sabenerna mah keur nyieun "natto"
(kadaharan khas Jepang - nu rasana keur nu mimiti mah matak sebel), bentukna
beda jeung tempe. lamun ieu ragi dijieun tempe, geus diproduksi ku Daie,
rasana teu jiga tempe di urang, teu pelem alias teu raos keur letah urang
Indonesia mah .. he he he

baktos,
budhi
kurono kopo 241


On 7/13/07, khs579 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Sumber daya
> Tidak Patenkan Kekayaan, Rugi Miliaran Rupiah
>
> Bandung, Kompas - Sudah banyak kekayaan Indonesia yang dipatenkan
> negara lain. Hingga kini belum banyak tindakan hukum yang dilakukan
> Indonesia untuk melindungi kekayaan alam, budaya, teknologi, dan
> lainnya. Karena kelengahannya tersebut, diperkirakan Indonesia rugi
> miliaran rupiah per tahun.
>
> Hal itu dikatakan Prof Eddy Damian, guru besar Universitas Padjadjaran
> dengan bidang kajian Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI), Jumat
> (6/7). Menurut Eddy, Amerika Serikat sudah banyak menggunakan berbagai
> tanaman hutan Indonesia untuk memproduksi obat-obatan modern. Jepang
> telah mematenkan tempe dan ubi cilembu.
>
> Jepang juga menggunakan merek kopi Toraja. Vietnam memakai merek Kopi
> Mandailing. Adapun seni pertunjukan "La Galigo" dari cerita berlatar
> Sulawesi Selatan dipertunjukkan secara komersial oleh sutradara Inggris.
>
> "Tetapi, Indonesia belum melakukan tindakan untuk mencegah agar
> kekayaannya tidak diklaim negara lain," kata Eddy.
>
> Ia mengatakan, masyarakat sulit mengambil langkah-langkah melindungi
> kekayaannya karena pemerintah belum membuatkan peraturan pemerintah
> terkait dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta .
>
> "Pemerintah sangat terlambat," kata Eddy. Namun, pemerintah tetap bisa
> melindungi kekayaan alam dan budaya Indonesia dengan cara mendaftar
> HAKI ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sebelum mengajukan ke
> World Intellectual Property Organization.
>
> Dengan mendaftarkan HAKI di Indonesia, artinya ada bukti bahwa negara
> telah mengklaim itu sebagai kekayaan intelektualnya. Bukti tersebut
> diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia jika ada negara lain yang
> mengklaim kekayaan itu. (YNT)
>
> cita:
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/07/humaniora/3666862.htm
>
>


--
Budhi Setiawan
@ Infrastructure Design Research Lab., Gifu Univ., Japan (research fellow)

e-mail: budhi at gifu-u dot ac dot id
phone: +81-58-293-2475
@ Soil Mechanic Lab., Sriwijaya Univ., Palembang - Indonesia.
budhi at unsri dot ac dot id

Kirim email ke