Lamun ningali indikator ekonomi (niley rupiah, harga saham jeung 
cadangan devisa), Indonesia teh sigana geus hudang, ngan acan bisa 
diuk ...hehehehe. Cenah aya papatah ti "dulur kolot" nu ti kaler tea 
(Jepang) keur Indonesia, saperti nu dilaporkeun dina Majalah Tempo 
minggu ieu:  

Tiga Pesan dari 'Saudara Tua'

SATU dekade silam orang tersentak. Pertumbuhan luar biasa ekonomi 
Asia mendadak macet, lalu roboh, diikuti kesengsaraan yang sangat. 
Kini ekonomi Asia sudah bangkit kembali. Indonesia memetik banyak 
hikmah: Orde Baru dan Soeharto berlalu, demokrasi hidup lebih subur. 
Modal yang sangat penting menuju Indonesia yang lebih baik. Tempo 
melaporkan kebangkitan ekonomi di Thailand, Korea Selatan, Vietnam, 
dan Indonesia.  

MENGAPA Indonesia sebagai negara yang paling parah mengalami krisis 
perlu waktu paling lama untuk bangkit? Setiap analis punya 
argumentasi sendiri. Mantan Gubernur Bank Indonesia J. Soedradjad 
Djiwandono punya analisis menarik: Republik gagal menciptakan 
stabilitas politik-sebagai prasyarat utama terjadinya titik balik 
dari deteriorasi menjadi pemulihan ekonomi.

Di Indonesia, perlu waktu panjang menciptakan stabilitas politik. 
Kebijakan menghadapi krisis juga kurang konsisten dan kurang 
adaptif. Padahal konsistensi, tulis Soedradjad, sangat menentukan 
keberhasilan pemulihan ekonomi. Korea Selatan dan Thailand, yang 
lebih cepat menciptakan stabilitas-diikuti konsistensi dalam 
menjalankan kebijakan -telah pulih lebih cepat.

Begitulah. Pergantian pemerintahan terjadi kurang lancar. Baru lima 
tahun Soeharto lengser keprabon, setelah 32 tahun berkuasa, sudah 
ada tiga pemimpin Republik yang datang dan pergi dengan cepat. 

Presiden Habibie tampil sebagai figur transisi. Ia diharapkan 
menghasilkan momentum terjadinya titik balik. Tapi pasar tak percaya 
dan masih menganggap ini pergantian semu, karena pemerintahan 
Habibie dipandang sebagai bablasan era Soeharto. Habibie gagal 
mendapat legitimasi, walau mengklaim pemerintahannya yang singkat 
paling produktif melahirkan undang-undang.

Kemudian tampillah Presiden Abdurrahman Wahid pada Oktober 1999. 
Lagi-lagi momentum indah itu terlepas begitu saja. Gus Dur berhasil 
mengembalikan Istana sebagai rumah rakyat, tapi ia gagal mengelola 
negara. Ia pun dimakzulkan oleh musuh-musuh politiknya, dibantu 
kekuatan militer, di MPR setelah memerintah sekitar 22 bulan.

Megawati pun dinilai gagal mengkonsolidasi pemerintahannya. Ia juga 
dikritik menjalankan politik "diam seribu basa" dan sibuk 
mempersiapkan diri untuk pemilihan presiden berikutnya. Momentum 
yang ditunggu-tunggu itu kembali terbuang sia-sia.

Suasana politik berantakan. Ancaman terorisme eskalasinya makin lama 
makin menggila. Republik masih direcoki oleh munculnya perang 
antaretnis yang berdarah-darah dan saling meluluh-lantakkan di 
sejumlah daerah. Di bagian lain terjadi pertempuran tentara versus 
gerilya gerakan yang ingin memisahkan diri: OPM, RMS, GAM.

Berikutnya, datanglah duet Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla 
memimpin negara. Mereka terpilih melalui pemilihan langsung yang 
demokratis. Dan yang paling penting: dari kampanye hingga masa 
pencoblosan, semuanya berjalan aman dan damai. Stabilitas politik 
berangsur-angsur membaik. Konflik panjang di Maluku hingga Aceh 
dapat teratasi lewat jalan perundingan. Biang keladi dan jaringan 
pelaku terorisme makin banyak yang tertangkap dan terbongkar.

Apakah ini pertanda baik bagi Republik untuk mengusir krisis? Tak 
ada yang bisa menjamin. Wallahu a'lam bissawab. Tapi dari pelbagai 
indikator perekonomian, kelihatan ada kemajuan mengesankan. Ini 
terlihat dari kinerja rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). 
Kurs rupiah sempat berada di bawah Rp 9.000 per dolar AS, sedangkan 
IHSG bertahan di atas angka 2.000. 

Membaiknya indikator finansial tersebut bisa saja dipengaruhi oleh 
masuknya dana-dana asing berjangka pendek alias hot money. Data 
terakhir dana asing yang masuk ke sertifikat Bank Indonesia (SBI) 
sebesar US$ 1,36 miliar, surat utang negara (SUN) US$ 847 juta, dan 
pasar saham US$ 623 juta. Memang, masuknya seabrek "uang panas" ini 
didorong oleh kondisi makro-ekonomi yang membaik.

Coba perhatikan data berikut. Cadangan devisa terus menguat hingga 
menyentuh level yang belum pernah dicapai sebelumnya. Neraca 
pembayaran indonesia (NPI) mencatatkan surplus akibat dukungan 
positifnya neraca transaksi berjalan. Neraca perdagangan menunjukkan 
surplus yang cukup besar. 

Namun ada yang perlu diwaspadai. Derasnya aliran dana masuk 
berjangka pendek bisa menjadi gelembung ekonomi yang sewaktu-waktu 
meledak dan berpotensi mengundang krisis baru. Ini tentu saja sangat 
bergantung pada kesiapan negara yang menjadi tempat persinggahan 
dana tersebut. Duit panas tadi akan cepat kabur kalau situasi di 
dalam negeri belum kondusif. Lalu lintas dana asing tersebut harus 
senantiasa dipantau.

Di sisi lain, penanaman modal asing dalam bentuk foreign direct 
investment (FDI) masih kurang cerah. Sebab itulah nasihat Osamu 
Watanabe dan Hiroshi Okuda, dua tokoh berpengaruh asal Jepang, 
menarik untuk disimak. Keduanya pernah datang ke Jakarta dua tahun 
lalu, dalam waktu berbeda. Tapi nasihat mereka tentang pemulihan 
ekonomi Indonesia ternyata banyak persamaannya.

Agar pulih dari krisis, Watanabe, Ketua Organisasi Perdagangan 
Eksternal Jepang (Jetro), mengingatkan pemerintah agar 
memprioritaskan pembenahan pada tiga aspek: infrastruktur, 
perburuhan, dan korupsi. Saran tokoh yang pernah masuk bursa 
kandidat perdana menteri Jepang ini tak jauh beda dengan masukan 
Okuda, bos Toyota yang juga memimpin Keidanren-semacam Kadin-ketika 
bertemu dengan Presiden Yudhoyono.

Bukan berarti tak ada isu lain. Survei terbaru Japan Bank for 
International Cooperation (JIBC), dengan responden hampir 500 
perusahaan di Jepang, menemukan berbagai masalah yang menghambat 
masuknya investasi ke Indonesia. Instabilitas sosial dan politik 
menjadi faktor penghambat paling besar, disusul ketidakstabilan 
nilai tukar dan harga, minimnya infrastruktur, tidak transparannya 
sistem perpajakan, serta lemahnya sistem hukum.

Pesan dari "saudara tua" tadi rasanya masih relevan bagi kita. 
Mereka mewakili para pebisnis dan investor asing yang hingga kini 
masih mengeluhkan pelbagai hal tadi. Dalam 10 tahun terakhir ini, 
investasi Jepang di Indonesia terus merosot. Padahal kekuatan 
teknologi dan permodalan mereka masih sangat kita butuhkan. Ada 
tambahan penting dari laporan JIBC: Indonesia menjadi negara ketujuh 
sebagai tempat yang menjanjikan bagi investasi. Cina, Thailand, dan 
India menduduki peringkat atas.

Buruknya infrastruktur, terutama di luar Jawa, sudah menjadi rahasia 
umum. Di Jayapura, misalnya. Di Bandara Sentani, jangan harap 
pesawat yang Anda tumpangi bisa mendarat malam. Karena gangguan 
gerakan separatis OPM? Bukan. Tak ada lampu penerang di sekitar 
landasan. Maka, kalau ada penggede Jakarta yang harus mendarat pada 
saat magrib, puluhan ojek sepeda motor harus disewa. Motor-motor itu 
serentak dinyalakan, dan. byar! sorot lampu motor-motor itu jadi 
panduan pilot untuk landing. 

Perburuhan masih terbentur rendahnya produktivitas dan peraturan 
yang kerap dikeluhkan sebagai kurang bersahabat bagi pengusaha. Ini 
menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia kurang menarik bagi 
investor asing. 

Korupsi? Lumayanlah. Sudah ada Komisi Pemberantasan Korupsi dengan 
sekalian aksinya. Tekad bulat pemerintahan SBY untuk menegakkan 
hukum terhadap tindak pidana yang sudah mengurat-mengakar ini banyak 
menolong. Seperti juga di Cina dan Vietnam, di Republik ini sudah 
begitu banyak pejabat dan pimpinan daerah, baik mantan menteri, 
gubernur, hingga bupati dan wali kota yang sudah meringkuk di bui 
lantaran terbukti korupsi.

Di Jawa, tempat pusat kekuasaan dan perputaran uang, bukannya tanpa 
masalah. Tol trans-Jawa masih dalam bentangan kertas gambar. Kita 
belum punya sarana jalan tol sepanjang, katakanlah, yang sudah 
dibikin Malaysia-dulu murid kita dalam proyek tol-yang sukses 
membangun sepanjang 2.000 kilometer. Padahal, kalau proyek ini 
terlaksana, niscaya lalu lintas barang lancar, perekonomian akan 
semakin bergelora. 

Untuk pengembangan proyek infrastruktur, pemerintah butuh dana US$ 
150 miliar selama lima tahun ke depan. Dari bujet segunung itu, 
pemerintah memperkirakan 17 persen di antaranya dibiayai dari APBN, 
21 persen dari sumber dalam negeri lainnya. Namun bagian terbesar, 
sekitar 62 persen atau US$ 90 miliar, harus datang dari luar negeri. 
Inilah jurang finansial yang sedang dihadapi pemerintah.

Masalahnya, pihak asing ternyata kurang minat berinvestasi. Pada 
November tahun lalu, forum Indonesia Infrastructure Summit yang 
kedua sepi investor. Kenduri yang sempat diundur-undur dan 
menawarkan 10 proyek andalan itu (mulai pembangkit listrik, jalan 
tol, telekomunikasi, hingga terminal feri dan pelabuhan) kurang 
direspons pengunjung-yang lebih banyak dihadiri lawyer ketimbang 
investor.

Padahal pemerintah memberikan jaminan atas risiko proyek penyediaan 
infrastruktur. Komitmen tersebut juga telah dikuantifikasi melalui 
pembentukan Dana Pembangunan Infrastruktur dan pengalokasian 
pembiayaan sebesar Rp 2 triliun dalam APBN 2007. Dana ini, selain 
untuk alokasi investasi proyek infrastruktur pemerintah, juga akan 
digunakan untuk pembagian risiko dengan investor swasta.

Banyaknya permintaan jaminan pemerintah oleh para investor 
menyiratkan bahwa risiko investasi masih dianggap tinggi. Repotnya, 
pemerintah tidak mampu menanggung semua risiko lantaran kantong 
negara lagi cekak. Inilah benang kusut yang mesti dihadapi 
pemerintah, di balik secercah harapan bangkit keluar dari pusaran 
krisis. 

Masih banyak yang harus dikerjakan. Membenahi peraturan, memikat 
hati "saudara tua" dan sejumlah investor lain dengan berbagai 
insentif, memberantas pungli dan korupsi, hanya sedikit dari banyak 
kegiatan yang perlu menjadi prioritas. Ditambah kesungguhan kerja 
birokrasi Republik, investasi semogalah menggelontor kemari. Dan 
ekonomi yang mulai bangkit diyakini akan cepat berlari.


Kirim email ke