Aya hubunganana SELULER jeung SEKULER? jawabanana aya dina  
tulisanana Goenawan Mohamad dina Catatan Pinggir Tempo. Nyanggakeun 
kanggo lenyepaneun :  

Se (l-k) uler
(Majalah Tempo 41, 15 Desember 2002)
Oleh Goenawan Mohamad

Seseorang pernah berkata, ada hubungan erat antara telepon seluler 
dan pemikiran sekuler. Teknologi modern, katanya, tak bisa 
diciptakan, disebarkan dan dinikmati, seandainya manusia tak pernah 
lepas dari ketakutan kepada Tuhan. Kemal Attaturk akan memimpin 
Turki yang kalah perang seandainya ia mengikuti fatwa ulama bahwa 
mortir dan mitraliyur adalah senjata yang `haram', benda 
orang `kafir'.

Memang aneh bila Tuhan dibayangkan mengatur mortir. Hari ini dunia 
pengalaman telah mekar dan manusia membuka aneka laku dan kerja. 
Agaknya itulah yang dimaksudkan Iqbal, ketika ia bicara di depan 
Tuhan: 

Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu,
Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk cupu 
Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung,
Kuhasilkan taman, sawah dan kebun 

Membuat lampu, membentuk cupu, mengolah kebun -- di situlah 
teknologi ditemukan, dan untuk itu akal dikerahkan.. Di depan Tuhan, 
Iqbal ingin menunjukkan bahwa imannya tak mendorongnya tenggelam ke 
dalam rasa gentar yang kronis. Meskipun ia bukan Attaturk, dengan 
mantap ia pisahkan mana yang wilayah Tuhan (malam, lempung, dst.) 
dan mana yang wilayah manusia (lampu, cawan, dst.). Ia akui daya 
kreatif Yang Suci, tapi ia tampilkan penciptaan yang terlepas dari 
yang sakral. Buahnya adalah benda-benda peradaban yang independen, 
sebuah dunia sekuler dalam sejarah. Tentu, Iqbal tak menggunakan 
kata `sekuler', tapi sajaknya, seperti terungkap dalam Asrar-e khudi 
yang menggaris-bawahi kemerdekaan `ego insani', mengandung iman yang 
mengakui kebesaran Tuhan tapi menegaskan otonomi manusia. 

Di situlah `sekuler' tak sama dengan `murtad'. Tentu saja `murtad' 
atau `bid'ah' pada akhirnya keputusan manusia juga - yang karena 
satu dan lain hal menganggap diri penjaga akidah. Tapi kita tahu 
tiap keputusannya diambil dengan Hakim yang in absentia. Tuhan tak 
hadir dalam sidang. Hanya para penjaga akidah sering tak sadar bahwa 
atas Nama-Nya pun mereka bisa keliru.

Seabad lebih sebelum sekularisme diberlakukan dengan sengit oleh 
Revolusi Prancis, di Italia sudah ada kecemasan besar bahwa wilayah 
Tuhan akan direbut wilayah manusia. Pada musim gugur 1624, dalam 
kuliah pembukaan di Collegio Romano, Pater Spinola, padri Jesuit 
dari Genoa, mengutarakan dengan fasih pendirian ordonya, yang saat 
itu tengah menghadapi polemik yang ditembakkan seorang ilmuwan yang 
tak begitu patuh, Galileo. Suasana memang panas. Setahun sebelumnya 
di Roma terbit Il Saggiatore, sebuah kombinasi yang asyik antara 
teori fisika dan cemooh ke kaum Jesuit. Dalam Galileo Heretico, 
sebuah buku yang secara mendalam menguraikan konflik Galileo dengan 
Gereja, Pietro Redondi menunjukkan bahwa di hari-hari itu Il 
Saggiatore, tulisan Galileo - yang bermula dengan sebuah teori 
tentang cahaya -- dijadikan penyambung suara yang menuntut kebebasan 
intelektuil: agar pemikiran manusia bertolak dari `bobot akal budi', 
dan bukan dari `otoritas'.

Tapi Gereja berdiri tegak: ia Sang Otoritas. Sejak theologi Thomas 
Aquinas, otoritas agama dikukuhkan di atas apapun, dan bagi kaum 
Jesuit di Collegio Romano, iman adalah panglima bagi akal. Kata-kata 
Pater Spinola tegas: `Satu-satunya hal yang penting bagi filosof, 
agar mengetahui kebenaran yang satu dan sederhana, adalah untuk 
menentang apa saja yang melawan Iman dan menerima apa yang termaktub 
dalam Iman'. 

Dengan kata lain, di zaman itu filsafat tak boleh berada di wilayah 
yang mandiri. Iman menguasai hidup. Filsafat, buah pikiran manusia, 
bukan untuk menjelaskan segalanya. Hari itu seakan-akan bergema 
sebuah argumen yang menghabisi peran filsafat dalam kehidupan 
beragama, bahkan ketika filsafat itu mencoba menjelaskan Tuhan - 
gema dari Tahâfut al-Falâsifah Al Ghazali di abad ke-11, suara yang 
kemudian melumpuhkan pemikiran di dunia Timur. 

Tapi dalam bentuk apa Tuhan hadir, selain dalam tafsir? Dan bukankah 
tafsir kukuh karena kekuasaan? Sebelum terbit Il Saggiatore, di awal 
1616 Vatikan telah memaklumkan bahwa teori Kopernikus adalah bid'ah. 
Galileo, seorang pengikut Kopernikus, waktu itu telah jadi sasaran, 
meskipun baru 17 tahun kemudian ia jadi korban. Ia dianggap 
menafsirkan Injil dengan gagasan yang sesat bahwa `bumi bergerak dan 
langit berhenti'. 

Ketika Kardinal Bellarmino menyampaikan keputusan itu, ilmuwan itu 
tahu apa yang mengancam dirinya. Empatbelas tahun sebelum hari itu 
Bellarmino membungkam Giordano Bruno dengan ganas. Pembangkang itu 
dihukum bakar. `Dengan kekuatan telah kutaklukkan otak mereka yang 
angkuh' - itulah epigraf yang tertulis di makam sang Kardinal. 
Galileo pun merunduk. 

Tapi kekuatan tak menyelesaikan segala-galanya. Pada 1992, tiga 
setengah abad setelah Galileo dihukum, Vatikan mengakui bahwa Tahta 
Suci telah salah memutuskan. Betapa terlambat, betapa percuma. 
Selama itu orang toh bergerak dengan teori Kopernikus, Uni Soviet 
yang tak ber-Tuhan meluncurkan Sputnik, dan Neil Armstrong mendarat 
di bulan tanpa kitab suci.Yang `sekuler' meluas. Tapi lebih dari 
itu, ia membentuk kesadaran kita tentang yang baik dan yang buruk. 
Nilai-nilai tak dikonfirmasikan lagi kepada Yang Suci, melainkan 
dengan hakim dan polisi.

Anda mungkin cemas akan tendensi itu, tapi lihatlah: bahkan di abad 
ke-20 `sekularisasi' itu ditiru, dengan arah terbalik, oleh para 
penjaga akidah. Arab Saudi, contohnya. Ketika keimanan diatur oleh 
undang-undang dan dijaga polisi, Yang Suci akhirnya diwakili oleh 
sebuah birokrasi. Ketika dosa diperlakukan sama seperti tindak 
kriminil, Yang Suci pun kehilangan aura, seperti pemilik toko yang 
dirampok. Ia jadi rutin, banal, tanpa keagungan. Akhirnya Negara 
berjela jadi berhala, dan Tuhan dipasang di fotokopi.


Kirim email ke