Ieu lain kasus nu kadua katilu kalinakeun, duka teuing nu kasabaraha...nu puguh 
mah geus loba teuing kasus-kasus samodel kieu nu kaalaman ku dulur2 urang nu 
neja gawe di malaysia. 
  Na kudu kumaha atuh urang nyanghareupanana???
Kuring mah rumasa teu bisa nanaon, teu boga akses kamamana, komo nepika nungtut 
pamarentah Malaysia mah. Ngan ukur pidu'a, mudah2an teu kaalaman kunu lian2na.
Wajar lin mun nepika ngeclakkeun cai mata?teu kabayang mun nu jadi korban teh 
dulur pituin urang, adi, lanceuk, atawa kolot urang....mmmhh...deudeuh teuing...
  Kamarana pamarentah urang teh nya???

  
hendriana lie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Duh... Deudeuh teuing, Teh Nur..
   
  Bati seseblakan we ieu hate, da kuring ge nu lalaki pami tea mah kedah cicing 
di tengah leweng dibaturan 20 anjing, mana teuing merennya ????
   
  

waluya56 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      Warta soal nasib TKW di luar negeri, sigana geus lain warta nu matak 
kaget deui. Tapi supaya teu kapopohokeun, ieu aya warta deui soal 
urang SUkabumi, awewe, nu sina ngurus anjing di tengah leuweung di 
Malaysia.

Wartosna nyanggakeun:

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9053

Selasa, 07 Agt 2007,

Kisah Sembilan Hari Pelarian TKW Jabar dari Perkebunan di Malaysia

Kabur setelah 2 Bulan Terisolasi Bersama 20 Anjing
Kisah memilukan TKW yang bekerja di Malaysia seperti tak ada habis-
habisnya. Selain soal majikan yang suka menganiaya, kondisi 
lingkungan yang berat serta pengabaian hak-hak pekerja menjadi 
alasan mereka untuk kabur dari tempat kerja.

HAFID ABDURRAHMAN, Kuala Lumpur

RAMBUTNYA dipotong pendek mirip pria. Nurhasanah, nama wanita itu, 
sampai kemarin masih tergolek lemas di ranjang susun ruang 
penampungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur. 
Beberapa bagian tubuhnya masih tampak lebam dan lecet.

Jangankan bangun dan berjalan, untuk bicara saja, dia mengaku 
sulit. "Dada saya masih sesak dan nyeri," katanya kepada Jawa Pos.

Selama wawancara, dia hanya bisa berbaring. Sebuah tas tangan hitam 
tergeletak di sampingnya.

Wanita asal Desa Santiyo, Sukabumi, Jawa Barat, tersebut tiba di 
KBRI Kuala Lumpur pada Jumat petang lalu. Saat itu, petugas keamanan 
(security) yang menjaga kantor KBRI yang menjadi jujukan para orang 
awak di negeri jiran itu melihat tubuh Nurhasanah digeletakkan di 
halaman begitu saja oleh seseorang yang mengendarai mobil.

Belum sempat Nurhasanah sadar, si pengendara lalu bergegas kabur 
sebelum sempat ditanya petugas keamanan. Wanita yang di tasnya 
diketahui membawa paspor Indonesia itu lalu dibopong petugas masuk 
ke gedung di Jalan Tun Razak 233 tersebut.

Menurut Nurhasanah, dirinya sebetulnya baru sekitar dua bulan tiba 
di Malaysia. Dia tertarik bekerja di luar negeri untuk membiayai 
hidup keluarganya di Sukabumi yang pas-pasan. "Saya diajak kenalan 
teman saya. Tapi, saya tidak kenal siapa orangnya," ungkap ibu 
seorang anak itu.

Sebelum berangkat, dia diiming-imingi gaji 300 ringgit (sekitar Rp 
750 ribu) per bulan. Tapi, dia tak pernah bertanya pekerjaan apa 
yang akan dilakukan. "Setelah tiba (di Bandara Kuala Lumpur), saya 
diajak (menumpang kendaraan darat) ke sebuah tempat yang sangat 
jauh. Saya tidak tahu nama tempat itu. Yang pasti di tengah 
pegunungan," ujar Nurhasanah yang sering mengelus dadanya karena 
masih nyeri.

Di tempat yang tak dikenali itu, dia bertemu seseorang yang mengaku 
akan mempekerjakan dirinya sebagai pembantu. "Lalu, saya dibawa naik 
gunung dan tiba di sebuah kebun yang dipenuhi anjing," katanya.

Bukannya dipekerjakan sebagai pembantu, di tempat itu, Nurhasanah 
disuruh mengurus 20 ekor anjing. Sebagai tempat istirahat, dia 
diminta tinggal di sebuah bilik di antara hewan bertaring 
tersebut. "Kemudian, saya ditinggal sendirian di perkebunan 
tersebut. Majikan saya pulang," tegasnya.

Dia terpaksa "bersahabat" dengan anjing-anjing peliharaan sang 
majikan. "Badan anjing itu besar-besar. Saya takut bukan main. Tapi, 
mau bagaimana lagi. Tak ada satu pun orang di perkebunan itu," 
ujarnya.

Wanita berkulit sawo matang tersebut mengungkapkan, sang majikan tak 
memberi akses untuk berhubungan dengan dunia luar. "Sampai-sampai, 
kartu HP saya diambil, sehingga HP saya tidak berfungsi dan tidak 
bisa dibuat menelepon," katanya.

Hidup sendiri di rumah yang terisolasi di "belantara" perkebunan 
(mungkin sawit) bersama anjing-anjing itu membuat Nurhasanah 
tersiksa. Dia ingin lari, tapi tak berani karena medan perkebunan 
yang terjal dan curam. "Tiap hari, saya makan makanan anjing. Suatu 
hari, ada orang lewat dan memberi saya roti. Dia bilang kasihan sama 
saya, tapi tak berani menolong. Katanya takut pada majikan saya," 
jelasnya.

Setelah sebulan berlalu, sang majikan tersebut menjenguk tempat itu 
lagi. Namun, dia tetap tak memindahkan Nurhasanah dari 
tempat "mengerikan" tersebut. "Saya diberi beras supaya bisa makan 
nasi. Biar begitu, tiap malam, saya dicekam ketakutan," tegasnya.

Tak hanya diisolasi dengan anjing, setelah sebulan bekerja, 
Nurhasanah tak mendapatkan gaji dari sang majikan. Karena itu, 
desakan batinnya untuk kabur semakin kuat.

Pada Kamis (26/7), tekad dia bulat. Dia ingin mengakhiri penderitaan 
dengan lari dari tempat tersebut. "Saya tak punya bekal makanan. 
Saya hanya bawa selembar koran untuk alas tidur atau duduk," 
ungkapnya.

Properti lain yang sempat dibawa adalah baju ganti, paspor, serta HP 
tanpa SIM card.

Dia menuruni tebing curam dan menerabas rerimbunan pepohonan untuk 
menemukan jalan keluar. Namun, tak cukup sehari untuk bisa keluar 
perkebunan tersebut. "Saya puasa. Saya tak bawa apa-apa. Setiap 
malam, saya tidur beralas koran itu," ujarnya.

Memasuki hari kedua, ketiga, hingga keenam, kata Nurhasanah, dirinya 
masih tak menemukan jalan keluar perkebunan. Tubuhnya semakin 
lemah. "Pada hari keenam, saya terjatuh dari sebuah lereng," 
jelasnya sambil menunjukkan luka lebam di kaki, paha, perut, serta 
dada.

Setelah peristiwa itu, dia sempat pingsan. "Setelah siuman, saya 
kembali melanjutkan perjalanan. Tubuh saya lemas, tapi tetap saya 
paksa berjalan," katanya.

Memasuki hari kesembilan, Jumat (3/8), dia menemukan sebuah jalan 
kecil. Dia menunggu lama di tempat itu hingga sebuah mobil melintas. 
Dengan sisa tenaga, Nurhasanah menghentikan kendaraan beroda empat 
tersebut untuk memohon pertolongan. "Saya pingsan lagi. Tapi, 
sebelumnya, saya ingat, orang yang membantu saya itu memberi uang 
kepada saya," ujarnya.

Uang 31 ringgit (sekitar Rp 75 ribu) itu pun masih utuh karena belum 
sempat dibelikan apa-apa. Setelah siuman, Nurhasanah baru sadar 
dirinya sudah ada di gedung KBRI.

Kendati beberapa hari tubuhnya kekurangan makanan, dia masih sulit 
makan. Meski sudah dihibur oleh-oleh beberapa wanita sesama TKW di 
ruang penampungan, dia sering tak sadar diri. Bahkan, setelah 
diwawancarai Jawa Pos kemarin siang, untuk yang kesekian dia pingsan 
lagi. (*)






  Hendriana Lie S
  PT. Haeng Sung Raya Indonesia
  Jl. Sumbawa Blok F1-2 Kawasan Bekasi fajar Industrial Estate MM2100
  Cikarang Barat - Bekasi 
  SMT Maintenance Dept.
  Telp : 021 89982722 ext 109/117
  Hp    : 08569956055
  Fax   : 021 89982725
  http://hendrianalie.multiply.com
    
---------------------------------
  Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.  

         

       
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
 Play Sims Stories at Yahoo! Games. 

Kirim email ke