nuhun bah.. diantos sambunganna. dihandap aya cutatan ti wikipedia (kalimah
pamukana asa sarua jeung naon nu keur diobrolkeun ku mang oman hehe)

d
--
Kemal Attaturk: Budaya dan kesenian

Atatürk pernah mengatakan: "Kebudayaan adalah dasar dari Republik Turki."
Pandangannya tentang kebudayaan termasuk warisan kreatif bangsanya sendiri
dan apa yang dipandangnya sebagai nilai-nilai yang mengagumkan dari
peradaban dunia. Terutama sekali ia menekankan humanisme. Ia pernah
menggambarkan tekanan ideologis Turki modern sebagai "suatu kreasi
patriotisme dicampur dengan gagasan humanis yang luhur."

Untuk membantu pencampuran sintesis seperti itu, Atatürk menekankan perlunya
memanfaatkan unsur-unsur warisan nasinoal bangsa Turki dan bangsa Anatolia
-- termasuk budaya-budaya pribuminya yang kuno - serta kesenian dan teknik
dari peradaban-peradaban dunia lainnya, baik di masa lalu maupun sekarang.
Ia menekankan perlunya mempelajari peradaban-peradaban Anatolia kuno,
seperti bangsa Het, Frigia, dan Lidia. Kebudayaan Turki pra-Islam menjadi
pokok penelitian yang luas, dan tekanan khusus diberikan kepada kenyataan
bahwa -- jauh sebelum peradaban Seljuk dan Ottoman -- bangsa Turki telah
memiliki kebudayaan yang kaya. Atatürk juga menekankan kesenian rakyat di
pedesaan sebagai mata air kreativitas Turki.

Kesenian visual dan plastik -- yang perkembangannya sekali-sekali ditahan
oleh sebagain pejabat Ottoman dengan anggapan bahwa penggambaran wujud
manusia adalah sebuah penyebahan berhaal -- berkembang di bawah kepresidenan
Atatürk. Banyak museum yang dibuka; arsitektur mulai mengikuti arus yang
lebih modern; dan musik, opera, dan balet klasik barat, serta teater, juga
mengalami kemajuan besar. Ratusan "Wisma Rakyat" dan "Ruang Rakyat" di
seluruh negeri memungkinkan akses yang lebih luas terhadap berbagai kegiatan
kesenian, olah raga dan acara-acara kebudayaan lainnya. Penerbitan buku dan
majalah juga meningkat pesat, dan industri film mulai berkembang.

Mustafa Kemal memiliki visi sekuler dan nasionalistik dalam programnya
membangun Turki kembali. Ia dengan keras menentang ekspresi kebudayaan Islam
yang asli terdapat di kalangan rakyat Turki. Penggunaan huruf Arab dilarang
dan negara dipaksa untuk beralih ke abjad yang berbasis
Latin<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Abjad_Turki&action=edit>yang
baru. Pakaian tradisional Islam, yang merupakan pakaian kebudayaan
rakyat Turki selama ratusan tahun, dilarang hukum dan aturan berpakaian yang
meniru pakaian barat diberlakukan.

On 8/22/07, Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   (Ke lamun keyeng disambung deui)
>
> Baktos,
> WALUYA
>




-- 
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
:.nu dipalar lain pamuji, panyepét nu dipénta!.:
datiparang.blog.com . deha.wordpress.com

Kirim email ke