Muhun  kang nembe ge abdi ngaos dina koran Kompas........
Wah, ngaraos bangga oge sih. Tapi asa meni lebar nya urang Indonesia teu 
dimanfaatkeun kapinteranana ku Pak Presiden. Nya salah saha atuh da kunaon teu 
tiasa nyugemakeun jalmi-jalmi nu pararinter. Mudah-mudahan kang Yaya saterasna 
tiasa masihan nu sae kangge negarana. 
Amin Ya Robbal'alamin


----- Original Message ----
From: Dudi Herlianto <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kusnet <[email protected]>
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, August 23, 2007 8:38:23 AM
Subject: [Urang Sunda] Urang Situraja Aya di Kompas :)

Baraya, dina kompas poe ieu aya warga kusnet nu urang situraja sumedang di 
halaman sosok.
fyi, aki/nini uing ge urang situraja huahahaha (naon hubunganna nya? ah pokona 
mah ngilu reueus :-)) )
nyanggakeun artikelna:

d
---

Yaya, Peneliti Temulawak di Korea
Tjahja Gunawan Diredja 
Di sekitar laboratorium tempat Dr Yaya Rukayadi (43) berkutat dengan 
kesibukannya sebagai peneliti senior sekaligus pengajar di Yonsei University, 
Seoul, Korea Selatan, terdapat sejumlah tanaman obat Indonesia, khususnya 
temulawak. Tanaman tersebut sengaja dikirim dari Tanah Air ke Negeri Ginseng 
itu untuk diteliti. 
Dari pertanyaan mengapa tanaman obat di Indonesia diteliti di Korea, Yaya 
Rukayadi mengawali ceritanya. Ia ingin agar temulawak bisa dijadikan "merek" 
Indonesia, sama seperti ginseng yang sudah menjadi merek atau setidaknya 
membuat orang ingat Korea. 
"Kalau orang ngomong ginseng, pasti asosiasinya Korea. Padahal, negara yang 
memproduksi ginseng terbesar di dunia adalah Kanada dan China. Orang Korea juga 
mengimpor bahan dasar ginseng dari Kanada dan China," ungkap Yaya Rukayadi 
dalam percakapan dengan Kompas awal Agustus 2007 di Yonsei University, Seoul. 
Obsesi Yaya menjadikan temulawak sebagai ikon tanaman obat dari Indonesia sama 
seperti ginseng yang sudah menjadi ikon Korea. 
Di Indonesia, untuk tanaman obat temulawak (Curcuma xanthorrhiza) , jangankan 
kultivasi yang benar, pemetaan temulawak pun data resminya belum ada. Oleh 
sebab itu, Yaya bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biopharmaca di Institut 
Pertanian Bogor (IPB) dan Departemen Pertanian untuk mem- buat riset dasar 
tentang temulawak. 
Tak punya musuh 
Temulawak adalah tanaman yang hampir tak memiliki musuh (hama). Tanaman ini 
menghasilkan antijamur, ia tak akan terkena jamur karena temulawak sendiri 
menghasilkan jamur. 
Tanaman temulawak di Indonesia hanya ada di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat 
(NTB), dan Maluku Selatan. Menurut Yaya, temulawak bisa tumbuh di Sumatera, 
tetapi tidak bisa sebaik kalau ditanam di Pulau Jawa. Untuk lebih memopulerkan 
dan memperkenalkan tanaman temulawak ke forum internasional, Yaya bekerja sama 
dengan IPB untuk mendeklarasikan Kongres Internasional Temulawak pertama pada 
Maret 2008 di Bogor, Jawa Barat. 
Presiden Susilo bambang Yudhoyono, tutur Yaya, mengundang dia ke Istana 
Presiden di Jakarta untuk mempresentasikan secara rinci soal temulawak 
tersebut. "Kebetulan akhir Oktober nanti saya menjadi salah satu pembicara pada 
simposium internasional tentang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di 
forum itu, saya diundang sekaligus berbicara bersama 11 ahli farmasi dunia," 
ujar Yaya. 
Meski "terpakai" di Indonesia, Yaya memilih tinggal di Korea. Agaknya motivasi 
dia untuk tetap "bertahan" tinggal, mengabdikan diri, serta mendalami ilmunya 
di Korea sama dengan umumnya warga Indonesia yang memilih tinggal di luar 
negeri. Mereka mampu berprestasi, tetapi kurang dihargai di negeri sendiri. 
Warga kehormatan 
Di negara lain, mereka bisa lebih bebas mendalami ilmu, berprestasi, sehingga 
bisa mendapatkan penghargaan yang layak. Bahkan, Yaya yang tinggal di Seoul 
sejak tahun 2000 itu tak hanya menjadi peneliti senior dan pengajar pada 
perguruan tinggi swasta Yonsei University, tetapi juga menjadi salah satu warga 
kehormatan di Kota Seoul. 
Karena itu, ketika Presiden Yudhoyono bertemu dengannya di Korea dan menawarkan 
kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia, Yaya merasa bimbang. 
Ia tak segera menerima tawaran tersebut. 
"Kembali ke Indonesia, saya pikir bukan satu-satunya jalan terbaik. Kalau 
pulang ke Indonesia, apakah saya bisa mengembangkan ide-ide saya secara bebas? 
Jangan-jangan kalau saya pulang ke Indonesia, malah saya menjadi birokrat, 
bukan peneliti lagi. Saya tidak ingin pulang ke Indonesia, lalu duduk di 
belakang meja, kemudian tunjuk sana tunjuk sini. Nah, masalah itu yang sedang 
saya pikirkan," tutur Yaya. 
Di Korea, dia merasa bebas melakukan apa pun yang ingin dikerjakan. Di Negeri 
Ginseng, seorang ilmuwan tidak disibukkan dengan urusan birokrasi seperti 
halnya di Indonesia. Kegiatan lain Yaya di samping menjadi ilmuwan adalah 
sebagai tamu pada program siaran seksi Indonesia di Radio KBS Seoul. 
Padahal, cita-cita Yaya sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Oleh karena itu, 
dia bersikeras kepada orangtuanya agar bisa belajar di sekolah pendidikan guru 
di Kota Sumedang. Namun, orangtuanya ingin supaya Yaya belajar di sekolah 
menengah atas (SMA). Kebetulan, di Situraja, tempat tinggalnya dulu, ketika itu 
baru berdiri SMA. 
Setelah lulus SMA tahun 1983, dia mengikuti beberapa kali ujian masuk perguruan 
tinggi melalui sistem Proyek Perintis (PP) I sampai PP IV. Selain diterima pada 
Jurusan Farmasi ITB, Yaya juga lolos seleksi di IPB. Ia pun diterima di Jurusan 
Biologi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, atau sekarang 
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). 
Yaya kemudian memutuskan mengambil Jurusan Farmasi ITB. Namun, rupanya 
cita-cita untuk menjadi guru tetap membayangi sehingga kuliah di ITB hanya 
dijalaninya setahun. Ia lalu memutuskan pindah ke IKIP Jurusan Biologi hingga 
sarjana, kemudian menyelesaikan program S-2 dan S-3 di IPB. 
Pada waktu melakukan penelitian program doktor, dia pernah dikirim dan lolos 
seleksi masuk University of California di Berkeley, Amerika Serikat (AS), tahun 
1996 untuk mempelajari tentang biokontrol pada penyakit kedelai. 
Setiap tahun, kata Yaya, University of California hanya menerima 20 mahasiswa 
melalui seleksi yang ketat. Dari jumlah mahasiswa itu, 10 di antaranya 
merupakan warga AS, sedangkan sisanya dari luar AS. 
"Ketika itu saya satu-satunya mahasiswa dari Asia," ucap Yaya, yang juga sempat 
melakukan penelitian biokontrol untuk penyakit kedelai di University of 
Edinburgh, Skotlandia, tahun 1998. 
Akan tetapi, dari hasil riset soal kedelai di AS itulah Yaya Rukayadi kemudian 
memperkenalkan salah satu rumus kimia YR 32—menyangkut penyakit 
kedelai—kepanjangan dari Yaya Rukayadi, sedangkan angka 32 adalah umur dia saat 
melakukan penelitian tersebut. 
Setelah meraih S-3, Yaya tertarik pada temulawak sebab sepengetahuannya tanaman 
itu hanya ada di Indonesia. Ia lalu memusatkan perhatiannya pada temulawak. 
Keinginannya untuk meneliti lebih jauh manfaat temulawak semakin terbuka lebar 
saat dia diajak Prof Jae Kwan-hwang, pengajar pada Yonsei University, untuk 
bergabung sebagai peneliti sekaligus pengajar pada perguruan tinggi tersebut. 
Dari hasil penelitian pada temulawak, dia antara lain menemukan fungsi 
temulawak sebagai antiketombe. Temulawak juga bisa dimanfaatkan sebagai pasta 
gigi. Menurut Yaya, temulawak pun sangat mungkin dapat digunakan untuk 
mengatasi penyakit kanker. Meski untuk itu, masih diperlukan penelitian lebih 
lanjut. 
Meski cukup sibuk, Yaya tetap menyempatkan diri menulis hasil penelitiannya 
tentang temulawak untuk jurnal-jurnal ilmiah internasional. Alasannya, agar 
temulawak menjadi perhatian lebih banyak peneliti di dunia. 
***
Nama: Dr Yaya Rukayadi
Lahir : Sumedang, 17 Agustus 1964
Keluarga: Dia anak bungsu dari enam bersaudara
Hobi: Fotografi, jalan-jalan, dan menulis. Salah satu hobinya adalah menulis 
cerita pendek (carita pondok-carpon) pada Majalah "Sunda Mangle".
Pendidikan:
- Lulus SMA, 1983
- Kuliah pada Jurusan Farmasi ITB, 1983-1984
- Sarjana Biologi IKIP Bandung, 1984-1990 
- Program Master (S-2) di IPB Bogor, 1992-1995
- Program Doktor (S-3) di IPB, 1995-1998
Kegiatan Lain :
- Menjadi pembawa acara pada Radio Korea International (RKI)
- Korean Broadcasting System (KBS), 2002 
Penghargaan:
- Sebagai Warga Kehormatan Kota Seoul, 2007, dia antara lain bisa bepergian ke 
mana saja di kota itu secara gratis
-- 
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
:.nu dipalar lain pamuji, panyepét nu dipénta!.: 
datiparang.blog. com . deha.wordpress. com 



      
____________________________________________________________________________________
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

Kirim email ke